SEYLA DIANDRA

SEYLA DIANDRA
BAB 24



Dheg


Sherina kaget dengan situasi yang sedang terjadi pada dirinya, gadis itu pun lanhsung saja memberanikan diri untuk melihat keatas yang terpampang wajah tampan Aditiya.


deg deg deg, jantung Sherina berdetak dengan kencang seakan akan dirinya sedang berlari marathon, saking kencangnya membuat muka gadis tersebut bak kepiting rebus ' eh buset ini jantung gw kenapa dah kek abis lari marathon aja deh, tapi kalo diliat dari deket begini muka ka Aditiya ganteng juga yah. Ehhhh tunggu tunggu perasaan ada yang aneh deh? ' batin Sherina berkecambuk dan merasa ada yang janggal.


" heeee akhhhh lepasin gw!! " ucap Sherina dengan memberontak dan dengan nada yang sedikit meninggi, Aditiya yang kaget dengan posisinya yang sedang memeluk Sherina dan dilihat oleh teman temanya itu pun dengan refleks melepaskan pelukannya pada gadis tersebut.


Bruk...


" auhhhh " Sherina mengaduh kesakitan saat ia telah mendarat dengan sempurna dan tak elitnya. Menyadari akan hal memalukan itu ia pun sangat kesal sekali dengan kelakuan Aditiya.


" kak lo tuh niat ngga sih bantuin gw? Kalo ngga niat mah mending sekalian aja ngga usah dibantuin kalo ujung ujungnya gw dijatuhin juga " marah Sherina mengebu gebu sambil memberikan tatapan tajam ke Aditiya.


" sorry " ucap Aditiya dengan santai sambil membantu Sherina untuk berdiri.


" menurut lu yah cil, manusia yang super duper santai kaya Aditiya, kalo disatukan dengan manusia pecicilan seperti Sherina, akan bagaimana jadinya sama anak mereka " kata Cakkra nyeleneh dengan berbisik ke Hansen, namun masih bisa di dengar oleh yang lainnya juga.


Aditiya hanya biasa saja dengan wajah santainya tak menanggapi ucapan Nyeleneh Cakkra. Yah karena dia sudah terbiasa mungkin.


sedangkan untuk Sherina? Ia sudah mendelik ngga terima bahwa dirinya disebut pecicilan " enak aja gw disebut pecicilan, gw tandain muka lu yah kak " ucap Sherina marah dan beralih duduk di sebelah Laila.


" hahhhh, gw mau beli minum dulu ya, kalian mau gw beliin ngga? "


Laila mencoba menetralkan suasana agar tidak panas dengan perdebatan Sherina dan Cakkra.


" gw ikut " Hansen berdiri dan akan mengejar Laila yang akan membeli minuman " lu pasti bakalan susah kalo bawa banyak banyak, makannya gw inisiatif ikut " ucap Hansen memberikan alasannya.


Laila pun tidak membalas perkataan Hansen karena ia sedang malas berdebat, gadis itu pun lanhsung saja berjalan lebih dahulu dan diikuti Hansen yang berada dibelakangnya.


" hadeh kayanya bakalan ada couple goals lagi nih, otw bakalan jadi obat nyamuk ini mah " ucap Cakkra dan hanya dibalas tatapan malas oleh teman temannya.


...****************...


Tok tok tok


" masuk " ucap dingin seorang pria tampan yang masih sibuk berkutat dengan berkas berkas yang berada di meja kerjanya.


Jevano pun langsung saja mengalihkan padangannya dari berkas berkas itu ke map berwarna merah tersebut, dan iapun langsung saja membaca map tersebut dengan terburu buru. Setelah beberapa menit akhirnya ia pun telah membaca keseluruhan isi map tersebut dan seketika saja sebuah senyum terbit di bibirnya.


" kerja bagus Agam, sekarang kau bisa keluar dan persiapkan untuk rencana nanti malam, saya tidak ingin ada kesalahan mengerti! " ucap Jevano dengan tegas kepada asistennya itu yang bernama Agam.


" baik tuan " ucap Agam dan berlalu pergi dari ruangan bosnya.


" hahhh akhirnya aku bisa membawa mu pulang dek, aku harus segera memberitahukan hal ini ke mamah " ucap Jevano dan berlalu pergi meninggalkan ruangannya.


Malam pun telah tiba, jam telah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Seyla hanya menghela napas lelah setelah menyelesaikan semua tugasnya di Cafe. Sungguh hari ini pengunjung Cafe sangat padat hingga ia dan para seniornya cukup kelimpungan dan kewalahan melayani mereka, namun disisi lain ia juga senang karena banyak yang menyukai menu Cafe dan akhir bulan nanti mungkin saja ia akan mendapatkan bonus dari bos.


" ayok La, udah waktunya nih Cafe kita tutup " kata Doni pada Seyla dan diangguki oleh gadis itu.


sampai diluar Seyla pun segera saja mengunci pintu Cafe tersebut sedangkan Doni menata kursi dan meja yang berada diluar Cafe yang lumayan berantakan.


" ini bang kuncinya " ucap Seyla sambil memberikan kunci tersebut.


" woke, lu langsung pulang yah jangan keluyuran udah malem ini " ucap Doni dan diangguki dengan malas oleh Seyla.


" iyadah bang, abang juga pulangnya hati hati yah. Yaudah saya duluan bang " ujar Seyla, Doni pun hanya mengangguk dan mereka pun berjalan berlawanan meninggalkan Cafe.


" tumben yah ka Alaster hari ini ngga ngejemput, biasanya di udah nangkring duluan tuh di bangku " gumam Seyla yang merasa aneh karena tak di jemput oleh lelaki tampan tersebut " bodoamatlah mending gw jalan aja " lanjutnya.


Seyla pun menghela napas lelah dan langsung berjalan, entah karena perasaannya aja atau memang sejak bekerja tadi ia merasa sedang diawasi. Namun saat dicari ia merasakan tak ada yang mencurigakan ataupun hal hal janggal, semuanya nampak normal normal saja tapi mengapa perasaannya tidak enak yah.


Seyla pun dengan sekuat tenaga memberanikan diri untuk menengok kebelakang namun hasilnya nihil, ia tak menemukan kejanggalan apa pun, jalanan pun masih sama seperti yang ia lewati tadi.


' apa mungkin perasaan gw aja yah? Mungkin aja sih karena perasaan gw aja yang khawatir takut diculik ' batin Seyla sambil mengeratkan jaketnya karena merasa hawa sudah mulai dingin.


bebalik dan berjalan, Seyla pun langsung saja menyumpalkan earphon itu di kedua telinganya dan menyetel musik di ponselnya dengan volume kencang agar suasana horor yang ia rasakan berkurang walaupun membuat kupingnya sakit, tapi tidak papalah dari pada ia harus merasakan hawa mencengkam ini. Seyla pun berjalan dan bersenandung kecil sambil menatap suasana jalanan yang cukup sepi.


' kenapa gw ngerasa diikutin sih?! Tapi pas gw liat kebelakang si ngga ada! Apa...... Apa yang ngikutin gw itu hantu? Setan? Jurig yang lagi nyari tumbal darah perawan? Emakkkkk Seyla ngga mau mati muda emakkk... Eh tunggu emang gw punya emak tah? ' batin Seyla ngeri dan nyeleneh. Gadis itu pun langsung saja mempercepat jalannya agar segera sampai ke kontrakannya.


perasaan tak nyaman dan tak enak mulai menjalar ke hati gadis tersebut. Seyla pun langsung memacu jalannya lagi biar lebih cepat untuk sampai ke kontrakannya, namun saat ia akan berbelok kekanan ia dikejutkan dengan datangnya seseorang. Saat ia akan melawan, ia kalah cepat oleh orang itu. Orang itu pun langsung saja membekap hidungnya dengan kain yang baunya sangat aneh dan membuat kepala Seyla pusing serta matanya berkunang yang tak lama kemudian ia pun pingsan.


" akhirnya! Kali ini kamu akan kembali kerumah lagi baby " ucap orang tersebut yang kemudian mengendong Seyla dan memasukannya kedalam mobil mewahnya.