
Waktu pun berlalu dengan cepat, sekarang mereka bertiga sudah berada dihalaman depan Mansion mewah milik keluarga Adhitama dan disana sudah terparkir mobil Jevano yang menandakan pemilik dari mobil tersebut sudah berada di dalam mansion.
Seyla langsung saja masuk kedalam mansion mewah tersebut dengan tangan yang tak lepas dari genggaman mamah Rose. Sedangkan Alaska ia membawakan koper yang berisi pakaian dan peralatan Seyla selama di rumah sakit.
" BANG JEVANNN.... ABANG DIMANA!! " teriak Seyla ketika sudah memasuki mansion, hal membuat Alaska yang sedang memberikan koper Seyla ke pelayan sontak menjadi kaget saat mendengar Seyla berteriak.
" hushh jangan teriak teriak adeee. Bang Jevan paling ada di dapur, kalo kamu teriak kaya gitu nanti tenggorokan kamu bisa sakit " tegur Alaska yang dibalas anggukan oleh Seyla.
Setelah mendengar itu, Seyla langsung saja melesat menuju dapur. Saat ia mau memasuki lift mansion Seyla pun langsung saja berbalik badan untuk menghadap Alaska dan mamah Rose yang dari tadi hanya melihat kelakuan kedua anaknya.
Alaska yang melihat Seyla berhenti di depan lift itu pun langsung saja mendatarkan wajahnya.
" apa? Pasti kamu mau bilang gini ' abang kalo mau kedapur kearah mana yah, atau ngga kelantai mana yah ' kamu mau bilang gitukan? " ucap Alaska menaikan sebelah alisnya sambil memperagakan suara Seyla.
" heheheh kok tau sih bang, abang Aska mah emang ter the best dah " ucap Seyla sambil menyengir dan memberikan jari jempol nya kepada Alaska.
Alaska langsung saja memberikan tatapan sombong dan tengilnya.
" oh tentu Alaska Prince Adhitama gitu loh. Hayuklah abang anterin kedapur " ucap Alaska sombong dan langsung menarik tangan Seyla menjauh dari lift.
mamah Rose yang melihat itu tersenyum bahagia dan langsung menyusul kedua anaknya.
setelah sampai di dapur Seyla melihat kakak pertama nya sedang duduk di meja makan sambil memainkan ponselnya.
" oh kalian, sini Seyla duduk disamping abang yah " ucap Jevano setelah melihat keluarganya sudah berada diruang makan sambil menepuk bangku kosong yang berada disampingnya dan menyuruh Seyla untuk duduk.
Seyla langsung saja duduk di bangku yang telah disiapkan oleh abang pertamannya dan diikuti Alaska yang duduk disamping Seyla. Jadi sekarang Seyla berada ditengah tengah yang disamping kanan dan kirinya terdapat kedua abangnya.
setelah mereka semua duduk, para pelayan pun langsung datang dan menyiapkan berbagai macam makanan untuk makan siang mereka.
mereka pun makan dengan nikmat, sesekali Jevano dan Alaska menambahkan lauk kepiring Seyla supaya sang adik dapat makan dengan banyak. Seyla pun terima saja, kan lumayan masa makanan enak gini malah ngga dimakan kan bisa mubazir itu namanya.
setelah makan, Seyla dikawal kembali menuju kamarnya oleh abang dan mamahnya. Mereka benar benar memperlakukan Seyla seperti bayi yang membuat Seyla sedikit bingung harus berperilaku bagaimana karena ia tidak terbiasa dengan ini.
" sayang kamu bener ngga mau tidur sama mamah, nanti kalo misalkan kamu butuh sesuatu bilang kemamah atau ngga ke abang kamu yah, jangan turun sendiri " ucap mamah Rose khawatir begitupun dengan Jevano dan Alaska, tapi Seyla tetep kekeh mau tidur dikamarnya sendiri. Hal itu malah membuat mereka khawatir takut Seyla berbuat nekat lagi dengan jatuh dari tangga seperti sebelumnya.
" iya mahhhh, abanggggg! udah yah Seyla mau bocan dulu soalnya udah ngantung banget ini. Good night mamah, abang " ucap Seyla sambil mencium pipi mamah dan kedua abangnya setelah itu Ia langsung saja masuk kedalam kamarnya.
" good night sayang/dek/bayi " ucap mereka bersamaan dan langsung saja membuat Seyla mendengus kesal dengan ucapan terakhir dari abangnya, setelah itu ia pun langsung menutup pintu kamarnya dengan keras membuat Alaska tekekeh.
mereka pun langsung pergi ke kamar masing masing, kecuali dengan Jevano yang langsung saja meluncur untuk kembali menjalankan tugasnya dikantor.
di dalam kamar Seyla.
terlihat disana Seyla sedang duduk diranjang dengan laptop yang berada dipangkuannya. Sorot matanya menjadi dingin dan kelam, sangat berbeda dengan saat dia bersama keluarganya. Tak lama kemudian ponselnya berdering menandakan ada sebuah pesan yang masuk, Seyla langsung saja mematikan dan menutup laptotnya, setelah itu ia langsung saja membuka dan melihat pesan yang berada di ponselnya yang menampilkan sebuah foto seorang perempuan paruh baya yang sedang mengenakan pakaian glamor. Tak lama kemudian Seyla langsung saja menyeringai dan memiringkan kepalanya seperti seorang psiko**t yang sedang menemukan mangsa setelah melihat ponselnya. Seyla langsung saja menatap pintu kamarnya yang sedang tertutup dengan tatapan dingin setelah itu ia langsung tersenyum.
" target pertama telah ditemukan, sepertinya untuk sekarang aku harus lebih lama bermain rumah rumahan dengan mereka. Yah mereka sangat cocok untuk menjadi salah satu bidak catur balas dendam ku sih, baiklah aku harus lebih banyak bersabar dengan berakting menjadi anak baik dan penurut "
sementara itu Alaster sedang memarkirkan kendaraannya didepan sebuah bangunan yang lebih mirip kaya rumah berlantai 3 yang sangat suram seperti tidak terawat, tetapi tidak dengan dalamnya yang sangat tidak kontras dengan bagian luarnya. Didalam ruangan tersebut sama seperti rumah rumah orang kaya pada umumnya yang sangat banyak sekali ruangan.
Alaster langsung turun dari motornya setelah melepaskan helm full face miliknya, ia pun berjalan kearah pintu dengan membawa tiga kantong keresek yang sangat besar. Saat ia memasuki ruangan tersebut semua anggota Icarus menunduk hormat. Ia langsung saja memberikan ketiga kantong plastik itu ke salah satu anggota Icarus, setelah itu ia langsung berlalu ke lantai 3 yang memang dikhususkan untuk para inti Icarus.
disinilah markas inti dari geng motor Icarus, para inti Icarus berencana untuk membahas hal yang sangat penting disini.
Alaster langsung saja memasuki ruangan yang di khususkan untuk mereka berdiskusi hal yang lumayan penting. Di ruangan tersebut sudah ada tiga anggota inti lainnya yaitu Aditiya, Cakkra, dan Hansen.
" bagaimana? Apa ada pergerakan dari mereka? " tanya Alaster setelah duduk di bangku yang sengaja di khususkan untuknya.
" sejauh ini belum ada pergerakan dari mereka " jawab Hansen yang bertugas untuk memata matai.
" rencana kita selanjutnya apa Al, karena mereka belum ada tanda tanda pergerakan, apa harus kita pancing biar mereka bergerak? " ucap Aditiya yang menyahuti ucapan Hansen.
" untuk sekarang kita pantau aja pergerakan mereka " jawab Alaster santai.
" tapi kita ngga bisa membuang waktu lebih lama lagi Al. Kakek lu udah mulai minta hasil dari misi ini Al " lanjut Aditiya frustasi.
" menurut gw kata mereka ada benarnya juga Al, ingat batas waktu yang kakek lu tetapkan. Bahkan dia udah ngomel ngomel minta hasilnya Al, kita ngga bisa santai lagi " timpal Cakkra.
Sebenarnya saat ini anggota inti Icarus mempunyai misi tersendiri yang diperintahkan oleh kakek Alaster yang merupakan pemilik perusahaan nomor satu diindonesia. Misi kecil ini merupakan untuk melatih Alaster ketika nanti ia mengambil alih perusahaan itu.
" huft baiklah, besok malam kita akan pasang CCTV di sekolah Antariksa, siapkan semua peralatannya dan gw ngga mau kita ketahuan " ucap Alaster pada Hansen dan Aditiya, karena kedua orang itu ahli dalam bidang IT dan pembuat rencana.
" gw pulang dulu " pamit Alaster yang langsung saja keluar dari ruangan tersebut.
melihat Alaster akan beranjak pergi, ketiga inti yang lain pun langsung saja berdiri dan akan pergi untuk melakukan tugasnya masing masing.