Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
37



Jam 10 pagi, dihari jumat.


Aura datang ke kantor polisi dengan pakaian sopan, dirinya berniat menemui Cindy atas surat yang ia terima beberapa hari yang lalu. Ia memakai celana jins dengan baju panjang sampai sepaha, tidak lupa ia mengikat rambut panjang. Serta, memberi bedak dan lip tint agar wajahnya terlihat lebih fresh.


"Silakan," ucap pak polisi mempersilakan Aura untuk berbicara dengan Cindy.


Aura melihat keadaan Cindy, tubuh Cindy semakin kurus selain itu aura kecantikan ini telah pudar.


"Lama tidak berjumpa ya Aura," ucap Cindy sambil tersenyum bangga tidak lupa ia melipat tangan didada.


"Rupanya sifat angkuh dan liciknya belum hilang," gumam pelan Aura melihat Cindy dengan malas.


"Apakah kamu sudah menerima surat dariku?" Aura mengangguk.


"Ceritakan semuanya Cindy, dan jangan pernah membohongiku !" gertak Aura tapi Cindy hanya tersenyum meremehkan.


"Baiklah, memang benar aku yang menabrakmu tempo hari itu. Tapi, aku tidak melakukan hal itu sendirian," ucap Cindy dan membuat Aura bingung.


"Jadi, ada orang lain yang juga turut membantumu?" tanya Aura.


"Ya, kau benar Aura. Dan, apakah kamu mau tahu siapa orangnya?" tanya Cindy dan memanjukan badan kedepan, sambil tangan kiri menopang dagu. Tidak lupa juga dengan sebuah senyuman penuh arti yang ia perlihatkan.


"Siapa? Aku tidak membiarkan orang itu bebas begitu saja !" Cindy tersenyum licik sambil berbisik menjawab pertanyaan dari Aura.


Brak !


Para polisi yang bertugas kaget karena Aura tiba-tiba memukul meja dan berdiri dari kursi.


"Ini tidak mungkin, kamu pasti berbohong !" bentak Aura sambil menujuk Cindy dengan jari telunjuknya.


Cindy hanya memutar bola mata kearah lain dengan malas. "Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas. Aku sudah memberitahu semua kebenaran kepadamu."


"Maaf nona Aura, tapi waktu telah habis. Cindy harus kembali ke sel," ucap pak polisi dan Aura hanya bisa mematung melihat Cindy dibawa kembali ke ruang tahanan.


"Huh, kamu pasti akan hancur !" gumam Cindy pelan. Saking pelannya, ia hanya menggerakkan bibir saja dan diakhiri dengan sebuah senyuman kemenangan dari Cindy.


...🍧🍪🍧...


Keano baru saja tiba ditaman, ia kemari atas permintaan dari sang kekasih yaitu Aura.


"Maaf Aura aku datang terlambat, kamu pasti sudah lama menunggu." Keano hendak menyentuh pundak Aura tapi langsung ditepis. Aura melihat kearah Keano dengan emosi yang sudah sangat kesal, kecewa dan sedih secara bersamaan.


"Aura kamu ken-"


"Tidak usah banyak omong kosong ! Aku tidak bisa percaya lagi denganmu Keano ! Tisak kusangka rupanya kamu sangat jahat!" Aura menumpahkan semua kekesalannya diiringi buliran air mata yang turun membasahi pipinya.


"Kamu kenapa Aura? Aku benar-benar tidak mengerti!" Aura melihat Keano dengan tatapan meremehkan.


"Tidak mengerti? Tidak usah pura-pura tidak tahu. KAMU ORANG YANG MAU MEMBUNUHKAN !" Keano membelak mendengar perkataan Aura.


"Kamu berniat membunuhku, kupikir kamu lelaki yang baik. Ternyata aku salah, kamu memang sangat cocok sekali dengan Cindy. Sama-sama LICIK !" Aura hendak pergi dari taman tapi ditahan Keano.


"Kamu salah Aura, aku memang bekerja sama dengan Cindy untuk membuatmu putus dengan Kin. Tapi, aku sama sekali tidak ada niat untuk membunuhmu." Aura terkejut mendengar kebenaran yang ia cari selama ini.


"Jadi, kamu adalah orang yang meneror aku?" Keano dengan berat hati menganggukkan kepala.


"Kamu memang jahat, tidak punya hati!" Aura memukul dada Keano dengan sekuat tenaga, Keano sama sekali tidak menghentikan perbuatan Aura. Lagipula, ia juga bersalah.


"Aku minta putus," ucap Aura dan membuat Keano terkejut.


"Ap-"


"Aku minta putus! Aku tidak mau mempunyai pacar yang melakukan hal licik dan juga berniat membunuhku."


"Aura, aku sudah bilang bukan aku yang melakukan hal itu. Itu murni perbuatan dari Cindy!" Aura tidak bergeming.


"Aku tidak peduli, pokoknya kita putus. Aku tidak mau melihatmu lagi KEANO GUNAWAN !" Aura berlari menjauh dari Keano dan segera mencari ojek untuk mengantarnya pulang. Sedangkan, Keano hanya bisa terdiam dan mengacak rambutnya karena frustasi.


...🍧🍪🍧...


Alice baru saja keluar dari mini market untuk membeli makanan dan minuman ringan. Ia berdecak pinggang melihat Kin yang bercanda dengan seorang perempuan yang tidak jauh beda dengan Alice, setelah cewek itu pergi. Alice baru mau mendekati Kin.


"Enak ya dari tadi diluar ngobrol sama anak gadis," sindir Alice memberikan kantong berisi makanan kepada Kin.


"Yaampun Alice kamu benar-benar lucu," sahut Kin terkekeh melihat Alice yang cemburu.


Kin mendekati Alice dan seraya berbisik, "Memangnya kamu bukan gadis?"


"Dasar ! Aku ini-"


"Iya Alice sayang, aku tahu kok. Sudah, cepetan naik." Alice mengendus kesal ketika Kin memotong ucapannya.


Alice bersender didada Kin sambil terus melihat kearah transportasi yang berlalu lalang.


"Kin, apakah aku boleh tahu sesuatu?" tanya Alice dengan posisi yang sama.


"Yah, kamu mau tahu soal apa?" tanya balik Kin sambil menikmati keripik singkong tapi matanya tetap melihat kearah kota.


"Jika boleh, aku ingin tahu harapanmu diulang tahunmu kemarin," jawab Alice pelan tapi Kin masih mampu mendengarnya.


"Aku berharap, jika saja waktu bisa dihentikan. Maka, aku akan sangat senang," sahut Kin menjawab pertanyaan Alice.


"Kamu aneh, waktu tidak mungkin bisa diubah," ucap Alice sambil memukul lengan Kin pelan.


"Namanya juga harapan Alice. Oh ya, selain harapan konyol itu. Aku telah berjanji akan melindungimu Alice." Alice yang tertawa tiba-tiba terdiam, ia melihat kearah Kin yang juga menatapnya dengan lekat.


"Oke, kita lupakan soal harapan dan janjimu itu." Kin tersenyum tipis dan bergeser sedikit agar Alice bisa duduk disampingnya. Keadaan mereka saat ini cukup bahaya, mereka duduk tepat di pembatas gendung. Jika sedikit melakukan kesalahan, maka berakibat fatal dan berujung maut.


"Kamu mau masuk universitas apa?" tanya Alice menatap Kin dan membiarkan rambutnya dilambai-lambai oleh angin. Walaupun, ia cukup risih.


"Aku akan ke Australia ambil jurusan bisnis, Papa dan Mama berharap aku melanjutkan studiku disana." Alice sedikit memaklumi karena Kin akan menjadi pewaris perusahaan milik Papa Dirga yang berada di Australia.


"Kalau kamu mau kemana Alice?" tanya Kin.


"Aku belum tahu, tapi aku ingin masuk jurusan geografi." Kin mengeritkan dahinya dan ia mulai sedikit tertawa.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya Alice penasaran dengan tingkah Kin.


"Alice alice, kenapa kamu malah pindah ke ipa?" tanya Kin.


"Yah begitunya sepertinya aku salah ambil jurusan," jawab Alice cuek dan membuat Kin semakin tertawa.


"Kin sudah, jangan tertawa lagi !" gertak Alice tapi tidak dipedulikan oleh Kin.


"Kin !"


"Baiklah, bagaimana kita berjalan-jalan?" tanya Kin dan Alice setuju. Mereka turun kebawah, namun ketika sampai dibawah. Mereka dikejutkan dengan motor Ken yang dipinjam Kin menghilang tanpa jejak.


"Sial ! Sepertinya tadi aku lupa mengambil kunci motor !" gerutu Kin tapi Alice hanya tersenyum tipis.


"Sudahlah, kalau begitu kita jalan kaki saja," tawar Alice dan Kin setuju.


Selama berjalan Kin memikir cara supaya Ken tidak merengek meminta motor butut penuh kenangannya itu. Iya, Kin memang kesal. Namun, disisi lain ia bersyukur dengan begitu ia bisa lebih lama bersama dengan Alice. Ketika mereka hendak menyeberang lewat zebra cross, Kin memfoto Alice dari belakang.


Mereka berjalan sambil tertawa riang, hingga suatu ketika Alice membeli sebuah topi dan jaket karena udara semakin dingin. Tidak lama setelah itu, hujan pun turun dengan derasnya. Alice dan Kin pun berlari mencari tempat berteduh, mereka pun berteduh didepan ruko. Bukan hanya mereka berdua saja, terlihat pasangan muda-mudi seperti mereka disini. Ada juga ibu-ibu yang masih mengomel karena terlambat pulang akibat hujan.


"Kamu mau coklat panas?" tanya Kin dan Alice hanya mengangguk. Kin segera memesan coklat panas yang dijual oleh PKL diruko.


Mereka berdua menikmati waktu hujan ditemani secangkir coklat panas.


...🍧🍪🍧...


Sudah hampir 3 jam Kin dan Alice menunggu. Namun, hujan terus turun dengan derasnya.


"Ayo kita pulang," ajak Kin sambil menutupi tubuh Alice dengan jaket serta topi, sedangkan dirinya mandi hujan.


"Tapi Kin, nanti kalau kamu sakit gimana?" tanya Alice.


"Tidak usah dipikirkan, ayo." Alice dan Kin menerobos hujan dengan berlari kecil di pinggir jalan.


Setelah sampai dirumah Alice, Kin segera menelepon Ken supaya dijemput.


"Kenapa dari tadi gue gak kepikiran ya?" gumam Kin menunggu teleponnya diangkat.


"Kamu gak mau masuk dulu?" tawar Alice tapi Kin menolak.


"Tidak usah Alice, aku cuma sebentar kok disini," jawab Kin dengan tersenyum. Kin tidak enak jika didalam rumah bersama dengan Alice akan menjadi bahan ghibah tetangga.


Tidak lama setelah Kin memutuskan telepon, Ken datang sambil mengenakan jas hujan berwarna kuning.


"Kami pulang dulu ya Alice," ucap Ken setelah Kin mengenakan jas hujan warna biru.


"Iya, hati-hati dijalan." Motor matic yang baru dibeli oleh Ken itu melesat pergi membelah hujan.


Alice masuk kedalam rumah untuk mandi dan membersihkan kamarnya sebelum tidur. Setelah selesai mandi ia menerima sebuah pesan dari Keano.


Keano : 'Besok kutuggu di cafe jam 10 pagi. Tolong datang."


Itu pesan yang diterima oleh Alice. Alice hanya terdiam dan ia meletakkan kembali hp. Segera ia tidur agar tubuhnya tidak sakit.