
Setiap hari Ken selalu mengunjungi Kin yang sedang koma, ia menaruh kantong plastik di atas meja.
"Halo pangeran tidur, kapan bangun betah banget di atas kasur," canda Ken dan duduk di samping Kin yang masih tertidur dengan damai.
"Bang, gue baru satu hari aja udah lelah banget. Apa lagi 2 minggu? Cepat bangun kek, biar gue bisa buat lu tidur lagi !" canda Ken tetapi tidak ada aja jawaban dari Kin.
"Sekolah lu asyik juga Kin, ya walau ada bikin kesel tadi tapi tetap seru sih," lanjut Ken.
"Di sekolah lu sering banget gue kena tabrak sama cewek, apa karena itu lu males ke sekolah?"
"Selain itu, gue sering di goda. Tidak ! Maksudnya mereka menggoda Kin gitu, mana lagi tuh loker selalu ada surat penuh lagi. Makanan juga ada, famous banget ya lu bang?
"Ah ngapain pikir soal begituan, lebih baik gue pikir sama Sasha." Ken pun mengeluar, kan hp.
"Yah Sasha gak mau, padahal aku akan tambah semangat latihan jika di dukung sama dia," ucap Ken lesu ketika mendapat balasan dari pesan chat.
Dia off lagi, batin Ken sambil membuang napas lelah.
Setelah satu jam, Ken pun pamit dan segera pulang ke rumah. Setiap hari itu adalah kegiatan dari Ken, pagi ia sekolah menyamar menjadi Kin setelah pulang mengantar Sasha ia langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Kin. Kemudian, ia pulang terus pergi untuk latihan band karena ia akan mengikuti kontes bulan depan.
Sedangkan di rumah Sasha yang tinggal di sebuah komplek perumahan yang megah, ia melihat Juanda sedang berlatih basket setiap malam.
"Abang, abang memangnya gak cape setelah pulang sekolah latihan lagi?" tanya Sasha di pinggir lapangan melihat permainan Juanda.
"Ya cape sih cape, tapi pertandingan yang gue hadapi nanti lebih dari lelah yang di rasakan sekarang. Jadi abang harus berlatih dengan maksimal !" jawab Juanda melempar bola ke ring dari jarak jauh namun sayang bolanya tidak masuk.
"Sial !" umpat Juanda dan menghampiri Sasha yang sudah menunggu dengan minum dan handuk.
"Ini lebih baik minum dulu, nanti baru lanjut lagi," ujar Sasha memberi minum dan membantu Juanda membersihkan keringat.
"Oh ya, kapan abang bisa ketemu sama pacar kamu?" tanya Juanda dan Sasha tersenyum penuh arti.
"Nanti, mungkin setelah pertandingan basket. Tenang bang, ia satu kelas dengan Sasha." Juanda hanya berdehem pelan dan kembali latihan sampai tengah malam, tentu saja Sasha setia menemani Juanda bahkan ia sampai tertidur. Juanda mengangkat tubuh Sasha dan menaruh di kamar agar lebih nyaman.
Jika suatu saat abang di panggil lebih cepat, semoga kamu tetap tersenyum ya Sasha. Batin Juanda mengelus rambut Sasha sebentar dan kemudian keluar dari kamar Sasha.
...🍪🍧🍪...
2 minggu pun berlalu...
Ken dan anggota tim basket pun berkumpul di depan gerbang, termasuk para suporter di belakang untuk mendukung tim sekolah. Hari ini adalah di tunggu-tunggu oleh banyak orang termasuk Ken, karena di hari ini ia bisa sedikit membalas perbuatan dari Juanda kepada Kin secara adil.
Alice pun ikut karena dia merupakan anggota pmr, namun ia tidak semangat karena makin hari hubungannya bersama dengan Aura makin memburuk. Terlebih lagi Alice bisa melihat Aura lebih dekat dengan Cindy dan teman-temannya bahkan ia mulai menjauh dari Alice.
Keluarga Ken pun juga ikut, namun sayang nanti. Papa Dirga masih ada sedikit urusan sedangkan Mama Lara harus melihat kondisi Kin terlebih dahulu sebelum datang ke pertandingan. Orang tua dan pacar Ketsia pun ikut melihat pertandingan ini, walau pun ini adalah sebuah pertandingan sahabat antar sekolah setiap tahun. Tapi tahun ini akan berbeda karena yang mereka lawan adalah Juanda dan teman-temannya.
"Baiklah cepat kita masuk, agar tidak macet di perjalanan !" ucap pelatih setelah membaca doa bersama dan segera masuk ke mobil sedangkan bis belakang untuk para pendukung dari sekolah. Mereka sangat antusias karena sekolah SMA Pelita Harapan Cikarang masih unggul dari sekolah SMA Nusa Bangsa.
Selama perjalanan tim suporter sudah sangat semangat, selama di dalam mobil Ken merasa tidak enak. Entah kenapa perasaannya sama sekali tidak karuan.
"Lu kenapa Ken?" tanya Elang pelan di samping tapi Ken menggeleng.
"Tidak, gue gak papa kok." Elang mengangguk pelan dan kembali menghadap ke depan.
Semoga nanti akan baik-baik saja. Batin Ken.
"Jun, gimana nih?" tanya Rafael kepada Juanda yang biasa saja.
"Tenanglah tidak usah tegang begitu, lagi pula Kin masih sakit jadi pertahanan sayap kanan mereka lumpuh. Kita akan memenangkan pertandingan ini." Juanda duduk sambil mengikat tali sepatu di ruang ganti.
Juanda tertawa kecil, berdiri dan menepuk pundak Rafael agar ia mendekat ke arahnya.
"Tidak usah panik begitu ! Kalo pun benar Kin sudah sembuh, aku sudah menyiapkan suatu yang menarik untuknya !" Rafael mengerutkan dahi.
"Maksudnya apa?" tanya Rafael.
"Kita akan melakukan Rencana B yang telah ku bicara, kan tadi malam." Rafael membulatkan mata sedangkan teman-teman yang lain ikut tertawa bahkan mereka sudah tidak sabar menantikannya.
"Apa kau gila ? Bagaimana jika ketahuan?" tanya Rafael.
"Tenanglah Raf, rencana ini sudah di susun dengan baik jadi akan sangat sulit untuk mencari bukti !" ucap Raja, "lu jangan sampai buka mulut !"
"Ayo gaes, kita harus keluar untuk menyambut tim para pecundang itu," ucap Juanda dan tertawa di ikuti yang lain menuju ke gerbang untuk menyambut tim Ken.
Mobil SMA Pelita Harapan Cikarang masuk ke daerah SMA Nusa Bangsa, ketika Ken menginjak kaki ia merasakan hal yang aneh. Ia sangat takut bahkan ia hampir naik lagi ke bus kalau bukan di tarik oleh Ketsia.
"Lu apa-apaan sih ! Kenapa naik ke mobil lagi?" tanya Ketsia menjauh dari kerumunan memarahi Ken.
"Gak tahu Ket, gue ngerasa akan ada suatu yang buruk bakal terjadi." Ketsia berdecih dan berdecak pinggang.
"Ini sekolah mu ! Sudah ayo masuk, kamu itu sudah di tunggu !" ujar Ketsia mendorong Ken untuk masuk mengikuti yang lain.
Sekolah Nusa Bangsa menyambut rombongan Pelita Harapan Cikarang dengan antusias begitu pula dengan tim yang akan bertanding.
"Hai Rio, Elang. Lama tidak bertemu," ucap Juanda basa-basi.
"Lu lihat aja, lu gak bakal menang seperti tahun lalu !" ancam Elang namun Juanda tertawa pelan.
"Uh aku takut, tapi kenapa aku tidak melihat kapten kalian. Kemana dia?" Elang mengepal tangan dan segera di tarik oleh Rio.
"Sabar lang," ucap Rio.
"Lu bakal tamat hari ini !" ujar Juanda dan berjalan mundur namun ia segera berbalik ketika banyak para suporter menyebut, kan nama Kin Dhananjaya.
"Kin ! Kamu pasti menang !"
"Kin Dhananjaya, kami Nusa Bangsa suka sama kamu. Love you Kin !"
"Kin jangan mau kalah !"
Ken melangkah masuk bersama dengan Ketsia, Juanda terus melihat dan ia sedikit terkejut namun itu hanya sebentar. Juanda melangkah mendekati Ken, sambil menepuk pundak kiri.
"Gue pikir lu kemana bro, gak sabar gue !" setelah mengucapkan hal itu ia pergi ke arah teman-temannya.
"Kin lu baik-baik saja, kan?" tanya Ridho dan Ken mengangguk pelan.
"Ayo kita segera pemanasan, pertandingan akan di mulai 15 menit lagi !" ucap Ketsia dan mereka mulai melakukan pemanasan di tempat tim sekolah Pelita Harapan Cikarang.
"Apa gue bilang Jun? Noh lihat dia ada di sini !" ucap Rafael dan Juanda terus melihat ke arah Ken.
Dia tidak mungkin Kin, seharusnya ia sudah mati ketika balapan itu ! Batin Juanda.
"Tapi tidak papa, ini akan menjadi pertunjukan yang menarik !" gumam Juanda pelan sambil tersenyum licik.
Bersambung...