
Setelah membantu pengawas Kin pun pulang bersama Alice yang telah menunggu didepan kelas.
"Kamu ini, lain kali jangan begitu lagi." Kin tersenyum ketika Alice mencubit pipinya dengan pelan.
"Iya Alice, lagipula Rio kasihan. Gue gak mau nilainya jelek disemester ini," sahut Kin.
"Thanks ya bro, kalau bukan gara-gara lu. Gue pasti bakal remedial njir !" ucap Rio yang datang tiba-tiba dan langsung merangkul Kin dengan wajah cerah yang ia tunjukkan.
"Iya santai kali, tapi jangan lupa traktir !"
"Njir, perhitungan lu ama gue," ucap Rio sambil melepas rangkulannya.
"Bercanda gue, dah ya Rio gue duluan."
"Dadah Rio," ucap Alice.
"Dadah pengantin baru, gue tunggu keponakan nih. Kalau bikin jangan 1 minimal 50 !"
"Memangnya aku kucing ya, hamil brojol 50 anak sekaligus," gumam Alice cemberut mendengar perkataan Rio.
"Rio hanya bercanda, tidak usah anggap serius. Lebih baik kita makan yuk," ajak Kin dan Alice mengangguk dengan semangat untuk mengisi perut.
Keesokkan harinya, seluruh murid kelas 12 Mipa 1 kecuali Alice dijemur dilapangan karena ketahuan mencontek. Sepertinya mereka lupa kalau di kelas terdapat cctv yang merekam aksi mereka semua, gurunya tentu juga bersikap adil karena hanya Alice yang tidak melakukan perbuatan itu. Alice duduk di dekat pohon rindang memandangi teman sekelas.
"Seharusnya kita tidak melakukan hal itu," ujar Rio hormat kearah tiang bendera.
"Beruntunglah karena hanya kelas kita yang dipanggil dan tidak ada adik kelas," sahut Elang dan melakukan hal yang sama seperti Rio.
"Alice sayang !" sapa Kin sambil memberikan kiss jauh dengan gerakan tangan panah.
Alice menerimanya dengan tulus lalu kemudian ia injak-injak dan hal itu membuat Kin syok, "Kok Alice melakukan hal itu?"
"Anjir bucin lu," ejek Elang.
"Seharusnya kita tidak melakukan taruhan itu," sahut Rio sambil menghela napas.
...🍪🍧🍪...
Pulang sekolah, Kin mengajak Alice menuju ke kafe untuk beristirahat sejenak.
"Alice, ayo," ajak Kin tapi Alice masih berdiam didepan kafe Keluarga Kin, ia merasa sangat malu untuk menginjakkan kaki kedalam.
"Jangan takut, kamu tidak melakukan hal yang tidak-tidak." Alice tersenyum tipis ketika Kin kembali sambil bergandengan tangan masuk kedalam kafe.
Situasi kafe sangat sepi, padahal toko sudah dibuka.
"Kenapa kafenya sepi sekali?" tanya Alice melihat sekitar tapi Kin tidak menjawab, ia hanya menyeret Alice untuk masuk kedalam dapur dan benar saja. Dapur sangat ramai, bukan hanya para staff tapi ayah serta pihak polisi turut hadir.
"Kin," panggil Alice mulai takut karena tidak membayar uang korupsi, walaupun ia tidak melakukan hal itu. Alice hanya mampu mencengkram lengan Kin dan menggigit bibir.
Kin menghampiri ayahnya, ia tetap menggandeng tangan Alice.
"Ayah, Alice tidak bersalah !" ucap Kin dan membuat sekitar menjadi terfokus kepada kehadiran Kin dan Alice.
"Loh Kin, sejak kapan kamu disini nak?" tanya Papa Dirga kaget melihat anak serta pacarnya.
"Itu tidak penting pa. Pa, Alice tidak bersalah. Dia tidak pernah mengambil uang, dia itu seorang yang jujur !" Bukannya marah, justru Papa Dirga tertawa melihat sikap Kin.
"Haha, kamu ini benar-benar sudah terlalu cinta ya," goda Papa Dirga. "Nanti kita membahas hal itu, sekarang papa harus membereskan hal penting."
"Hal penting apa?" tanya Kin melihat Papa Dirga menjalan mendekati para polisi.
...🍪🍧🍪...
"Aku tidak nyangka loh, rupanya yang melakukan hal itu Devi," ucap Alice sambil meremas jaket Kin supaya dirinya tidak jatuh.
"Ya begitulah, dia hanya seorang yang munafik," balas Kin, ia telah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Rupanya yang mengkorupsi uang kafe bukanlah Alice melainkan Devi, kata Devi ia terpaksa melakukan hal itu untuk mengobati ibunya yang sedang sakit keras padahal setelah diselidiki ibunya masih sehat.
"Aku tidak menyangka akan kembali bekerja," ucap Alice dengan dagu menempel bahu Kin, Alice semakin erat memeluk Kin.
"Kin, pelan-pelan !" pekik Alice sambil menutup mata sedangkan Kin tertawa menikmati suasana.
Kin membelokkan motor kearah kiri menuju ke parkiran rumah sakit, tempat ibu Alice dirawat.
"Sudah dibilang pelan-pelan, malah ngebut !" ketus Alice sambil memukul lengan Kin, sedangkan Kin hanya terdiam menahan tawa sambil melepaskan helm.
"Sudah marah-marahnya, lebih baik kita lihat kondisi ibu kamu," ajak Kin berjalan beriringan dengan Alice masuk kedalam rumah sakit.
...🍪🍧🍪...
"Kin," geram Alice karena Kin selalu saja tidak memberitahu dirinya soal ini.
"Apa?" tanya Kin duduk di sofa dalam kamar ibu Alice, sudah setengah jam yang lalu ibu Alice tertidur. Mereka banyak mengobrol dan itu membuat ibu Alice sangat senang, walau apa yang diucapkannya tidak semua bisa dimengerti oleh Kin maupun Alice.
"Kenapa kamu mau melakukan operasi itu? Kamu tahukan biayanya cukup mahal. Aku tidak mau merepotkan kamu Kin !" geram Alice menghampiri Kin, ketika jarak sudah dekat. Alice langsung menarik pipi Kin.
"Swudah kyubwilang kamu tidak perwlu memikwirkan soal biaya !" jawab Kin dengan kata tidak jelas karena pipinya semakin ditarik oleh Alice. Tapi, pandangan Kin terus melihat kearah layar hp.
"Ih dasar orang kaya sombong nan baik hati !" Alice mencubit pipi Kin saking kesalnya.
"Ahh, sa-sakit sayang," ringis Kin dan Alice langsung melepaskannya dengan perasaan kesal ia duduk disamping Kin sambil membalikkan badan.
"Nanti liburan semester kamu mau kemana?"
"Terserah,"
"Nanti siang mau makan nasgor?"
"Terserah,"
"Kalau besok kita nikah?" tanya Kin sambil menaik-turunkan alisnya dan langsung dihadiahkan sebuah bantal.
"Kita belum lulus, tidak boleh nikah !"
"Kalau gitu kalau sudah lulus, kamu mau nikahkan?" tanya Kin antusias.
"Tergantung,"
"Tergantung?"
"Ya.. Kok malah bahas soal pernikahan sih ?!"
"Jawab dulu dong sayang."
"Gak."
"Ayolah."
"Gak !"