
...🍪🍧🍪...
"Baiklah latihan untuk hari ini telah selesai, sebelum pulang. Marilah kita berdoa. Berdoa, dimulai." Para anggota PMR menundukkan pandangan ke bawah.
"Berdoa selesai," ucap Ketsia mengakhiri doa, semuanya bertepuk tangan dan pamit kepada Ketsia yang merupakan ketua PMR.
"Ketsia," panggil Alice berjalan ke arah Ketsia yang hendak ke uks untuk menaruh obat-obat yang tadi mereka pelajari.
"Ada apa Alice?" tanya Ketsia bingung.
"Apa boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Alice pelan.
"Iya boleh saja, tapi setelah aku merapihkan ini," ucap Ketsia dan segera Alice ikut membantu membawa obat ke UKS.
"Jadi..Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Ketsia di UKS kepada Alice.
Alice diam sesaat sambil menatap mata biru gelap Ketsia.
"Aku tidak tahu harus bicara dari mana," ucap Alice dan seketika Ketsia tertawa.
"Ya ampun kamu bisa ngomong dari mana saja, aku akan mendengarkanmu," ujar Ketsia supaya Alice menjadi tenang.
"Tolong bilang kepada Kin untuk menjauhiku," ucap Alice dengan mantap.
"Kenapa kamu bilang itu padaku?" tanya Ketsia bingung.
"Ya, kamu kan sepupu dari Kin, jadi lebih mudah bilangnya," jawab Alice dan Ketsia tertawa.
"Kenapa kamu tertawa? Apa perkataanku salah?" tanya Alice melihat Ketsia.
"Tidak juga, tapi menurutku tadi lucu," ucap Ketsia dan membuat Alice tambah bingung.
"Apa kamu pernah menonton film romansa Alice?" Alice menganggukkan kepala.
"Cinta itu buta bukan?" Alice kembali mengangguk.
"Ya aku sering mendengar hal itu di setiap film romansa," ucap Alice dan Ketsia tersenyum tipis.
"Apa kamu tahu? Selain buta, cinta itu juga tuli," ucap Ketsia.
"Maksud kamu apa Ketsia?" tanya Alice kembali bingung dengan perkataan dari Ketsia.
"Bukankah susah jelas? Baiklah biar aku bilang terperinci lagi," jawab Ketsia mengambil napas dan membuangnya secara perlahan.
"Cinta itu tuli, sebanyak apa pun orang menasehati orang yang sedang jatuh cinta ia seolah-oleh tidak mendengarnya. Walaupun orang itu tahu bahayanya tersebut di depan mata tetap saja ia akan selalu berjuang dan karena itulah orang di bilang bodoh jika sudah mengenal cinta," ucap Ketsia menjelaskan apa arti maksud perkataannya tetapi Alice malah semakin bingung.
"Kamu masih belum mengerti juga?" tanya Ketsia dan Alice menggeleng.
"Ya ampun, jadi intinya gini loh. Sebanyak apa pun atau sekeras apa pun aku bilang kepada Kin, akan sangat susah ia mendengarkanku karena dia tuli," jawab Ketsia.
"Jadi Kin itu tuli?" Alice dengan polos mengatakan hal tersebut, ia benar-benar semakin bingung sedangkan Ketsia malah menepuk jidatnya.
"Kin cinta sama kamu, selain buta cinta juga tuli bukan?. Jadi akan sangat susah bilang kepada Kin untuk menjauhi dirimu," ucap Ketsia kesal karena Alice terlalu polos untuk memahami perkataannya.
"Aku yakin pasti bisa," elak Alice.
"Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang mengucapkan hal itu kepadanya?" tanya Ketsia dan Alice terdiam.
"Aku? Kenapa harus aku?" tanya Alice.
"Jika kamu risih dengan kehadiran Kin maka suruh ia menjauhi dirimu, jika tidak maka balaslah. Walau Kin banyak menyakiti hati perempuan tetapi jika Kin sudah mencintai gadis yang ia sayang maka akan sangat susah untuk membuatnya menjauh. Mungkin jika kamu yang meminta ia akan pergi," ucap Ketsia dan Alice bungkam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Semuanya ada di pilihanmu, itu hidupmu bukan?" tanya Ketsia.
"Aku permisi, terima kasih untuk hari ini," ucap Ketsia melangkah pergi meninggalkan Alice yang terdiam di UKS.
...🍪🍧🍪...
"Loh abang Kin, belum pulang?" tanya Ketsia melihat Kin dengan masih seragam sekolah sedang menyender di depan gerbang sambil menatap ke arah langit.
"Ah hai Ketsia, apa di dalam masih ada Alice?" tanya Kin dan Ketsia menghela napas sebentar.
"Sudahlah bang, lu jangan kejar dia terus. Dia sepertinya risih dengan kehadiran lu di hidupnya." ucap Ketsia.
"Enggak, mungkin cuma awal-awal doang." elak Kin tersenyum tipis walau ia tahu jika perkataan Ketsia ada benarnya.
" Lu emang sudah tuli bang gara-gara cinta, pokoknya gue akan terus berdoa biar lu bahagia." ucap Ketsia pasrah dengan sifat pantang menyerah Kin.
"Thanks ya, mau gue antar tidak?" tawar Kin.
"Kalau lu antar gue, terus yang antar gebetan lu siapa? Abang ojol." Kin tertawa dan mengangguk pelan dan Ketsia mulai berjalan menjauh karena mobil jemputtannya jauh dari sekolah.
"Kin !" Kin berbalik dan menemukan Alice yang berada di hadapannya.
"Hai untung kau cepat keluar, mari aku antar pulang," ucap Kin namun Alice tidak beranjak.
"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Alice tiba-tiba dan membuat Kin bingung.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Jika kamu mencintaiku maka jauhilah aku, kehadiranmu itu benar-benar risih." Alice berjalan menjauhi Kin yang terdiam.
Entah apa yang di rasakan oleh Kin sekarang, ia merasa seperti di tusuk ribuan anak jarum yang tepat membidik jantungnya.
...🍪🍧🍪...
"Assalamualaikum." Pintu kediaman Keluarga Dirga terbuka lebar, salah satu anak Dirga telah pulang. Ia adalah Ken Dhananjaya, namanya sama persis dengan Kin yang merupakan abangnya. Sebenarnya mereka bukan anak kembar namun muka mereka terlihat sangat mirip. Yang membedakan dari mereka cuma beberapa bagian-bagian tertentu.
Kin memiliki mata yang tajam sedangkan Ken memiliki mata lebih besar dan terkesan imut. Telinga Ken sedikit lebih besar di banding Kin, selain itu hidung Kin lebih mancung ketimbang Ken. Ken memiliki kulit sedikit lebih gelap dari Kin, tinggi mereka berbeda 2 cm dan terakhir adalah warna mata Kin lebih gelap ketimbang Ken yang lebih terang.
"Lumayan lancar ma, banyak juga pengunjung yang terhibur," jawab Ken sambil menyalami tangan mama.
"Syukurlah, kalau begitu cepat bersihkan dirimu dan segera beristirahat. Mama yakin kamu pasti sangat lelah," ucap Mama Lara kepada Ken.
"Baiklah ma, aku ke atas dulu," pamit Ken melangkahkan kaki menuju kamar tepat di samping kamar Kin.
"Ini anak lanang yang satu lagi belum pulang, suka banget keluyuran !" ketus Mama Lara karena Kin belum juga pulang dari sekolah. Tidak berapa lama kemudian bunyi motor mulai terdengar.
"Assalamualaikum," ucap Kin membuka pintu dengan muka lesu.
"Nah baru pulang, dari mana saja kamu Kin. Ini bahkan sudah hampir magrib loh," ucap mama bertanya kepada Kin.
"Bisakah mama tidak bertanya dulu? Aku sedang lelah." ucap Kin melangkah ke atas dengan lesu.
"Tuh anak kenapa ya? Muka kok udah kayak kanebo kering gitu," gumam Mama Lara sambil berjalan kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaan yang tadi tertunda sesaat.
Kin berjalan menuju ke kamarnya ketika masuk, ia mendapati adiknya sedang berada di atas kasur.
"Eh bujang, keluar dari kamar gue," ujar Kin ketika membuka pintu kamar.
"Gue Ken bang bukan bujang," elak Ken yang malah semakin nyaman di atas kasur milik Kin.
"Bodo amat nama lu mau Kan, Kun, sama Kon. Yang penting lu keluar !" ucap Kin menaruh tasnya di atas meja.
"Yailah bang gue gak bisa keluar dari sini, kasur lu sangat posesif sama gue," elak Ken menarik selimut dan melempar asal hp di atas karpet berbulu Kin.
"Gue mau buka baju bambang, keluar !" ketus Kin sambil membuka kancing kemeja sekolah.
"Yailah lu juga bukan perawan ini," ujar Ken sedangkan Kin terus mengganti pakaian, setelah mengambil handuk kecil ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Bang," panggil Ken dan Kin menyahut di dalam kamar mandi dengan berdehem.
"Kasur lu kok lebih nyaman dari pada kasur gue ya ? Kasih mantranya dong bang," komentar Ken dan Kin hanya berdehem.
Tring...
Ken mencari hpnya, tetapi tidak ada sama sekali notifikasi dari sang kekasih. Ia pun dengan iseng mengambil hp milik Kin dan membaca pesan dari salah satu temannya.
"Dari Ridho, Kin jangan lupa kalo 2 minggu lagi ada pertandingan bola basket lawan SMA Nusa Bangsa. Ingat ! lu itu jangan sampai telat," teriak Ken sambil membaca pesan di dalam hp Kin, tidak lama Kin keluar dari kamar mandi. Hanya menggunakan handuk untuk menutup area bawah dengan rambut yang masih basah.
"Buset abangku six pack," puji Ken melihat otot-otot milik Kin yang sangat indah.
"Makanya lu rajin olahraga biar badan ke bentuk, keluar dari kamar gue ! Takut aja kalo tiba-tiba lu berbelok setelah melihat Kepunyaan gue," komentar Kin dan Ken keluar sambil mencibir.
Pertandingan basket 2 minggu lagi, entah kenapa gue merasa akan terjadi sesuatu malam ini. Batin Kin sambil mengganti baju.
...🍪🍧🍪...
Alice baru saja pulang bekerja dan masuk ke rumah dengan muka lesu. Ia menaruh tas dan duduk untuk membasuh keringat di badan.
Bagaimana ini? Aku baru saja di pecat karena di fitnah melakukan tindak pencurian, Ya Allah aku harus bagaimana?.
Alice menutup muka dengan ke dua tangan, tubuh Alice bergetar dan suara isak mulai terdengar. Pintu Ibu Alice terbuka, secara perlahan-lahan ibu menghampiri Alice. Ia merasa sedih karena anak perempuan seperti Alice harus menanggung beban hidup seberat ini.
"A-al-lice," Alice dengan mata berair melihat ke ibu, ia tersenyum dan segera menghapus air mata.
"Ibu, mau makan ya? Aku buat dulu ya," ucap Alice dan bergegas ke dapur namun ketika ibu mau menahan Alice tetapi tidak bisa.
Jangan sedih nak, ibu tidak ingin melihatmu menangis seperti ini.
Setelah melaksana, kan kewajiban sebagai anak. Alice membersihkan diri, kemudian segera ia tidur dengan air mata membasahi pipi putih miliknya.
...🍪🍧🍪...
Jam telah menunjuk pukul 23.00 malam, Kin pun keluar dari kamar sambil mengendap-endap.
Semoga saja mama sudah tidur. Batin Kin sambil meletakkan memo kecil di kulkas supaya ketika mama bangun tidak bingung mencari dirinya.
"Mau kemana kamu, malam-malam begini?" Kin berhenti ketika papanya baru masuk dari arah pintu depan tepat dimana ia mau keluar rumah.
"Eh papa, baru pulang pa?" tanya papa sambil mencium tangan papanya.
"Oh kamu mau tandingkan? Ya sudah sana pergi," ucap papa dan membuat Kin terkejut.
"Gak papa Pa?" tanya Kin.
"Ya percuma aja kalo papa melarang nanti juga kamu kabur, kan," jawab papa dan Kin terkekeh pelan.
"Sudah sana nanti telat loh, bentar lagi kan jadwal pertandingannya?" tanya Papa dan Kin mengangguk.
"Kin pergi dulu ya. Assalamualaikum !" jawab Kin dan segera ngancir keluar mengambil motor untuk di bawa ke area pertandingan.
"Kamu kok malah biarkan Kin pergi sih," bentak Lara yang keluar dari kamar menemui Dirga suaminya.
"Allahu akbar, SETAN !" teriak Dirga melihat Lara dengan rambut acak-acakkan dan muka di baluti dengan masker berwarna putih.
"Jahat ya kamu bilang aku setan!" ketus Lara dengan berdecak pinggang.
"Ya ampun sayang maafkan aku ya, aku tidak tahu jika itu kamu," elak Dirga sambil mencium puncak rambut Lara.
"Bisakah kau siapkan makan sayang? Aku lapar," ucap Dirga sambil melonggarkan dasi birunya.
"Iya baiklah, tetapi aku bersihkan dulu masker ini," ujar Lara dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
Kok perasaanku gak enak ya? semoga Kin baik-baik saja. Batin Lara.
Bersambung...