
"Pengen balik!" ucap Shakilla seraya berguling-guling di atas kasur milik Shakil.
Shakil mematikan hp nya lalu duduk di sofa sambil menghadap ke arah Shakilla yang sedang tiduran di kasur miliknya.
"Balik tinggal balik!" ujar Shakil yang bosan mendengar Shakilla mengoceh terus.
"Kan di kunci! Mama sama Papa juga gak pernah ngabarin Killa!" ucap Shakilla.
"Lupa kali kalo mereka punya anak," ucap Shakil sambil terkekeh.
"Masa iya lupa! Bisa jadi sih," ucap. Shakilla langsung duduk sambil seraya berpikir.
Shakil menahan tawanya melihat Shakilla yang begitu mudah di bohongi.
"Lagi bikin anak baru deh kayanya. Soalnya mama sama om bosen liat lo susah diatur!" ucap Shakil.
Shakilla menatap tajam ke arah Shakil.
"Enak aja! Gue ini anak yang penurut yah!!" Elak Shakilla.
"Massa?" ucap Shakil menaikan sebelah alisnya.
"Kadang-kadang sih," ujar Shakilla nyengir sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Yeh dasar!" ujar Shakil merebahkan kembali tubuhnya ke sofa sambil memandang langit-langit kamarnya.
Shakilla dan Shakil sama-sama terdiam. Mereka berdua sibuk dengan fikirannya masing-masing.
"Shakil," panggil Shakilla seraya mendudukkan dirinya di tepi kasur.
"Apa?" tanya Shakil yang enggan melihat ke arah Shakilla.
"Jalan-jalan yuk, gue bosen tau," ucap Shakilla sambil tersenyum manis, namun tak dihiraukan oleh Shakil.
Shakilla pun turun dari kasur lalu berjalan mendekati Shakil yang senantiasa memejamkan matanya.
"Shakilll..." Panggil Shakilla sambil menggoyangkan lengan Shakil pelan.
"Ka, masih sore masa lo mau ngebo sih!" ucap Shakilla sambil terus menggoyangkan lengan Shakil.
"Mau apa Shakilla?" tanya Shakil membuka matanya lalu melirik ke arah Shakilla yang sudah berada tepat di sebelahnya.
"Jalan-jalan," cicit Shakilla sambil memainkan kedua kuku cantiknya.
"Kemana?" tanya Shakil lalu duduk.
"Kemana aja, pokoknya jalan-jalan," ucap Shakilla sambil ikut duduk di samping Shakil.
"Jalan-jalan juga harus punya tujuan Shakilla." ucap Shakil.
"Keliling dunia Ka. Yok lah," ucap Shakilla antusias.
"Keliling kota bukan dunia. Bisa abis bensin gue!" ucap Shakil sambil mengacak-acak rambut Shakilla.
"Iya maksud gue kota, gak usah di acak-acak juga rambut gue!" kesal Shakilla seraya membenarkan rambutnya yang terlihat berantakan.
"Lo itu makin gemes kalo rambutnya berantakan," ujar Shakil sambil terkekeh.
"Elehh, dahlah. Ayok keburu Maghrib!!" rengek Shakilla.
"Masih lama Maghrib nya!" ucap Shakil.
"Ayok Shakil! Ayok lah, Shakilll..." Shakilla terus merengek seperti anak kecil.
"Iya iya, ayok," ucap Shakil lalu berdiri.
"Yeayy, Ayok!!" ucap Shakilla berjingkrak senang.
"Pake celana dulu!" ucap Shakil yang sedang mengambil jaket hitam nya di lemari.
"Ini kan udah pake," ucap Shakilla sambil menunjuk celana pendeknya.
"Kependekan itu! Ganti!" ucap Shakil seraya memakai jaket.
"Males kil, ini gak terlalu pendek kok!" ucap Shakilla dengan muka memelas.
"Ganti atau gak jadi jalan?!" ujar Shakil menatap tajam Shakilla.
Shakilla menghembuskan nafasnya kasar.
"Iya, iya. Gue ganti!" ucap Shakilla pasrah.
Shakilla berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian ganti. Shakilla masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal. Shakil yang melihat tingkah Shakilla hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Bocil!" gumam Shakil.
Setelah lima menit berlalu, Shakilla akhirnya keluar dengan memakai celana jeans hitam dan memakai Hoodie putih ukuran besar. Dengan rambut yang tergerai indah.
"Udah?" tanya Shakil yang sedari tadi
memperhatikan penampilan Shakilla. Shakilla mengangguk.
"Udah, yuk." ajak Shakilla sambil berlari mendekat ke arah Shakil.
"Bentar," ujar Shakil lalu memandang Shakilla intens.
"Ada apa?" tanya Shakilla bingung.
"Bisa gak sih, Lo itu jangan terlalu cantik!" ucap Shakil.
"Ha?" ujar Shakilla kebingungan.
"Jangan cantik-cantik!! Nanti banyak yang suka!" ucap Shakil sambil memegang kedua bahu Shakilla.
"Terus lo maunya gue jelek gitu!! Kalo gue jelek, yang ada nanti gue di hujat sama fans lo itu!" kesal Shakilla menatap Shakil tajam.
"Jelek aja gak papa, kalo perlu taroin tompel di pipi lo," ucap Shakil sambil terkekeh geli.
"Enak aja!! Ogah! Shakilla Qiandra itu terkenal dengan kecantikan nya. Kalo gue gak cantik, mana mungkin lo tergila-gila sama gue!!" Crocos Shakilla.
"Gue cinta sama lo itu tulus, bukan karena lo cantik atau apapun itu," ucap Shakil.
"Bohong! Gak percaya!!" ujar Shakilla sambil bersedekap dada.
"Gue cinta sama lo, waktu lo masih ingusan! Masih kucel, kumel. dan dekil!" ucap Shakil sambil membungkukkan badannya supaya sejajar dengan Shakilla.
"Wah sekate-kate lo!! Emang dulu gue sedekil itu apa?" tanya Shakilla dengan kepala menoleh ke kanan untuk melihat foto masa kecilnya.
Shakilla menyadari dirinya dulu kumel, dekil seperti tak terurus. Beda dengan Shakil, cowok itu terlihat sangat ganteng sejak kecil.
"Tapi tetep cantik kok!!" ucap Shakilla.
*****
Disinilah mereka berada. Di bawah langit yang indah, perpaduan siang dan malam yaitu sore.
"SHAKILL!!" teriak Shakilla seraya memeluk erat pinggang Shakil.
"Apa?" jawab Shakil sambil melirik sekilas ke arah spion motornya.
"Sering-sering keliling kota kaya gini ya?" ujar Shakilla dengan gembira.
"Lo suka?" tanya Shakil.
"Suka bangeeetttt!!" ucap Shakilla menaruh dagunya di bahu Shakil.
"Oke. Setiap hari gue bakal ajak lo keliling kota," ucap Shakil.
Shakilla tersenyum lebar.
"Hah? Serius?! Asiikkk!" ucap Shakil sambil mengeratkan pelukannya.
"Serius. Kapan gue pernah bohong sama lo?" ujar Shakil.
"Gak pernah, yang ada gue yang selalu bohongin lo. Maaf ya?" ucap Shakilla merasa menyesal karena sering banget berbohong.
"Maaf diterima. Tapi jangan pernah diulangi lagi," ucap Shakil sambil mempercepat laju motornya.
"Iya. Tapi gak janji," Shakilla sambil terkekeh.
"Mau jajan?" tanya Shakil sambil menolehkan kepalanya kebelakang.
"Mau lah, masa enggak." ucap Shakilla semangat.
"Giliran jajan aja lo semangat!"
"Siapa sih, yang gak suka jajan?! Gak ada. Pasti semuanya suka!" ujar Shaky.
"Hmm," Shakil hanya menjawab Shaky dengan deheman. Membuat Shakilla mengerucutkan bibirnya kesal.
Mereka berkeliling. Shakilla terus mengoceh sepanjang jalan, Shakil hanya menjawab nya dengan deheman yang membuat Shakilla kesal.
Shakilla melihat-lihat ke arah taman yang cukup besar, lalu arah pandang matanya tertuju pada sesuatu.
"Shakil! Berhenti dulu," ujar Shakilla sambil memukul punggung Shakil cukup keras.
Shakil menghentikan motornya dengan mendadak.
"Ada apa?" tanya Shakil dengan kesal.
"Itu," ucap Shakil menunjuk ke arah taman yang terlihat sepi karena hari sudah sore menjelang malam.
Shakil mengikuti arah tunjuk Shakilla. Pandangan Shakil tertuju pada seorang anak perempuan kecil yang sedang menangis di bawah pohon yang berada di taman.
"Anaknya siapa itu?" tanya Shakil pada Shakilla.
"Gak tau lah!!" ucap Shakilla ngegas.
"Samperin yuk, kasian." ucap Shakil menggandeng lengan Shakilla.
"Itu anak kecil asli kan? Takutnya penghuni pohon itu Shakil," ujar Shakil sambil bergidik ngeri.
"Yakali, setan muncul sore-sore gini!" ucap Shakil datar sambil menonyor dahi Shakilla pelan.
"Takutnya hantuuu," ucap Shakilla. Tanpa aba-aba Shakil langsung menarik lengan Shakilla supaya mengikutinya.
Mereka berjalan mendekati anak kecil itu.
"Hallo adek cantik," ucap Shakil dengan senyuman sambil berjongkok. Shakilla yang berada disisi Azka pun ikut tersenyum.
"Ma-ma," ucap anak kecil itu sambil terus menangis memanggil mamanya.
"Mama nya kemana?" tanya Shakil sambil mengelus lembut kepala anak kecil itu.
"Mama u-udah pe-rgi ke surga," ucap nya sambil menangis. Shakilla yang melihatnya tak tega pun langsung mendekap tubuh anak itu dalam pelukannya.
"Hei, cantik. Jangan nangis ya, mama udah bahagia di surga," ucap Shakilla sambil mengelus punggung anak kecil itu. Shakilla merasa tubuh gadis kecil ini bergetar hebat membuatnya ikut merasakan kesedihan yang dialami gadis kecil itu.
"Nama kamu siapa?" tanya Shakilla sambil merenggangkan pelukannya.
"Nafisya Zanna Syifabela," jawab Fisya sambil terus memandang wajah Shakilla dan Shakil secara bergantian.
"Papa kamu kemana? Kaka? Saudara?" tanya Shakilla.
Fisya hanya geleng-geleng.
"Kata mama, Papa udah pergi waktu Fisya masih sangat kecil," ucap Fisya sambil mengusap air matanya.
"Terus kamu tinggal sama siapa?" tanya Shakilla lagi.
"Fisya sendiri, Fisya gak punya siapa-siapa. Fisya takut, Mama pergi ninggalin Fisya sendiri," ucap Fisya lirih lalu menangis lagi.
"Umur Fisya berapa?" tanya Shakil.
"Delapan tahun," jawab Fisya.
"Udah mau Maghrib, Fisya ikut kakak aja ya. Mau gak?" tanya Shakilla menatap hangat ke arah Fisya.
"Kakak bukan orang jahat kan?" tanya Fisya menatap Shakilla dengan mata yang memerah karena habis menangis.
"Masa cantik gini orang jahat sih," ujar Shakilla seraya terkekeh pelan.
"Soalnya Fisya takut di culik," ucap Fisya membuat Shakilla gemas.
"Kakak Cantik banget. Kakak itu juga ganteng," lanjut Fisya.
"Makasih, kamu juga cantik," ucap Shakilla seraya mengunyel pipi Fisya gemas.
"Ayok pulang," ajak Shakilla menggandeng lengan Shakilla dan Shakilla menggandeng lengan Fisya. Mereka berjalan menuju motor dengan saling bergandengan.
"Berasa seperti keluarga bahagia nih gue," ucap Shakilla terkikik geli.
"Nikah yuk?" ajak Shakil.
"Pala lo!! Dikira nikah gampang apa!" ucap Shakilla kesal.
"Gampang, makanya di coba yuk?" ucap Shakil menoleh kan kepalanya.
"Yuk yuk!! Gue tabok nih!!"ucap Shakilla dan Fisya pun terkekeh mendengar perdebatan mereka.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMAN TEMAN ☺️☺️.