
...🍪🍧🍪...
Normal Pov
Huh memang sih aku capek tadi, tapi gapapa deh. Entah kenapa seru aja jahilin anak ini. Batin Kin.
Beberapa saat yang lalu...
Mama Aura masuk ke dalam kamar anaknya sambil membawa nampan berisi makanan, Aura masih berada di atas tempat tidur dengan dahi di tempel, kan dengan kain.
"Kenapa bisa jadi demam begini nak?" tanya Mama Aura meletakkan nampan di sebelah, dan segera mengganti kain menjadi basah kembali.
"Aku memikir, kan sesuatu ma," jawab Aura pelan.
"Kamu memikir, kan apa sayang?" tanya mama.
"Awalnya sih aku tidak mau membicarakan hal ini, namun aku sudah berjanji dengan Kin." Aura menghela napas.
"Aku sering di teror ma, dia selalu menyuruh, ku untuk pergi dari sisi Kin. Tapi aku gak mau ma!" ucap Aura pelan, mama terdiam namun kemudian menyuruh Aura untuk tidur. Setelah minum obat, Aura pun terdiam dengan nyaman.
Mama Aura pun turun ke bawah menemui Kin yang sedang duduk di ruang tamu di temani secangkir teh manis buatan Mama Aura.
"Terima kasih karena kamu telah membawa anak, ku pulang," ucap Mama Aura.
"Namamu tadi siapa?"
"Kin tante,"
Jadi dia yang tadi di bilang oleh Aura. Batin Mama Aura memperhatikan Kin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak begitu buruk rupanya,
"Tante mau bicara penting, kamu pasti tahu. Kenapa anak itu bisa sampai seperti ini?" Kin mengangguk.
"Maaf bukan saya tidak menyetujui kalian, tapi saya mohon tolong putus, kan lah hubungan kalian demi keselamatan Aura." Kin mengangguk lesu dan berpamit pulang.
Ketika ia naik motor menuju ke sekolah, ia malah memikir hal yang tentu akan ia dapat, kan.
Sebenarnya senang sih bisa putus dari Aura, bahkan mamanya sendiri yang menyuruh. Tapi, bagaimana putus dengan Aura ya?.
...🍪🍧🍪...
Normal pov.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga !" seru Alice sambil memegang leher yang terasa pegal.
"Kamu selalu saja melakukan hal ini sendirian," komentar Kin sambil menguap dengan sebelah tangan menopang wajah yang terlihat bosan memandang Alice yang kembali menulis di sebuah memo kecil.
"Kenapa dari tadi kamu melihatku terus-menerus?" tanya Alice tanpa mengalihkan pandangan dan terus menulis.
"Aku tidak memandangmu, kamu saja yang terlalu percaya diri," jawab Kin mengejek Alice yang terlalu percaya diri walaupun hal itu benar.
"Akui saja, kau tadi memandangku. Aku tahu karena cantik !" ucap Alice sambil menyikirkan rambut panjang yang mengganggu penglihatannya.
"Kenapa kau ini menjadi keras kepala? Aku berkata jujur !" ucap Kin berjalan menjauh dari tempat duduk Alice.
Aku ini sudah berkata jujur tahu, kamu saja yang keras kepala dan menyalahiku ! Geram Alice di dalam hati sambil mencatat.
"Ini untukmu." Alice mendongak melihat ke tangan Kin yang persis berada di depan mata.
Plak
Secara reflek Alice memukul tangan Kin karena berhasil membuat dirinya terkejut. Kin mengelus tangan yang tadi di pukul oleh Alice.
"Kenapa kau memukul tanganku?" tanya Kin tidak terima dengan perlakukan Alice.
"Harusnya aku yang bertanya! Kenapa kau menaruh tangan tepat di depan wajahku ?!" elak Alice geram melihat tingkah Kin.
"Aku hanya ingin membantumu, tadi aku ingin memberikan karet. Aku sangat risih melihat rambutmu itu." ucap Kin meletakkan karet berwarna kuning di meja.
"Setidaknya jika kau tidak mau mengucapkan terima kasih, hargailah benda pemberianku itu." ucap Kin dengan dingin sambil melangkah pergi dari perpustakaan.
Dia sepertinya marah, tapi aku berkata jujur sih. Apa yang sudah ku perbuat? Dasar Alice!. Batin Alice memukul pelan dahinya.
...🍪🍧🍪...
15.30 sore.
Para siswa-siswi pun di perbolehkan pulang, tetapi ada juga yang masih di sekolah karena harus mengikuti ekstra kulikuler.
Kin keluar dari gerbang membawa motor ninja ke sebuah kafe yang tidak terlalu jauh. Ia ingin beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumah.
Kring...
Kin masuk ke kafe dan duduk di dekat dinding kaca, ia mengulungkan lengan baju dan menaruh jaket kulit di atas meja sambil bermain ponsel.
"Es teh manis dengan kue seperti biasa," ucap Kin ketika seorang pelayan datang ke mejanya, tidak berapa lama pelayan itu pun pergi dan kembali dengan menghidangkan pesanan dari Kin.
"Terima kasih," ucap Kin sambil meminum es teh manis tersebut.
Tring..
Kin melihat ke arah ponsel dan segera membaca pesan tersebut.
Malam ini tanding, lumayan juga sih hadiahnya. Batin Kin dan segera mengetik balasan pesan dari Rio salah satu teman tongkrongan balapan liarnya.
Setelah menghabiskan waktu selama 20 menit, Kin pun beranjak dari kafe dan segera membawa motor ke suatu tempat.
Namun dia berhenti sebentar di pinggir jalan, dan segera berlari. Dengan tergesa-gesa ia menyelamatkan Aura yang hampir saja mati tertabrak mobil. Mereka berguling di rerumputan, Aura sama sekali tidak terluka namun kaki Kin terkena mobil. Mobil tersebut langsung berjalan tanpa berhenti, namun Kin sempat melihat nomor plat dari mobil tersebut.
"B2256CN !" gumam pelan Kin.
"Kamu kenapa bengong di tengah jalan?" tanya Kin kepada Aura yang masih ketakutan, ia membantu untuk duduk. Kemudian Kin dengan kaki tertatih-tatih membeli minuman dan plester.
"Ini minumlah dulu," ucap Kin memberi minum agar Aura menjadi lebih baik.
"Terima kasih," ucap Aura pelan tetapi ia masih syok atas kejadian tadi.
"Kenapa kamu keluar rumah Aura? Kamu itu masih sakit belum sembuh," ucap Kin dengan lembut biar Aura menjadi lebih tenang.
"Aku tidak mau Kin, aku tadi sempat mendengar hal itu. Kumohon Kin, aku tidak mau kita putus hanya gara-gara masalah teror itu." Kin melihat ke arah Aura, sejujurnya ia ingin sekali memutuskan Aura namun Aura adalah gadis yang baik dan tentu saja ia harus memperlakukan Aura dengan baik pula.
"Maaf Aura, tapi yang di katakan oleh ibumu benar. Aku tidak mau membuatmu sakit lagi, kamu pernah di teror akan di tabrak bukan? Bagaimana jika mobil tadi adalah mobil peneror itu?" Aura terdiam namun ia malah menangis, Kin memeluk Aura agar menjadi tenang. Tidak berapa lama ada mobil yang berhenti di depan mereka berdua, Mama Aura keluar dari mobil dan segera menyeret Aura pulang dengan sedikit kasar.
"Maaf tante, tapi kondisi Aura sedang sakit dan masih syok. Tolong perlakukan dirinya dengan lembut biar dia tidak menjadi tertekan." Kin memberi nasihat kepada Mama Aura.
"Saya tahu bagaimana caranya mendidik anak, terima kasih sudah menemukan Aura. Ingat ! Turuti janjimu tadi." Aura kembali di seret oleh mama masuk ke dalam mobil dan langsung pergi begitu saja.
Kin meringis kesakitan, ia kembali ke arah motor dan membawa motor ke arah sekolah untuk mengantar Alice pulang ke rumah.
Seorang pria di belakang pohon tampak tersenyum licik sambil mengabari seseorang melalui hp miliknya.
"Seperti dugaan lu, kita berhasil bikin mereka putus !"
"Haha apa yang gue bilang? Lu sih yang gak mau di ajak tadi, padahal sangat seru loh !"
"Dasar psikopat, kalau Aura tertabrak beneran bagaimana?!"
"Lagi pula hal itu gak terjadi, kan. Ya sudah santai aja kali,"
"Setelah ini gue gak mau kembali terlibat dengan rencana gila lu !"
Segera pria tersebut menutup telepon dan mengumpat sebentar, kemudian ia pergi dari sana.
Bersambung...