
"Alice tunggu !" Alice berhenti dan melihat ke belakang.
"Kenapa lari?" tanya Kin.
Sudah tahu malah nanya, Aku malu tahu ! Batin Alice kesal.
"Entah gue juga gak tahu," jawab Alice acuh namun Kin terkekeh pelan.
Manisnya, batin Kin.
"Lu mau ikut gak?" tanya Kin.
"Kemana?"
"Lihat Rio, Ridho, Elang juga anak yang lain. Mau gak?" Alice mengangguk pelan.
"Kita naik apa?" tanya Alice, Kin menunjuk ke arah motor ninja berwarna hitam yang tidak terlalu jauh.
"Bukannya masih sakit?"
"Cuma pusing doang, gapapa kok. Yuk !" Kin menarik tangan Alice sama sekali tidak ada reaksi marah seperti biasanya.
Kin dan Alice naik motor ke rumah sakit untuk bertemu dengan anak Tim Elang Putih yang celaka akibat perbuatan Juanda. Di sana sudah ada Ken, Ketsia, Leonil dan anak Tim Elang Putih yang tadi bermain.
"Yo bro, gak bilang-bilang kalo udah sembuh !" cibir Rio.
"Maaf, biar suprise," balas Kin ketika sudah masuk dalam ruangan bersama dengan Alice.
"Loh Kin? Kok ada 2?" tanya Ridho bingung.
"Nanti aja bahasnya, gimana kondisi kalian semua?" tanya Kin menghampiri Ridho, Rio dan Elang.
"Ya alhamdulilah, tapi selama 2 minggu harus di kursi roda dulu," jawab Elang.
"Moga cepat sembuh ya bro,"
"Thanks bro," ujar Rio.
"Gue pamit pulang ya," ucap Ken tiba-tiba.
"Mau kemana lu?" tanya Kin.
"Mau jemput Sasha, duluan ya." Kin mengangguk pelan.
"Kalo begitu, gue sama Ketsia juga mau pulang." Kin melihat ke arah Leonil dan Ketsia.
"Iya, capek nih. Lagi pula sudah jam 3 sore," ucap Ketsia.
"Kin, pulang yuk," ajak Alice menarik ujung jaket Kin sambil berbisik.
"Baiklah, gue pulang dulu ya bro. Besok gue ke sini lagi," pamit Kin.
Kin pun menggandeng Alice keluar dari RS Harapan Kasih. Kin membawa Alice pulang, namun Kin berhenti di pinggir jalan lebih tepatnya di tukang bakso.
"Loh kok berhenti di sini?" tanya Alice bingung tapi ia tetap turun mengikuti Kin.
"Makan," jawab Kin dan ia langsung pesan 2 mangkok bakso.
"Silakan."
Kin dan Alice makan bakso sambil berbincang dari Kin kecelakaan hingga ia bangun setelah koma. Setelah selesai makan, Kin memesan 4 bakso di bungkus. 2 untuk orang tua Kin, 2 lagi untuk Alice.
"Kenapa terus melakukan ini?" tanya Alice kesal.
"Melakukan apa?"
"Berhentilah memberi perhatian lebih kepadaku, nanti gue malah susah lupakan lu !"
"Jangan lupakan, coba terimalah diriku di dalam hidupmu !"
Setelah ia mengantar Alice pulang, Kin melajukan motor ke rumah megah. Ia ingin segera sampai dan tidur di atas kasur, namun ia malah terjebak macet karena sekarang sudah jam pulang kantor.
Muka Kin terkena debu juga kotoran polusi ibukota dan selama 30 menit ia terjebak macet. Mata Kim terkantuk-kantuk, namun ia berhasil sampai ke rumah.
"Tuan muda Kin, anda sudah di tunggu oleh keluarga di dalam," ucap asisten rumah tangga yang sedang menyirami tanaman.
"Iya makasih bi."
Kin melangkah kaki ke pintu rumah dan ia segera masuk sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, Kin pulang."
"Waalaikumsalam, bang lu dari mana aja? Ngapain bae ? Terus lu kapan bangun? Kenapa gak ngabarin gue?" Ken langsung menyambut Kin dengan pertanyaan.
"Cerewet banget lu Ken," ucap Kin kesal karena dirinya ingin segera tidur.
"Ken jangan begitu dong, kakak kamu baru saja pulang. Kin kamu istirahat dulu gih, jangan lupa sholat dan mandi. Nanti kalo sudah magrib mama bangunkan." Kin mengangguk pelan dengan langkah lelah ia memasuki lift.
Di rumah Kin selain ada tangga juga ada fasilitas lift, lift itu di buat ketika Mama Lara sedang mengandung Kin. Papa Dirga memang lelaki yang penuh perhatian.
...🍪🍧🍪...
Setelah solat magrib berjamaah, tentu saja yang imam adalah Papa Dirga. Keluarga Dirga makan malam bersama di depan televisi biar memiliki rasa berbeda dan tentu saja untuk membuat kenangan yang indah.
"Sumpek aku sayang di kantor," balas Dirga dan mulai mengubah posisi menjadi tidur di atas paha istrinya. "Kalau aku di kantor, di goda mulu sama barbie."
"Waduh, bahaya itu," ucap Ken sambil menyambut suapan dari Mama Lara tetapi pandangan mata masih melihat monitor televisi.
"Ma Kin mau juga !" rengek Kin dan langsung di suapi oleh Mama Lara.
Mama Lara menghembuskan napas, " Aku punya 3 bayi !"
"KEN KEN SISI KIRI JANGAN SAMPAI PAPA AMBIL PELUANG !" teriak Kin dan membuat suasana gaduh namun Papa Dirga menangkan pertandingan.
"Yaaaah!" Kin dan Ken kesal tapi mereka tetap menerima suapan dari Mama Lara.
"Sayang, pemenangnya kok gak ?" tanya Papa Dirga sambil mengecup pelan perut Mama Lara.
"Kamu jangan begini, duduk dulu !" perintah Mama Lara tapi tidak di laksanakan dengan Dirga.
"Hmm akwu mawu jwugwa !" gumam Papa Dirga dengan wajah di dekatkan ke perut Mama Lara.
"Dirga ! Geli ih !" ketus Mama Lara.
"Aduh papa mesra-mesraan depan anak. Gak ingat umur," ejek Ken.
"Kasihan pa tuh Kin, dia kan jomblo. Kalau aku mah gak masalah," lanjut Ken.
"Kenapa nama gue di bawa-bawa anjir !" ketus Kin.
"Ken ngomong kenyataan loh !" ucap Ken santai sambil menguyah makanan.
Ting tong, ting tong...
Bunyi bel rumah terdengar memenuhi ruangan.
"Bi, tolong buka pintu. Saya lagi sibuk mengurus 3 bayi di sini !" teriak Mama Lara dan segera di laksanakan oleh ART.
"Siapa bi?" tanya Mama Lara sedang menyuapi Kin.
"ABANG KIN !" Kin melihat ke arah belakang dan menemukan seorang anak perempuan dengan rambut di gerai panjang berlari sambil merentangkan tangan, segera Kin bangun dan berlari menangkap gadis itu.
"Dara, Abang Kin kangen banget sama kamu !" ucap Kin sambil mencium pipi putih Dara berkali-kali.
"Dara uga angen ama abang Kin," balas Dara sambil memeluk Kin dengan erat.
"Sepertinya kita datang di saat yang tidak tepat," cibir Leana yang merupakan Mama Dara dan istri dari Razel kakak Lara.
"Dirga, bangun dulu. Ada abang aku datang !" Dirga bangun dengan malas dan mencibir sebentar tapi segera ia merapikan pakaian dan menyalami Razel.
"Eh abang, tumben mampir. Kenapa gak bilang dulu?" tanya Dirga canggung karena ia masih kurang akrab dengan Razel.
"Biasa Dara gak bisa di pisahkan sama Kin ya jadi begitu," jawab Mama Leana.
"Ayo bang, duduk nanti akan di buatkan minuman."
"Wow !" teriak Dara yang berumur 2 tahun itu di dalam pelukan Kin.
"Kenapa nak?" tanya Razel.
"Ada abang Kin, terus ini siapa?" tanya Dara sambil menunjuk Ken dan bertanya kepada Kin dan terus melihat keduanya dengan bingung.
"Oh ya Dara waktu itu belum lihat Ken, makanya dia pasti bingung," bisik Leana kepada Razel.
"Hayo dia siapa?" tanya Kin kepada Dara sambil menunjuk ke arah Ken.
"Abang Kin," jawab Dara sambil merentangkan tangan dan segera di peluk dengan Ken.
"Dia siapa?" tanya Ken kepada Dara sambil menunjuk Kin yang memainkan alis.
"Abang Kin !" jawab Dara dan kembali ke dalam pelukan Kin.
"Siapa itu?" tanya Kin menunjuk Ken yang merentangkan tangan dengan menampilkan ekspresi lucu.
"Abang Kin," jawab Dara dan berada di pelukan Ken.
"Aku siapa?" Dara melihat ke arah Kin yang memakai kacamata sambil merentangkan tangan.
"A..bang.., huaaa mamaaaa!" Dara pun menangis dan itu membuat Ken dan Kin tertawa, segera Dara di bawa Leana dan Lara menjauh.
"Kalian berdua !" Kin dan Ken hanya bisa tertawa dan meminta maaf kepada Razel yang merupakan Papa Dara sekaligus om mereka.
"Maafkan anak-anakku ya bang, biasa mereka memang jahil," ujar Dirga dan Razel hanya mengangguk pelan.
"Oh ya Dir, gue mau ngomong soal sesuatu bisnis keluarga. Bisa pindah tempat sebentar?" tanya Razel dan Dirga mengangguk pelan dan pergi ke tempat pribadi.
"Sekarang kita ?" tanya Kin dan Ken menggeleng tidak tahu.
"Kita ke kamar yuk bang," ajak Ken dengan senyuman menggoda.
"Jangan mulai deh lu, pergi !" Ken malah mendekat seakan ingin mencium Kin dan segera Kin berlari dan di kejar Ken.
"Abang Kin, jangan pergwi. AKU CWUINTA SAMA KAMU !" pekik Ken dan terus mengejar Kin yang berusaha menghindar.
Bersambung...