
"Jun, kapan lu bebas?" Juanda baru saja tiba di basecamp Tim Lion.
"Baru tadi siang, gimana kabar kalian? Sehat?"
"Ya seperti yang lu lihat, sehat enggak sakit juga enggak."
"Jun, kita harus balas dendam dengan Kin. Gara-gara dia lu jadi masuk penjara !" ujar Raja.
"Tidak, gue gak mau cari keributan dengan Kin."
"Kenapa lu jadi cemen begini sih? Tobat ?" ejek Raja.
"Terserah deh lu pada mau ngomong apa, pokoknya gue gak mau ikut campur dengan Kin. Dah ah gue cabut." Juanda keluar dari basecamp dan melajukan motor ke arah taman.
Ketika sampai ia melihat ke sekeliling dan berjalan mendekati seseorang yang sedang duduk di bangku taman.
"Udah lama nunggu?"
"Gak kok, btw ngapain panggil gue?"
"Gue cuma mau berterima kasih kepada lu, gak menyangka gue kalo adik Kin mau mencabut tuntutan abangnya," ucap Juanda duduk di samping Ken.
"Gue gak bisa lihat Sasha sedih, dia sangat butuh lu," balas Ken melihat ke arah langit.
"Sasha itu manja, cepat ngambek, marah, kalo pms. Jika singanya keluar," ucap Juanda.
"Haha, sepertinya gue tahu kenapa lu kasih nama Lion di tim basket sekolah." Juanda tersenyum maklum.
"Ken, Sasha hanya memiliki gue di dunia ini. Tisak selamanya gue akan bersamanya, jadi.." Ken pun langsung memotong ucapan Juanda.
"Jangan begitu, Sasha pasti akan sedih !" ucap Ken.
"Ken, berjanjilah lu akan selalu bersama dengan Sasha. Gue titip Sasha kepada lu, kumohon buat dia bahagia."
"Iya Juanda, tanpa di suruh gue bakal jaga Sasha." Juanda tersenyum dan menepuk pundak Ken.
"Gue titip salam buat Kin, serta permohonan maaf," bisik Juanda dan berjalan mendekat ke arah motor untuk pergi dari taman.
"Ya ampun, Juanda lupa dengan kalungnya. Lebih baik gue segera susul takut makin jauh," ucap Ken membawa kalung berbentuk setengah hati.
Ketika sedang berada di jalan, ia tidak sengaja melihat seorang pengendara yang tersungkur di atas aspal.
"JUANDA !" teriak Ken dan segera menghampiri Juanda yang terbaring berdarah di atas aspal.
"Jun, buka mata lu !" Ken menekan nadi di tangan Juanda, dan ia tampak syok.
"Tidak mungkin, Juanda dia."
...🍪🍧🍪...
"Abang, kenapa abang pergi sangat cepat?" tanya Sasha di atas gundukan tanah yang masih basah dan tentu di taburi bunga di atasnya.
"Padahal, abang baru saja bebas dari penjara. Tapi kenapa abang malah pergi? Sasha gak mau sendiri !" jerit Sasha menangis di atas makam Juanda yang baru saja di kuburkan itu.
"Sasha, jangan seperti ini. Juanda tidak bakal suka melihatmu menangis," ucap Ken pelan dan memegang pundak Sasha namun segera di tepis.
"Pasti karena kamu kan ! Karena Ken JUANDA JADI MATI !" bentak Sasha di hadapan para asisten dan juga teman-teman Juanda.
"Dia meninggal karena kecelakaan, bukan karena aku Sha," ucap Ken.
"Bohong ! Ken adalah pembohong, Sasha gak bakal percaya dengan Ken ! Lebih baik Ken pergi, Sasha gak mau lihat Ken !" teriak Sasha mendorong Ken menjauh dari makam Juanda.
Ken hanya bisa melihat Sasha dengan sedih, namun ia tetap pergi dari sana.
"Tenang Sasha," ucap Raja.
"Abang, Sasha gak mau sendiri !" lirih Sasha menangis di atas makam Juanda.
...🍪🍧🍪...
"Dari mana aja lu?" tanya Kin di depan pintu kamar Ken tapi Ken tidak menjawab bahkan ia malah memainkan beranda hp.
"Gue udah tahu kok, Juanda meninggalkan?" Ken mengangguk pelan.
"Oh ya, Junada titip salam dan permohonan maaf," ucap Ken dan Kin hanya bergumam.
"Terus lu sedih karena Juanda meninggal?"
"Itu benar tapi Ken lebih sedih karena Sasha menunduh kalo gue yang membuat Juanda meninggal. Sasha juga akan memasukkan gue ke penjara bang," jawab Ken.
"Sasha ada bukti?" Ken menggeleng tidak tahu.
"Gue bakal bantu lu biar gak masuk penjara dengan tuduhan teman-teman Juanda, gue juga bakal berusaha biar hubungan lu baik lagi dengan Juanda." Kin beranjak pergi namun di tahan Ken.
"Bang, kok lu sama Juanda bisa berantem? Kata Rio dulu lu berdua sahabat dekat," ucap Ken.
"Cerita lama itu, udah gak usah di bahas !"
"Tapi gue mau tahu bang, tolonglah !" mohon Ken.
"Oke tapi gue cuma secara garis besar aja." Ken mengangguk dan Kin duduk di atas kasur di samping Ken.
"Gue dengan Juanda sahabat dari kelas 1 smp, hingga gue pacaran sama Sasha di kelas 8. Tapi gue gak bisa lama sama dia, gue gak suka sikapnya yang sangat manja dan suka marah-marah gak jelas. Juanda marah karena gue bikin Sasha sedih, terus dia juga di hasut dengan teman-temannya jadi ya begitu kami jadi musuh pas sma."
"Sampai sekarang lu belum baikkan dengan Juanda?"
"Sudah sih, tapi teman-teman Juanda yang gak suka kalo gue dekat lagi sama dia. Makanya itu kami sering adakan balapan liar, Juanda sering termakan omongan teman-teman Tim Lion itu."
"Dan gue juga curiga takutnya mereka juga menghasut Sasha buat benci sama lu," lanjut Kin dan membuat Ken kaget.
"Tenanglah Ken, gue bakal bantu lu biar balikan lagi dengan Sasha. Tapi lu juga harus jaga Sasha, mereka itu nekat dan sama sekali tidak takut masuk penjara !" Ken mengangguk mantap.
Tidak akan ku biarkan mereka menyentuh Sasha ! Gue bakal jaga Sasha sesuai dengan permintaan terakhir Juanda. Batin Ken.
...🍧🍪🍧...
Keesokan harinya Kin serta Ken pergi ke rumah Ketsia di pagi hari, tidak lupa mereka mengajak Rio dan Elang. Di ruang tamu ada Ketsia, Kin, Ken, serta Leonil.Rio dan Elang sedang menuju ke rumah Ketsia
"Kumohon Ketsia, bantulah sahabatmu ini !" mohon Ken..
"Iya gue bakal tolong, tapi gue ngapain?" tanya Ketsia.
"Oh ya, Leonil lu bisa bantu Ken kan?" tanya Ken kepada Leonil yang duduk di samping Ketsia.
"Gak, gue gak mau bantu urusan cinta tidak jelas lu !" jawab Leonil.
"Kalo gitu lu gak bakal gue restuin pacaran dengan Ketsia, gue ini sepupunya. Mamanya Ketsia adik mama gue jadi kalo papa Ketsia meninggal, lu mau nikah sama Ketsia perlu di wakilkan oleh papa gue !" ujar Ken.
"Gak usah papa lu juga sih, masih ada Papa Dara." Ken menjadi gelisah.
"Kalo gitu gue bakal suruh Dara bilang ke papanya biar gak nikahin lu sama Ketsia, gampang kan?" tanya Kin dan itu membuat Leonil tersudut.
"Kenapa jadi bahas soal nikah? Leonil bantu aku ya, aku mau cari tahu siapa yang menjadi pengedar di sekolah." Kin dan Ken terkejut.
"Pengedar? Narkoba?" Ketsia mengangguk.
"Para guru curiga karena para siswa menjadi suka senyum sendiri terus selalu berendap-endap kalo di toilet, juga mereka sering makan permen gitu loh. Mereka sering marah jika permen di minta sama guru," jawab Ketsia.
"Ya sudah lebih baik kita, segera mencari pengedar dan bukti," ucap Ken semangat berapi-api.
"Leonil, kamu mau bantu kan?" tanya Ketsia dan Leonil mengangguk sambil tersenyum.
"Kalo begitu mah, dari tadi kita minta bantuan Ketsia aja," bisik Kin dan Ken mengangguk.
"Ayo kita pergi !"
...🍪🍧🍪...
Seminggu telah berlalu...
Sasha masih merasa sangat sedih, ia setiap hari selalu mengurung diri di kamar.
Kenapa Juanda meninggalkan Sasha? Apa Juanda tisak sayang sama Sasha?.
Sasha sedang memandang foto dirinya dan Juanda yang sedang berada di taman bermain. Sasha yang memakai bando memegang hp namun menunjukkan ekspresi terkejut, sedangkan Juanda yang berada di samping dengan ekspresi ingin memakan Sasha.
Flashback on.
Beberapa bulan yang lalu...
"Abang ayo, kemarin katanya mau ajak Sasha ke Disneyland !" Sasha yang sedang berlibur bersama dengan Juanda di Disney Australia.
"Hmm, besok aja." Juanda makin terlelap di atas kasur hotel dan itu membuat Sasha semakin kesal.
"ABANG BANGUN !" jerit Sasha dan menarik-narik selimut Juanda.
"Lagi hujan, besok aja," sahut Juanda serak.
"Kita kan cuma 3 hari di sini, besok hari keberangkatan ke London !" ucap Sasha.
"Yaudah di London aja," ujar Juanda.
"Gak mau, Sasha maunya sekarang !" ucap Sasha dan ia mulai menangis di kamar Juanda namun Sasha mulai berhenti menangis ketika ia merasa ada tangan sedang mengelus puncak kepala Sasha.
"Ya sudah, ayo berangkat. Hujannya juga udah gak terlalu deras kayak tadi," ujar Juanda dan itu membuat Sasha berhenti menangis dan langsung menggandeng tangan Juanda untuk segera masuk ke dalam kamar mandi.
🍪🍧🍪
"Yeay ! Makasih abang," ucap Sasha memakai bando hewan sambil memeluk Juanda yang juga memakai bando yang sama.
"Iya, nah yuk pulang," ajak Juanda.
"Nanti dulu dong, foto dulu baru pulang !" ucap Sasha dan mengeluarkan kamera hp dan berselfie dengan Juanda.
"Ih abang, kameranya goyang !" lirih Sasha melihat hasil kamera.
"Sudahlah ini juga dah malam, ayo pulang !"
"Gak mau, kaki Sasha gak mau jalan !" Juanda langsung berjongkok di hadapan Sasha, Sasha langsung berbaring di punggung Juanda dan segera di gendong Juanda.
"Bilang aja, mau di gendong !" Sasha tertawa kecil dan semakin erat mengalungkan tangan di leher Juanda.
"Jangan terlalu erat, abang bisa sesak napas !"
"Bodo, biarin aja."
Flashback off.
Sasha menghapus air mata ketika ia kembali mengenang kenangan manis dengan Juanda. Ketika ia melihat foto-foto dirinya dengan Juanda, ia merasa kembali ke masa-masa berbahagia di masa lalu.
"Sasha kangen abang," lirih Sasha mengelus foto abangnya yang tersenyum memeluk Sasha dari belakang dengan latar belakang di pantai.
Tok tok tok,
"Non, sudah hampir 2 hari nona belum makan !" ucap pembantu di luar pintu dan terus mengetuk pintu dari luar.
"Taruh saja di depan pintu, nanti akan ku ambil !" sahut Sasha dan segera di laksanakan.
Sasha mengambil makan tersebut, ia tersenyum miris. Biasanya jika Sasha mogok makan akan langsung di suap dengan Juanda, atau tidak di bujuk mati-matian dengan Ken.
"Kenapa aku masih memikirkan pembunuh itu?" tanya Sasha dengan marah sambil melahap makanan paginya.
Walau terlihat di luar Sasha sangat benci dengan Ken, namun ia tidak bisa membohongi hatinya jika ia merindukan sosok Ken. Sasha tidak ingin kehilangan Ken sama seperti ia kehilangan Juanda. Hanya 2 cowok itu yang sangat mencintainya, papanya saja sama sekali tidak peduli jika Juanda mati bagaimana dengan dirinya?.
Sasha menarik napas dan menghembuskannya. "Lebih baik aku ke tempat teman-teman Juanda, disini aku merasa sendiri."
Sasha segera mengganti baju tidur menjadi baju santai untuk pergi tempat teman-teman abangnya. Tidak lupa ia membawa bekal untuk mereka, sebagai mana ia lakukan ketika Juanda masih hidup dahulu.