SHAKIL&SHAKILLA

SHAKIL&SHAKILLA
Part.38



Shakil bangun lebih awal. Ia menatap jam yang terpampang di dinding kamarnya menunjukan pukul setengah lima.


Diliriknya Shakilla yang masih tertidur disebelahnya dengan tangan melingkar erat di perutnya. Shakil mencoba menyingkirkan tangan Shakilla dengan perlahan. supaya Shakilla tidak terbangun.


Setelah terlepas. Shakil turun dari sofa lalu membenarkan letak selimut, supaya Shakilla tidak kedinginan. Shakil berniat ingin mandi terlebih dahulu baru setelah itu membangunkan Shakilla. Dua puluh menit berlalu. Shakil keluar dari kamar mandi dengan memakai baju Koko putih berlengan pendek, dipadukan dengan sarung kotak-kotak, tidak lupa peci hitam yang sudah bertengger indah di kepalanya. Membuat ketampanan nya bertambah berkali-kali lipat.


"Bangun Killa, Mandi terus sholat," ucap Shakil sambil menepuk pelan pipi Shakilla.


"Ngantuk Shakil," ucap Shakilla dengan suara serak lalu mengubah posisinya memunggungi Shakil.


"Hei. Bagun cepetan," ucap Shakil sambil terus menggoyangkan bahu Shakilla. Shakilla yang merasa terganggu pun akhirnya bangun dan langsung duduk.


"Bawel lo! Masih ngantuk nih," ucap Shakilla sambil mengucek matanya seperti anak kecil.


"Mandi. Terus sholat subuh dulu. Gue mau sholat di masjid," ucap Shakil.


"Iya Shakil." ucap Shakilla seraya menguap beberapa kali.


Shakil lalu menyodorkan tangannya. Shakilla memandang tangan Shakil dengan bingung.


"Salim," ujar Shakil gregetan.


Shakilla memandang tangan Shakil dengan tatapan cengonya. Lalu mencium punggung tangan Shakil seperti seorang istri.


"Berasa jadi istri gue," ucap Shakilla.


"Satu bulan lagi kan lo bakal jadi istri gue," ucap Shakil sambil tersenyum.


"Udah, Sono berangkat." ucap Shakilla seraya melepaskan tangan Shakil.


"Iya, awas aja kalo lo sampe tidur lagi!"


"Gak akan Shakil. Janji," ucap Shakilla memandang malas pria itu.


...****************...


Setelah sholat Shakilla langsung berganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Tidak lupa untuk sekalian menyiapkan seragam sekolah milik Shakil.


Shakilla sedang duduk manis di meja belajar milik Shakil. Memasukkan buku-buku pelajaran hari ini kedalam tas sekolahnya. Saat sedang memasukkan buku Shakilla teringat bocah kecil yang ia bawa kemarin sore.


Shakilla segera membereskan buku-bukunya. Setelah selesai. Ia berjalan mendekat ke arah kasur ternyaman yang pernah ia rasakan. Shakilla menatap bocah cilik yang sedang tertidur.


"Tuh bocah molor mulu," gumam Shakilla menatap gemas ke arah Fisya yang tidur sudah seperti orang mengamuk.


"Fisya," panggil Shakilla seraya menggoyangkan lengan Fisya pelan.


Fisya yang mendengar ada yang memanggilnya lantas mengerjapkan matanya berkali-kali lalu langsung duduk bersila menghadap ke Shakilla.


"Kakak, udah pagi yah?" tanya Fisya. Shakilla mengangguk.


"Iya, kamu mandi dulu sana!" perintah Shakilla langsung di angguki Fisya .


"Fisya gak punya baju ganti kak," ucap Fisya sambil tertunduk.


"Eh, kamu mandi dulu. Nanti kakak bawain baju ya," ujar Shakilla lembut.


Atensi keduanya teralihkan saat pintu kamar terbuka lebar menampakan seorang cowok terlihat tampan karena habis sholat. Siapa lagi kalau bukan Si Shakil.


"Assalamualaikum," ucap Shakil sambil tersenyum kecil.


"Waalaikumsalam," jawab Shakilla dan Fisya bersamaan.


Shakil berjalan mendekat ke arah dua gadis yang berbeda usia.


"Salim," ucap Shakil sambil menyodorkan tangannya.


"Salim mulu perasaan!" ucap Shakilla seraya mencium punggung tangan Shakil.


"Biar nanti terbiasa kalo udah jadi istri gue," ucap Shakil terkekeh geli. Shakilla hanya memandang Shakil malas.


"Udah sana ganti baju. Tuh seragam nya udah gue siapin," ujar Shakilla seraya menunjuk ke arah Baju yang sudah tergeletak indah di atas sofa.


"Terimakasih calon istri," ujar Shakil seraya mengelus pelan rambut Shakilla.


"Fisya juga mau salim, kakak ganteng," ucap Fisya seraya meraih lengan Shakil lalu mencium punggung tangan nya.


"Kakak cantik sama Kakak ganteng namanya siapa?" tanya Fisya. Mendengar penuturan dari gadis kecil itu membuat Shakilla menepuk dahinya pelan.


"Astagfirullah. Kakak sampai lupa belum ngenalin nama kakak sama Fisya," ucap Shakilla.


"Ayo kenalin sekarang Kak," ucap Fisya semangat.


Fisya mengangguk. "Namanya bagus banget," ucap Fisya.


"Kalo nama Kakak cantik siapa?" Lanjut nya.


"Kakak cantik namanya Shakilla. Fisya bisa panggil Kak Killa aja atau kalo mau panggil kak Shakilla juga gapapa," bukan Shakilla yang menjawab melainkan Shakil.


"Aku panggil Kak Killa aja . Boleh?" tanya Fisya menatap Shakilla.


"Boleh dong cantik," ucap Shakilla sambil tersenyum hangat.


"Kalian mau nikah ya?" tanya Fisya membuat Shakilla kaget.


"Hah? Nikah? Kata siapa?" tanya Shakilla berturut-turut.


"Tadi Bang Shakil bilang calon istri?" ucap Fisya.


"Oh itu, Bang Shakil bercanda sayang," ucap Shakilla seraya terkekeh.


"Beneran kok Fisya. Bulan depan kita bakal nikah," ujar Shakil membuat Shakilla menatap tajam ke arahnya.


"Shakil!!" ucap Shakilla dengan tatapan mematikan. Tapi Shakil menanggapinya dengan kekehan.


"Iya sayang?" ujar Shaki lalu berlari mengambil seragam sekolahnya dan langsung masuk ke ruang ganti


...****************...


Setelah semuanya siap. Shakil turun kebawah diikuti Shakilla dibelakangnya dengan tangan yang senantiasa menggandeng Fisya.


"Kakak Killa. Takut," bisik Fisya yang mampu di dengar jelas oleh Shakilla.


"Gak usah takut. Kan ada kakak Killa," ucap Shakilla seraya berjongkok. Fisya mengangguk. Shakilla membawa Fisya ke meja makan. Membuat Fisya menjadi perhatian utama oleh orang tua Shakil.


"Ini Fisya Yah. Dia mau tinggal disini boleh gak? Soalnya dia gak punya siapa-siapa," ucap Shakil yang mengerti raut kebingungan Farhan.


Seketika Farhan menatap Kirana. Kirana yang ditatap mengangguk supaya suaminya menyutujui Fisya tinggal di rumahnya.


"Boleh. Kamar disini yang kosong juga banyak," ujar Farhan membuat Shakilla bernafas lega.


"Makasih Yah/Om," ujar Shakilla dan Shakil bersamaan.


"Sini Fisya. Duduk di samping Bunda," ujar Kirana seraya menepuk kursi di sampingnya.


Fisya menatap Shakilla. Shakilla mengangguk seraya tersenyum.


"Baik," jawab Fisya lalu berjalan pindah ke kursi di sebelah Kirana.


"Cantik," panggil Fano seraya mengedipkan sebelah matanya. Fano langsung pindah duduk nya di samping Shakilla


"Fano boleh gak pacarin cewek cantik itu?" bisik Fano pada Shakilla. Seketika Shakilla melotot.


"Gak boleh. Fisya masih kecil," bisik Shakilla.


"Yahh, kalo udah besar. Boleh kan?" tanya Fano lagi.


Shakilla berfikir lalu mengangguk. Toh gak ada salahnya.


"Boleh. Fano harus janji dulu sama kakak!"bisiknya.


"Janji apa?" tanya Fano.


"Fano harus jaga Fisya. Gak boleh buat dia nangis. Fano harus selalu ada kalo dia dalam masalah.


Mau?" bisik Shakilla.


Fano mengangguk. "Mau! Oke, Opal janji Kak," bisik Fano.


"Awas aja kalo Fano sampai ingkar," peringat Shakilla.


"Nggak dong, kan Fano cowok keren. Masa cowok keren, ingkar janji." ucap Fano.


"Bagus." Shakilla seraya mengelus pelan rambut Shakilla.


"Bisikin apa lo berdua?" tanya Shakil yang penasaran.


"Kepo!!" ucap Shakilla dan Fano barengan.


"Serah dah!" ujar Shakil seraya mengambil piring buat sarapan.