Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
19



"Alice kamu di panggil !" Alice mengangguk dan mulai berjalan, ke lapangan tapi sebelum itu ia tidak sengaja melihat kekasih Ketsia sedang berbicara dengan seseorang berjaket hitam di lorong.


Mereka lagi ngomongin apa sih? Batin Alice yang kepo, namun ia harus mengurungkan niat untuk kembali ke lapangan.


"Padahal penasaran sih, tapi apa boleh buat. Lagi pula itu bukan urusanku !" gumam Alice berlari ke arah lapangan.


"Ket, kenapa?" tanya Alice.


"Apa ada pemain cadangan lagi?" tanya Ketsia dan Alice menggeleng.


"Semua pemain sudah di turun, kan. Terlebih lagi pemain yang tadi masih cedera." Ketsia menepuk jidat.


Ini gawat ! Batin Ketsia. Permainan tetap di lanjutkan tapi yang membuat Ketsia khawatir adalah, bagaimana jika ada satu lagi yang cedera tapi mereka sama sekali tidak memiliki pemain cadangan?.


"Alice, apakah kamu bisa mencari pemain cadangan?" tanya Ketsia.


"Tapi siapa? Kalo pun ada apa mereka mau?"


"Kamu benar juga sih, tapi kita membutuhkan pemain cadangan." Alice tampak berpikir keras siapa yang pantas menjadi pemain cadangan.


"Kamu kenapa sayang? Mukamu terlihat pucat sekali !" ucap Leonil yang baru saja datang bersama dengan lelaki berjaket hitam di lorong.


Lelaki yang tadi ! Batin Alice terkejut dan tidak sengaja ia melihat bola mata lelaki itu.


"Kok, bola matanya mirip banget dengan Kin sih ? Tapi mana mungkin, Kin sedang bertanding." Alice menggeleng kepala.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ketsia dan Alice mengangguk.


"Oh kalian ikut lagi, kupikir kalian akan mundur," ejek Juanda sambil mencoba mengoceh Elang.


"Kami tidak pengecut seperti dirimu Juanda !" geram Elang dan Juanda hanya tertawa pelan.


"Padahal sudah kuberi tahu, tahun ini kalian tidak akan menang. Bahkan tahun depan pun kalian tidak akan lagi !" Ketika Elang ingin mencoba  mengambil bola ia di hadang oleh Tim Lion yang mengerumuni dirinya. Ketika Elang meloncat segera mereka memukul melalui sikut hingga mengenai muka dan membuat Elang terjatuh. Ketika Elang sedang menahan sakit Juanda dengan sengaja menginjak tangan kanan, hal itu juga yang ia lakukan kepada pemain Tim Elang Putih yang lain namun di daerah berbeda-beda.


"Oh tidak Tim Elang Putih sepertinya harus kehilangan satu pemain intinya yaitu Elang !" Semua mata tertuju kepada Elang yang menahan rasa sakit amat luar biasa di bagian tangan kanan.


"Kurang ajar si Juanda itu !" geram Ketsia.


"Oh tidak ! Kita tidak memiliki pemain lagi," ucap Ken membantu memindahkan Elang ke pinggir lapangan.


"Oh tidak, kenapa dari tadi Tim Elang Putih belum kembali ke lapangan. Apakah mereka tidak memiliki pemain cadangan ?" Semua orang menunggu para penonton masih setia bersorak-sorak tim jagoan mereka.


"Ini sangat gawat, kita kurang satu pemain !" ucap Ketsia pelan.


"Hei tenanglah, aku membawa satu pemain yang mengganti Elang !" ucap Leonil alsambil memukul pundak lelaki berjaket itu.


"Emm, tapi apa dia bisa bermain basket?" tanya Ketsia dan Leonil mengangguk.


"Dia cukup andal."


"Tapi aku kurang yakin, dia kelihatan sakit. Lihat perban yang melilit di dahinya !" ucap Ketsia menunjuk ke arah dahi lelaki berjaket hitam yang juga memakai masker hitam gambar tengkorak.


"Tim Elang Putih, apakah kalian bisa segera kembali ke lapangan?" tanya wasit.


"Kita tidak punya waktu, biarkan lelaki itu menjadi pemain pengganti Elang !" ucap Ken dan lelaki itu mulai masuk ke dalam lapangan sambil menggunakan masker berwarna hitam.


"Wow sepertinya Tim Elang Putih mempunyai satu pemain yang misterius. Kira-kira siapa ya?" tanya MC cewek melihat ke arah lelaki berjaket hitam pakai masker hitam tengkorak.


Walau aku baru melihat lelaki itu, tapi entah kenapa sepertinya aku tidak asing melihat dirinya. Batin Alice.


"Kira-kira lelaki yang masuk itu siapa ya?" tanya Cindy penasaran.


"Entahlah tapi dia menggunakan perban di dahi, memangnya boleh kalo lagi di perboleh, kan main?" tanya Aura.


"Entahlah, tapi semoga aja nanti tidak ada dapat kartu lagi !" seru Cindy.


"Sasha, lihat deh lelaki masker itu tampan ya ?" tanya teman di sebelah kiri Sasha.


"Iya dia tampan," jawab Sasha "Entah kenapa, aku merasa tidak asing melihatnya !"


"Juanda, siapa tuh?" tanya Raja melihat ke arah lelaki masker hitam tengkorak.


"Entahlah, lagi pula sebanyak apapun mereka mengganti pemain. Kita tetap akan menang !" ucap Juanda dan mulai menggiring bola menuju ke ring basket.


Namun ia di hadang oleh lelaki itu, dengan mudah ia mengambil bola dan melempar ke ring basket.


"Wow hebat ! Sekali lompat langsung masuk ke dalam ring !" seru MC cowok.


"Tadi ku pikir ia hendak melakukan overhand pass," lanjut MC cewek.


"Kyaa, lelaki misterius kamu keren sekali !" teriak para wanita menjadi histeris.


Juanda menatap tajam ke arah lelaki masker hitam tapi si empu tidak peduli. Permainan pun di lanjut, kan bahkan Tim Elang Putih bisa menyusul poin yang tertinggal.


Lelaki misterius itu pun dengan handal memainkan permainan dan mengoceh Juanda. Bahkan rencana Juanda yang membuat dirinya sakit malah tertimpa ke dirinya sendiri.


"Dia benar-benar hebat, sepertinya kita akan menang," ucap Leonil dengan santai melihat ke arah lelaki misterius dan jam tangan.


Tersisa 5 menit lagi. Batin Leonil.


"Ketsia kamu kenapa malah bengong?" tanya Leonil melihat Ketsia tampak berpikir keras.


"Bukan bengong, aku cuma heran saja. Lelaki misterius itu, ia melakukan permainan yang pernah ku lihat." Leonil hanya tertawa kecil dan itu membuat Ketsia bingung.


"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" Leonil menggeleng.


"Nanti juga kamu akan tahu," ucap Leonil dan itu membuat Ketsia.


Leonil kenapa sih? Bikin aku bingung aja. Batin Ketsia.


"Raja, lakukan rencana B dengan baik. Pokoknya lelaki masker tengkorak itu target !" bisik Juanda di telinga Raja, Raja mengangguk dan mulai memberi tahu kepada anggota tim melalui isyarat tangan dan mata.


"Oi, jaga lelaki masker itu. Gue takut ia sasaran berikutnya !" bisik Ken kepada tim dan mereka mengangguk.


Pertandingan sudah hampir di detik-detik terakhir, tinggal satu tembakan dan masuk ke dalam ring maka akan di pastikan menang.


"Permainan semakin menuju titik akhir, siapakah yang akan keluar menjadi juara?"


"Ini akan benar-benar menjadi pertandingan yang tidak akan di lupakan !"


"Tim Lion !"


"Lion menang, kalahkan Elang putih !"


"Kin jangan mau kalah !"


"Tim Elang Putih, ayo menangkan permainan ini !"


Lelaki masker tengkorak dihadang oleh Juanda serta Tim Lion, ia melompat dan mengarahkan tepat di bagian ring. Namun perkiraan Juanda meleset, rupanya lelaki tengkorak itu mengoper kepada Ken dan segera Ken melakukan slam dunk sehingga Tim Elang Putih mendapat skor lebih tinggi dari Tim Lion.


"Pritttt,"


Bunyi peluit pun terdengar menandakan pertandingan telah berakhir, Tim Elang melakukan selebrasi atas kemenangan tentu saja para penonton pun sangat antusias terlebih lagi pendukung Tim Elang Putih.


"Pertandingan yang sangat hebat ! Selamat untuk Tim Elang Putih yang kembali menang di tahun ini !" Para MC memberi selamat kepada Tim Elang Putih.


"Jun, kita kalah !" ujar Raja.


"Tim Elang Putih melakukan kecurangan ! Kenapa seorang yang sedang sakit di turunkan !" bentak Juanda dan membuatnya menjadi pusat perhatian.


"Kalo kalah mah yaudah terima aja kali !" cibir Ken dan itu membuat Juanda kesal.


Juanda menghampiri Ken sambil menarik baju Ken, Juanda juga mengucapkan kata-kata kasar kepada Ken. Suasana suka cita berubah 180 derajat menjadi tegang karena kedatangan tamu yang tidak di duga, yaitu polisi.


"Angkat dan jangan bergerak ! Saudara Juanda anda di tangkap atas kasus percobaan pembunuhan terhadap saudara Kin !" ucap pak polisi membekuk Juanda dan di saksi, kan oleh semua orang di sana.


"Mana mungkin saya melakukan hal itu ! Apa buktinya?" tanya Juanda marah. Lelaki misterius itu berjalan mendekati Juanda dan membuka penutup mulut.


"Loh itu Kin? Kin ada 2?"


"Serius itu Kin?"


Kin ada 2. Batin Alice heran melihat Ken dan Kin bersamaan.


"Gue adalah bukti sekaligus saksinya, kenapa Juanda? Apa lu pikir gue udah mati?" tanya Kin sambil tersenyum meremehkan Juanda.


"Pak polisi tolong tangkap wasit l, ia sudah melakukan kecurangan selama pertandingan. Saya ada rekaman cctv jika anda mau melihat !" ujar Leonil di samping Ketsia.


"Sejak kapan kamu merekam kejadian ini? Bukankah katanya cctv sekolah ini sedang rusak?" tanya Ketsia.


"Secret." Ketsia menghela napas kesal.


"Serius Juanda mau coba bunuh Kin?"


"Gila jahat banget tuh anak !"


Abang gak mungkin melakukan hal sekeji itu ! Batin Sasha melihat ke arah Juanda sambil menahan air mata.


"Wasit juga curang lagi,  cuma karena ingin menang dia lakuin hal licik begini !"


"Bikin malu nama sekolah aja !"


"Dasar gak tahu diri, pergi lu dari sini !" Semua orang di sana melempar botol bekas dan juga beberapa bungkus makanan, semua hadirin pun memberi kata celaan kepada Juanda.


"Tenang semuanya, semua di harapkan tenang !" ucap Pak Dirga melalui mikrofon mc acara.


Juanda, wasit pun ditangkap oleh polisi. Pihak penyelenggara pertandingan dari SMA Nusa Bangsa juga ikut di tangkap untuk di mintai keterangan. Kejadian terasa sangatlah cepat, Sasha berlari mengejar kakaknya yang di tangkap oleh polisi. Ken masih tidak percaya dengan kehadiran Kin di tengah pertandingan. Ia berlari dan meloncat ke atas tubuh Kin.


"Anjir lu bang, kenapa gak kasih tahu gue !" teriak Ken di dalam pelukan Kin sambil menangis.


"Lu berat njir, turun !" suruh Kin tapi Ken gak mau dan malah semakin erat.


"Hua gue kangen sama lu bang !" teriak Ken dengan buliran air mata.


"Abang? Jangan-jangan orang yang aku sangka Kin itu Ken?" tanya Alice bingung.


"Tenang Alice, nanti ku ceritakan semuanya !" ucap Ketsia sambil tersenyum dan berlari ke arah Kin dan memeluknya dan itu di lakukan oleh Tim Lion.


"Oi anjir pengap gue bangsat !" teriak Kin sambil mendorong mereka menjauh, namun ia menjadi kaku ketika Alice berlari ke arahnya dan memeluknya erat.


"Gue gak mimpi, kan?" tanya Kin pelan melihat Alice yang gemetaran.


"Kumohon jangan pergi !" lirih Alice dengan tubuh gemetaran, tidak berselang lama bunyi siul mulai terdengar bahkan ada yang menggoda mereka berdua.


Dengan cepat Alice melepas pelukannya dari Kin dan berjalan menjauh.


Apa yang telah kau perbuat Alice ! Batin Alice dengan muka merah berlari keluar dan di belakang ada Kin yang mengejarnya.


"Dasar cewek gatel ! BERANINYA IA MELUK KIN DI DEPAN SEMUA ORANG !" bentak Cindy dengan amarah yang meluap-luap.


"Cindy tahan emosi," ucap Aura mencoba membuat Cindy tenang.


"GAK BISA GUE BIARIN, LIHAT AJA LU ALICE. GUE BAKAL BIKIN PERHITUNGAN SAMA LU !" bentak Cindy dan pergi segera Aura menyusul.


Aku juga kesal sih, tapi kenapa Alice melakukan hal itu ? Apa dia benar-benar menyukai Kin. Batin Aura.


Bersambung...