
Shakilla dan Rissa baru saja keluar dari kelas nya. Mereka berjalan sambil sesekali berbincang-bincang.
"Lo pulang sama Shakil?" tanya Rissa dengan tangan yang sibuk menggenggam buku.
"Lo pikir sama siapa lagi? Selain tuh cowok!" ujar Shakilla.
"Yee, santai aja dong mba," ejek Rissa sambil terkekeh.
"Ck, Riss anter gue ke kelas Shakil ya?"
"Siapp mba Killa," ucap Rissa tertawa puas melihat muka kesal Shakilla.
"Gue sama lo itu tua lo ya!" kesal Shakilla.
"Cuma beda sembilan hari doang," ujar Rissa tak terima di bilang tua.
"Tetep aja tua lo!" ucap Shakilla, Rissa mengerucutkan bibirnya sambil menghentakkan kakinya.
Shakilla tak menghiraukan Rissa, Dia terus berjalan menuju kelas Shakil.
Sesampainya di depan kelas Shakil, Shakilla menatap kosong ke dalam kelas Shakil
"Loh si Shakil mana Kill?" tanya Rissa sembari celingukan mencari keberadaan Shakil.
"Gak tau," ucap Shakilla sambil mengedikan bahunya. Shakilla terus berpikir, semarah itukah Shakil? Tapi dimana letak kesalahannya. Dari siang dia memikirkan itu.
"Tega bener si Shakil ninggalin lo!!" ucap Rissa menahan emosi.
"Mungkin ada urusan penting kali, jadi gak bisa nunggu gue," ujar Shakilla.
"Harusnya bilang dulu sama lo! Dasar Azka setan!" ucap Rissa mencak-mencak.
"Kuy lah pulang, udah sore. Takut ada mba kun-" ujar Shakilla sambil bergidik.
"Lo mah jangan nakutin," ujar Rissa sambil menarik lengan Shakilla ke arah parkiran sekolah.
"Lo pulang gue anter, gak terima penolakan!" ujar Rissa penuh penekanan.
"Iyaa iya," ucap Shakilla sambil naik ke motor Scoopy milik Rissa.
"Motor lo kecil banget!" ucap Shakilla setelah duduk di motor Husna.
"Motor lo yang kegedean!!" ucap Rissa tak terima.
"Motor gue pas ya, gak kegedean gak ke kecilan valid no debat."
"Serah lo deh!" Rissa mulai melajukan motornya meninggalkan parkiran sekolah.
*****
Shakilla sedang berguling-guling di atas kasurnya, menatap langit-langit kamarnya.
Shakilla duduk lalu membuka hp, dia mau bertanya apa salahnya pada Shakil. Shakilla Mencoba menghilangkan gengsi nya.
Shakil?
Kenapa tadi sore lo Ninggalin gue?
Lo marah sama gue?
Gue salah ngomong apa?
Lo masih hidup kan?
Jangan bilang lo mati!!
Eh Astagfirullah.
Read
Read
Shakilla kesal chat nya cuma Shakil baca, Dia pun bangkit dari kasurnya. Shakilla ingin langsung menemui Shakil dirumahnya. Cuma lima langkah langsung sampai. Shakilla langsung masuk kedalam rumah Shakil.
"Bunda ... Shakil ada di rumah?" ucap Shakilla menghampiri mawar yang sedang menonton acara dangdut.
"Shakil ada di kamar sayang," ucap Mawar sambil tersenyum.
"Shaky mau temuin Shakil ya Bun," izin Shakilla.
"Bunda kan udah bilang, gak usah izin. Kamar Shakil anggap aja kamar kamu," ucap Mawar sambil terkekeh.
"Bunda mah," ucap Shakilla ikut terkekeh.
Shakilla mulai melangkah menuju kamar Shakil di lantai atas, sambil melihat-lihat foto yang terpajang di setiap dinding dekat tangga. Disana banyak sekali foto dirinya dan Shakil waktu mereka bayi sampe besar, terpajang rapih disana.
Shakilla berhenti tepat di depan pintu bercat putih, Shakilla bingung mau ketuk atau langsung masuk.
"Ah bodomat lah, gas masuk aja! Si Shakil juga gitu kalo masuk ke kamar gue!" Gumam Shakilla seraya memegang knop pintu.
Shakilla masuk dengan langkah pelan. Shakilla melihat Shakil sedang tengkurap diatas kasur, Shakilla mengendap berusaha melihat apakah Shakil tidur atau cuma rebahan.
"Shakil, Lo masih hidup kan?" tanya Shakilla sambil menoel-noel lengan Shakil.
"Apa?" tanya Shakil sambil mendudukkan dirinya.
"Kenapa lo pulang duluan? Gak nunggu gue, gue ke kelas lo tapi gak ada orang. Tega lo kil sama gue!! Harusnya kalo mau pulang duluan, bilang," crocos Shakilla tanpa henti.
"Udah?" tanya Shakil singkat, membuat Shakilla menganga.
"Belum. Lo marah ya sama gue?" tanya Shakilla sambil mendudukkan badannya di depan Shakil.
"Gak,"
"Gue gak tau salah gue dimana," lanjutnya lagi sambil mendekat ke arah Shakil.
"Pergi jauh-jauh," sambil mendorong tubuh Shakila supaya menjauh dari tubuhnya.
"Kalo gue pengennya deket-deket gimana?" goda Shakilla, padahal dirinya takut.
"Yakin?"
"G-gak tadi bercanda doang," ujar Shakilla berusaha terkekeh.
Shakil menatap Shakilla malas. Tanpa ingin menjawab semua pertanyaan Aliya.
"Hm,"
"Maaf yak, iya dong! Yak? Yak? Shakil... Shakilla minta maaf."
"Cari tau dulu letak kesalahan Lo dimana," ucap Shakil tanpa ekspresi.
"Gue udah berusaha. Tapi gak tau ... Kasih tau dong," rengek Shakilla.
"Gak,"
"Kasih tau lah! Nanti gue janji mau ngikutin kemauan lo," setelah mengatakan itu seketika Shakilla langsung menutup mulutnya, seraya menggeleng perlahan.
"Oke, janji diterima."
"Gak jadi, tadi gak sengaja ngomong gitu," rengek Shakilla dengan muka memelas.
"Janji adalah ..." ucap Shakil.
"Hutang,"
"Hutang harus?"
"Di bayar," jawab Shakilla.
"Pinter!" ucap Shakil Sambil mencubit pelan pipi Shakilla.
"Gue masuk perangkap lagi," gumam Shakilla.
Shakilla menatap tak suka pada Shakil.Shakil selalu saja memanfaatkan kelemotan yang ada pada dirinya.
"Tapi lo jangan minta yang aneh-aneh!" ucap Shakilla menatap Shakil dengan serius.
"Iya," ucap Shakil menahan senyumnya.
Aliya memicingkan matanya, "gue mencium bau-bau kelicikan!"
"Heh bocil! Suudzon mulu lo!"
"Gue itu seumuran sama lo! Cuma beda satu hari,"
"Badan lo kecil banget, harusnya masih
sekolah SD sama Fano," ucap Shakil sambil tersenyum meremehkan.
"Kecil-kecil gini kalo balapan selalu menang," ujar Shakilla merasa bangga.
"Lawan lo aja yang terlalu lemah."
"Gue cabut kata maaf tadi, mending lo marah aja deh. Sampai satu bulan, dua bulan, tiga bulan atau sampai satu tahun juga boleh. Alhamdulillah. Capek gue debat terus, dari bayi sampai sekarang," crocos Shakilla tanpa henti.
"Gue juga kan pengen punya tetangga yang baik, ramah. Iya sih, Lo baik. Tapi baik sama nakal nya itu banyak nakalnya, jadi gue bingung."
"Dikit-dikit bikin kesel, bikin gue nangis, dan bikin baper. Terus kalo Deket lo jantung gue rasanya seperti lompat-lompat! Gu-" Shakilla langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Baper?" tanya Shakil menaik turunkan alisnya.
Shakilla menggelengkan kepalanya.
"Nggak!!"
Shakil menyunggingkan senyumnya sangat tipis. Lalu mendekat kan tubuhnya ke arah Shakilla.
Shakilla bisa merasakan hembusan nafas Shakil menerpa kulit wajah nya. Shakilla hanya diam saja, badannya terasa tak bertulang.
"Kalo gue deket kaya gini, Lo ngerasain sesuatu?" tanya Shakil seperti bisikan tepat di samping telinga Shakilla. Shakilla mengangguk sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
"S-Shakil..." gumam Shakilla.
"Hmm?" ujar Shakil tetap pada posisinya.
"Tubuh gue kenapa?" tanya Shakilla membuat Shakil mengerutkan keningnya.
"Rasanya lemes, kaya gak ada tulangnya," lanjut Shakilla. Shakil mendengar penuturan Aliya hanya terkekeh pelan.
"Besok pagi ke taman belakang rumah," ujar Shakile.
Taman itu milik orangtua Shakil dan orangtua Shakilla. Mereka membuat taman yang cukup luas, buat anaknya.
Shakil dan Shakilla selalu main di taman itu.
Shakilla mengangguk pelan. "Jauh-jauh Kil,"
Shakil menjauhkan tubuhnya dari Shakilla, lalu menatap Shakilla sambil terkekeh pelan.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE YA TEMEN TEMEN ☺️☺️