
"Ken, lu gak pulang?" tanya Kin, setelah menangkap Raja dan Rafael. Mereka pulang ke Cikarang dan berakhir di rumah Sasha, namun sayangnya sampai sudah malam Ketsia dan Leonil belum datang juga ke rumah Sasha.
"Gue kayaknya nginep deh, kasihan Sasha masih syok dia," jawab Ken.
"Lagi juga motor Ken di bawa lari sama Leonil, gimana dia pulang?" tanya Rio sudah memakai jaket untuk pulang dengan Elang.
"Ya sudah, nanti gue bilang ke mama," ucap Kin dan berjabat tangan dengan Ken, ketika dia mau pamit dengan Sasha. Terlihat jelas ia sangat ketakutan, Sasha bersembunyi di balik tubuh Ken. Kin hanya tersenyum maklum dan ia segera bergegas pergi dari rumah Sasha.
Kin berhenti di pinggir jalan untuk memakan semangkuk bakso, selain untuk mengisi perut. Malam cerah berubah ketika butiran air dari langit jatuh ke bumi.
Kin mulai memakan bakso yang di hidangkan, ia makan sampai seseorang dari belakang menepuk pundak Kin.
"Kin, kamu dari mana saja?" Kin melihat ke belakang wajahnya menjadi senang ketika mengetahui jika itu adalah kekasihnya.
"Kamu sendiri, kenapa malam-malam begini di luar?" Alice duduk di samping Kin.
"Mau beli bakso buat makan malam," jawab Alice.
"Ya ampun pacarku ini sampai basah," ujar Kin mengelus rambut Alice yang basah. Alice perlahan-lahan mulai membuka hati untuk menerima Kin, namun ia belum menerima Kin seutuhnya.
"Kenapa gak kasih kabar?" tanya Alice.
"Kangen?"
"Gak, cuma heran aja. Biasanya kamu akan meneleponku tiap saat ketika hpmu ada di tanganku." Kin mengeleng.
"Itu hp buat Alice, bukan punya Kin lagi," ujar Kin memberi sendok berisi bakso kepada Alice.
"Gak mau, Alice bisa beli sendiri," ucap Alice.
"Temani aku makan ya."
"Gak ! Ibu di rumah sendirian," elak Alice mengambil pesanannya.
"Ya udah biar aku antar, Mang uangnya di atas meja ya." Kin mengandeng tangan Alice, Kin membersihkan jok belakang dengan tisu biar Alice tidak jatuh. Alice di bantu Kin tentu saja Alice memegang payung agar mereka berdua tidak basah kuyup, mereka bergegas ke rumah Alice.
"Makasih sudah di antar pulang, kamu sampai basah," ujar Alice mengusap dahi Kin yang basah, itu membuat Kin tersenyum.
Sepertinya Alice sudah mau menerimaku, batin Kin.
"Alice, boleh aku melihat tante?" Alice mengangguk, mereka berdua masuk ke dalam rumah Alice yang sudah terdapat banyak ember untuk menampung air hujan yang turun melalui celah-celah rumah Alice.
"Maaf ya, lebih baik kita segera ke kamar ibu." Kin mengangguk dan mengikuti Alice dari belakang.
"Ibu, Alice pulang," ujar Alice masuk ke dalam kamar ibu.
"Kin, sepertinya ibu sedang tidur. Bagaimana jika besok saja?" Kin mengangguk dan keluar dari kamar ibu bersama dengan Alice.
"Aku pulang ya, hujan juga tidak terlalu besar. Tidak baik aku terlalu lama di sini," ucap Kin dan mengelus puncak rambut Alice dan segera pergi pulang ke rumah.
...🍪🍧🍪...
"Assala, ADUH... SAKIT !" ringis Kin ketika telinga kanan di tarik oleh mama.
"Kamu ini kebiasaan !" geram Mama Lara dan semakin kuat menjewer telinga Kin.
"Mama sakit," jerit Kin, Mama memutar daun telinga Kin dan menarik ke arah ruang kerja Dirga.
"DIRGA ! LIHAT KELAKUAN ANAK KAMU INI !" Dirga yang sedang membaca koran terkejut ketika Lara masuk bersama dengan Kin yang mengeluh sakit.
"Sayang, kasihan Kin. Itu kuping kalo putus gimana?" Lara tidak mendengar ucapan Dirga dan semakin menjewer telinga Kin.
"Mama, sakit ma. Kuping Kin sakit."
"Oh sakit? Terus kenapa kamu pulang malam terus? Emang gak sakit?" bentak Lara.
"Sabar sayang, Kin pasti punya alasan," ucap Dirga.
"Kamu terus membelanya !" ketus Lara keluar ruangan membanting pintu meninggalkan Kin dan Dirga.
"Sakit, mama kalo marah kayak gorilla aja," gumam Kin mengelus telinga yang masih denyut.
"Kamu juga sih, kan sudah di bilang jangan balapan lagi !"
"Aku gak balapan pa, tadi nunggu hujan reda."
"Mungkin mama khawatir, sana ke kamar." Kin langsung pergi ke kamar untuk beristirahat.
...🍪🍧🍪...
"Kin, kamu mau bicara apa?" tanya Alice di bangku taman di sekolah ketika istirahat pertama.
"Mau ajak kamu touring, mau enggak?"
"Touring? Kemana?" tanya Alice.
"Bandung, minggu depan kelas 12 UN, selama libur itu kita jalan-jalan ke Bandung. Tenang, banyak orang kok bukan cuma kita berdua," jawab Kin.
"Tapi, ibu sama siapa? Aku tidak bisa tinggal ibu," ujar Alice sedih karena jujur ia juga ingin pergi untuk menenangkan diri sejenak.
"Nanti ku jemput, tapi kamu mau ikutkan?" Alice mengangguk pelan.
"Tapi aku minta izin dulu," lanjut Alice.
"Mau kantin?" Alice menggeleng.
"Aku bawa bekal, mau coba?" Kin mengangguk semangat dan berharap akan mendapat adegan romantis.
"Ini, aku bawa sandwich. Kamu mau yang keju atau daging?" tanya Alice memperlihatkan ke dua sandwich kepada Kin.
"Keju aja," jawab Kin mengambil sandwich berisi keju.
"Enak," komentar Kin melahap sandwich dan itu membuat Alice senang.
"Makasih, mau kubuatkan lagi?" Kin mengangguk dengan semangat.
Gapapa deh gak ada adegan romantis, di bikin makanan dari pacar setiap hari aja udah happy. Batin Kin.
"Nanti, ke sana ajak Aura ya," ucap Alice.
"Boleh, dia sahabat kamu ya ajak aja." Alice tersedak dan segera di bantu Kin.
"Makanannya hati-hati sayang," ucap Kin.
"Kamu aja yang ajak Aura." Kin bingung.
"Kok aku?"
"Aku sedang kurang baik dengan Aura, tolong ya Kin," mohon Alice dan Kin hanya berdehem.
Malas gue tuh berurusan sama mantan, batin Kin.
...🍪🍧🍪...
Kelas 12 melakukan UN di bulan Maret, tapi anak kelas 10 dan 11 mulai libur di pertengahan bulan Februari.
Kin, Alice, Ken, Sasha, Keano dan Aura menaiki motor menyusuri jalan menuju ke Bandung. Ketsia, Leonil memakai mobil sport berwarna hitam, Elang, Rio berserta kekasih sehari mereka menaiki mobil punya Rio.
Kin memimpin jalan, selama perjalanan mereka sangat senang seluruh beban terangkat tapi berbeda dengan Aura yang di bonceng Keano yang merupakan kekasih bohongan.
Uh, harusnya aku yang di bonceng Kin bukan Alice. Batin Aura.
Beberapa hari yang lalu sebelum perjalanan di mulai, Kin menemuinya untuk meminta ikut touring. Tentu saja, ia sangat suka namun harapan pupus karena itu permintaan dari Alice bukan keinginan Kin. Tentu ia tidak mungkin pergi sendirian, ia mengajak Keano dengan berbagai rayuan dan berakhir tragis. Selesai touring Keano dan Aura tidak boleh putus, dan itu berlaku sampai 1 tahun. Untuk mempertahankan harga dirinya sebagai wanita, ia pun menyetujui walau sekarang ia menyesal.
Harusnya aku ajak siapa gitu, Ridho atau siapalah. Betapa bodohnya aku harus menjadi pacar dari orang yang ku benci. Batin Aura muak dengan muka cemberut berbeda dengan teman-teman yang lain sangat menyukai bersama kekasih mereka.
"Alice, kita berhenti dulu ya," ujar Kin dan Alice mendekat ke depan agar dapat mendengar perkataan Kin.
"Hah? Kamu bilang apa tadi?" tanya Alice sedikit teriak dan menjaga pandangan dari rambut yang melambai terkena angin.
"Kita berhenti dulu, istirahat." Kin memberi tanda dengan tangan dan berbelok ke samping kiri untuk beristirahat di rest area.
...🍪🍧🍪...
"Uh cape !" ujar Ken membuka helm dan menaruh di atas kaca spion dan mulai bergabung dengan teman yang sudah duduk di sebuah gubuk.
"Ketsia mana?" tanya Leonil tidak melihat kekasihnya itu.
"Lagi beli makan buat kita," jawab Kin dan mulai melihat google map agar tidak tersesat ke sana.
"Ini makanannya," ucap Sasha membawa makanan ke atas meja dan tentu membuat mereka tidak sabar mencicipinya.
"Jangan lupa pantungan 30 ribu tiap orang," ucap Aura yang membawakan minuman dan mereka mengangguk.
"Sudah di bayar belum?" tanya Kin.
"Biar gue yang bayar aja nanti, sekarang makan aja dulu." Mereka mulai duduk di gubuk besar dan mulai melahap makanan. Ketsia dan Leonil melakukan adegan suap-suapan dan itu membuat Ken iri.
"Sasha." Sasha melihat Ken dengan tatapan bingung.
"Mau juga," ucap Ken manja.
"Mau apa?" tanya Sasha yang belum paham maksud permintaan dari Ken.
"Aaa." Ken membuka mulut, Sasha langsung memasukkan makanan ke dalam mulut kekasihnya.
"Makasih sayang, mau lagi dong."
"Kamu-lu jangan ikuttan !" bentak Alice dan Aura kepada Kin dan Keano.
"Haha kasihan," ejek Elang.
"Sabar Kin, Keano," lanjut Rio memberi semangat kepada Kin dan Keano.
Mereka tertawa bersama di atas penderitaan Kin dan Keano.
Nasib, nasib. Batin Kin dan Keano.