
Ting ting ting...
Bunyi bel telah berbunyi tetapi Alice masih memeluk Kin dengan erat, tangan Kin sudah mulai terasa pegal. Ia perlahan-lahan memindahkan tangan Alice dari pinggangnya.
"Rupanya tidur, pantas saja ia tidak menangis lagi," gumam Kin dan menggendong tubuh Alice menuju ke uks setelah itu ia segera menuju kelas untuk meminta izin.
"Kin Dhananjaya, kamu telat lagi di pelajaran saya!" Kin menelan ludah ketika mendapati guru biologi bernama Bu Lela yang sangat terkenal killer dan memberi tugas banyak.
"Maaf bu, tadi Kin dari uks," jawab Kin sambil mencium punggung tangan Bu Lela. "Saya janji nanti tidak akan seperti ini lagi bu,"
"Alasan, sudah cepat duduk!" Kin segera duduk di kursi.
"Oke anak-anak, keluarkan selembar kertas untuk quiz hari ini,"
Kin cukup terkejut namun ia tidak bisa melakukan apapun kecuali mengikuti quiz dari Bu Lela sampai selesai, jika ia kabur maka dapat di pastikan ia akan langsung di drop out.
"Baik kita akan mulai, dan saya harapkan kalian jujur. JANGAN LIHAT KANAN-KIRI !"
"Iya bu,"
Quiz pun dimulai, ada 5 soal dan semua materi sudah Kin pelajari tadi malam jadi dia bisa menyelesaikan dengan mudah. Kin menjdai orang ke 4 mengumpulkan kertas di atas meja Bu Lela.
"Bu, saya minta izin ke toilet," ucap Kin di samping Bu Lela yang sedang merapikan kertas-kertas.
"Hmm,"
Kin segera bergegas keluar menuju kamar mandi, kemudian ia berbelok menuju UKS untuk melihat kondisi pacar yang paling ia sayangi itu.
"Alice, maaf aku lama," ucap Kin masuk kedalam UKS namun ia tidak menemukan Alice.
"Alice kemana?" tanya Kin sambil berjalan menuju ke arah jendela dengan langkah pelan, dan memperhatikan daerah sekitar.
Kin melihat ke arah gedung kelas 11 dan ia terkejut melihat Alice yang berada di dekat pembatas. Kin segera keluar dan berlari menuju gedung kelas 11.
Brak
"Sorry-sorry," ucap Kin dan terus berlari tanpa mempedulikan umpatan dari orang yang tadi ditabrak.
...πͺπ§πͺ...
"Kenapa aku dihidupkan di dunia ini?" tanya Alice dengan pandangan kosong melihat lurus kedepan.
Ia membiarkan rambut panjangnya terkena hembusan angin yang tenang di rooftop kelas 11.
"Dasar sampah, lebih baik mati aja sono !"
"Lihat deh, nih cewek jelek banget !"
"Ihh... Iya jelek banget !"
"Lihat Eyon ! Ada bakpao jalan !"
"Jangan gitu ah! Hidup dia udah susah haha,"
"Aduh... Udah gendut, jelek, bodoh, hidup pula!? Ckck,"
"Hoi gendut! Makan sampah ya lo?!"
Alice bergemetar, mata memerah menahan rasa sakit dan ia mulai menangis karena tidak kuat menahan rasa amarah yang ia selalu pendam. Alice memukul pembatas sambil terus menangis.
"Kenapa aku? Kenapa harus aku?!" teriak Alice sambil terus menangis dan dibawa kedalam pelukan Kin .
"Jangan pergi Alice, kamu membuatku khawatir," ucap Kin memeluk Alice yang terkejut mendengar perkataan Kin. Alice pun memeluk Kin dan ia menangis tanpa bersuara.
"Masih banyak orang yang menyayangi Alice, termasuk aku dan juga ibumu. Jika seandainya kamu berniat mengakhiri hidupmu, aku pasti akan sangat sedih."
"Tapi..Kin, kenapa terus aku yang harus menderita?"
Kin mengangkat pandangan Alice sehingga mereka saling berpandangan satu sama lain. " Aku berjanji, sebentar lagi Alice tidak akan merasakan hal ini. Jika aku melanggar janjiku, maka kamu boleh membunuhku !"
"Kalau begitu aku boleh cari pasangan lain dong, jika Kin tidak menepati janji?" goda Alice dan itu membuat Kin berpikir keras cukup lama hingga ia mengeluarkan napas dengan berat.
"Iya, boleh," jawab Kin dengan tidak suka dan itu membuat Alice tersenyum tipis, kemudia Alice langsung memeluk Kin lagi sambil menikmati angin di pelukan Kin.
...π§πͺπ§...
Krek...
Brak !
Cindy baru saja pulang dari sekolah. Ia menaruh asal tas hitamnya di atas kasur, ia membuka ikat rambut sebelum berbaring di atas kasur. Cindy terlihat sangat senang, bahkan terus memegang lengan kiri.
Beberapa jam yang lalu di belakang sekolah berbatasan dengan toilet perempuan.
Cindy bersender di dinding sambil melipat tangan. Kaki kanan mengetuk lantai, Cindy melihat kearah jam tangan dan kembali melihat kedepan.
"Dia dimana sih? Sudah sejam ditunggu belum datang juga !" ketus Cindy yang kesal dan mulai membuka bungkus permen mint lalu memakannya.
Tidak lama kemudian sebuah motor terhenti didepan Cindy, lelaki yang mengendarai motor memakai jaket hitam, kacamata hitam, masker hitam hingga sepatunya pun berwarna hitam.
"Kenapa lama sekali? Aku sudah tidak sabar tahu !" bentak Cindy sambil membuang permen dan menghampiri lelaki serba hitam.
Lelaki itu hanya diam, ia memberi sebuah bingkisan yang dilapisi plastik hitam kepada Cindy.
"Ini uangnya ! Bilang ke bos nanti gue ambil lagi," ucap Cindy memberi uang kepada lelaki serba hitam. Lelaki itu membuka amplop untuk melihat isinya.
"Eh malah dilihat lagi, gue kasih lebih ya ! Gue ini orang kaya tahu gak ?!" ujar Cindy dengan suara melengking, segera lelaki serba hitam pergi.
"Ihh memangnya gue orang miskin apa?" gumam Cindy dan berjalan dengan cepat masuk kedalam sekolah sebelum ada yang melihat transaksi tersebut.
Cindy tertawa-tawa di atas kasur, "Rasanya benar-benar sangat enak !"
Cindy terduduk diatas kasur sambil melihat kearah jam dinding.
"Baru juga jam 2 siang, Aura dan Alice memang sangat tidak seru. Terlalu gampang untuk di adu domba."
Cindy sangat ketakutan tetapi ia berusaha untuk tetap tenang, ia menghampiri seorang polisi untuk bertanya tentang kedatangan mereka. Namun, semua pertanyaan telah terjawab. Ayah Cindy dibawa oleh polisi menuju mobil dengan tangan diletakkan dibelakang badan.
"Ayah, ada apa ini?" tanya Cindy ketika ayahnya hendak melewati dirinya.
"Ayah anda merupakan tersangka atas kasus penipuan dan juga telah mengorupsi uang perusahaan sebanyak 7 miliar." Cindy menutup mulut dengan wajah masih terlihat sangat syok sedangkan ayahnya hanya mampu menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ayah Cindy digiring menuju ke polres dan Cindy dimintai keterangan oleh kepolisian. Setelah selesai ia mulai berjalan kekamar kembali dengan badan lesu, ia pun termenung dan membayangkan jika ayahnya diberitakan.
"Kasus hari ini, Tuan Hartono yang memiliki Perusahaan PT Larion Hartono telah melakukan penipuan dan korupsi sebanyak 7 miliar rupiah."
Dibayangkan saja Cindy tidak mampu jika berita bahwa ayahnya tertangkap muncul di acara tv, tubuh Cindy mulai bergemetar dan ia berkeringat dingin.
"Bagaimana ini? Jika satu sekolah mengetahui berita ini, aku pasti akan dibully," gumam Cindy dengan berpikir keras ia segera memasukkan baju ke dalam koper dan beberapa barang yang ia butuhkan. Ia ingin segera keluar dari rumah ini, sebelum ia yang tertangkap oleh polisi.
"Saudari Cindy anda kami tangkap!" Cindy terkejut mendapati para polisi didepan rumah, selain polisi ada Kin beserta yang lain kecuali Aura, Alice dan Keano.
"Ada apa ini? Saya tidak bersalah !" elak Cindy ketika disuruh masuk kedalam mobil.
Cindy merupakan pemakai sekaligus pengedar narkoba jenis sabu, kurir yang mengatar benda terlarang itu bukan dari pihak bos melainkan Kin. Transaksi haram itu diketahui Ketsia yang sudah lama melihat gerak-gerik dari Cindy yang bisa tertawa, sedih, marah dengan perubahan yang sangat cepat dari kebanyakan orang normal pada umumnya.
"Sekarang tinggal buat mereka kembali bersatu," gumam Kin yang terus melihat Cindy yang tidak mau masuk kedalam mobil dan para polisi mengamankan 2kg sabu-sabu yang ditemui didalam koper.
...πͺπ§πͺ...
"Kin, kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Alice dan Aura berbarengan didepan kantor polisi disore hari.
"Aku ingin menunjukkan kebenaran kepada kalian," jawab Kin dan menarik lengan Alice dan Aura untuk masuk kedalam dan menemui Cindy.
"Cindy?!"
"Kau jelaskan yang sebenarnya terjadi dan jangan berbohong !" ancam Kin dan Cindy hanya mengangguk.
"Ya, aku yang telah membuat mereka berdua berantem. Puas?" tanya Cindy dengan marah.
"Kau Aura yang cengeng, lu pikir lu selevel sama gue ? Walaupun nyokap lu kaya, tapi bagi gue lu itu gak lebih dari sebuah alat !" Aura merasa terluka dan ia ditahan Alice agar tidak terjatuh.
"Lu juga miskin ! Kenapa seorang Kin bisa menyukai orang sepertimu hah?!"
"Gue benci kalian semua !" teriak Cindy dan segera dimasukkan kembali kedalam sel.
Alice, Aura dan Kin pun keluar dari polres.
"Seharusnya Cindy tidak dipenjara, penjara terlalu bagus untuk dirinya," komentar Aura berjalan disamping Alice sedangkan Kin berada dibelakang. Ia tidak ingin mengganggu momen pacar dengan sahabatnya ini.
"Terus ia lebih baik dimana dong?" tanya Alice bingung.
"Ya di rumah sakit jiwa, kamu lihatkan dia seperti orang kurang waras. Sebenarnya polisi sadar tidak sih kalau dia itu tidak waras?!" Alice hanya tertawa kecil dan kemudian suasana kembali hening.
Aura berhenti berjalan dan melihat kearah Alice, "Aku minta maaf ya."
"Aku juga minta maaf."
"Kalau begitu kita kembalikan?" tanya Alice dan Aura tersenyum sambil mengangguk kepala.
"Nah gitu dong, gue jadi enak lihatnya !" ujar Kin memeluk Alice dan Aura dengan lengan kekarnya.
"Ih Kin sakit !" ringis Alice.
"Tahu Kin, ketekmu itu bau tahu !" ejek Aura sambil menutup hidung.
Mereka pun tertawa dan kembali berjalan menuju ke salah satu kafe untuk sekedar minum sambil menikmati matahari terbenam.
...πͺπ§πͺ...
Setelah kejadian penangkapan Cindy 2 minggu yang lalu, sekolah mengadakan ujian semester 1 dan hari ini adalah hari terakhir ujian.
"Psst, Kin. Pohon akar 25 berapa?" tanya Rio di belakang Kin sambil menendang kursi untuk memanggil Kin.
"Sabar bung, 5 boneka hello kitty kurang 2 aja belum," jawab Kin dengan terus mencoret kertas untuk mencari jawaban.
Alice hanya mampu menahan tawa sambil menggelengkan kepala sambil mencari jawaban, Terkadang Kin bersama teman-teman yang lain menggunakan trik konyol tersebut, tapi kata Kin itu sih trik antimainstrem.
"10 menit lagi ya," ucap pengawas sambil berjalan keluar kelas karena mendapat sinyal alam dan segera anak-anak mulai jurus teleportasi masing-masing.
"Oi pecahan 25/5 + 67-(-6) udah ada yang selesai belum?"
"Nilai mutlak x + 36 \=36 x-1 selesai !"
"Jangan terlalu baek napah bagi jawaban, gue CAPEK nih nyalinnya !"
"Prett kentut itu gas, padat, cair?" tanya Rio.
"Gas !" teriak semua teman-teman kecuali Alice menjawab pertayaan Rio.
"Red zone ! Red Zone !" Seketika para murid berlariΒ menuju tempat aman sebelum kedatangan red zone tapi Rio mulai berkeringat karena dia belum selesai.
"Sudah waktunya dikumpulkan, siap tidak siap harus dikumpul !" ucap pengawas sambil duduk di kursi.
"Kin, bantu gue dong. Tenang, gue tulis pake jurus seribu tangan," bisik Rio ketika para murid mulai dipanggil maju kedepan. Kin memberi kertas jawabannya kepada Rio dan dengan santai menunggu namanya dipanggil.
Alice melihat kearah Kin dan mata mereka bertemu, Kin mengatakan oke dengan bahasa isyarat jari tangan kepada Alice.
"Kin Dhananjaya." Kin maju kedepan dengan tenang sambil membawa kertas soal.
Brak.
Kin dengan sengaja menjatuhkan tumpukan soal dan jawaban sehingga berantakan di bawah.
"Kin!" geram pengawas wanita itu melihat tingkah Kin.
"Maaf bu, saya gak sengaja," ujar Kin duduk dan mengambil seluruh kertas yang berhamburan dibawah meja.
"Nanti kamu jangan pulang dulu, harus bantu saya kembali mengurutkan tumpukan soal dan jawaban itu !" ancam pengawas dan Kin mengangguk sambil memeletkan lidah karena berhasil mengelabui pengawas ujian.