Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
18



Teng teng.


"Pertandingan ke-2 pun di mulai, masing-masing tim sangatlah tangkas. Kira-kira tim sekolah mana yang akan keluar?" tanya MC cowok.


"Entahlah, itu tergantung dari keputusan juri. Sepertinya juri juga sangat bingung menentukan siapa yang akan menang di tahun ini !" jawab MC cewek.


"Jangan lupa formasi yang sudah ku beri tahu tadi !" teriak Ketsia kepada Tim Elang Putih.


"Bukan hanya kalian saja yang punya rencana tapi kami juga !" gumam Juanda sambil mengiring bola menuju ring namun berhasil di ambil oleh Ridho, namun segera kembali perpindah ke tangan Juanda.


"Wow ! Tim Lion memberi poin yang sangat cantik di awal pertandingan !" seru MC cowok penuh semangat.


"Apa yang terjadi, kenapa Ridho masih tersungkur," ucap Ketsia pelan, namun tidak lama kemudian Ridho harus di bawa keluar lapangan karena mengalami cedera di kaki.


"Ridho, lu kenapa bisa begini?" tanya Ken kepada Ridho yang meringis kesakitan.


"Maaf tapi dia harus segera di obati, Alice tolong ya !" Alice mengangguk dan membawa Ridho ke belakang bersama tim pmr yang lain.


"Gue rasa Juanda bermain curang," tuduh Elang sambil melihat ke arah Juanda dengan tajam.


"Tidak mungkin, kenapa sampai tidak terlihat di depan publik?" tanya Rio.


"Sudah lebih baik kalian segera kembali bertanding, nanti aku akan melihat dari sini." Ken, Elang, Rio kembali ke lapangan bersama satu teman cadangan yang mengganti Ridho.


Ini benar-benar aneh. Batin Ketsia di samping Leonil yang tampak tenang melihat permainan basket tersebut.


"Kenapa itu?" tanya Aura di area kursi penonton.


"Entah, pokoknya kita dukung saja tim kita. Ayo Tim Elang Putih, pasti menang !" teriak Cindy memberi semangat.


Semoga kejadian ini tidak terulang. Batin Aura dan kembali memberi semangat kepada Tim Elang Putih sambil loncat-loncat.


Sedangkan di belakang lapangan, Ridho sedang di periksa oleh dokter.


"Ini harus di bawa ke rumah sakit, sepertinya ia tidak bisa bermain basket selama seminggu penuh !" seru Dokter Latifah dan membuat Alice terkejut.


"Kurang ajar !" bentak Ridho sambil memukul kasur.


"Saya permisi dulu." Alice mengangguk dan mempersilakan Dokter Latifah untuk pergi.


"Ridho, apa yang terjadi?" tanya Alice.


"Hentikan permainan basket ini !" seru Ridho namun sayang Alice malah bingung.


"Kenapa harus di hentikan?"


"Ini bukan permainan, ini adalah rencana Juanda untuk membuat semua Tim Elang Putih celaka !" adu Ridho.


"Kau tidak boleh menuduh orang seperti itu ! Lagi pula memangnya kau punya bukti?" tanya Alice kesal kepada Ridho yang menuduh orang tanpa bukti.


Tapi kalo benar, bagaimana jika hal ini terjadi kepada Kin? Ya tuhan tolong lindungi Kin, aku takut mimpiku menjadi kenyataan. Batin Alice.


"Terserah kau saja ! Ahkk !" Alice mulai panik ketika Ridho mengerang kesakitan sambil memegang lutut.


Brengsek kau Juanda ! Batin Ridho dengan penuh amarah.


...🍪🍧🍪...


Permainan pun kembali di lanjutkan, setiap Tim berusaha menampilkan yang terbaik. Namun, pertandingan sangat susah dari pada babak yang sebelumnya.


"Ayo Tim Elang Putih, jangan mau kalah !"


"Lion, Lion, Lion, menang !"


Para pendukung mulai mengeluarkan semangat, namun belum juga ada yang berhasil mencetak angka.


"Kenapa bisa begini?" tanya Ketsia mulai gugup.


"Lionel, bantu aku !" Lionel melihat ke arah kekasih.


"Membantu apa?" tanya Leonil.


"Apa saja, yang penting bisa membantuku untuk menyusun strategi berikutnya !"


"Aku tidak tahu, kamu mau menemaniku makan?" Ketsia menjadi kesal.


"Kau makan saja sendiri !" ketus Ketsia dan Leonil berjalan ke luar lapangan in door tersebut.


Dia sama sekali tidak membantuku ! Batin Ketsia kesal.


Tidak berapa lama Tim Elang Putih kehilangan satu anggota karena terjatuh dan itu sama seperti Ridho. Kejadian pun terus berulang hingga tinggal satu orang yang tersisa di kursi cadangan.


"Gawat ! Jika ada satu lagi pemain keluar maka kita akan kekurangan pemain !" gumam Ketsia mencari akal namun ia tidak menemuinya.


"Ini aneh, biar gue aja yang mencoba !" ujar Rio dan mulai mengiring bola, di saat itu Ketsia melihat kejanggalan yaitu Rio di kerumuni oleh banyak Tim Lion dan ia dengan jelas melihat Rio yang di pukul melalui siku dan membuat Rio terjatuh.


"Rio !" jerit Ketsia tapi terlambat Juanda menginjak kaki Rio.


"Bukankah itu curang?" tanya Ken.


"Wasit, ada yang melakukan kecurangan !" teriak Ketsia tapi pertandingan tetap berlangsung bahkan wasit seolah tidak tahu akan kejadian tersebut.


"Kenapa mereka melakukan kecurangan yang sangat rapi seperti ini? Juanda memang licik." Ken membantu Rio ke luar lapangan namun sayang mereka harus kebobolan angka.


"Tim Lion mencetak angka ! Angka yang sangat fantastic !" seru MC yang sangat bersemangat.


Bahkan para penonton tidak ada yang menyadari akan hal ini, mereka benar-benar membuat tipu daya yang hebat. Batin Ketsia.


"Tolong panggil, kan Alice," ucap Ketsia kepada salah satu anggota pmr.


"Kurang ajar wasit itu, kenapa ia tidak melihat hal ini !" ketus Elang dan melempar bola ke arah wasit sambil memaki dan ia mendapat kartu peringatan.


"Wow ada apa ini? Apakah Tim Elang Putih tidak terima dengan nilai yang di dapatkan Tim Lion?" tanya MC cowok melihat ke arah lapangan.


"Elang jaga sikapmu, kita sedang membawa nama sekolah," bisik Ken meredakan amarah Elang.


"Lihat ! Tim Elang Putih sudah pasrah, pasti yang akan menang Tim Lion !"


"Tidak Tim Elang Putih pasti menang !"


"Semangat Tim Elang Putih !"


"Elang mundur, jaga sikap oke !" Elang pun mundur tapi dia terus melihat Juanda dengan tajam.


Aku pasti akan membalas ! Batin Elang.


Bersambung....