
...🍧🍪🍧...
"Ada masalah apa lu sampai minta gue ke sini?" tanya Ketsia duduk di bangku taman sedangkan Kin bersender di tiang dan melihat ke arah Ketsia.
"Gue butuh bantuan lu," jawab Kin sambil menyilangkan tangan di dada.
"Tunggu bang, sebelum itu gue mau kasih tahu soal ini," potong Ketsia sambil memberikan sebuah amplop berisi kertas kepada Kin.
"Apa ini?" tanya Kin bingung sambil membuka amplop tersebut dan segera ia baca di dalam hati.
Oh rupanya acara ulang tahunnya Dara toh. Batin Kin menganggukkan kepala.
"Lu datangkan bang?" Kin mengangguk sambil menaruh amplop di dalam tas.
"Kalo gue gak datang, Dara bakal nangis." jawab Kin pelan.
"Acaranya setelah ujian nasional, ya sekitar 3 bulan lagi. Lu emangnya enggak sibuk?"
"Entah, tapi bagi Dara gue pasti bakal berusaha. Kangen aku sama dia." ucap Kin lebay dan membuat Ketsia menjadi ifeel.
"Kalo kelakuan lu begini, pasti cewek-cewek bakal pikir Dara selingkuhan lu." ucap Ketsia pelan.
"Enggak papa kalo begitu mah, jadinya banyak tuh cewek bakal jauh dari gue." ujar Kin dengan semangat.
"Lu enggak berbelokkan Kin?" tanya Ketsia dengan was-was.
"Enak aja, gue masih normal !" Ketsia menghela napas lega.
"Terus kenapa gue di panggil ke sini bang?" tanya Ketsia.
"Lu tahu Alice dari kelas 11 Ips-2 ?" tanya Kin dan Ketsia berpikir sebentar.
"Alice Prilia Nasution?, ya gue kenal. Memang kenapa?" tanya Ketsia.
Dia bilang namanya cuma Alice doang, apa lagi yang ia sembunyi, kan dari ku? Batin Kin.
"Deketin gue sama dia dong." Ketsia pun melebarkan mata.
"WHAT THE HELL?! SEJAK KAPAN SEORANG KIN MEMINTA BANTUAN UNTUK DEKAT SAMA CEWEK?!" teriak Ketsia tidak percaya dengan ucapan Kin.
"Gue sepertinya sayang deh sama dia," ujar Kin tersenyum memikirkan senyuman Alice.
"Alah bullshit lu, iye kan?" tanya Ketsia.
"Gue serius! Dan bisakah kau diam !" bentak Kin dengan muka merah merona melihat ke sekeliling takut ada yang mendengar percakapan antara dia dan Ketsia.
"Lu sejak kapan gak pede begini bang? Kayak ada orang lain sedang bersemayam di tubuh lu." ucap Ketsia masih tidak percaya.
"Bodo amat dah, pokoknya bantu gue dekat sama tuh anak !" ucap Kin dengan tegas.
"Kalo lu berniat main-main, sorry bang gue gak mau." elak Ketsia.
"Gue cinta sama dia !" lirih Kin dan Ketsia mendekati diri.
"What? Can you repeat again?" tanya Ketsia sambil cengegesan melihat tingkah Kin yang malu-malu.
"Gue cinta sama dia ! Puaskan lu !" ucap Kin dengan menahan malu melihat tingkah Ketsia yang menetawarkan dirinya.
"Mampus lu bang, kena karma kan !" ucap Ketsia sambil tertawa puas melihat sikap sepupu yang di cap playboy seantero sekolah.
"Gue gak peduli, pokoknya bantuin gue dekat sama dia !" ucap Kin.
"Gue mau bantuin tapi ada syaratnya," ucap Ketsia.
"Syarat apaan dulu nih?" tanya Kin.
"MAMPUS LU, JATUH CINTA JUGA KAN SAMA KEANO HAHAHA." Sekarang giliran Kin yang tertawa terbahak-bahak.
"Aneh lu bang, gue gak akan suka sama dia," elak Ketsia.
"Terus, tujuan lu dekat sama dia buat apa? Biar lu melupakan kekasih bayangan lu si Leonil itu?" tanya Kin.
"Itu sih juga termasuk, tapi niat gue cuma mau bantu guru doang kok." jawab Ketsia tetapi Kin malah menggoda dirinya.
"Masa sih, dari seluruh anak di sekolah ini guru-guru nyuruh lu cari tahu tentang Keano?" goda Kin.
"Bukannya para guru tahu data-data Keano. Ngapain nyuruh lu?" tanya Kin terus menggoda Ketsia.
"Makanya kalo gue ngomong jangan asal nyerombot dong ! Guru nyuruh gue biar sifat jelek Keano itu hilang sudah itu doang." ucap Ketsia.
"Lah pret, gue yakin ada udang di balik bakwan ini," elak Kin.
"Ya udah, gue juga gak bakal bantuin lu dekat sama Alice gampang kan?!" ucap Ketsia.
"Dasar sepupu lucknut, perhitungan banget sama sepupu sendiri," ejek Kin.
"Nyadar diri oi, lu juga perhitungan sama gue !" elak Ketsia sedikit meninggikan suara.
"Baiklah kalo begitu... Mari kita bersama-sama saling tolong menolong," ucap Kin pasrah.
"Kalo lu gak banyak bacot ini juga bakal kelar dari 15 menit yang lalu." ujar Ketsia.
"Dih nyalahin gue, sadar diri dong mbaknya," elak Kin.
"Cewek itu selalu benar !" ucap Ketsia.
"Iye-iye, yaudah sih, tinggal deal doang," ucap Kin sambil memberikan tangan ke Ketsia.
Ketsia menjambat tangan Kin dan pertepatan di saat itu juga bunyi bel masuk berdering cukup nyaring.
"Masuk yuk," ajak Kin sambil merangkul Ketsia masuk ke dalam kelas.
...🍪🍧🍪...
"Kin !" Aura menghampiri Kin yang baru saja sampai ke sekolah dan memeluk lengan Kin.
"Apa?" tanya Kin malas dengan sikap Aura yang sangat manja terlebih lagi ia risih melihat tumpuk, kan bedak di muka Aura.
"Semalam aku di teror lagi dengan nomor yang gak kukenal," curhat Aura, Kin membawa Aura ke sebuah tempat dan duduk di sana.
Kenapa ini anak selalu di teror? Mana lagi gue juga pernah di ancam buat putusin. Mau aja putus tapi belum ada waktu yang tempat. Batin Kin.
"Ini sudah hampir 8 kali loh, mana lagi waktu itu aku hampir ke timpuk pot untung aja di tolong Alice. Aku sangat takut Kin." ujar Aura yang hampir menangis dan langsung di tenangkan oleh Kin, walaupun Kin seorang playboy namun sikap terhadap perempuan selalu baik. Tak jarang para deretan mantan Kin masih banyak yang berharap bisa kembali merajut kasih.
"Kenapa ada orang sejahat itu? Aku tidak pernah mencari musuh kok," isak Aura dan bedak yang berada di pipi luntur.
"Kamu cantik," puji Kin spontan ketika melihat wajah Aura tanpa bedak.
Aura tidak bisa menahan senyuman di bibir, walaupun air mata masih mengalir di pipi. Kin merasa ada sesuatu yang hangat ketika ia tidak sengaja menyentuh pipi Aura.
"Bagaimana jika kamu pulang, badan kamu panas loh, ku antar ya?" bujuk Kin dengan telapak tangan di dahi Aura.
"Jangan bilang kalau kamu memikirkan hal ini sampai kamu tidak makan? Kamu punya maag Aura !" Kin membawa Aura ke parkiran dan membawanya pulang, ia tidak peduli nanti akan di hukum Ketsia. Yang terpenting saat ini adalah Aura masih status pacar, jadi sudah seharusnya ia memperlakukan dengan baik terlebih lagi ketika sedang sakit.
Selain itu, Kin menghormati wanita sama dengan ia menghormati ibunya. Itu yang selalu di katakan oleh Papa Dirga, ketika ia tahu jika Kin mewarisi sifat mudanya.
Bersambung...