Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
10



...🍪🍧🍪...


Tring..tring..


Bel istirahat berbunyi nyaring, para murid pun keluar dari kelas menuju ke kantin untuk mengisi perut, bertemu teman dan bergosip. Tidak terkecuali dengan diriku, namun sayang hari ini aku melangkah kakinya ke arah perpustakaan sekolah untuk mengisi jam istirahat dengan beberapa pr yang menumpuk.


Kenapa Aura hari ini tidak datang sih? Jadinya aku sendiri ! Batinku  dengan cemberut sepanjang jalan menuju ke arah perpustakan.


"Oi Alice !" aku berhentikan langkah kakiku dan mencari-cari sumber suara dan diriku terdiam ketika mengetahui yang memanggilnya ialah Keano.


Ya ampun, aku di panggil Keano?! Apa aku sedang bermimpi? Batinku menjerit melihat Keano dengan seragam sekolah, 2 kancing terbuka dan berlari menuju kearahnya.


"Maaf mengganggu, gue mau tanya sesuatu boleh tidak?" tanya Keano di hadapan aku yang terus berdiam terpesona melihat dirinya.


Dia diam karena kaget atau lihat ketampananku ya? Entah kenapa itulah yang aku baca dari raut wajah Keano melambaikan tangannya di depan Alice tetapi belum juga tersadar, hingga Keano menjentik jari telunjuk dan jari tengah.


"Ahh, maafkan aku !" ucapku dengan gugup bercampur malu karena tertangkap basah dengan Keano.


Tidaaak ! Mukaku harus di taruh dimana? Batinku kembali menjerit dan segera aku menundukkan pandangan.


"Oi, kenapa kau terus menundukkan kepalamu?" tanya Keano dengan kesal, aku pun kembali melihat ke arahnya namun tidak ke matanya. Karena mata Keano selalu saja membuat diriku tersihir mantra kaku dan berdiam sambil mengangumi ketampanannya.


"Iya, kamu mau nanya tentang apa?"


"Kau tahu dimana Aura? Sedari tadi aku tidak melihatnya," ucap Keano dan entah kenapa hatiku merasa sakit ketika Keano bertanya tentang Aura kepadaku.


"Ahh, aku kurang tahu juga sih. Tapi yang kutahui adalah ia sakit hari ini jadi dia tidak masuk," aku bisa melihat wajahnya sedikit sedih namun aku tidak terlalu yakin.


"Begitu ya, baiklah terima kasih," ucap Keano dan berlari menjauhiku namun ia berhenti dan kembali ke arahku.


"Apakah kamu mau membantuku?" tanya Keano ke arahku yang diam mematung mendengar kata kamu dari mulut Keano.


Sebelum aku menjawab Keano sudah terlebih dahulu memotong. "Sudahlah, tidak usah di pikirkan." Keano berlari lagi ke arah kantin sedangkan aku kembali berjalan ke arah perpustakaan.


...🍪🍧🍪...


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi diriku benar-benar sangat kesal sekarang!" Entah kenapa setelah berbicara dengan Keano moodku kembali turun secara drastis layaknya roller coster.


Aku terus mengambil buku dengan asal di rak buku sambil berdumel tidak jelas, tidak peduli dengan keadaan di sekitarku. Hingga buku yang menarik perhatian diriku ada di rak paling atas, aku berjinjit namun tetap saja tidak bisa aku menggapai buku tersebut.


Aku melihat ke arah kiri dan kanan, tidak ada orang disini dan sangat jauh bangku dan membuatku malas untuk mengambilnya.


Sudahlah nanti kapan-kapan saja aku mengambil buku itu lagi.


"Apa-apaan ini, kenapa aku mengambil buku yang sama sekali tidak terkait dengan pr, ku?!" gumamku melihat buku-buku tebal mengenai matematika sedangkan prku mengenai sejarah.


"Kenapa aku bodoh sekali? Keano memang sebuah racun untuk, ku! Racun yang membuatku selalu terdiam dan tidak bisa melakukan apapun." Aku membawa buku-buku besar itu dan berjalan untuk mengganti buku, lantaran masih kesal jadi aku taruh saja asal toh juga banyak kok yang melakukan hal yang serupa dengan apa yang ku perbuat ini.


"Aww!" pekikku ketika buku tebal matematika terjatuh dari rak dan mengenai tepat di kakiku yang hanya berlapisi oleh kaos kaki berwarna putih.


"Hari ini benar-benar hari terburuk !" jeritku pelan karena aku tahu kalo masih berada di dalam perpustakaan.


Ketika aku masih duduk di bawah lantai, tangan seorang menyambutku tanpa pikir panjang langsung aku sahut dan aku bisa berdiri sempurna.


"Apa kamu baik-baik saja?" aku mendongak dan mendapati Kin. Sang playboy sekolah melihat ke arahku dengan senyuman mengejek.


"Kenapa lu ada di sini?" tanyaku kesal karena masih mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Benar-benar lelaki licik ! Aku yakin ada niat terselubung dengan cara manisnya ini, selain dengan menjemput ku setiap hari.


"Ini perpustakaan, siapa pun berhak ke sini." jawaban darinya tidak dapat membuat emosiku membaik malah menjadi-jadi.


"Terima kasih !" ucapku langsung pergi melewatinya menuju ke arah rak buku-buku sejarah.


Aku pun kembali ke arah rak yang tinggi. Kenapa sih buku-buku sejarah itu ada di rak paling atas? Kenapa gak di bawah saja?!.


Ketika aku ingin mengambil dengan berjinjit, entah kenapa ada sosok bayangan di belakangku dan mengambil buku itu seraya mengejekku.


"Kalo aku jadi kamu, maka aku akan banyak minum susu biar menjadi lebih tinggi !" ucapnya sambil tertunduk melihat ke arahku yang hanya sebatas dadanya saja.


"Aku ini sudah tinggi ya, karena rak ini saja yang terlalu besar !" ujarku tidak mau mengalah, harga diriku itu loh sebagai wanita yang tidak pernah salah di mata lelaki.


"Terlalu besar?" tanyanya sambil tertawa kecil.


Kupikir dia ingin memberikan kepadaku rupanya dia malah mengangkat buku itu tinggi-tinggi melalui tangannya. Untung saja ketiaknya wangi, kalo bau akan ku ejek dia. Bahkan, kalo perlu akan ku bilang ke satu sekolah biar dia malu sampai ke anak cucu !


"Berikan buku itu kepada, ku !" perintahku namun ia tidak menurutiku, bahkan malah meletakkan buku di rak paling atas. Ia saja bahkan harus berjinjit untuk menaruhnya, bagaimana denganku? Yang hanya sebatas dada bidangnya saja. Lelaki ini benar-benar menyebalkan !.


"Kenapa kamu malah menaruhnya di paling atas?" ia melihat ke arahku yang kesal dan berjalan santai meninggalkanku dengan cuek yang sama sekali tidak bersalah.


Entah kenapa, aku ingin sekali memotong tangannya dan ku berikan kepada aligator !.


Bersambung...