SEYLA DIANDRA

SEYLA DIANDRA
BAB 45



" owh, kenalin dia Melly, tadi gw sama Sherina habis nolongin dia yang lagi dirundung sama kakak kelas, makannya kita berdua ngga nyamperin kalian kekantin " ucap Seyla, gadis itu kemudian menarik tangan Melly untuk berdiri disebelahnya.


" Melly? Lu berdua yakin kalo dia Melly anak IPS1 itu? " Cakkra menelisik gadis disamping Seyla dengan sedikit terkejut.


" eh Melly? Melly yang dulunya pernah sekelas sama kita? Wowww lu cantik banget Mel tanpa kaca mata pajangan lu itu, sekarang dimana kaca mata lu Mel? " tanya Laila yang malah membuat Melly tersentak kaget untuk kedua kalinya.


Melly hanya menunduk tanpa menjawab pertanyaan dari Laila.


" lu ngga papa Mel? " tanya Seyla sambil memegang pundak Melly yang berada disebelahnya.


Melly hanya menggangguk saja setelahnya gadis itu malah mundur kebelakang Seyla, hal itu malah membuat yang lain menatap bingung dengan Melly.


Laila, Sherina, dan juga semua inti Icarus menatap gerak gerik Melly yang sepertinya sedang ketakutan, tapi itu hanya pikiran dari mereka saja tidak dengan Seyla yang sejak tadi mengetahui raut wajah Melly.


Cakkra dari awal sudah memperhatikan Melly dengan intens, lelaki itu pikir bahwa gadis yang berada disamping Seyla itu bukan gadis yang dulu pernah ia kenal.


lelaki itu mencoba untuk sedikit memancing Melly " lu ngga bisa ngomong? Dari tadi gw liat lu cuman mengangguk ngangguk aja kaya badut mampang " suara Cakkra berhasil membuat Melly marah, gadis cantik itu langsung mendongak kearah Cakkra dengan wajah menahan amarah, namun lagi lagi Melly langsung menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya, gerak gerik Melly itu tak luput dari penglihatan Seyla dan juga Alaster yang berada didepan gadis itu.


Cakkra yang melihat wajah marah Melly tersentak kaget dan sedikit gemetar, ternyata ia adalah Melly yang sangat ia kenal.


Seyla, Sherina, Laila, dan juga para inti Icarus menatap heran dengan perubahan sikap Cakkra saat ini.


" kenapa lu? Lu ngga salah makan Cak? " tanya Aditiya, lelaki itu menatap Cakkra dengan khawatir.


" bang Adit mungkin bentar lagi bakalan ujan gede deh " ucap Hansen, mereka berdua pun tertawa.


Cakkra yang sedang diledeki hanya diam saja tak menghiraukan ucapan nyeleneh dari Hansen dan Aditiya. merasa tak ada respon dari Cakkra, akhirnya mereka berhenti tertawa dan menatap Cakkra sinis.


" ngga seru lu Cak " ucap Aditiya sambil menatap Cakkra sinis " eh iya, kata Seyla lu habis dibully? Emang siapa sih senior yang berani bully lu? " lanjutnya dan malah dibalas anggukan oleh Cakkra.


Melly yang ditanya malah diam saja tak menjawab, saat Seyla ingin menjawab pertanyaan Aditiya Melly langsung saja menarik baju Seyla, ia berkata dengan tatapan matanya agar tak memberitahu hal barusan pada siapa pun. Seyla yang mengerti dengan tatapan mata Melly, gadis itu pun langsung saja mengurungkan niatnya begitu juga dengan Sherina yang sempat melihat tatapan mata Melly.


" gw ngga papa, terimakasih kalian semua udah perduli sama gw " jawab Melly, jawaban gadis itu membuat mereka semua mengangguk saja walaupun masih penasaran sih.


" ayok aku anterin kamu kekelas, aku tadi sempat beliin kamu roti dan menaruhnya dimeja kamu, pasti sekarang kamu laperkan " ucap Alaster memecah keheningan, lelaki tampan itu kemudian pergi meninggalkan mereka terlebih dahulu sambil menggandeng tangan Seyla dengan posesif.


" beneran ka? Wah pacar aku ini pengertian banget sih dan maaf kak bisa tolong lepasin tangan aku ngga? " ucap Seyla dengan tersenyum sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alaster, yaaa tapi hasilnya sih nihil ya teman teman, Alaster malah merekatkan gandengan tangannya yang membuat Seyla pasrah aja dengan kelakuan Alaster itu.


keduanya pun melangkah bersama dengan Seyla yang sedang menahan malu, begitu juga dengan Sherina dan juga Melly. Sherina langsung saja menggandeng tangan Melly untuk mengantarnya kekelas Melly, karena menurut Sherina, Melly itu masih rawan ia takutnya Sisi and the geng bakalan balas dendam ke Melly.


" gw ngga papa Na, makasih yah udah nawarin gw " tolak Melly dengan halus.


Sherina hanya mengangguk anggukan kepalannya, gadis itu malah teringat dengan perkataan Cakkra, pria itu mengatakan bahwa Melly mirip seperti badut mampang yang kerjaannya hanya mengangguk saja.


Sherina yang mengingat itu menjadi terkikik sendiri, gadis itu memegangi kepala serta perutnya supaya ngga terlepas dan malah tertawa dengan sangat kencang.


tingkah Sherina sejak tadi dilihat oleh Aditiya yang berjalan dibelakangnya, lelaki itu sedikit menyunggingkan senyumnya.


Sherina yang merasa dilihati langsung saja menengok kearah belakang yang terlihat ada Aditiya dibelakangnya, lelaki tampan itu langsung saja tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah Sherina yang melihat dirinya dengan intens itu.


" woahhh... Ka Aditiya kalo lagi senyum kaya gitu ganteng juga yah " gumam Sherina dalam hati, Sherina diam diam menargetkan Aditiya sebagai bahan koleksi cogan miliknya, yah walaupun ngga ada yang bisa ia dapatkan sih kikikikiki.


oke kita tinggalkan saja duo bucin itu terlebih dahulu dan kita beralih keruangan osis, diruangan osis itu terdapat seorang pria yang sedang duduk diatas meja khusus ketua osis dengan didepannya ada seorang gadis yang sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya.


" kenapa sih lu bikin ulah lagi? Gw tanya sama lu, udah berapa kali lu bikin ulah hmm? Coba jawab Mauren" ucap Alaska tenang sambil menekankan setiap perkataanya.


yaps kalian benar sekali, pria yang sedang duduk dimeja itu adalah Alaska yang sedang memarahi gadis yang sedang menunduk yang ternyata adalah Mauren.


" iya gw ngaku salah, gw sebenarnya ngga suka sama dia, mak- " ucap Mauren masih menundukan kepalanya.


" makannya lu buat keributan dikantin kemarin gitu? " Alaska melanjutkan ucapan Mauren sambil melipat kedua tangannya didada " lu takut kalah saing sama kecantikan dan kepintaran dia yang ternyata adalah anak beasiswa, iya? " tanya Alaska sambil menaikan sebelah alisnya.


Mauren masih berada diposisinya dengan menunduk yang didepannya itu terdapat Alaska yang menatapnya dengan aura permusuhan.


" please Ren, gw mohon bisa ngga sih lu jangan pernah buat keributan? Jangan pernah lu tuh iri sama orang Ren " ucap Alaska mengacak rambutnya frustasi.


Alaska menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia pusing sekali mengurusi anggotanya ini yang selalu saja membuat masalah dan tidak pernah mau kalah saing oleh siapapun.


" mulai sekarang lu gw keluarin dari osis, mulai sekarang juga lu bukan salah satu anggota osis, cepat angkat kaki dari ruangan ini gw lagi sibuk, gw bukan cuman ngurusin lu doang tapi banyak yang harus gw urusin " ucap Alaska sinis sambil berdiri dari mejanya dan mengambil beberapa berkas laporan dari anggota osisnya yang lain.


Mauren yang ngga terima dikeluarkan itu langsung saja protes " Ka tapi d- "


" gw ngga mau denger alesan lu Mauren, sekarang lu keluar dari ruangan ini. Pintu keluar ada disebalah sana silahkan " ucap Alaska masih fokus membaca beberapa laporan.


Mauren yang tak akan mendapatkan respon itu langsung saja keluar dari ruangan osis dengan kesal, karena sangat kesalnya ia sampai membanting pintu ruangan itu dengan kencang hingga Alaska yang berada didalam ruangan tersebut terkejut, Alaska hanya menggeleng gelengkan kepanya saja dan ia langsung saja meneruskan pekerjaannya.


" awas aja lu Seyla bakalan gw bales " gumam Mauren saat sudah berada diluar ruang osis, gadis itu langsung saja meninggalkan ruangan osis dengan sedikit mengumpat.