Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
8



...🍪🍧🍪...


"Kamu dari tadi kenapa diam terus sih Alice ?" tanya Aura yang duduk di hadapan Alice di sebuah cafe dekat sekolah.


"Aku gapapa," jawab Alice tersenyum tipis dan meminum jus apple sedangkan Aura minum jus alpukat.


"Pasti masalah satu kelompok dengan Cindy, kan?" Alice tersenyum gentir.


"Sudahlah lebih baik kamu membuat tugas itu sendiri, biarkan nama dia dan teman-temannya jangan di tulis," usul Aura.


"Aku sih mau, tapi kamu tahu, kan kalau Cindy itu orangnya gimana? Aku bisa dalam bahaya kalo nggak nulis namanya !" Aura hanya mengaduk jus alpukat, Cindy memang orangnya sangat tidak suka di bantah. Memiliki paras cantik rupawan, bersikap ramah ke anak laki dan para anak dengan kedudukan setara dengannya saja. Jika Alice selalu ia pandang sebelah mata, padahal Alice adalah orang yang sangat baik.


"Aku benar-benar bingung memikirkan hal itu, tapi tugas ini harus di kerjakan," keluh Alice menghela napas.


"Mau aku bantu?" Alice menggeleng.


"Tidak perlu, oh ya aku juga mau lihat pacar kamu dong." Aura mengambil hp di kantong baju seragam dan memberi lihat kepada Alice wajah kekasihnya.


Loh bukankah ini lelaki yang ku tolong waktu itu ? Batin Alice melihat foto Kin dan Aura di ponsel Aura.


"Bukankah dia Kin?" tanya Alice dan Aura mengangguk.


"Ia dia Kin Dhananjaya, hebat loh aku bisa berpacaran dengannya sampai 1 bulan," girang Aura.


"Bukannya kalo satu bulan itu hal biasa saja?"


"Kalau Kin berbeda, biasanya sih cuma sampai berhari doang. Belum dengar kalo ada yang sampai 1 bulan kayak aku ! Enggak heran sih karena dia itu, kan seorang playboy."


"Hah dia playboy?!" Aura mengangguk.


"Ih kamu kudet sih, makanya banyak keluar terus berkenalan sama anak kelas lain, jangan cuma baca buku mulu di perpustakaan !" ejek Aura.


"Iya deh, kalau gitu aku pergi ya ! Mau kerjain tugas kelompok dulu !"


"Tugas mandiri, bukan kelompok !" teriak Aura melihat Alice berlari ke rumah.


...🍪🍧🍪...


Kin melangkah keluar dari kantor milik papanya. Ia melihat ke arloji yang berada di tangan kiri telah menunjuk angka 3.


"Lebih baik mencari udara segar daripada bertemu dengan papa dan mamanya yang akan memulai drama lagi," pikir Kin.


Kin mengendarai motor dan berhenti di sebuah rumah makan, ia turun dan masuk untuk mengisi perut.


Buset ramai banget, mana ya tempat duduk.


Kin sedikit terkejut melihat banyaknya orang makan di rumah makan ini. Selain rasa yang enak dan khas, uang pun tidak terlalu banyak keluar terlebih lagi adanya fasilitas Wi-fi jadi tentu banyak orang yang berlama-lama di sini.


Kin berjalan ke sebuah meja yang terdapat seorang perempuan yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Maaf boleh saya duduk di sini?" tanya Kin, gadis itu mendongak dan melihat ke arah Kin.


Kenapa harus ketemu dengan dia? Bersikap seperti kamu tidak tahu apa-apa, tarik napas dan bersikaplah ramah kepadanya ! Batin Alice.


"Loh kamu yang waktu itu kan?" tanya gadis itu dan Kin membulatkan mata melihat siapa yang ada di depannya.


Gue gak mimpikan, demi apa gue ketemu sama gebetan di sini?. Batin Kin melonggo melihat Alice, gebetannya yang ingin ia dapatkan.


"Hello, kok kamu malah diem sih?" tanya Alice dan menyadarkan Kin.


"Ah, boleh aku duduk?" Alice tertawa dan Kin terdiam melihat tawa dari Alice.


Cantik. Puji Kin di dalam hatinya.


"Ih kamu ini masih muda sudah pikun saja, tentu dong boleh kenapa enggak? Ayo duduk nanti di ambil orang loh." jawab Alice tertawa melihat tingkah Kin, segera Kin duduk di samping Alice.


"Kamu sudah pesan makanan?" tanya Kin basa-basi.


"Belum sih, tapi nanti saja. Masih banyak kerjaan aku." jawab Alice dan kembali fokus mengetik di laptopnya.


"Oh baiklah," ucap Kin dan memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan.


"Oke, itu saja," ucap Kin dan pelayan mengangguk dan melangkah pergi untuk menyiapkan pesanan Kin.


Kin melihat Alice yang masih fokus  mengetik di laptopnya, Kin tidak sengaja melihat judul ketikkan dari Alice.


"Bukannya ini tugas kelompok?" tanya Kin, Alice mengangguk.


"Dimana kelompokmu?" tanya Kin.


"Mereka tidak datang, sibuk !" jawab Alice pelan.


"Kamu mengerjakan semuanya?" Alice mengangguk pelan.


"Enggak semuanya juga sih ! Aku cuma mencari bahan di internet terus di ketik di rapihkan dan di print," elak Alice.


"Itu sama saja kamu mengerjakan semuanya, kamu tidak boleh menulis nama kelompokmu. Ini namanya tugas mandiri bukan kelompok !" ucap Kin melihat Alice yang hanya diam.


"Gak papa kok, ini juga cuma sekali," elak Alice dan tersenyum.


"Ini pesanannya tuan," ucap pelayan menaruh makanan dan minuman di meja Kin dan Alice.


"Terima kasih." Pelayan itu mengangguk ramah dan meninggalkan mereka berdua.


"Kamu makan sebanyak itu?" tanya Alice heran melihat makanan cukup banyak yang di pesan oleh Kin.


"Ini bukan buatku saja," elak Kin dan membuat Alice bingung.


"Ini buatmu, makananlah. Kamu pasti lapar," ucap Kin menyodorkan mangkok berisi makanan kepada Alice yang berada di sampingnya.


"Tidak perlu, aku masih kenyang kok," elak Alice dan saat bersamaan suara cacing telah berdemo di perut terdengar dan membuat Alice tertunduk.


"See? Kau harus makan. Kasihan cacing di dalam perut mungilmu itu," ucap Kin dan terus membujuk Alice untuk makan.


Alice dengan malu-malu menutup laptop dan menyimpan di dalam tas yang ia bawa, kemudian dia mengambil mangkok yang di tawarkan oleh Kin.


"Terima kasih," ucap Alice pelan dan menikmati makanan tersebut, bersama dengan Kin.


"Hahaha, kamu ini benar-benar lucu dan polos ya," ucap Kin tertawa melihat aksi Alice yang sedang membuka laptop.


"Kenapa?" tanya Alice bingung dengan sikap Kin yang tertawa.


Aku kan cuma mau melanjutkan tugas, apa itu lucu?. Batin Alice bertanya-tanya tetapi dia menjadi kaku ketika jari-jari tangan Kin yang di baluti tisu membersihkan sisa-sisa makanan di area bibir.


"Maaf jika aku lancang, aku hanya tidak mau nanti kamu di tertawakan di sini," ucap Kin setelah membersihkan sisa makanan di area bibir Alice.


"I-iya gak papa kok, terima kasih," ujar Alice dan segera melanjutkan tugasnya kembali sedangkan Kin bermain hp.


Benar-benar tadi itu membuatku gugup, semoga saja Alice tidak dengar suara jantungku yang sedang konser. Batin Kin stay cool memainkan beranda


hpnya.


Uh benar-benar si playboy ini, dia selalu saja bisa bikin para cewek baper. Pokoknya aku tidak akan mau menjadi salah satu mainannya !. Batin Alice berusaha menyembunyikan rona merah di pipi namun sayang tidak bisa.


...🍧🍪🍧...


30 menit berlalu...


Mereka berdua menghabiskan waktu dalam kesunyian tanpa ada yang mau bicara.


"Alhamdulillah akhirnya selesai juga !" ucap Alice girang sambil mematikan laptop dan melemaskan otot-ototnya terlebih dahulu.


"Sudah selesai?" tanya Kin dan membuat Alice kaget.


"Ya ampun kodok terbang, bikin aku kaget orang aja !" ketus Alice sambil mengelus dada dengan napas naik-turun, sedangkan Kin tertawa melihat tingkah laku dari Alice.


"Kodok terbang? Emangnya dia punya sayap?" tanya Kin.


"Punyalah," jawab Alice.


"Masa sih? Kok gue baru tahu ya?" goda Kin.


"Kamunya aja yang gak ngebaca buku terus lihat artikel-artikel soal kodok di dunia luar. " ucap Alice ngawur dan Kin menyentil dahi.


"Garing lu, mau marah tapi gak bisa !" cibir Kin.


"Ih kurang ajar, sakit tahu !" bentak Alice menyentuh dahi yang mungkin telah menjadi merah.


"Ya sudah, mau pulang enggak nih?" tanya Kin.


"Emang gue mau pulang sama lu?" Alice balik bertanya dengan tatapan sinis.


Lebih baik aku gak usah bersikap manis terhadapnya, menyusahkan saja. Batin Alice.


"Gue cuma nanya bukan nawarin." ucap Kin.


"Oh gue pikir..."


"Mau di antar?" tanya Kin.


"Kan tadi..."


"Mau di antar atau enggak?" tanya Kin.


"Suka banget potong ucapan orang!" ketus Alice berjalan lebih dahulu keluar dari restoran tetapi ia di tarik oleh Kin.


"Mau kemana lo?" tanya Kin.


"Gue mau pulang lah," jawab Alice polos.


"Bayar dulu, enak aja main pergi dasar SMP. " cibir Kin.


"SMP?"


"Sudah Makan Pergi, bayar dulu gih." Alice menjadi bingung, pasalnya uang gajinya belum cair bulan ini.


Lah terus anda ngapain pesan makanan kalo ujung-ujungnya aku juga yang bayar?! Huh, dasar cowok gak peka !. Batin Alice kesal dengan tingkah laku dari Kin.


"Aduh, gue..."


"Kenapa?" tanya Kin.


"Oh yaudah gue bayar dulu tapi nanti lu bayar, mau enggak?" Alice menganggukkan kepala dengan cepat.


"Makasih," ucap Alice dengan tidak ikhlas melihat Kin membayar pesanan.


Maaf Alice, aku cuma sedang berjaga-jaga saja jika nanti suatu saat kamu akan menjauhiku. Aku takut firasatku ini tepat. Batin Kin.


...🍪🍧🍪...


Semenjak Kin bisa kembali bersekolah lagi, setiap hari ia selalu menjemput dan mengantar Alice. Alice selalu tolak namun Kin memaksa, Kin selalu menjemput Alice lebih awal dan mangatar Alice pulang ketika suasana sekolah sudah sepi. Untunglah tidak ada yang curiga akan hal itu. Walaupun Kin masih status berpacaran dengan Aura, tapi tetap saja Kin ingin melakukan hal tersebut, seakan kegiatan tersebut adalah hal yang harus ia lakukan. Hari ini Kin masuk ke sekolah setelah seminggu libur karena baru selesai melakukan ujian semester pertama.


Kin berada di urutan ke 2 di kelas, tentu saja Mama Lara sangat senang karena Kin masih mewarisi kepintaran dari Dirga dan dirinya.


Dia datang lebih awal dari hari-hari biasanya, mengenakan jaket putih yang menutupi seragam putih abu-abu, namun ia tidak menjemput Alice karena Alice menolak hal tersebut.


Ia melangkah masuk ke dalam sekolah yang masih sepi, berjalan santai sambil mendengarkan lagu musik bersemangat di hp melalui earphone.


"Let's kill...this love...tetettette...ropopopooooo," ucap Kin mengikuti irama musik yang sangat sedih namun bersemangat.


Hingga akhirnya dirinya sampai di depan kelas 11 Ipa-3, wait...Ipa-3?!.


Kelas 11 Ipa-3 bukan kelas yang menerima Kin sebagai anak muridnya, namun kelas ini adalah kelas dari adik sepupu Kin yang terkenal dengan kedisiplinan yang ketat.


"Assalamualaikum !" ucap Kin masuk dengan santai, ia tidak peduli dengan tatapan bingung siswa-siswi yang sudah datang di kelas tersebut.


"Kok pada diem? Jawab dong," ucap Kin kepada segerombolan siswi dan segera melakukan apa perintah dari Kin.


"Abang ngapain ada di sini? Nyasar?" tanya Ketsia yang sedang membuka lembaran buku paket Biologi.


"Ada yang mau gue tanya sama lu," ucap Kin memberikan sebuah petunjuk untuk keluar melalui matanya, Ketsia yang paham mengangguk pelan. Segera ia menutup buku paket tidak lupa menaruh kacamata, kemudian ia mengikuti sepupunya tersebut keluar dari kelas.


Bersambung...