
"Raja, lu yakin gak bakal ada yang tahu ?" Sasha berhenti berjalan, ia malah bersembunyi di balik dinding yang penuh coret-corettan yang tidak beraturan.
"Yakin, lagipula Sasha percaya kalo yang membuat Juanda meninggal itu Ken bukan gue." Sasha tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Raja.
"Jahat banget lu bohongin adik Juanda, kalo dia masih hidup habis lu di tangan dia."
Terdengar suara tawa Raja yang memenuhi ruangan kumuh itu.
"Salah Juanda sendiri gak mau balas dendam dengan Kin, yaudah gue bikin dia jatuh aja kayak yang ia lakuin terhadap Kin."
Prang.
Tanpa sengaja rantang makanan yang di bawa Sasha jatuh ke lantai, dan itu membuat dirinya menjadi panik.
"Siapa itu?"
Aku harus pergi ! Batin Sasha yang berlari menjauh namun sayangnya ia tersandung dengan balok kayu dan itu membuat dirinya terjatuh.
"Wah rupanya ada Sasha, kenapa kabur Sha?" tanya Raja berjongkok di hadapan Sasha yang tersungkur di tanah.
"Pembunuh !" Raja terkejut tapi kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Kalo gue pembunuh memang kenapa? Apa yang bisa dilakukan gadis manja seperti lo?" tanya Raja sambil mencengkram rahang bawah Sasha.
"Aku akan melaporkanmu ke polisi ! Tidak akan ku biarkan pembunuh sepertimu hidup dengan bebas !" Raja tersenyum meremehkan Sasha.
"Benarkah? Tapi kayaknya sebelum lu lapor gue akan membuat lu menderita !" Raja menarik paksa Sasha masuk ke sebuah ruangan kumuh dan mendorong Sasha dengan cepat, itu membuat Sasha tersungkur di tanah.
"Tolong lepaskan aku !" teriak Sasha.
"Diam, jangan buat gue bikin lebih dari ini !" bentak Raja sambil menampar pipi Sasha sampai menjadi merah.
"Jangan berharap lu bisa keluar dari sini !" Raja keluar sambil membanting pintu.
Sasha menangis sambil memegang pipi yang di tampar oleh Raja.
Juanda, Ken, Sasha takut. Batin Sasha sambil menangis.
...🍪🍧🍪...
2 hari kemudian, ketika di pagi hari menjelang siang. Sebuah motor berhenti di depan rumah Sasha.
"Ken, lu yakin ke sini?" tanya Rio dan Ken mengangguk dan mulai masuk ke halaman Rumah Sasha.
"Permisi, anda cari siapa?" Ken berbalik dan bertemu dengan pembantu Sasha yang baru saja datang dari gerbang.
"Loh Tuan Ken, cari Nona Sasha ya?" Ken mengangguk.
"Sasha kemana bi? Dia baik-baik saja kan?" bibi terlihat pucat.
"Begini, sudah hampir 2 hari Nona Sasha tidak pulang." Ken terkejut.
"Dia memangnya kemana bi?"
"Katanya sih pergi ke tempat teman-teman abangnya. Terus gak pulang lagi deh."
"Makasih bi atas informasinya," ucap Ken dan bergegas pergi ke arah Rio.
"Rio, suruh Kin sama yang lain pada kumpul. Gue mau bicara hal yang penting !" ujar Ken dan segera naik ke atas motor.
Ken, Rio beserta teman-teman yang lain sudah berada di sebuah Cafe.
"Kenapa Ken? Apa lu dapat informasi tentang kematian Juanda?" tanya Kin dan Ken menggeleng.
"Ini bukan soal Juanda, ini soal Sasha. Ia udah 2 hari gak pulang !" Mereka bingung.
"Sebelum menghilang, ia pergi ke tempat teman-teman Juanda," ucap Ken.
"Ada yang tahu dimana tempat teman Juanda nongkrong?" tanya Kin dan semuanya menggeleng kepala.
"Juanda sama teman-temannya sering gonta-ganti tempat, biasanya di lakukan setiap minggu," ujar Rio.
"Bagaimana kalo kita cari ke seluruh tempat mereka?" usul Ken.
"Jangan ngaco, tempat mereka bukan di daerah sini doang, bahkan sampai luar kota !" elak Elang dan membuat Ken sedih.
"Tapi tidak ada salahnya bukan, tenang kita ada Leonil dia ada alat khusus jadi pasti bakal mudah untuk mencari Sasha !" ujar Ketsia sambil menepuk pundak Leonil pelan, sedangkan Leonil tidak banyak berkomentar dan sibuk meminum es kopinya.
"Tapi itu butuh 1 hari, mungkin besok gue tahu dimana posisi Sasha," ujar Leonil.
"Itu kelamaan ! Kalo Sasha kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Ken.
"Kamu kok gitu sih, Ken lagi panik loh !" ketus Ketsia.
"Biarkan dia yang mencarinya, lagi pula ini masalah antara Ken dan Sasha kita tidak perlu ikut campur," balas Leonil.
"Yang di bilang Leonil benar, tapi kita harus bantu Ken. Gue takut teman Juanda melakukan sesuatu yang enggak di inginkan kepada Sasha," ujar Kin, Rio dan Elang mengangguk.
...🍪🍧🍪...
"Ja, sampai kapan lu bakal kurung dia?" tanya Rafael.
"Entahlah, gue juga gak tahu," jawab Raja sambil merokok.
"Eh Ja, lakuin itu yuk," ajak Rafael. "Lumayan kan, ada bahan gratis ini."
"Benar juga, kenapa gue gak kepikiran ya?" tanya Raja tertawa dan mematikan rokok. Di basecamp memang cuma ada Rafael dan Raja.
Krek,
"Hai Sasha, gimana kabar kamu?" tanya Rafael mendekati Sasha dan itu membuat Sasha takut.
"Tolong lepaskan aku, kumohon," lirih Sasha.
"Enak aja, lu gak bakal bisa kabur dari sini sebelum bisa membuat kami puas !" ujar Raja dan itu membuat Sasha semakin takut. Sasha juga sudah berteriak tetapi mereka semakin dekat. Mereka berdua merobek baju Sasha dan tersisa bra hitam dan cd senada. Sasha menangis, tenaganya sudah lemah karena ia di kurung tidak di beri makan dan juga minum.
"ABANG !" teriak Sasha sambil memukul mereka yang mulai meraba tubuhnya.
"Percuma lu panggil Juanda, Dia sudah MATI HAHAHA !" teriak mereka berdua tertawa terbahak-bahak dan Sasha semakin menangis.
Ken tolong ! Batin Sasha ketika mereka ingin merobek cd Sasha.
Brak.
"BAJINGAN !" Rafael dan Raja pun langsung terhuyung dan terbatuk-batuk akibat tendangan dan pukulan dari 2 orang laki-laki.
"Kin? Kenapa lu bisa ada di sini?!" bentak Raja ketika ia melihat Kin, Rio dan Elang. Sedangkan Sasha sedang berada di pelukan Ken.
"Sasha tenang ya, Ken di sini," ucap Ken membuka kancing kemeja untuk di pakai ke tubuh Sasha dan segera ia mengedong Sasha keluar.
"Mau lu bawa dia kemana ?"
Buk.
Raja terjatuh menerima pukulan dari Kin.
"Urusan lu sama gue bukan dengan adik gue bahakan adik Juanda, kalo dia masih hidup dia pasti akan membunuh lu !" ucap Kin dengan dingin dan mulai menghajar Raja namun di tahan Elang.
"Kin biar gue aja, gue masih ingat benar ketika dia perkosa adik gue dan berdalih di belakang punggung Juanda !" ujar Elang dan mulai menonjok Raja untuk membalas dendam atas kematian adiknya.
"Ingat Elang, jangan samapi dia mati. Dia harus masuk penjara atas kematian Juanda dan juga pelecehan kepada Sasha !" Kin berjalan keluar sambil menelepon polisi, sedangkan Rio dan Elang menghajar Rafael dan Raja.
Di luar gedung, Sasha terus menangis di dalam gendongan Ken.
"Sasha, jangan takut sayang. Ken ada di sini untuk menyelamatkan Sasha," ujar Ken mengelus rambut Sasha yang masih menangis.
"Ken, maaf. Sasha gak percaya sama Ken, bahkan Sasha nuduh Ken atas kematian abang," lirih Sasha dan ia terus menangis.
"Shut, tidak usah di pikirkan. Yang terpenting sekarang kamu selamat," ucap Ken mencium kening Sasha untuk menyalurkan tenaga.
Tempat yang lumayan jauh dari Kota Cikarang itu, sudah di penuhi oleh mobil-mobil polisi. Mereka menangkap Raja, Rafael serta teman yang lain yang masih buronan.
"Saudari Sasha, anda harus ikut untuk dimintai keterangan." Sasha menyembunyikan diri di balik tubuh Ken.
"Pak polisi, nanti Sasha akan datang tapi bersama kami saja. Sepertinya ia masih sedikit takut," ucap Ken dan pak polisi pun mengerti dan ia mulai memerintahkan anak buahnya untuk membawa Raja dan Rafael ke Polsek Cikarang.
"Ken, Sasha gak mau," rengek Sasha dan semakin erat memeluk badan Ken dari belakang.
"Ada aku, percayalah mereka tidak akan bisa menyentuhmu lagi," ucap Ken menyentuh tangan Sasha yang masih erat memeluk Ken.
"Ken, lebih baik dia di bawa ke psikiater. Mentalnya sedang buruk," ujar Elang kepada Ken karena ia pernah melihat kondisi yang sama terjadi kepada adiknya.
"Ini aku bawakan baju buat Sasha," ucap Ketsia menyerahkan baju perempuan panjang sebetis dengan celana panjang kepada Ken.
"Makasih," ujar Ken.
"Ken, ayo kita bawa pacarmu pulang. Kasihan jika dia terus di sini !" ujar Kin dan mulai berjalan mendekati ke motor, Ken memberi kunci motor kepada Leonil. Karena dia akan menaiki mobil Ketsia agar Sasha bisa menjadi lebih tenang.
Aku kangen sama Alice, dia kabarnya gimana ya? Batin Kin tersenyum memikirkan kekasihnya.