
...🍪🍧🍪...
Seminggu kemudian...
"Kamu kenapa kok dari tadi senyam-senyum mulu?" tanya seorang gadis berumur 16 tahun dengan rambut panjang berwarna hitam yang di ikat model ekor kuda dan berponi menutupi jidatnya.
Gadis yang berambut pendek itu pun menoleh ketika dirinya di tanya. "Ga ada apa-apa kok Al, cuma lagi senang aja."
"Tapi kamu tidak seperti biasanya loh, Aura...Kamu tidak sakit, kan?" tanya gadis itu dan menempelkan punggung tangan di dahi gadis bernama Aura.
"Hus, enak saja aku di bilang lagi sakit. Aku sehat loh," ketus Aura dan menyingkirkan tangan gadis bernama Alice.
Alice menopang dagu dengan kedua tangannya di atas meja, terus melihat ke arah Aura yang terus berkaca memakai bedak. Padahal mukanya sudah sangat banyak sekali bedak.
"Kenapa dari tadi kamu lihat aku terus sih Alice? Aku tahu kok Aura itu cantik tapi jangan di lihat terus dong nanti kamu malah envy." ucap Aura dan menyimpan kaca dan bedak-nya ke dalam tas kecil miliknya.
Alice yang mendengar tutur kata dari Aura merasa mual, "Aura minta tangan kamu dong."
"Buat apa?" tanya Aura.
"Aku mual banget nih, tolong Alice dong," jawab Alice dan itu membuat Aura menjadi kesal.
"Hua.. Aku benci dengan Kin Dhananjaya. Benciiii!" teriak seorang cewek masuk ke dalam kelas 11 IPS-2 dan seluruh anak-anak yang berada di dalam kelas menoleh.
"Cin, sudah jangan nangis lagi. Lagi pula Kin juga gak bakal mau nerima lu lagi," ujar seorang teman menenangkan Cindy Sang Ratu Primadona Sekolah.
"LU DIAM!" bentak Cindy dan temannya pun terdiam.
"Cindy kenapa?" tanya Aura penasaran sambil berbisik di telinga Alice.
"Loh Aura kamu tumben tidak tahu, Cindy itu baru satu minggu putus dari Kin," jawab Alice dengan berbisik pula.
"Kin? Kok bisa mereka putus?" tanya Aura penasaran.
"HEH ?, KENAPA KALIAN BISIK-BISIK BERDUA HAH?!" bentak Cindy dan membuat Aura dan Alice ketakutan dan berdiam.
"Huh, pokoknya aku ga rela jika Kin pacaran selain dengan aku!" rengek Cindy dan antek-anteknya pun mencoba menenangkannya.
Huh, aku yakin kenapa Kin mutusin dia. Dasar drama! Batin Aura memutar bola mata dengan malas tanpa mau melihat ke arah Cindy.
...🍪🍧🍪...
"Aura kamu yakin tidak pulang bareng aku, naik angkot?" tanya Alice ketika sedang berjalan ke arah gerbang ketika hari yang sudah mulai senja karena mereka tadi harus ikut ekskul voli terlebih dahulu.
"Iya, maaf ya Alice kamu jadi harus naik angkot sendirian deh," jawab Aura dengan mengikat rambut pendeknya karena merasa gerah.
"Ga papa, kamu nanti pulang sama siapa ?" tanya Alice.
Bukannya orang tua Aura lagi keluar kota. Batin Alice.
Semoga aja mama belum pulang. Batin Aura.
Ketika di tanya oleh Alice, Aura malah senyam-senyum. Mukanya benar-benar terlihat sangat senang, apa lagi mukanya sampai memerah.
"Aura, kamu kenapa malah senyam-senyum?" tanya Alice bingung dengan sikap temannya ini.
"Nanti kamu akan tahu, tapi enggak sekarang," ujar Aura sambil tersenyum.
Aura kenapa ya? Akhir-akhir ini dia lebih suka main hp dan berdandan. Batin Alice.
"Oke deh, aku mau pergi ke mangkal angkot ya. Takut nanti telat," ujar Alice.
"Oke.. Hati-hati Alice !" ucap Aura dan melambaikan tangan dan Alice membalas dengan lambaian tangan.
Tidak berapa lama ada sebuah motor ninja di hadapan Aura.
"Maaf, lama nunggu?"
"Enggak kok, aku juga baru keluar," ujar Aura dan menaiki motor ninja itu dan segera bergegas pergi.
...🍪🍧🍪...
Alice pun tiba di rumah ketika jam dinding yang berada di ruang tamu. Arah jarum pendek telah menunjuk ke arah angka 8 dan arah jarum panjang menit menunjuk ke arah angka 2.
Oh ya ampun aku sudah terlambat pulang, bunda pasti sangat marah. Batin Alice.
Ia menaruh buku dan mengganti pakaian, setelah itu ia langsung ke dapur untuk membersihkan piring-piring dan menyiapkan makanan.
Alice yang memakai baju berlengan pendek bergambar minkey mouse, dengan celemek yang di buatnya sendiri berwarna kuning. Di padukan oleh celana kaos longgar sampai betis berwarna hitam, ia pun mengeluarkan bahan masakan dan segera memasak karena sedari tadi perutnya sudah minta demo.
Hari ini menu makan malamnya adalah sayur asem dan tempe goreng. Setelah menyajikan di meja makan ia pun segera bergegas membersihkan tempat tidur dan istana milknya yang cukup sederhana, karena sudah hampir seharian tidak ia bersihkan.
Setelah itu ia pun kembali ke meja makan dan melihat makanan yang belum tersentuh sedikit pun.
Bunda pasti masih di kamar. Batin Alice dan mengambil makanan buat Sang Bunda, tetapi sebelum itu dirinya mencuci tangan terlebih dahulu.
Krek...
"Bun, Alice masuk ya," ujar Alice dan masuk ke dalam kamar ibunya yang minim penerangan, dia menuju ke sang ibu yang sedang terduduk lemah di kursi roda.
Sudah hampir 1 tahun Ibunda Alice menderita stroke, seharusnya ibunya di rawat di rumah sakit agar penyakitnya tidak terlalu parah. Sayangnya uanglah yang membuat Alice tidak bisa membuat sang ibunda di rawat.
Semenjak kepergian sang ayah dengan wanita selingkuhnya, kehidupan keluarga Alice pun langsung terjun bebas. Hidup dengan kekayaan harta pun kandas dengan kedatangan sosok wanita penggoda yang lebih hot dari sang mama.
Bahkan ketika perceraian orang tuanya di alami oleh Alice ketika berumur 15 tahun. Selain itu ibunya sama sekali tidak di berikan harta gono-gini.
Sehingga ibu menderita stroke dan tidak bisa berbicara dan berjalan, selain itu Alice kecil harus bekerja. Sehari bekerja mungkin Alice hanya bisa mendapatkan 30-50 ribu rupiah saja, karena umurnya yang muda tidak memungkinkan dirinya bisa mendapatkan pekerjaan tetap.
Untunglah Alice merupakan siswa berprestasi dari non-akademik yaitu voli.
"Bunda makan yang banyak ya, biar cepat sembuh." ucap Alice menyuapkan sesuap nasi buat sang bunda yang terlihat sangat menyedihkan.
"Bunda kenapa nangis?, maaf bunda uang Alice tidak bisa beli makanan yang lebih bergizi lagi." ujar Alice dengan suara serak menghapus air mata sang bunda yang menetes.
"Alice janji sama bunda, Alice akan lebih berusaha lagi agar Bunda bisa cepat sembuh. " Bundanya terus menangis.
"Maafkan Alice Bunda, Alice belum punya biaya buat kesembuhan Bunda. Alice benar-benar minta maaf," ujar Alice menangis di atas kaki sang ibu karena dirinya merasa belum bisa menjadi anak yang berbakti dengan orangtua terlebih dengan ibu yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini.
"Sekarang Bunda makan ya, biar cepat sembuh," ujar Alice mengusap air matanya dan mulai menyuapkan kembali makanan ke dalam mulut sang bunda.
"Bunda tenang saja, obatnya tadi sudah Alice beli kok." Bundanya hanya bisa melihat kegigihan sang anak tanpa bisa mengucapkan sepatah-kata pun.
Ibu bangga dengan kamu Alice. Ibu sangat sayang kamu, ibu berharap kelak kamu akan mendapatkan pendamping yang paling terbaik. Ya Tuhan, tolong jagalah anak hamba yang telah berbakti kepada hamba. Hindarilah Alice dari orang-orang yang berniat mencelakai dirinya. Aamiinn...
...🍪🍧🍪...
"Dari mana kamu Aura? Jam segini baru pulang." Aura yang baru pulang setelah jalan-jalan di mall dengan Kin, hanya bisa tersenyum tipis menangapi pertanyaan ibunya.
"Ditanya bukan jawab malah senyum, DARI MANA KAMU!" bentak ibu membuat Aura menundukkan kepala.
Kenapa mama bisa pulang lebih cepat sih ! Batin Aura.
"Aura baru pulang ma, Aura capek dengan pelajaran sekolah yang sangat banyak itu," bohong Aura dan terus menundukkan kepala.
"JANGAN COBA-COBA KAMU BERBOHONG AURA! PULANG DARI SEKOLAH TADI SORE. KENAPA PULANGNYA BISA MALAM HAMPIR JAM 9!"
"Ih Mama ! Aura gak bohong, itu tadi Aura kejebak macet,"
"Siapa lelaki tadi hah? Apa karena lelaki tadi makanya kamu berniat pulang malam !" Aura pun membulatkan pupil matanya karena mamanya tahu dengan keberadaan Kin.
"Dia cuma teman Aura doang kok ma, gak lebih," bohong Aura dengan melihat ke arah mamanya agar percaya dengan perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Oh cuma teman? Oke bagus kalau begitu. Bilang kepada temanmu itu jangan ajak kamu lagi, dan kamu tidak boleh dekat lagi dengan lelaki tadi atau uang jajan kamu mama gak kasih selama sebulan !" Aura pun syok mendengar pernyataan dari mamanya.
"Mama apa-apaan sih! Kenapa pula aku gak boleh ketemu dengan Kin? Mana lagi ancam dengan uang jajan lagi, terus aku beli bedak pake apa ma?" tanya Aura dengan manja dan penuh kontra.
"Gak ada bantahan, atau kamu benar-benar tidak dapat uang jajan sebulan !" Aura kesal pun langsung membanting sepatu dan tasnya yang harga jutaan itu.
"Mama KEJAM!" teriak Aura dan langsung berlari ke atas menuju ke kamarnya.
"Huh, kapan dia mau menuruti perkataanku ?" tanya mama Aura sambil memijit pelipis yang sedikit nyeri, dan memungut tas dan sepatu Aura dan meletakkan di tempat benda itu. Tas di taruh di atas sofa dan sepatu di dalam rak sepatu.
Sedangkan di kamar Aura yang bernuansa pink dan dipenuhi oleh pernak-pernik yang sangat indah.
"Mama jahat, selalu saja melarang aku ini dan itu. Aura kan bukan anak kecil lagi." gumam Aura dan menangis di dalam pelukan tedy bearnya.
Bersambung...