
Mba, Martabak manis dua porsi sama martabak telor nya tiga porsi ya," ujar Shakilla pada penjual martabak di pinggir jalan.
"Siap neng," ujar penjual martabak itu dengan ramah..
Shakilla merogoh saku bajunya untuk mengambil uang. Tapi ia lupa, uangnya habis buat beli album idola nya.
Shakilla berbalik lalu berlari kecil menemui Shakilla yang sedang menunggunya tak jauh dari situ.
"Apa?" tanya Shakil saat Shakilla menghampirinya.
"Uang nya mana?" tanya Shakilla sambil menjabarkan telapak tangannya.
Shakil merogoh saku celana nya untuk mengambil uang ratusan ribu. Lalu memberikannya pada Shakilla.
"Makasih Shakil," Shakilla seraya tersenyum manis. Shakilla berlari kembali menuju pedagang martabak.
"Udah mba?" tanya Shakilla.
"Udah neng, totalnya jadi enam puluh ribu," ujar penjual itu seraya memberikan sekantong kresek yang berisikan martabak.
"Kembalian nya ambil aja mba," ujar Shakilla menyodorkan selembar uang seratus ribu.
"Makasih banyak neng," ucap penjual martabak itu dengan bahagia.
"Sama-sama, saya permisi," ucap Shakilla sopan.
"Hati-hati neng," ucap Penjual itu dibalas anggukan kepala Shakilla.
Shakilla berjalan ke arah Shakil seraya menenteng kresek yang berisi martabak manis dan telor.
"Udah, ayok pulang!" Shakilla menunjukan kresek berisi martabak ke arah Shakil.
"Gak mau beli yang lain lagi?" tanya Shakil. Shakil menggeleng.
"Gak, udah sore. Gerah! Mau mandi!" rengek Shakilla.
"Yaudah, yok naik."
Shakil melajukan motornya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang begitu ramai.
Sepanjang perjalanan Shakilla hanya diam saja dengan tangan yang memeluk erat pinggang Shakil.
"Lo kenapa?" tanya Shakil melirik ke arah spion.
"Perut gue sakit. Mungkin karena makan kebanyakan tadi," jawab Shakilla.
"Perut lo sakit karena makan pedes kebanyakan!" ujar Shakil.
"Gak banyak kok," elak Shakilla.
"Ke rumah sakit dulu yuk," ujar Shakil.
"Ngapain?" tanya Shakilla bingung.
"Katanya perut lo sakit. Gue mau periksa, takut anak gue kenapa-napa." ujar Shakil.
"Anak palamu! Gue gak hamil bego!" kesal Shakilla. Shakil terkekeh gemas.
"Gak sabar gue mau punya anak."
"Astagfirullah!!!"
****************
"Fano ! Itu kan punya Fisya, kok kamu makan sih!" rengek Fisya. Fisya dan Fano sudah mulai akrab.
"Gue kan minta Fisya!" ucap Noval sambil terus memakan martabak manis milik Fisya.
"Itu kan bekas gigitan aku, kamu juga punya bagian sendiri," ucap Fisya.
"Gue kan pengennya makan punya lo. Nih, Lo makan martabak punya gue," ujar Fano sambil menyodorkan martabak bagiannya.
"Gak mau! Fano nakal," ucap Fisya dengan raut wajah kesal.
Farhan dan kirana hanya terkekeh geli melihat perdebatan antara Fano dan Fisya. Mereka jadi teringat dengan masa kecil Shakil dan Shakilla.
"Fisya marah sama Fano?" tanya Fano.
"Gak marah. Cuma kesel!" ucap Fisya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Maafin Fano ya, Fisya gak boleh nangis. Masa cewek cantik cengeng," ujar Fano berusaha menghibur Fisya.
"Namanya juga cewek jadi cengeng!" ucap Fisya.
"Emang iya? Kak Shakilla juga suka nangis karena bang semprul!" ucap Fano.
"Namanya Bang Shakil Fano!! Gak ada semprul nya!" ucap Fisya.
"Iya-iya Fisya cantik," ucap Fano.
"Fano udah di maafin kan?" tanya Fano lagi.
"Udah. Tapi gak boleh nakal lagi. Janji ya?" ucap Fisya.
"Janji. Fano janji bakal jaga Fisya. Nanti kalo kita besar, kita harus terus sama-sama ya," ucap Fano. Fisya mengangguk.
"Iya."
"Fisya janji dulu gak boleh cengeng." ucap Fano.
"Iya Fano. Fisya janji."
"Ekhm," deheman yang keras membuat Fisya dan Fano menoleh ke asal sumber suara itu.
"Abang!! Kak Killa mana?" ucap Fisya berlari ke arah Shakil,
"Kak Killa lagi di kamar," jawab Shakil.
"Fisya mau temuin kak Killa. Boleh?" tanya Fisya.
"Boleh," jawab Shakil sambil mengelus lembut kepala Fisya. Fisya berlalu pergi untuk menemui Shakilla di kamarnya.
"Fano sini," panggil Shakil pada Fano yang sedang asik memakan martabak manis yang Shakilla beli. Fano menaruh martabak itu kemeja lalu mendekat ke arah Shakil.
"Apa bang?" tanya Fano saat sudah berada di hadapan Shakil.
"Jadi cowok harus?"
"LAKIK!!" ujar Fano ngegas, membuat Shakil sedikit kaget.
"Loh, Fano kok tau LAKIK!?" tanya Shakil bingung.
"Fano kan kemarin habis download tiktok, terus muncul LAKIK! di fyp Fano!"jelas Fano.
Shakil menatap Adik kecilnya dengan tatapan aneh. Shakil berpikir pasti Shakilla yang menyarankan Fano mendownload tiktok. Karena di sini cuma Shakilla yang suka tiktokkan.
"Sana lanjut lagi makan martabak nya," ucap Shakil.
"Astagfirullah! Gak bener."
****************
Bosan. Satu kata yang mewakili perasaan Shakilla saat ini. Shakilla bosan sedari sore hanya rebahan di kasur. Sedangkan Shakil malah sibuk bermain game di ponselnya.
"Shakil!" panggil Shakilla.
Shakil hanya bergumam tanpa berniat melirik ke arah Shakilla. Dia sedang sibuk bermain.
Shakilla kesal. "Lo main apa sih! Serius amat!!" ucap Shakilla dengan kesal.
"Dunia bayi panda," jawab Shakil yang masih setia menatap layar ponselnya.
"Belum lo hapus tuh game sialan?" tanya Shakilla seraya menggeleng pelan.
"Game nya seru. Kasihan juga panda gue kalau di hapus!"
"Udah tua juga!!" kesal Shakilla.
"Heh, kalau ngomong. Emang cuma anak kecil doang yang boleh main beginian?!"
Saat melirik sekilas, Shakil mendapati wajah Shakilla yang sedang cemberut. Membuatnya di buat gemas sendiri.
"Kenapa? Mukanya gak usah cemberut gitu. Makin jelek lo!"
Setelah mengucapkan hinaan itu Shakil mematikan layar ponselnya. Lalu membuangnya Asal ke karpet yang ada di bawah kasur.
Shakilla melototkan matanya seketika saat melihat Shakil melempar ponselnya sembarangan.
"Heh. Main lempar aja tuh hp! Kalau layarnya pecah gimana?"
"Tinggal beli lagi," jawab Shakil terlewat santai.
Shakil menyenderkan kepalanya pada senderan sofa. Setia memandang Shakilla yang berjarak sekitar lima meter dari Sofanya. Letak sofa di samping kiri kasur, sehingga Shakil lebih mudah memandang Shakilla saat tidur.
"Mentang-mentang kaya lo. Tiru gue dong, walaupun kaya tapi gak sombong!" Shakilla bersedekap dada seraya tersenyum bangga.
"Wilipin kiyi tipi gik simbing. Halah bacot! Tiap hari gue yang jajanin lo." Seketika Shakilla nyengir lebar.
"Uang lo uang gue. Kalau uang gue, berarti uang bias gue." Shakilla sambil terkekeh puas.
"Siapa sih bias lo? Gantengan mana sama gue?!"
"Ya jelas gantengan lo dong. Kan lo yang jajanin gue, kalo bias gue yang jajanin gue berarti bias gue yang ganteng!" jelas Shakilla.
"Bias lo namanya siapa?" Shakil kembali bertanya.
"Ada deh. Kepo lo."
"Siapa? Orang mana?" tanya Shakil lagi.
"Gak tau. Gue takut nanti lo ngelabrak bias gue langsung ke rumahnya!" Shakiltertawa mengejek.
"Dih, kaya kurang kerjaan aja! Lagian mana mungkin dia mau sama cewe modelan kek lo!"
"Wah! Untung gue lagi sakit. Kalau gue sehat," ucapan Shakilla menggantung.
"Gue sehat apa?" tanya Shakil memandang remeh Aliya.
"Ya gak apa apa sih." Shakilla tertawa garing.
"Udah? Tidur gih. Udah malam," ucap Shakil lembut.
"Masih jam sepuluh. Gue gak bisa tidur," rengek Shakilla.
"Tinggal merem. Gampang kan?" Shakil mulai membenarkan bantal yang akan ia tiduri.
"Tinggil mirim gimping kin!!" Shakilla meniru kata yang Shakil ucapkan.
"Ngapain lo ngikutin omongan gue!!" Shakil menatap tajam Shakilla.
"Tadi, lo juga ngikutin omongan gue!!" ucapnya tak terima.
"Dasar bocah!" kesal Shakil langsung merebahkan tubuhnya ke sofa.
Shakilla terus mengoceh tidak jelas. tanpa Shakil ladeni. Shakil menatap langit-langit kamarnya, kalut dalam pikiran yang bersemayam di otak jeniusnya. Tak terasa air mata menetes dengan sendirinya. Sesegera mungkin Shakil menghapus air matanya takut Shakilla melihatnya.
Sesekali ia melirik Shakilla yang sedari tadi mengoceh tidak jelas. Seulas senyum kecil terbit di bibirnya. Shakil mencoba untuk tak memikirkan hal yang tak perlu ia pikirkan. Ia berusaha memejamkan mata, tidak butuh waktu lama. Shakil sudah terlelap dalam tidurnya.
"Lo tau gak. Gue kal-" ucapan Shakilla terhenti saat matanya melihat Shakil tertidur pulas.
"Gue dari tadi ngomong sendiri dong!! Ih, kesel banget sama tuh jelmaan setan! Gue lagi ngomong malah di tinggal tidur!!" Menggigit guling untuk meledakkan kekesalannya.
Kekesalan Shakilla mereda ketika ia menatap wajah Shakil yang terlihat lugu ketika tertidur. Shakilla turun dari ranjang, berjalan mengambil selimut di lemari.
Shakilla menyelimuti tubuh Shakil dengan perlahan. Tak bisa di pungkiri. Sahabat sekaligus pacarnya ini memiliki ketampanan di atas rata-rata.
"Lo ganteng. Tapi sayang, gak punya mantan," ucapnya pelan.
Shakilla tertawa kecil mengingat dirinya juga tidak punya mantan.
"Gimana mau punya mantan. Setiap hari aja kita barengan."
Shakilla mengelus lembut rambut Shakil yang sedikit basah karena keringat. Shakilla menjadi heran sendiri.
"Padahal dingin. Kok Shakil keringetan," gumamnya. Jemari tangan Shakilla masih terus mengelus seraya mengusap keringat di sekitar dahi Shakil.
"Selamat malam Shakil nya Shakilla," sambil mengecup pelan dahi Shakil.
Seketika Shakilla menutup wajahnya sendiri. "Apa yang gue lakukan! Aaargh," Shakilla terus menepuk pelan pipinya.
Shakilla berlari ngacir ke ranjang. Menutup seluruh tubuh nya menggunakan selimut. Ini pertama kali Shakilla mencium seseorang, walau di dahi tapi itu membuatnya malu sendiri.
"Aduh. Untung Shakil gak kebangun, kalo dia tau gue cium jidatnya. Bisa-bisa ke mesuman Shakil meningkat drastis!!"
****************
Sinar mentari pagi memaksa masuk kedalam celah jendela kamar. Shakilla yang terusik pun akhirnya membuka matanya perlahan. Diam sejenak, mengumpulkan nyawanya yang masih berjalan-jalan di awan.
Shakilla melihat jam yang berada di atas nakas menunjukan pukul tujuh lebih lima belas menit. Karena hari ini adalah hari Minggu, jadi sekolah libur.
Shakilla celingukan mencari keberadaan Shakil.
"Tumben banget tuh anak, gak bangunin gue," beranjak dari kasur. Shakilla melakukan rutinitas paginya seperti biasa, apalagi kalau bukan mandi dan skincare an.
"Harus rajin skincare an biar glowing. Sebab apa? Gak glowing gak di hargai." ucapnya sendiri dengan tangan yang sibuk mengoles serum pada wajah cantiknya.
"Beruntung banget Shakil punya pacar modelan gue. Udah cantik, baik, murah senyum, jago masak, penurut. Walaupun bloon sedikit. Tapi tidak apa, biasanya cowok pinter kebanyakan cari cewek yang serada lemot, Shakil contohnya." ucap Shakilla berbicara sendiri. Tertawa sendiri.
"Sebab apa, orang pinter biasanya gak mau kalah dan orang lemot yang selalu mengalah. Karena ke lemotan yang hakiki itulah, membuat orang lemot males berpikir. Jadi setuju-setuju aja. Contohnya gue," ujarnya lagi. Shakilla terus mengoceh sendiri tanpa henti.
"Gue tau kenapa lemot menjadi julukan untuk orang bloon. Lemot artinya lemah otaknya. Gak papa lemah otaknya yang penting kuat fisiknya," ujarnya sambil menyisir rambut panjangnya dengan perlahan. Usai menyisir. Shakilla kembali bercermin.
"Udah cantik. Tinggal turun."