
"Abang Kin, ayo jalan-jalan," bujuk Dara sambil memekul pelan punggung Kin yang sedang tertidur.
"Abang Kin !" pekik Dara kesal karena Kin tidak menjawab. Jam 6 pagi Dara sudah berada di rumah Kin, seharusnya sih tadi malam.
"Aduh Dara, biarkan abang tidur dulu," gumam Kin menarik selimut, Dara memeluk ceruk leher Kin dari belakang.
"Banguuuunnn!" teriak Dara di telinga Kin dan membuat Kin segera terbangun sambil memegang telinga kanan.
"Yeay akhirnya bangun hihi....hiks." Dara mulai menangis ketika melihat Kin menatapnya dengan sinis.
"Huaaa, Mama abang Kin sinisin Dara hiks..." tangis Dara pecah dan Kin menghela napas sambil menggendong Dara sambil mencium puncak kepala beberapa kali.
"Sudah ya, Dara jangan nangis lagi. Abang Kin sudah bangun loh," ucap Kin sambil mencium pipi Dara yang mulai berhenti menangis.
"Hmm, mau ke taman," pekik Dara sambil berontak minta turun.
"Iya-iya kita nanti ke taman." ucap Kin sambil berjalan kebawah menuju lantai 1 untuk makan kemudian baru pergi ke taman.
...πͺπ§πͺ...
Tok tok tok...
Alice mengetuk pintu rumah Kin, hari ini ia berkunjung tanpa sepengetahuan dari Kin. Alice membawa tepung, dan beberapa cetakan. Ia memakai baju kodok berwarna hijau muda dengan rambut dikucir 2 yang dihiasi oleh pita berwarna hijau tua, serta sendal jepit berwarna pink muda.
Pintu rumah terbuka dan mempersilakan Alice untuk masuk.
"Alice akhirnya kamu datang juga," ucap Mama Lara menghampiri Alice, Alice mencium punggung tangan Mama Lara. Hubungan antara mereka semakin erat karena Alice sering bermain dirumah Kin.
"Kin tidak ada kan tante?" Mama Lara mengajukan jempol.
"Tenang, dia sedang mengajak Dara berjalan-jalan ke taman."
"Oke kalau begitu, kita harus segera mempersiapkan semuanya sebelum mereka pulang." Alice dan Mama Lara segera bergegas menuju ke dapur.
Tok tok tok.
"Bi, tolong buka pintu !" teriak Mama Lara menyuruh Bu Ida.
"Maaf tante kami datang terlambat," ucap Ketsia datang bersama Leonil serta yang lainnya.
"Tidak apa. Sasha, maukah kamu membantu tante serta Alice membuat kue ?" tanya Mama Lara.
"Tentu saja tante," jawab Sasha dan bergabung bersama Alice serta Mama Lara.
"Jadi? Kita melakukan apa?" tanya Leonil dengan tangan dilipat di dada.
"Bagi tugas. Keano bersama Aura membeli kado. Rio, Elang, dan Ken mengintai Kin dan Dara. Aku dengan Leonil akan menghias ruang tamu," ucap Ketsia dan mereka semua mulai bergerak.
"Semoga kita berhasil," harap Alice.
"Iya semoga," sahut Sasha di samping Alice dan mereka tersenyum.
...π§πͺπ§...
Tugas matahari mulai selesai, namun Dara tetap tidak mau pulang dan masih saja membujuk Kin untuk mengajak dirinya naik sepeda.
"Ayo abang Kin, kita naik sepeda," ucap Dara dengan tangan mungil miliknya menarik tangan Kin.
"Dara ini sudah mau malam, ayo kita pulang," bujuk Kin tapi Dara menolak.
"Gak mau, Dara mau naik sepeda !" elak Dara sambil menggelengkan kepala dan terus menarik tangan Kin. Namun, Kin tidak bergeming.
"Abang Kin," rengek Dara mulai kesal.
"Tidak, ayo pulang." Kin langsung menggendong Dara. Dara memberontak tapi tidak mampu melawan Kin, sehingga ia pun hanya menangis.
Kin menaruh Dara di kursi penumpang sebelum ia duduk disamping untuk menyetir. Tapi, Dara berhasil lepas dan berlari.
"Gak mau Dara, gak mau pulaaaaaang !" rengek Dara yang sudah tertangkap oleh Kin dan duduk berdua di kursi penyetir.
"Jangan kabur lagi, ini sudah malam. Besok lagi," ucap Kin tapi Dara cemberut.
"Abang Kin bohong," ucap Dara pelan dan mobil mulai dibawa oleh Kin menuju rumah.
...π§πͺπ§...
Kin menggedong Dara yang tertidur dengan pulas. Namun, rumahnya gelap. Tidak ada sumber cahaya yang terlihat.
Krik...
"Ma," panggil Kin membuka pintu dan mulai masuk kedalam rumah dengan hati-hati.
"Apa mati lampu? Ahk." Kin terkejut ketika lampu menyala seketika. Mata Kin melihat tumpukan balon serta tulisan selamat ulang tahun.
"Selamat ulang tahun Kin !" teriak Alice beserta yang lainnya dengan memakai topi ulang tahun berbentuk kerucut tidak lupa memegang balon.
"Yaampun, aku seperti anak kecil saja," ucap Kin terkekeh dan mendekati teman serta keluarganya.
"Yeay akhirnya selesai juga !" teriak Ken dan tidak segaja ia memecahkan balon berwarna hijau.
Dor !
"Mama, hiks huaaa !" teriak Dara menangis ketika mendengar bunyi letusan balon. Bukannya panik, mereka semua malah tertawa. Segera Dara diambil oleh Mama Lara.
"Kalian ini ada-ada saja," komentar Papa Dirga sambil menggelengkan kepala pelan.
"Ayo kita naik keatas," ajak Kin.
"Emm, Kin. Gue sama Rio pulang dulu ya," ucap Elang.
"Lah, ngapain ajak gue ? Gue belum mau pulang." Elang menghela napas karena Rio tidak mengerti maksudnya.
"Kami pulang dulu," ucap Elang menarik Rio dengan kasar.
"Thanks ya bro," sahut Kin dan mulai berjalan keatas bersama yang lain.
Mereka telah tiba di kamar Kin, Kin duduk disamping Alice. Disamping Alice ada Ketsia serta Leonil, Ken disamping Sasha. Dihadapan Ken ada Keano dan Aura. Sepertinya Elang sudah mengerti situasi 'perkumpulan para pasangan' ini.
"Uno !" teriak Kin memenangkan pertandingan dan Alice yang pemenang terakhir.
"Ini hukuman dari Ketsia," ucap Ketsia sambil memikirkan hukuman untuk Alice. "Kamu harus minum jus dengan beragam macam bahan tidak jelas."
"Ih kok gitu?" elak Alice tidak terima.
"Sudahlah lakukan saja, ini jusnya sudah dipersiapkan," ucap Leonil memberikan botol jus berwarna hijau kepada Alice.
Ketika Alice membuka penutup botol, baunya sudah sangat tercium. "Ih gak mauuuu !"
"Kin bantu Alice, tenang Alice cuma dikit aja kok," bujuk Ketsia dan terpaksa Alice harus meminum jus yang ia tidak tahu bahan yang tercampur didalam minuman itu.
"Oke, kita lanjutkan saja permainannya !" ucap Sasha bergedik ngeri setelah melihat Alice meminum jus aneh itu.
Permainan terus dilanjutkan, di ronde ke-2 Ketsia kalah dan ia mendapatkan hukuman dari Sasha untuk mencium pipi Reno dan di post diig. Tentu saja Alice tidak setuju, baginya hukuman itu lebih mudah dari hukuman yang ia terima. Tapi, permainan tetap berlangsung dengan Alice yang cemberut. Di ronde ke-3 Keano kalahΒ dan diberi hukuman dari Aura berupa bedak yang ditabur wajah. Hingga tiba di ronde ke-4 Sasha yang kalah.
"Ini sudah malam sebaiknya aku pulang," ucap Sasha berniat kabur dari hukuman yang akan ia dapatkan dari Kin.
"Eh kok mau pulang? Dihukum dulu !" sahut Alice cemberut tidak terima karena Sasha berniat kabur dari tanggung jawab.
"Ken antar aku pulang yuk," bujuk Sasha dan Ken dengan senang hati mebgantarkan Sasha.
"Dasar bucin,"
"Bucin,"
"Kecin!"
Alice, Aura dan Ketsia mengejek Ken. Sedangkan mereka tidak peduli dan segera pergi dari kamar Kin.
"Sebaiknya aku juga pulang," ucap Alice sambil melihat jam dinding menunjukkan angka 11.
"Menginap saja, aku yakin Ken dan Sasha disuruh menginap." Tubuh Kin terlentang diatas kasur dengan tangan terulur kedepan memeluk Alice.
Mereka semua menginap tentu dengan Sasha, para gadis-gadis kecuali Ketsia tidur di ruang tamu. Para cowok tidur di kamar Kin sedangkan Ketsia dan Leonil tidur di kamar Ken.
...π§πͺπ§...
Dipagi hari mereka semua berolahraga bersama, mengelilingi kompleks. Ketika siang mereka pulang kerumah masing-masing. Tidak terasa waktu telah berlalu dengan cepat, 3 bulan menuju kelulusan sudah hampir didepan mata. Kin beserta teman-teman mulai belajar dengan serius demi meraih nilai yang memuaskan. Tidak ada hari tanpa belajar, mereka juga harus menahan rasa rindu terhadap pasangan masing-masing demi impian mereka.
"Ahkk... AKU GAK KUAAAAAT !" teriak Aura menahan tangis atas rasa capek, lelah pikiran dan tubuhnya. Semua teman-teman yang belajar diruang tamu rumah Ketsia hanya mampu tersenyum tipis dan menyemangati Aura untuk terus berusaha.
"Ayolah Aura, berjuanglah. Besok kita akan menghadapi ujian," ucap Alice menyemagati Aura.
"Tapi aku lelah, kumohon biarkan aku istirahat dulu huh !" Emosi Aura akhir-akhir ini tidak bisa ditebak, ia mudah berubah mood dengan sangat cepat.
"Apa yang dikatakan Aura benar, lebih baik kalian istirahat terlebih dahulu," ucap Mama Naura sambil membawa makanan kepada mereka.
"Baiklah kita istirahat dulu, besok kita lanjutkan lagi belajarnya," Keano hanya mampu tersenyum tipis mendengar perkataan Kin sambil mengelus rambut Aura dengan lembut.
"Akhirnya, kalau begitu gue mau tidur dulu," ucap Rio dan langsung berbaring diatas karpet berbulu berwarna coklat susu.
Mereka semua mulai tertidur untuk mengistirahatkan tubuh sebelum bertempur di hari ujian. Mereka tidak tahu apa yang akan dihadapi. Tapi, mereka tetap yakin dengan kemampuan diri mereka sendiri.
...π§πͺπ§...
"Yeaaaay !" teriak Kin senang karena berhasil melalui 4 hari penentu Ujian Nasional. Bukan hanya Kin yang senang, teman-teman yang lain pun ikut merasakan hal yang sama. Kin merasa sangat lega, ia tidak peduli dengan nilai yang akan ia terima. Semua hal itu, ia pasrahkan kepada kehendak Allah.
"Kin, kamu terlihat girang sekali," ucap Alice menghampiri Kin dengan senyum menghiasi wajah putihnya.
"Tentu saja. Ini patut untuk dirayakan !" Kin menggenggam tangan Alice. Bersama-sama mereka akan merayakan hari ujian yang sangat mematikan bagi mereka, terlebih lagi Alice.
Alice dan Kin merayakan dengan makan es krim dipinggir jalan. Bukan hanya memakan es krim vanilla dan coklat, mereka juga membeli balon berwarna biru muda dan diabadikan dalam sebuah foto, tidak lupa di post di sosial media. Setelah asyik memakan es krim, Kin membawa Alice ke arah pantai untuk memanjakan mata sebentar. Hingga tisak terasa waktu sudah mulai sore, Kin dan Alice pun pulang. Alice yang mengenakan jaket berwarna kuning pemberian Kin merentangkan tangannya, seakan seluruh beban yang ia alami telah hilang dibawa oleh sinar matahari.