
Tuk.
Alice langsung berbaring di atas tempat tidur dan membuang napas sebanyak-banyaknya. Hari ini ia sangat lelah, bukan fisik melainkan pikirannya. Otaknya terlalu banyak berpikir keras dan itu tentu tidak jauh dari Kin kekasih pura-puranya.
Apa aku terlalu berlebihan? Dia hanya kekasih pura-pura saja Alice, kenapa aku memikirkannya sangat jauh? Batin Alice termenung, memikirkan semua kejadian kemarin dan hari ini.
"Kumohon, jadilah pacarku. Terimalah aku di hidupmu Alice."
"Jangan memandang Kin hanya karena ia seorang playboy, bukankah ia tidak menggoda cewek demi menjaga perasaanmu?"
"Ahk, aku tidak tahu ! Aku tidak mengerti !" teriak Alice sambil mengacak-acak rambutnya.
Alice terlentang sambil melihat ke atas langit-langit kamar, ia menarik napas dan membuangnya secara cepat. Matanya juga sudah mulai berair, tubuhnya sudah mulai bergemetar.
"Aku tidak tahu, aku tidak mengerti. Apa aku benar-benar menyukai Kin atau hanya sebuah rasa kagum semata?!"
"Aku tidak tahu, apa yang terjadi denganku? Kenapa hatiku merasa sakit ketika aku menolak Kin. Apa benar aku menyukainya? Aku benar-benar bingung," ucap Alice dan tidak berapa lama air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
Tring.
Hp Alice menyala dan berbunyi, menandakan ada sebuah pesan masuk dan rupanya itu dari Kin.
Pesan dari Kin : Aku akan menjemputmu jam 7 malam ini, sampai jumpa nanti 😀.
Alice melihat ke arah jam, ia punya waktu 1 jam lagi sebelum kencan dengan Kin. Ia pun bangun dan mulai membersihkan diri untuk bergegas pergi.
Jam 7 malam pun tiba, Kin telah menunggu di depan rumah Alice. Hari ini ia menggunakan motor matic punya Ken.
Karena tadi main game aneh itu, gue harus merelakan motor bagus gue di bawa Ken. Batin Kin kesal karena kalah bermain uno.
"Maaf telat, ayo kita berangkat." Kin mengangguk tersenyum sambil melihat pakain yang di pakai Alice. Alice memakai jaket berwarna kuning dan juga sebuah topi berwarna kuning dan rambutnya ia ikat menjadi 2. Dengan celana jins dan sebuah sepatu hitam, sedangkan Kin memakai hoodie berwarna merah, tidak lupa dengan celana levis hitam dan sepatu sport warna putih.
"Motorku di bawa Ken, jadi kita naik ini saja." Alice mengangguk dan naik ke atas motor, tidak berapa lama motor pun mulai jalan.
Suasana malam sabtu tidak terlalu banyak orang, angin malam sangat terasa di muka Alice dan itu membuatnya nyaman.
"Kita turun di sini," ucap Kin berhenti di dekat pinggir jalan dekat jembatan dan itu membuat Alice bingung.
"Terus motornya bagaimana?"
"Nanti akan di bawa sama teman kita, ayo." Kin dan Alice pun berjalan kaki menuju ke jembatan sambil menikmati angin malam.
"Kamu suka?" tanya Kin sambil memakai penutup kepala.
"Iya aku suka kok, apalagi dengan anginnya." Alice tersenyum sambil menikmati rasa angin malam, ia sedang di bagian pinggir pembatas melihat kendaraan dari bawah.
Moment itu tidak mungkin di sia-siakan oleh Kin, segera ia mengambil gambar Alice dan hasilnya cukup bagus karena Kin memang jago mengambil gambar.
Cantik, juga imut. Batin Kin tersenyum dan kembali memasukkan hp ke dalam saku dan ikut menikmati sensasi yang dirasakan oleh Alice. Alice mengesek-gesek tangan untuk menghangatkan diri, karena ia merasa kedinginan.
"Mau ku bantu?" tawar Kin dan itu membuat Alice bingung. Tapi, tidak berapa lama ia terpaku ketika Kin memasukan tangan Alice ke dalam saku Kin. Ibu jari Kin terus mengusap punggung tangan Alice.
"Maaf, kamu pasti kedinginan." Alice terdiam tapi ia membiarkan tangan kanannya di saku kiri Kin.
"Bagaimana kalo kita makan? Kamu mau?" Alice hanya mengangguk pelan dan mereka pergi ke penjual makanan di pinggir jalan.
...🍪🍧🍪...
"Aura kamu yakin gak mau keluar dengan aku?"
"Iya bawel, gue gak mau. Lagipula gue gak mau pacaran denganmu !"
"Kamu lupa kalo perjanjiannya itu-"
"Masa bodo dengan perjanjian bodoh itu, pokoknya aku gak mau !" Aura langsung menutup telepon dari Keano dan melempar hpnya ke atas kasur dengan perasaan amat kesal.
"Ahk, kenapa di malam sabtu ini aku tidak kencan dengan Kin ?!" teriak Aura cemberut dengan tubuh terlentang di atas kasur.
"Tapi Kin sudah milik Alice, tapi tetap saja aku masih belum bisa melepaskan Kin seutuhnya !" geram Aura sambil menggigit ujung bantal. Aura memiliki sebuah kebiasaan dimana ketika ia merasa kesal benda apapun akan ia gigit atau ia robek dan hancurkan.
"Ya Allah, kumohon tolong kabulkan permintaanku ini." ujar Aura duduk bersila menghadap kiblat, "semoga malam ini turun hujan jadi orang-orang yang berpacaran akan berkurang, aamiin."
Setelah memanjatkan doa, ia pun bergegas ke toilet untuk menggosok gigi dan mencuci tangan dan kaki.
Setelah 20 menit ia pun keluar, dan segera pergi tidur.
...🍪🍧🍪...
Tik tik tik.
"Maaf ya Alice, gara-gara tadi aku meninggalkan motor kita jadi basah," ucap Kin berdiri di depan ruko yang di jual lantaran harus meneduh karena hujan dengan cukup amat deras turun di saat setelah Kin dan Alice selesai makan.
Siapa sih yang berdoa turun hujan, aku yakin orangnya pasti jomblo ! Batin Kin kesal melihat ke arah hujan yang terus turun.
"Tidak papa kok, lagipula aku juga ingin istirahat sebentar," balas Alice sambil tersenyum, Alice benar-benar kedinginan, tapi ia tidak mungkin menunjukkannya kepada Kin.
"Alice, kamu sangat pucat !" ujar Kin menyentuh pipi Alice dan melihat area bibir Alice yang memutih karena menggigil.
"Maaf Alice aku bukan bermaksud apa-apa, ini murni untuk menghangatkanmu saja." Kin pun memeluk Alice dari belakang dan itu membuat Alice terpaku.
"Harusnya aku yang minta maaf Kin," ujar Alice pelan dan itu membuat Kin penasaran.
"Kenapa malah kamu yang minta maaf?"
"Aku telah menyakiti perasaanmu, kemarin itu aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya bingung kepada diriku sendiri, tubuhku sangat jelas menolakmu tapi hatiku selalu merasa sakit jika Kin menjauh. Aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri Kin." Kin tersenyum dan memeluk Alice dengan erat.
"Kin, aku sesak !" teriak Alice marah dan Kin hanya terkekeh pelan.
"Kenapa kamu malah ketawa? Apa kamu suka melihatku mati?" tanya Alice marah.
"Tidak, tapi aku merasa senang,"
"Senang kenapa?"
"Senang karena aku berhasil membuatmu nyaman di sisiku."