Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
29



Matahari telah terbit di ufuk timur, bahkan sebelum terbit pun Kin beserta teman-teman telah menantikan momen ini. Mereka harus menahan kantuk yang amat berat demi bisa melihat pemandangan matahari terbit atau sunrise secara live.


"Subhaanallaah, ini benar-benar indah," puji Alice melihat sunrise sambil duduk di sebuah papan kayu dengan tubuh di balut oleh selimut tebal, tidak lupa dengan secangkir susu rasa strawberry.


Kin melihat ke arah Alice sambil meminum susu hangat dan kembali melihat ke sunrise, semua orang terpaku dengan pemandangan matahari terbit.


"Setelah ini, kita akan melakukan apa?" tanya Alice tanpa mengalihkan pandangan.


"Entahlah, lebih baik kita menikmati pemandangan ini dulu. Baru memikirkan ke depannya," jawab Kin sambil menghela napas yang mengeluarkan embun.


...🍪🍧🍪...


Setelah melihat pemandangan yang sangat luar biasa indah, mereka masuk untuk membersihkan diri dan sarapan. Setelah menyantap makanan, mereka mulai menyusun agenda yang akan di lakukan di hari terakhir liburan.


"Hari ini harus menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanya Ken.


"Lu aja bingung, apa lagi gue !" cibir Elang.


"Ada yang punya rencana?" tanya Leonil dan Aura mengangkat tangan.


"Bagaimana kalo kita makan-makan di dekat pantai?"


"Rencanamu bagus, tapi lebih baik kalo di laksanakan di malam hari," ujar Ketsia dan mencatat rencana dari Aura.


"Ada lagi?" Pacar sewaan Rio angkat tangan.


"Bagaimana kalo menyalakan lampion dengan harapan masing-masing setiap pasangan?"


"Rencana yang bagus, tapi itu lebih baik di lakukan di malam hari biar lebih aesthetic !" ucap Ketsia dan kembali menulis usulan dari pacar Rio.


"Ada lagi? Untuk pagi sampai siang, jangan malam terus !" ucap Leonil.


Alice mengangkat tangan. "Bagaimana kalo kita bermain-main, bersepeda atau main skateboard di jalan dekat hutan?"


"Nah boleh juga tuh," ucap Ken menyetujui ide Alice.


"Baiklah, tapi sepeda dan peralatan di sini terbatas. Jadi, semua tidak bisa sama."


"Justru bagus Leonil, jadi kita tidak monoton," ucap Ketsia.


"Kalo begitu, siapa yang naik sepeda?"


"Ken dengan Sasha !" teriak Ken dengan semangat dan segera di catat namanya oleh Ketsia.


"Aura sama Alice !"


"Berikutnya, yang bermain skateboard berapa orang ?" Leonil, Kin dan Keano mengangkat jari tangan.


"Yang terakhir, bermain sepatu roda ya !" Elang dan Rio mengangguk.


"Kalo begitu, ayo segera ke bagasi !" ujar Leonil memimpin jalan menuju ke bagasi tempat barang-barang yang di butuhkan oleh mereka.


...🍪🍧🍪...


Kin cs sedang menikmati jalan-jalan menyelusuri area hutan melalui jalan yang telah di buat aspal, keadaan tidaklah sepi karena itu adalah jalan raya dan penghubung ke kota.


Alice mengayuhkan sepeda dengan Aura di belakang yang memegang kamera untuk menjadikan momen yang indah. Kin berada di samping kanan sedangkan Keano di samping kiri, seakan mereka berdua ingin menjaga kekasih agar tidak terluka.


"Kin, say hi !" ucap Aura mengarahkan kamera ke arah Kin.


"Hi !" sahut Kin sambil melambaikan tangan, Aura tersenyum.


"Halo guys, hari ini Aura lagi liburan sama teman-teman." Aura mengarahkan kamera ke arah teman-teman yang lain, ketika ketangkep kamera maka mereka akan mengucapkan 'Hi,' sambil melambaikan tangan.


"Hari ini terakhir kita di sini guys, sedih sih. Namun walau cuma 3 hari tetap seru kok, kalo begitu Aura tutup ya. Dadah !" Aura melambaikan tangan ke arah kamera dan segera mengganti ke arah belakang untuk fokus ke pemandangan.


Setelah asik bermain di daerah gunung, mereka kembali ke Villa dan bergegas ke pantai bermain pasir. Ketsia, Leonil duduk sambil meminum es kelapa dengan romantis, sedangkan yang lain pada main pasir. Seperti Alice yang sedang membuat istana pasir dengan ember dan sekop di sekitarnya.


"Kenapa main beginian? Ini permainan anak kecil loh," ucap Kin duduk di hadapan Alice yang sedang memasukkan pasir ke dalam ember.


"Biarin, aku mau memainkkan ini. Dari kecil aku selalu penasaran, rupanya bermain ini mengasyikkan." Kin tersenyum melihat wajah ceria Alice.


Hanya dengan hal sederhana seperti ini, dia terlihat sangat senang. Batin Kin.


"Yah, hancur," gumam Alice sedih dan kembali membuat lagi tapi datang ombak dan kembali membuat istana Alice hancur.


"Ih ini ombak kenapa main sampai ke sini sih !" Kin terkekeh melihat kemarahan dari Alice dan menurutnya itu sangat lucu.


Tuk.


Kin melihat ke arah benda yang menyentuh tangannya, ia mengambil dan tersenyum.


"Alice, lihat ini !" Alice melihat ke arah benda yang di pegang oleh Kin.


"Itu kerang bukan?" Kin mengangguk dan duduk di samping Alice. Ia mendekatkan lubang kerang ke arah telinga Alice.


"Apa kamu dengar sesuatu?" Alice mengangguk, "rasanya sangat menyejukkan hati bukan?"


"Kamu benar, bagaikan seluruh rasa lelah ku hilang seketika. Kenapa aku tidak tahu hal seperti ini ya?" tanya Alice melihat ke arah kerang dan kembali menempelkan kerang ke arah gendang telinga sambil ia memejamkan mata.


"Terkadang hal kecil seperti itu membuatku menjadi lebih bebas, hidup ini benar-benar aneh."


"Aku malah bingung dengan perkataanmu," ucap Alice yang tidak mengerti ucapan dari Kin.


"Tidak usah di pikirkan, lanjutkan saja aktivitasmu tadi," ucap Kin.


"Kamu mau dengar?" Kin mendekat ke arah Alice untuk mendengar suara ombak di dalam kerang, mereka benar-benar menikmati momen tersebut.


Kenapa mereka makin tambah dekat sih !. Aura tadi bermain dengan Alice membuat istana pasir. Ia tadi izin pergi ke toilet, setelah selesai ia kembali ke tempat Alice untuk melanjutkan pembuatan istana pasir. Namun ketika datang, ia malah disuguhi pemandangan yang membuatnya semakin cemburu. Segera ia pergi dari pantai dengan perasaan terbakar api cemburu.


...🍪🍧🍪...


"Assalamualaikum ibu, Alice pulang." Alice membuka pintu rumah dengan Kin di belakang membawa koper. Tadi malam mereka kembali ke Cikarang tepat ketika subuh.


"Waalaikumsalam, nona Alice dengan tuan Kin sudah pulang?" Alice bingung melihat seorang wanita dengan pakaian sangat formal bagai perawat menghampiri mereka.


"Dia perawat yang ku tugaskan jaga ibu kamu," ucap Kin dan menaruh koper serta oleh-oleh di samping dan segera di ambil perawat dan di bawa masuk ke dalam.


"Ibu dimana?" tanya Alice berjalan ke kamar ibu, disana ia mendapati ibu yang sudah memakai mukena di atas kursi roda.


"Aku harus segera ambil wudhu," ucap Alice dan bergegas pergi ke kamar mandi sedangkan Kin menghampiri Ibu Alice sambil mencium telapak tangan.


"Tante gimana kabarnya sehat?" Ibu Alice mengangguk pelan sambil berusaha membelai rambut Kin.


"To..long ja..di i..mam." Kin mengangguk dan permisi untuk mengambil wudhu.


"Loh kamu mau ngapain?" tanya Alice melihat Kin di depan kamar mandi setelah ia memgambil wudhu.


"Wudhu lah," jawab Kin dan ingin menyentuh Alice tapi Alice menghindar.


"Jangan sentuh ! Nanti aku malah ambil lagi !" pekik Alice dan bergegas ke kamar ibu untuk solat berjamaah dengan Kin sebagai imam.


...🍪🍧🍪...


Setelah solat dan berzikir bersama, Kin izin pamit dan itu di antar Alice.


"Aku takut," ucap Alice memberi helm kepada Kin.


"Takut apa?" tanya Kin.


"Bagaimana jika nanti ada gosip gak benar lagi soal kamu dengan aku ? Aku itu gak pernah bawa cowok ke rumah." Kin tersenyum maklum, ia mengelus kepala Alice pelan.


"Tidak usah di pikirkan, lagi pula tidak ada yang kita lakukan. Selain itu bukan cuma kita berdua tadi di dalam rumah kan?"


"Sudah ya aku pergi, jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kamu bergegas tidur, kamu pasti cape." Alice mengangguk dan tersenyum.


"Kamu juga !" teriak Alice melihat Kin keluar dari rumah Alice.


"Lihat deh bu, masa subuh-subuh begini Alice bawa cowok ke rumahnya?"


"Wah jangan-jangan lakukan yang gak benar lagi !"


Alice tidak peduli dengan omongan tetangga yang baru saja pulang dari mesjid, ia segera masuk. Lagipula perkataan Kin itu benar, mereka sama sekali tidak melakukan hal yang buruk, jadi kenapa harus takut?.