
Alice tidak percaya dengan yang ia lihat sekarang. Sosok yang telah lama meninggalkan Alice dan juga sosok yang mencampakkan ibunya ketika keadaan sakit. Alice hanya terdiam di balik pot, tubuhnya berkeringat juga matanya mulai berair. Napas Alice sudah tersengal-sengal menahan gejolak amarah yang ia tumpahkan, sosok ayah Alice sama sekali tidak banyak berubah kecuali rambutnya kian memutih dan keriput sudah mulai terlihat.
Tidak Alice, kamu harus berani. Kamu harus membuktikan bahwa kamu tidak lemah ! Batin Alice dengan tenang melangkah kaki mendekat ke arah sosok yang sangat ia benci.
"Papa !"
Deg.
Alice cukup terkejut ketika Cindy memanggil sosok itu dengan sebutan papa,bukan hanya memanggil ia bahkan memeluk papanya.
"Papa kok lama banget sih jemput Cindy !" rengek Cindy dengan manja.
"Iya maaf nak, papa banyak kerjaan. Ayo kita pulang." Kejadian itu cukup cepat terjadi tanpa membuang waktu Alice kembali tempat ibunya.
"Alice kamu baik-baik saja?" tanya Kin ketika melihat kedatangan Alice kembali.
"Gak papa," jawab Alice tersenyum, tidak lama pintu IGD terbuka dan ibunya Alice di pindahkan ke ruang ICU untuk penanganan lebih insentif.
Setelah mendengar kondisi ibu Alice juga operasi tidak bisa di lakukan jika keadaan ibu Alice seperti sekarang. Alice cukup tenang karena seluruh biaya akan di tanggung oleh Kin, karena rumah sakit itu punya kenalan Papa Kin.
Tidak ada yang boleh tahu kejadian itu, jika ibu tahu pasti ia akan sedih. Batin Alice dan tanpa sengaja air mata meluncur dari mata Alice.
...🍪🍧🍪...
Hari ini Alice kembali bersekolah setelah 2 hari ia izin untuk menjaga ibu yang di rawat di rumah sakit.
"IKUT GUE !" ancam Cindy sambil menarik Alice dari lorong sekolah ke toilet paling pojok dekat gudang yang sangat jarang di gunakan kecuali pembersih sekolah.
"Sudah gue bilang, JANGAN DEKAT DENGAN KIN DASAR WANITA GATEL !" bentak Cindy sambil menarik rambut Alice dengan kuat.
"Ahh, Cindy lepaskan," pekik Alice tetapi tarikan semakin kuat, dan itu membuat Alice menangis.
"Dasar cengeng, cuma segini aja kemampuan lo ?" tanya Cindy sambil melepaskan tangan dari rambut Alice tapi ia menoyor kepala Alice cukup kuat dan sedikit terkena tembok.
"POKOKNYA JANGAN SAMPAI LU DEKAT LAGI DENGAN KIN MAUPUN AURA, NGERTI LO?!" setelah itu Cindy pergi meninggalkan Alice yang masih terduduk di lantai sambil memegang kepala.
"Sepertinya aku harus ke UKS," gumam Alice berusaha bangun, bahkan ia harus di bantu tembok untuk membuatnya bangun secara sempurna, dengan jalan tertatih-tatih dan pandangan mulai buram ia berusah berjalan ke UKS.
...🍪🍧🍪...
"Alice, kamu kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Ketsia yang sedang berjaga di UKS membantu Alice mengobati luka. Ia membaringkan tubuh Alice di kasur dan mulai mengambil beberapa obat untuk membuat Alice menjadi lebih baik.
"Aku baik-baik saja kok," jawab Alice pelan dan lesu sambil memegang dahi karena rasa pusing mulai menyerang.
"Lebih baik kamu tidur saja Alice, keadaanmu benar-benar lemah," bujuk Ketsia.
"Iya baiklah, terima kasih Ketsia."
"Sama-sama," balas Ketsia dan Alice pun mulai tertidur bahkan tidak membutuhkan waktu lama karena Ketsia bisa mendengar dengkur halus dari Alice.
Sepertinya dia kecapean. Batin Ketsia sambil meletakkan kembali obat di kota obat.
"KETSIA, ALICE DI MANA?" Pintu UKS terbuka dan terlihat Kin denan keringat di pelipisnya.
"Shut, dia baru saja tidur. Jangan mengganggunya." Kin kemudian masuk dengan cepat tapi jalannya kian melambat ketika berjalan mendekati kasur. Terlihat di hadapannya Alice sedang tertidur, wajah tenang Alice membuat Kin tidak tega untuk membangunkannya.
"Apa yang terjadi Ketsia?" tanya Kin sambil menyentuh pipi kiri Alice pelan.
"Entah, aku juga tidak tahu. Kalo begitu aku kembali ke kelas ya," jawab Ketsia dan meninggalkan Kin di UKS bersama dengan Alice.
"Ahk, hentikan Cindy. Kumohon hentikan," ucap Alice di dalam mimpi dengan tubuhnya yang berkeringat dan bergemetar.
"Cindy? Jangan-jangan dia yang buat Alice begini !" gumam Kin kesal tapi ia tetap membelai pipi Alice dengan penuh kelembutan agar ia menjadi nyaman. Setelah Alice tenang Kin segera mencari Cindy dan Kin yakin Cindy berada di dalam kelas.
Setelah berhasil menemukan Cindy, Kin tanpa berlama-lama langsung menarik Cindy dan memarahinya habis-habissan.
"Cindy, jujur ama gue kalo lu yang buat Alice pingsan !"
"Gue mohon kepada lu Cin, jangan lagi lu menganggu Alice ! Kalo sampai lu bikin Alice menderita maka..." Kin mengambil hp dan membuka galeri dan ia memberi tahu foto bercumbu Cindy dengan seorang pria di klub malam.
"Kalo lu gak mau foto ini kesebar ke seluruh sekolah, maka lu jangan pernah menganggu Alice !" ancam Kin.
"Tapi Kin, kapan kamu dapat foto itu?" tanya Cindy yang masih syok dan Kin hanya menanggapi dengan senyuman.
"Tidak penting gue dapat darimana foto ini, yang jelas. Lu jangan coba-coba ganggu Alice, jika lu ganggu Alice lihat saja nanti !" Kin pun pergi meninggalkan Cindy di taman ketika 5 menit sebelum bel berbunyi, sedangkan Cindy sangat kesal.
"Kurang ajar ! Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan agar jablay miskin itu pergi dari Kin?" tanya Cindy sambil berpikir tidak lama kemudian ia tersenyum ketika ia mendapat sebuah ide cukup menarik.
Hahaha, ini akan sangat menarik. Batin Cindy dan berjalan kembali ke kelas karena bel pelajaran pertama sudah berbunyi.
...🍪🍧🍪...
"Kamu jangan takut Alice, Cindy tidak akan melakukan hal yang kemarin," bujuk Kin kepada Alice yang tidak ingin turun dari mobil. Hari ini ia menjemput Alice dengan mobilnya, kemarin Alice dipulangkan lebih cepat. Walaupun Kin menyuruh Alice untuk beristirahat tetapi Alice tetap ingin bersekolah.
"Iya, aku turun kok." Alice memakai tas terlebih dahulu sebelum keluar, Kin tersenyum dan ia keluar dari mobil dan berlari ke arah pintu mobil bagian kiri untuk membukakan pintu.
"Aku bisa sendiri Kin," ucap Alice.
"Tidak apa-apa sesekali," elak Kin sambil tersenyum.
Alice dan Kin berjalan masuk kedalam gerbang dan ia berpapasan dengan Aura.
"Aura, hai. Bagaimana kabarmu?" tanya Alice sambil melambaikan tangan melihat kearah Aura yang sedang berjalan kearah mereka.
Plak,
Aura membalas sapaan Alice dengan tangan kanan menampar pipi mulus Alice, bukan hanya Kin yang terkejut namun beberapa siswa-siswi yang sedang berlalu lalang.
"Aura, ada ap-"
"Dasar cewek murahan, gue pikir lu itu sahabat yang baik buat gue. Rupanya lu tidak lebih dari seorang PEN-CUN-DANG !" bentak Aura dengan aura kemurkaan.
"Aura, apa-apaan ini ! Kenapa kamu langsung menampar Alice ?" tanya Kin berdiri di depan Alice berniat melindungi Alice.
"Harusnya itu aku yang tanya ! Dia itu cuma cewek sok polos dan baik, rupanya dia itu musuh dalam selimut !"
"Aku musuh dalam selimut seperti apa Aura?" tanya Alice yang msaih di belakang tubuh Kin.
"Idih gak mau ngaku lagi, eh lu itu sudah jadi PHO. Makanya itu gue jadi putus kdengan Kin !" bentak Aura dan membuat Alice bingung.
"PHO?" tanya Alice bingung.
"What? Maksud lu apa Aura?" tanya Kin.
"Dasar teman kurang ajar." Ayra langsung menjambak rambut Alice dengan terus mencaci maki sebagai teman palsu.
"Aura stop !" ujar Kin tetapi Aura masih tidak mau melepaskan tangan di rambut Alice hingga Ketsia dan Leonil datang untuk membantu Kin.
"Lu bawa Alice aja, biar Ketsia gue yang urus," ujar Ketsia menahan Aura, sedangkan Kin membawa Alice pergi.
"Heh murahan lu mau kemana ?!" teriak Aura yang terus berontak agar bisa mengejar Alice.
Kin membawa Alice kearah gedung olahraga, tentu di sana masih sepi. Mereka duduk di daerah bangku penonton, Kin menenangkan Alice. Beban Alice cukup banyak, beban keluarga, sekolah, tempat kerjanya juga menuntut pengembalian uang yang sama sekali Alice tidak ambil, hingga Aura yang semakin membencinya.
"Aku tidak kuat lagi Kin," lirih Alice sambil menangis menahan seluruh beban yang dipangkulnya.
"Hei, berhentilah menangis. Alice kuat aku tahu itu," ucap Kin pelan memeluk Alice dari samping untuk menenangkan Alice.
"Alice gak ku..at, i..ni terlalu membuat Alice tersiksa hiks. Kenapa Alice terus mendapatkan hal ini?" tanya Alice di dalam pelukan Kin dan ia menumpahkan segala kemarahan, kesedihan, kekecewannya melalui air mata yang tidak pernah ia lakukan.
Alice memang gadis yang sangat hebat, walaupun ia terlihat santai dan sering tersenyum tentu beban begitu banyak tidak mungkin Alice bisa melaluinya dengan mengucapkan 'aku baik-baik saja, tidak perlu memikirkan diriku.'.