
...πͺπ§πͺ...
"Yo Kin, gue pikir gak bakal datang," ucap Rio menyambut kehadiran Kin.
"Bentar lagi pertandingan di mulai Kin, oh ya lu pokoknya harus berhati-hati sama Juanda. Lu tahukan tuh anak suka licik kalo soal begini," lanjut Elang.
"Pokoknya lu harus hati-hati dan pulang dalam keadaan selamat," ucap Rio dan Kin mengangguk dan mulai membawa motor ke area pertandingan.
"Oh hai anak mami, gue pikir lu gak bakal datang kemari," ejek Juanda di samping Kin.
"Kenapa gue mencium bau-bau kemenangan ya?" balas Kin dan membuat Juanda menjadi kesal.
Lihat aja lu, gue gak bakal buat lu menang hari ini. Batin Juanda sambil tersenyum licik.
Seorang wanita seksi membawa bendera dan telah bersiap-sedia, dan ketika bendera di jatuhkan Kin dan Juanda langsung melajukan motor milik mereka masing-masing.
Di area balapan, Kin lebih mendominasi pertandingan. Ia memimpin dan meninggalkan Juanda jauh di belakang, dan terus melajukan motor di atas rata-rata.
"Jika kamu mencintai aku, maka jauhilah aku. Kehadiranmu itu benar-benar membuatku risih !"
Kin menggelengkan kepala ketika ia mengingat kejadian tadi sore di gerbang sekolah.
Kenapa aku malah mengingat kejadian tadi? Batin Kin dan mulai melambat tanpa ia ketahui Juanda telah berada di sampingnya dan tiba-tiba Juanda mendorong Kin dan langsung membuat Kin jatuh dari motor dan langsung menabrak pembatasan jalan.
"Akhh!" jerit Kin menahan rasa sakit yang berada di kepalanya dan seketika pandangannya menjadi gelap.
Klang..
Tiba-tiba gelas yang di pegang oleh Lara jatuh dari tangannya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dirga menghampiri Lara.
"Dirga, perasaanku kok gak enak ya. Aku takut terjadi sesuatu dengan Kin." ucap Lara panik.
Ya Allah, tolong jaga Kin. Batin Lara.
...πͺπ§πͺ...
"Kok Kin gak kelihatan ya?" tanya Rio yang mulai cemas.
"Bentar lagi, nah itu !" ucap Elang menunjuk ke arah Juanda yang dengan bangga masuk ke garis finish.
Semua kelompok Juanda menyambut dengan penuh kemenangan sedangkan teman-teman Kin mulai curiga.
"Kalau Juanda menang, bukannya Kin harus berada di belakangnya?" tanya Elang menantikan kehadiran Kin yang tidak kunjung memperlihatkan diri.
"Ada yang aneh di sini," ujar Rio melihat ke arah Juanda dan komplotannya.
"Hahaha gue menang, yuhuu!" teriak Juanda dengan bangga sambil mengangkat ke-2 tangan ke udara.
"Oi Juanda, apa yang kau lakukan terhadap Kin?" tanya Rio dengan amarah yang mulai menaik.
"Haha, gue gak lakukan apa-apa tuh," elak Juanda dengan meremehkan Rio.
"Lu kasih tahu sekarang atau lu bakal nyesal !" bentak Elang dan Juanda hanya tertawa.
"Gue berkata jujur, kalo tidak salah sih gue lihat di melamun terus gue senggol dikit dan dia terjatuh," terang Juanda itu membuat Elang dan Rio panik.
"Lihat lu Juanda! Kalo sampai Kin kenapa-kenapa !" ujar Rio dan bergegas mengambil motor bersama dengan Elang untuk mencari Kin.
"Haha, kita lihat saja. Mungkin Kin bakal mati !" Juanda tertawa bersama dengan komplotannya dan merayakan kemenangan bos mereka.
...π§πͺπ§...
"Papa, mama kenapa?" tanya Ken yang baru turun dari kamar untuk mengambil minum.
"Ken, tolong ambilkan air minum buat mama kamu," perintah Papa Dirga dan segara di laksanakan dengan Ken.
"Ini pa," ujar Ken memberi segelas air putih dan di terima dengan Papa Dirga.
"Tenangkan dirimu sayang, itu hanya firasat kamu saja," ucap Papa Dirga menenangkan Mama Lara di dalam dekapannya.
"Aku takut Ga, perasaanku tidak menentu terhadap Kin," isak Mama Lara dalam pelukan Papa Dirga.
Tring..
Bunyi dering telepon di kamar papa dan mamanya, Ken menuju ke kamar papa dan mama dan mengangkat telepon tersebut.
"Halo, ini siapa ya?" tanya Ken tetapi dirinya terdiam ketika mendengar informasi yang ia terima dari seberang.
Ini tidak mungkin.
Ken bergegas pergi ke bawah untuk memberitahu kabar buruk kepada orang tuanya.
"Papa mama, Ken dapat kabar buruk," ucap Ken di hadapan Papa Dirga dan Mama Lara.
"Kabar buruk tentang apa?" tanya Mama Lara dengan cepat dan terbangun dari sofa.
"Sayang tenang," ucap Papa Dirga menenangkan Mama Lara.
"Lebih baik kita segera ke rumah sakit," ujar Ken dan seketika Mama Lara pingsan.
"Ken bantu aku membawa mama ke dalam mobil," perintah Papa Dirga.
Segera mereka bertiga bergegas pergi ke Rumah SakitΒ Cinta Kasih yang berjarak 5 km dari rumah mereka.
...πͺπ§πͺ...
"Lang, kondisi Kin bagaimana ya? Gue takut terjadi sesuatu dengan tuh anak," gusar Rio dengan masih mengingat jelas bagaimana kondisi Kin. Benar-benar membuat Rio menjadi mual.
"Entahlah, gue juga gak tahu. Semoga aja dia baik-baik saja," ucap Elang mondar-mandir di depan ruang UGD.
Tidak berapa lama dokter keluar dari ruangan tersebut, dan menanyakan kepada Rio dan Elang. Apakah mereka keluarganya? Jawabannya tidak.
"Apakah kalian telah menghubungi keluarga pasien?" tanya dokter perempuan bernama Kasih kepada mereka berdua.
"Rio, ada nomor telepon keluarga Kin?" Rio menggeleng pelan dan menanyakan hal yang serupa kepada Elang dan jawabannya persis seperti dengan Rio.
"Maaf dokter, Keluarga Kin sedang menuju ke sini," Rio dan Elang menghela napas lega ketika seorang suster menghampiri Dokter Kasih.
"Baiklah, pindahkan pasien ke ruang ICU sekarang !" ujar Dokter Kasih dan suster mengangguk patuh dan mulai melaksanakan tugasnya.
"Dokter Kasih, bisakah kami tunggu di ruang Kin?" tanya Rio dan Dokter Kasih mengangguk pelan.
"Saya masih banyak pasien, permisi," ucap Dokter muda tersebut meninggalkan mereka berdua.
...πͺπ§πͺ...
"Hai ! kamu datang juga, aku pikir kamu tidak bakal datang," ucap Alice menghampiri seorang lelaki sambil memeluknya.
"Kamu benar-benar membuatku panik, kenapa kamu pergi? Aku bahkan sangat merindukanmu tahu," lanjut Alice dan memeluk lelaki itu dengan erat tetapi lelaki itu malah melepaskan pelukan Alice.
Alice menatap lelaki itu dengan bingung, setelah berbisik di telinga Alice ia pergi.
"Kamu mau kemana? Bukankah kau mencintaiku?" teriak Alice memanggil lelaki itu tetapi ia terus melangkah tanpa melihat ke arah Alice yang berlari menghampirinya namun terjatuh tetapi lelaki itu sama sekali tidak peduli terhadap Alice.
"Kenapa? Kenapa kamu pergi?" lirih Alice menangis.
"Kembalilah...KEMBALILAH KIN!" teriak Alice dengan kencang dan ia terbangun dari mimpi buruknya.
Dengan napas tersengal-sengal, muka Alice sangat pucat di iringi rintik hujan yang tengah membasahi bumi. Mata Alice dengan cepat melihat ke sekeliling ruangan, ketika mengetahui bahwa ia di kamar. Hatinya mulai sedikit lega, namun air matanya terus turun membasahi matanya.
Apa yang terjadi padaku? Batin Alice melihat tangan bergemetar, segera ia memeluk dirinya sendiri.
"Kenapa? Kenapa aku malah memimpikan lelaki berengsek itu? Lelaki yang telah merusak hati wanita dengan mudah, bagaikan ia mengambar di sebuah kertas putih nan bersih kemudian di remukkan dan di hancurkan dengan mudah bagaikan kau bisa membelinya dimana pun. Padahal dia lupa, bahwa kertas itu terbuat dari sebuah pohon tanpa pohon maka oksigen akan terkikis dan ia juga akan mati." tutur Alice sambil meremas sprei dengan kuat.
"Tapi kenapa? Kenapa aku merasa akan kehilangan Kin. Sosok menyebalkan itu akan pergi dariku," bentak Alice di iringi dengan air mata yang mengalir melalui bola mata coklat miliknya.
"Apa yang terjadi padaku? Dia menyebalkan tapi..." mulut Alice tidak kuat untuk mengeluarkan kata-kata.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepadaku? Batin Alice sambil menangis memeluk dirinya di iringi oleh rintik hujan.
...πͺπ§πͺ...
"Kin, bangun nak !" lirih Mama Lara sambil mengelus rambut Kin dengan pelan.
Kondisi Mama Lara benar-benar sangat sedih, baru bangun dari pingsan ia langsung berlari ke tempat tidur Kin dan menangis tersedu-sedu.
"Tenang sayang,"Β ucap Papa Dirga memegang pundak Mama Lara namun segera di tepis.
"Ini semua salah kamu! Kalo saja kamu larang Kin untuk balapan pasti enggak bakal kejadian seperti ini !" bentak Mama Lara dengan mata berkaca-kaca bahkan ia memukul suaminya tetapi tenaganya cukup lemah sedangkan Papa Dirga hanya pasrah dengan tindakan dari istrinya.
Maafkan aku sayang. Batin Papa Dirga memeluk Mama Lara yang meronta-ronta minta di lepaskan dengan terus menangis.
Kondisi Kin cukup buruk, ia memiliki luka serius di bagian kepala dan patah 12 tulang belakang bahkan kakinya tadi sempat di katakan lumpuh sementara. Ia juga harus di jahit di beberapa bagian kaki, lengan dan dadanya.
Kin tertidur dengan napas teratur di bantu alat pernapasan di sekitar mulut, juga perban yang terlilit di kepala sebatas menutupi dahi. Bajunya juga terganti dengan pakaian pasien dan juga ada perban menutupi sebelah matanya.
"Lang, gue yang lagi tidur atau emang gue melihat Kin ke-2?" tanya Rio menyikut bahu Elang terus melihat ke arah cowok bertopi lambang tengkorak berwarna hitam sedang menunduk memainkan hp di sudut ruangan di seberang Elang dan Rio.
Awalnya Kin memang di letakkan di ruang ICU dan di pindahkan ke ruang perawat setelah kondisi membaik. Segera orang tua Kin datang, ia di pindahkan ke ruang perawat dan di pilih kelas terbaik dari yang terbaik oleh Mama Lara demi putranya Kin Dhananjaya.
"Ya gak mungkinlah, jelas-jelas Kin terbaring koma di atas tempat tidur. Mungkin dia kembaran Kin," jawab Elang dan terus melihat ke arah Ken yang masih menunduk.
Sedangkan Ken yang duduk di sofa di sudut ruangan sedang berchatting dengan kekasihnya yang bernama Sasha kelas 10 di sekolah SMA Nusa Bangsa.
Ia memberitahu tentang kondisi Kin kepada Sasha, Sasha itu merupakan salah satu deretan mantan dari Kin. Jahat banget ya Kin, anak sekolah lain pun di embat juga !.
"Ken, perkenalkan dirimu di hadapan teman-teman kakakmu," perintah Papa Dirga dengan dingin dan membawa Mama Lara yang sudah tertidur di dalam pelukan di bawa ala bridal style.
Klik.
Suasana berubah menjadi cangung sementara namun tidak terlalu lama itu terjadi. Biasalah para cowok itu mudah bergaul asalkan bukan tipe pemalu dan introvent.
"Jadi lu adiknya, kupikir kalian kembar loh," ucap Rio yang mulai akrab dengan Ken.
"Kami bedalah, walau ya banyak yang bilang kami mirip," sahut Ken sambil meminum coca-cola dingin.
"Oh tidak ini berita buruk !" Rio dan Ken melihat ke arah Elang yang panik melihat monitor hp miliknya.
"Ada apa Lang? Kenapa lu panik?" tanya Rio bingung.
"Jangan lupa 2 minggu lagi akan ada pertandingan basket melawan SMA Nusa Bangsa. Gue tidak sabar untuk memukul wajah si Juanda itu !" gertak Elang memukul meja yang ada di depannya menahan kekesalan dirinya kepada Juanda.
"Juanda? Siapa Juanda?" tanya Ken.
"Dia yang telah membuat abang lu begini, dia memang selalu membuat hal seperti ini. Kau ingat insiden tahun lalu Lang?" tanya Rio tetapi Elang malah memberi tatapan membunuh kepadanya.
"Insiden apa?" tanya Ken.
"Tahun lalu adik Elang mati di tangan Juanda ketika balapan liar," bisik Rio di telinga Ken.
"Sejak saat itu Elang menaruh dendam atas kematian adiknya kepada Juanda," lanjut Rio.
"Juanda? Kau tahu siapa laki-laki itu?" tanya Papa Dirga yang masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba dan mengejutkan yang berada di dalam.
"Papa? Mama dimana?" tanya Ken berdiri begitu juga dengan Rio.
"Mama masih tidur, kalian berdua ikut saya keluar. Ini masalah penting ! Ken kau jaga kakakmu sebentar," Papa Dirga keluar bersama dengan Rio dan Elang.
Ken menunggu sambil melihat kondisi kakaknya.
Jika Juanda adalah yang membuat kakakku seperti ini, maka aku harus melakukan itu juga kepada dirinya. Batin Ken.
"Bang gue minta izin buat jadi diri lu sampai lu bangun dari koma. Maaf jika gue akan memiliki kepribadian berbeda. Kalo gue bikin salah jadi tolong maafkan aku," ucap Ken.
"Semoga lu cepat sadar, jangan bikin Alice yang lu sayangi itu menjadi benar-benar menjauh dari lu !" ucap Ken dengan senyuman dan ia menangis di pelukan abangnya yang sedang tertidur tanpa tahu kapan akan bangun.
Ken tahu Alice karena ia pernah tidak sengaja mendengar nama Alice ketika Kin sedang tertidur pulas.
Bersambung...