
...πͺπ§πͺ...
Istirahat...
Bel istirahat telah berbunyi dengan nyaring, para siswa pun keluar untuk mengisi perut.
"Kamu kenapa dari tadi sih Aura?" tanya Alice lantaran muka Aura sama sekali tidak senang sangatlah kusut.
"Huh sebel deh sama pacar aku. Masa dari tadi dia gak punya waktu ngabarin aku sih !" gerutu Aura dan mulai memakai bedak lagi karena bedaknya luntur.
"Muka udah penuh dengan bedak begitu masih aja di tumpuk,"
Deg.
"Apaan sih lu dasar Keano, nyambung bae kayak jaringan listrik !" bentak Aura kepada Keano yang memakai baju basket, terlebih lagi dia berkeringat sangatlah tampan.
"Gue cuma kasih tahu lu doang ya, muka lu si hitam apa sih sampai make bedak banyak banget?" tenya Keano kepada Aura dan Alice hanya diam di samping Aura.
"Terserah gue lah, mau muka gue hitam kek, mau putih kek, gak ada urusannya sama lu ya!" ketus Aura dengan muka kesal.
"Oi santailah, gue mau nanya dong." ujar Keano.
"Gak ada tanya-tanyaan! Pergi lu. Mentang-mentang blesteran muka sok ganteng lu anjing !" bentak Aura dan lekas meninggalkan Keano dan Alice yang sedari tadi mematung.
"Bilang ke teman lu ya, risih gue lihat dari tadi pake bedak terus." ujar Keano dan meninggalkan Alice sendirian di lorong.
"Oh my god, mimpi apa aku semalam sampai Keano berbicara denganku?" tanya Alice kepada dirinya sendiri
"Apakah aku sedang bermimpi?" Alice pun langsung menampar ke-dua pipinya.
Rasa sakit yang dialami Alice tidak terasa lantaran dirinya sangatlah senang.
"Ahkkk," jerit Alice sambil menutup mukanya menahan senyum yang sedari tadi terbit di muka putihnya, untunglah lorong kelas lagi sepi karena para siswa-siswi pergi ke kantin sekolah.
...πͺπ§πͺ...
Kin merasa sangat bosan di rumah mewah milik ke-dua orang tuanya, hampir 3 hari dirinya di kurung oleh sang mama di dalam kamar. Alasan yang di berikan oleh sang mama sangatlah banyak,Β seperti...
"Kin masih sakit, jadi belum boleh sekolah dulu."
"Kamu gak boleh keluar kamar, semua keperluanmu sudah mama yang urus."
"Kin harus banyak istirahat, dan juga mama gak mau lagi melihat kamu balapan liar!"
Kin menghela nafas, mengingat pesan dan kesan keramat dari sang mama. Selain di kurung di dalam kamar, dirinya juga di batasi untuk memainkan hpnya. Seakan-akan seluruh badan dan kegiatan harian Kin di atur oleh sang mama.
Kapan ya gue bisa keluar lagi ?. Batin Kin sambil menghela nafas dengan berat hati.
"Kin, ayo makan siang !" teriak Mama Lara dari arah dapur, Kin pun segera bangun dari tempat tidur dan turun menuju ke bawah.
"Dia kemana ma?" tanya Kin yang sudah berada di meja makan, dirinya bertanya karena hanya ada dua orang saja yang akan makan.
"Papa masih di kantor, kalau adek kamu... biasalah masih sekolah," jawab Mama Lara dan menaruh makan di atas meja makan.
"Kamu tahu Kin, mama itu selalu loh makan sendirian. Untung kamu mama kurung di kamar, jadi mama ada teman deh," curhat sang mama sambil menaruh nasi dan sayur cap cay di atas piring Kin.
"Ya ampun ma, Kin ini bukan binatang." elak Kin dan mulai memakan makanan bikinan sang mama.
Sudah berapa lama ya, aku gak makan masakan dari mamaku sendiri ?. Batin Kin melihat ke arah mamanya tersenyum tetapi matanya terlihat seduh sambil melahap makanan di piringnya.
"Mama," panggil Kin.
"Iya Kin, kenapa? Makanan mama kurang enak ya?" tanya mama Lara.
"Enggak kok ma, ini enak banget malah. Bagaimana kalo kita ke kantor papa dan memberi makanan ini kepadanya?" usul Kin dan seketika membuat raut wajah Mama Lara berubah menjadi lebih ceria.
"Kamu benar juga, kenapa mama gak kepikiran ya?" ucap Mama Lara, dan segera ia bergegas menyiapkan makanan buat papa.
Ya ampun mamaku ini. Batin Kin sambil menggelengkan kepala.
...πͺπ§πͺ...
"Maaf mbak, boleh saya bertemu dengan Pak Dirga?" tanya Mama Lara di meja seketaris suaminya ini.
Seketaris itu menghiraukan pertanyaan dari Lara, dan masih saja memakai bedaknya.
Kenapa seketaris suamiku, bisa berpenampilan segenit ini !. Batin Lara di dalam hati melihat pakaian seketaris yang pantas di bilang ****** lantaran pakaian yang di pakai sangatlah terbuka, ketat dan pendek.
Sudah sangat lama ia menunggu persetujuan dari seketaris yang masih saja sibuk berdandan, amarahnya sudah di ubun-ubun dan tanpa persetujuan, ia pun langsung saja masuk ke dalam.
"Hei, anda tidak boleh sembarangan masuk ke tempat Pak Dirga !" bentak seketaris menor itu dan berlari mengejar Lara, seketaris itu sangat kesusahan karena ia memakai hak cukup tinggi hari itu.
Tok tok tok..
"Masuk," ucap Dirga memberi ijin dan segera saja Lara masuk ke dalam ruangan Ceo, yang di dalamnya ada sang suami.
"Ada apa Barbie? Bukannya sudah ku tanda tangan semua berkas?" tanya Dirga terus fokus kepada laptop dan laporannya.
"Oh jadi nama seketaris kamu itu Barbie." Dirga menghentikan pekerjaan dan mendongak ke arah sumber suara. Ia menemukan sang istri yang telah menemani dirinya selama 20 tahun yang berdecak pinggang.
"Sayang, kamu kok bisa ada di sini?" tanya Dirga dan menghampiri sang istri.
"Maaf mas, saya tidak bisa mencegah nenek ini masuk ke ruangan bapak." ucap Barbie aka seketaris yang baru saja datang ke ruangan Dirga.
NENEK ? KENAPA DIA PANGGIL DIRGA DENGAN SEBUTAN MAS !. Batin Lara yang sudah sangat kesal, langsung memberikan tatapan mematikan kepada suaminya.
"Kau keluar," ujar Dirga dengaΒ dingin.
"Baik mas, nenek ayo kita keluar." ucap barbie dan menarik tangan Lara dengan kasar.
Plak.
Genggaman tangan Barbie di lengan Lara pun terlepas.
"Mas..."
"Hanya kau yang keluar BUKAN DIA !" bentak Dirga dan Barbie pun segera keluar dan menyisakan Dirga dan Lara.
"Tidak perlu, aku juga akan keluar," ucap Lara tetapi langsung di tahan dengan Dirga.
"Kamu baru saja sampai, masa mau pergi lagi sih," tahan Dirga.
"Ya mana mungkin-kan seorang Ceo berduaan dengan seorang nenek di ruangannya." Dirga terkekeh mendengar perkataan istrinya ini dan menariknya membawa ke sofa yang berada di ruangan tersebut.
"Sekarang lebih baik kamu menemaniku makan siang, aku sudah sangar lapar," ucap Dirga merangkul Lara dengan posesif seperti ketika pacaran dulu.
"Gak mau," elak Lara memalingkan wajah ke arah yang lain.
"Oh my ! Istriku ini sedang mode ngambek toh," goda Dirga sambil mengelus pipi Lara.
"Apaan sih ! Makan aja sendiri," ketus Lara tetapi tetap membiarkan tangan Dirga mengelus pipinya.
"Masa aku makan sendiri? Ya sudah deh aku ajak Barbie saja." Lara langsung melihat ke arah Dirga dan memeluknya dengan posesif.
"Kamu gak boleh makan sama dia !" bentak Lara dan terus memeluk Dirga.
"Loh aku kan gak mau makan sendiri sayang," elak Dirga tetapi ia tetap terkekeh dengan sikap Lara.
"Ya kamu gak usah makan sama dia!" ketus Lara.
"Terus aku makan sama siapa?" tanya Dirga.
"Ya sudah sama aku saja," jawab Lara, menarik Dirga ke kursi dan mengeluarkan makanan yang ia bawa. Kemudia ia mulai menyuapi Dirga.
Bersambung...