SEYLA DIANDRA

SEYLA DIANDRA
BAB 30



Flashback On


Ketika Jevano dan mamah Seyla memasuki kamar Seyla, mereka dikejutkan dengan posisi Seyla yang berada dibalkon kamarnya membuat mereka berdua berpikiran yang tidak tidak.


sedangkan dari posisi Seyla, ia melihat siapa yang memasuki kamar dan meneriaki namanya, wajahnya langsung saja berubah menjadi suram karena ia mengingat kesakitan yang ia terima dimasa lalu ketika ia ditinggalkan begitu saja. Ingatan itu masih merekat erat pada otaknya yang kecil membuat dia sedikit hilang kendali walaupun sudah 4 tahun lamanya. Mengingat itu membuat dia muak apalagi saat ia melihat abang serta mamahnya masih bisa hidup bahagian diatas penderitaanya, bukan cuman itu aja bahkan mereka sempat sempatnya masih bisa mengangkat seorang anak. Kenapa mereka ngga mencarinya malah mengangkat anak, padahal dulu ia sangat menantikan bahwa abangnya datang untuk menjemputnya dan tinggal bersama seperti yang ia janjikan 10 tahun silam bahwa abangnya akan selalu melindunginya dan itu yang membuat Seyla sangat marah dengan mereka.


Seyla hanya tersenyum miris terhadap hidupnya, apakah dulu sebelum menjadi Seyla dirinya membuat kesalahan yang besar? Apakah ia akan selamannya seperti ini? Apakah ia tidak bisa hidup bahagi? Itu yang selalu ia tanyakan terhadap dirinya sendiri.


" dek kesini yah sama abang, disana bahaya dek " ucap Jevano menyuruh Seyla untuk menjauhi balkon ia takut adiknya melakukan hal yang tidak tidak.


" PERGI..... GW NGGA MAU LIAT KALIAN..... PERGI.... GW BILANG PERGI!! " teriak Seyla dengan badan gemetar dan suara yang parau.


" dee.... Ayok kesini dulu yaa.. Abang mohon dengerin abang yaa.... Abang sama Mamah minta maaf, kami nyesel udah ninggalin kamu sendirian dek " ucap Jevano, untuk mamah Rose ia menangis melihat Seyla yang seperti itu ia sangat menyesal telah meninggalkan anak perempuannya sendirian hingga menjadi seperti ini.


Jevano mencoba melangkah mendekat pada adiknya. Seyla yang melihat itu reflek mundur, ia melihat dimeja balkon kamarnya ada pajangan yang berupa pot bunga yang terbuat dari kaca dan dengan pikiran pendek ia mencabut bunga dan menghancurkan pot tersebut, ia langsung mengambil serpihan pot yang lumayan besar dan cukup runcing dan mengarahkan pada lehernya.


bukan hanya Jevano, mamah Rose pun menahan napas tak menyangka bahwa Seyla akan berbuat hal yang nekat seperti itu.


" SEYLA!!! Abang mohon jangan yah, tolong lepasin itu " ucap Jevano panik apa yang dilakukan Seyla.


" sayang lepas yaa... Mamah mohon lepas nak " ucap mamah Rose cemas melihat anaknya yang nekat seperti ini.


" gw ngga bakalan dengerin omongan kalian, itu semua udah telat.... Kenapa? KANAPA BARU SEKARANG HAH?!! KENAPA DISAAT GW UDAH MULAI TERIMA SEMUA INI KALIAN BARU DATANG? " Seyla menangis histeris sambil berteriak.


" ngga ada ampun, gw udah cape, kenapa kalian harus dateng dan sok jadi pahlawan hah!! Camkan ini! Mau kalian lakuin apa pun, gw ngga akan pernah dan sudi untuk kembali!! SEYLA KALIAN SUDAH LAMA MATI!! " Seyla terus melangkah mundur masih dengan serpihan kaca digenggamannya. Hingga akhirnya ia sudah berada di pembatas balkon kamarnya yang membuat langkahnya berhenti. Mau tak mau hal itu membuat Jevano dan mamah Rose merasa was was takut apa yang mereka pikirkan akan terjadi.


" gw nyerah bang, gw mohon tolong biarin gw nyerah..... Kalo kalian menyesal udah buang gw setidaknya tolong biarin gw bahagia tanpa kalian..... Gw cuman mau itu aja bang ngga ada yang lain " ucap Seyla dengan nada yang pelan.


" Seyla mamah ngerti kamu pasti marah dan benci sama kami, kamu boleh maki mamah, kamu boleh ngga suka sama mamah. Tolong jangan pergi yah, mamah mohon tolong kamu jangan tinggalin kami yah, mamah mohon kasih mamah kesempatan untuk memperbaikinya yah nak " pinta mamah Rose dengan masih mengeluarkan air mata penyesalan.


hati ibu mana sih yang tidak sakit saat melihat anak perempuan yang ia kandung selama 9 bulan bisa sampai nekat seperti ini, karena apa yang telah ia lakukan dimasa lalu yang telah meninggalkannya sendirian didalam rumah yang disebut neraka itu.


Seyla menggeleng, ditengah tangisnya ia sempat tersenyum pedih pada mereka sambil berkata dengan lirih " gw harap kalian akan terus hidup dalam penyesalan selamanya " ucap Seyla seraya berbalik dan meloncat dari balkon kamarnya yang berlantai dua.


BRUKKK


waktu seakan berhenti disana, mamah Rose dan Jevano mematung menatap kearah tempat Seyla berdiri. Kaki mereka seakan lemas, suara mereka tak bisa keluar. Dan saat mereka mendengar suara teriakan dari bawah segera saja mereka langsung tersadar dari keterkejurannya, mamah Rose dan Jevano melihat Seyla dibawa oleh seseorang mereka langsung saja turun, Jevano langsung saja memasuki mobilnya dan diikuti oleh mamah Rose dan langsung saja ia mengikuti mobil Laila yang membawa Seyla ke rumah sakit.


Saat mendengar cerita dari keponakannya, paman Leo langsung mengepalkan tangannya untuk menahan emosi miliknya. Kalo saja ia tidak dirumah sakit mungkin saja wajah Jevano akan lebam lebam karena ulah dari kemarahan pamannya.


sama denga paman Leo Alaster dan kedua sahabat Seyla juga merasa murka dengan kelakuan dari kakak kandung sahabatnya itu.


saat suasan mulai panas dan mencengkam dengan kemarahan mereka terhadap Jevano dan mamah Rose yang bersikap seenaknya, paman Leo pun menghela napas untuk meredakan amarahnya.


" sudahlah, Sherina, Laila, nak Alaster sebaiknya kalian pulang duluan saja biar paman yang menjaga Seyla. Kalian pasti kesininya belum ijin sama orang tua kalian kan, sebaiknya kalian pulang takut orang tua kalian cemas " ucap paman Leo menyuruh Alaster dan kedua sahabat Seyla untuk pulang karena hari sudah malam.


" Laila disini aja paman, lagian orang tua Laila pada keluar negri " ucap Laila menolak tawaran paman Leo.


" Sherina juga, kalo dirumah kuping Rina bisa pecah paman " ucap Sherina santai karena nyawanya telah kembali.


" saya juga " ucap Alaster singkat.


paman Leo pun lagi lagi menghela napas pelan dengan kelakuan kedua sahabat Seyla itu, tapi ia aneh dengan Alaster kenapa ia mau menunggu keponakannya itu padahal setaunya Seyla tidak memiliki teman selain Sherina dan Laila.


" setidaknya kalian pulang untuk ganti baju, emang kalian betah pake seragam itu? Paman geh yang ngeliatnya ngga betah " ucap paman Leo yang mencari alasan supaya mereka bisa pulang dan beristirahat.


" Laila bawa baju ganti di mobil paman " ucap Laila santai.


" Sherina udah suruh pak ojak nganterin baju ganti buat Sherina paman " lanjut Sherina.


" saya udah pesen baju buat ganti " lanjut Alaster tak kalah santai.


paman Leo hanya geleng geleng kepala saja melihat kelakuan teman teman Seyla yang sangat solidaritas ini. Tak ayal paman Leo merasa senang melihat Seyla memiliki teman sebaik mereka.


" terserah kalian aja " ucap paman Leo yang pada akhirnya menyerah dengan temannya Seyla itu.


" sebaiknya kalian ganti baju dulu, baju ganti kalian udah ada kan? Besok seragam itu mau dipake buat sekolah lagi " lanjut paman Leo.


" iya paman " ucap Sherina dan Laila kompak sementara Alaster hanya mengangguk saja.


Alaster, Sherina, dan Laila pun langsung saja berdiri dan menjalankan perintah dari paman Leo. Mamah Rose dan Jevano yang melihat itu hanya tersenyum dan merasa lega bahwa anak serta adik mereka mendapatkan teman seperti mereka.