Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
27



Setelah kemarin hanya berdiam diri di rumah, mereka melampiaskan di hari kedua di Villa Leonil. Mereka bermain di pantai, Ketsia berjemur sambil menikmati minuman di atas kapal bersama dengan Leonil. Sasha, Ken, Elang, Rio beserta pacar sewaan menaiki Jetski dan banana boat menyusuri lautan, Keano bermain selancar bersama dengan Aura. Alice dan Kin berenang melihat keindahan bawah laut yang sangat menyejukan hati.


Ini benar-benar sangat indah, batin Alice dengan tangan di pegang Kin agar tidak terlalu jauh menikmati suasana terumbu karang yang sangat indah.


Alice memegang penyu yang tidak sengaja melewati mereka, Kin membantu Alice dan penyu sama sekali tidak melakukan perlawanan.


"Penyunya baik," ucap Alice tentu ketika ia menyelam dengan Kin menggunakan perlengkapan agar bisa berlama-lama di dalam air.


"Kita ke tempat yang lain," ucap Kin dan Alice mengangguk pelan dan mengikuti Kin.


...🍪🍧🍪...


"Oh tidak !" ujar Leonil di atas radar dengan muka panik, Ketsia dengan rambut basah menghampiri Leonil dengan bingung.


"Ada apa Leo? Apakah ada yang salah?" tanya Ketsia.


"Ketsia ! Peringatkan yang lain untuk meninggalkan laut, ada predator sedang mendekat," jawab Leonil dan memutar kapal kembali ke Villa.


"Apa yang mendekat?"


"Hiu."


...🍪🍧🍪...


Aduh, batin Alice ketika kaki kirinya terlilit dengan tanaman di bawah laut dan membuatnya tidak bisa berenang.


Kin berhenti dan membantu Alice namun ia berhenti sebentar untuk memeriksa keadaan. Kin terkejut ketika ia melihat sekitar 500 meter dari jarak mereka ada seekor hiu yang sedang mendekat dan itu membuat Kin panik.


"Kita harus cepat !" Kin berusaha membantu Alice walau ia panik karena hiu makin cepat berenang ke arah mereka.


"Ahk !"Tubuh Alice menegang ketika ia tahu kaki Kin di makan hiu.


"Pergi !" bentak Kin menyuruh Alice pergi namun Alice mengeleng.


"Tidak ! Aku tidak mungkin meninggalkan Kin sendirian," ujar Alice dan berniat membantu Kin dengan mengambil sebuah terumbu karang yang segera ia arahkan ke arah hiu.


"Alice !" teriak Kin ketika hiu itu mendekati Alice yang hanya bisa terdiam.


"Kyaa !"


...🍪🍧🍪...


"Dimana Kin dan Alice?" tanya Ken yang sedang bermain Jetski bersama Sasha tidak mendapati abang.


"Bukannya mereka tadi menyelam," ucap Sasha memeluk tubuh Ken dari belakang.


"SEMUANYA KEMBALI KE DARAT, JANGAN ADA DI LAUT !" seru Ketsia dengan speker agar teman-temannya segera cepat berlari.


"Ada apa itu?" tanya Aura yang duduk di atas papan selancar menunggu ombak bersama dengan Keano.


"Entah, apa yang harus kita jauhi?" tanya Keano bingung.


"Apa mungkin kita mau makan?" tanya Rio dan Elang hanya mengeleng menunggu seruan dari Leonil.


"JANGAN HANYA DIAM SAJA, CEPAT PERGI ! ADA HIU DI PANTAI !" semuanya menjadi panik dan buru-buru kembali ke daratan menjauh dari laut.


"Oi, kemana 2 orang lagi?" tanya Leonil karena anggota tidak lengkap ketika ia baru saja turun dari kapal bersama Ketsia.


"Dimana Kin dan Alice?" tanya Aura panik dan mereka tidak tahu.


"Hei, bukankah air laut berwarna biru?" tanya kekasih sewaan Rio menatap ke arah pantai.


"Tentu saja, kenapa di saat begini kamu malah menanyakan hal yang tidak penting seperti itu?" tanya temannya dengan sedikit membentak.


"Terus, kenapa di sana berwarna merah?" Mereka mendekat dan melihat ke arah yang di tunjuk oleh dia. Semua orang terkejut karena air yang biru terdapat warna merah bagai darah.


"Apa jangan-jangan, mereka berdua?" tanya Keano dan seketika Aura langsung pingsan dan langsung di bantu Keano.


"Gak mungkin ! Kin gak mungkin mati !" teriak Ken dengan tubuh gemetar, perlahan-lahan ia terjatuh.


"Ken, tenang," ucap Sasha berjongkok sambil memegang pundak Ken.


"Leo, lakukan sesuatu !" ucap Ketsia dan Leonil mengambil hp untuk segera menelepon kepada para anak buah mencari keberadaan Kin serta Alice. Baik lewat darat, laut bahkan udara.


"Semoga mereka tidak yang seperti kita bayangkan," ucap Leonil sambil memeluk Ketsia yang mulai menangis.


Kin, Alice semoga kalian baik-baik saja ! Batin Ketsia.


...🍪🍧🍪...


"Ahk, sakit !" teriak Kin menahan sakit luar biasa di kaki kanan akibat di gigit hiu, Alice tiba-tiba menjadi bingung pikirannya menjadi ngeblak.


"Kin, kita balik ke Villa. Kamu masih kuat jalan?" tanya Alice lirih dan air mata mulai keluar ketika melihat kaki Kin terus mengeluarkan darah tapi ia tidak memikirkan luka di bagian tangan.


"Jangan khawatirkan aku, khawatirkan dirimu dulu. Lihat darah di bagian lengan kirimu itu," ucap Kin menunjukkan ke arah luka Alice.


"Cuma tangan." Kin mencibir.


"Makanya jangan cengeng," ejek Alice karena bisa membuat Kin kesal.


"KETEMU !" Kin dan Alice melihat ke arah atas ketika mendapati ada sebuah helikopter dengan seorang lelaki yang memakai alat di telinga.


"Itu siapa?" tanya Alice bingung.


"Huh, akhirnya datang juga." Alice melihat ke arah Kin yang berbaring di atas pasir dengan rambut berlambai terkena angin yang berasal dari helikopter.


"Siapa yang datang?" tanya Alice semakin bingung.


"Bantuan." Alice hanya terdiam.


...🍪🍧🍪...


"Kalian ini membuat kami semua panik tau gak?!" bentak Ketsia di hadapan Kin dan Alice yang berbaring di atas tempat tidur.


"Gak kami gak tahu," jawab Kin dengan santai melihat kaki yang telah di perban, jawaban dari Kin membuat Ketsia kesal dan langsung ia memukul kaki Kin.


"Au ! Sakit anjing !" bentak Kin.


"Bodo amat gak peduli !" ujar Ketsia dan keluar dari kamar rawat Kin dan Alice.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Kin melihat ke Alice yang berada di samping kiri sedang menertawakan dirinya.


"Gak, hanya kasihan lihat kamu tadi di pukul sama sepupu sendiri." Kin mencibir dan melihat ke arah yang lain.


"Harusnya itu, aku di sayang. Lagi sakit bukan di sayang malah di bikin tambah sakit !" ujar Kin kesal.


"Abang ! Lu masih hidup kan?" tanya Ken dan langsung melompat ke arah tempat tidur Kin dan menindihnya.


"Anjing ! Sakit bego. Minggir !" bentak Kin ketika kakinya di tindih dengan Ken.


"Sorry bang, gue gak bermaksud bikin lu tambah sakit," ucap Ken dan menekan kaki Kin dan itu membuat Kin tambah sakit.


"Bego ! Jangan di tekan. Masih baru di jahit tadi !" bentak Kin menyingkirkan tangan Ken dari kakinya dan itu membuat Alice tertawa melihat tingkah laku mereka.


"Hahaha."


"Keluar lu ! Bukan sembuh gue malah tambah sakit !" bentak Kin menyuruh Ken keluar tapi Ken menggeleng.


"Tidak ! Aku akan menjaga abang sampai sembuh, gue akan tidur di sini."


"Gak ! Keluar lu !" usir Kin dan Ken tetap tidak mau pindah.


"Ken, kasihan abang kamu. Tadi barusan saja ia di operasi, lebih baik kita turuti dulu permintaannya," bujuk Sasha di depan pintu masuk.


"Nah benar tuh, ikuti perkataan pacar lu gih !" Ken dengan berat hati meninggalkan Kin dan Alice.


"Kalo abang perlu sesuatu, jangan lupa call me oke?" Kin hanya berdehem membalas perkataan Ken.


"Bye abang, jangan kangen Ken ya," ucap Ken sambil menutup pintu.


"Lu kira gue mau MATI !" bentak Kin sebelum pintu tertutup dan itu membuat Alice kembali tertawa.


"Kamu ini, jahat banget sama adik sendiri," ujar Alice melihat ke arah Kin.


"Jangan salahkan aku sayang, Ken aja yang lebay !" elak Kin dan Alice hanya menggeleng.


"Kalian berdua sama aja," ejek Alice dan Kin mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk.


"Kami berbeda Alice, aku gak sama dengan adik ku !" gumam Kin kesal.


"Tapi bagiku kalian sama aja," ujar Alice.


"Aku sama Ken, apa yang sama?" tanya Kin.


"Sama-sama budak cinta." Kin bingung.


"Budak cinta?"


"Iya kalo Ken bucinnya Sasha, kalo kamu bucinnya aku !" Kin tersenyum mendengar perkataan dari Alice.


"Aku bukan bucin kamu ya," elak Kin dan membuat Alice bingung.


"Terus, kalo kamu bukan bucin aku. Jadi kamu apa?" tanya Alice.


"Kalo Ken itu bucin Sasha, kalo aku ya masa depan kamu," gombal Kin.


"Dasar ngardus !" ejek Alice dan mengubah posisi menjadi sama seperti Kin.


"Aku gak sedang gombal, aku ngomong kenyataan. Nanti setelah kuliah aku berjanji akan melamarmu untuk menjadi pendamping hidupku !" ucap Kin dengan tatapan serius melihat ke arah Alice.


"Gak aku gak percaya, kamu cuma ngardus !" Kin mengembungkan pipi dan Alice membalas dengan menjulurkan lidah.