Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
5



...🍪🍧🍪...


Krek...


"Keluarga pasien Kin Dhananjaya?" tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"Hah? Maaf ada apa ya dok?" tanya Alice yang baru saja bangun dari bunga tidurnya.


"Apakah anda salah satu keluarga dari Kin Dhananjaya?" tanya dokter berjenis kelamin laki-laki dan berkisar 50-an.


"Emm, bukan dok. Saya yang tadi membawanya ke rumah sakit," jawab Alice. "Kalau boleh tau, pasien itu tidak kenapa-kenapa kan dok?"


"Luka di bagian perut, alhamdulillah tidak terlalu dalam cuma sedikit menggores ginjal tetapi itu tidak buruk kok," jawab dokter dan Alice ber-oh-ria.


"Kalau anda mau melihatnya silakan, sebentar lagi dia juga akan sadar," ujar dokter.


"Memangnya saya boleh masuk dok? Saya, kan bukan kerabat dari lelaki itu," elak Alice.


Ini kan ruang operasi, emang boleh ya? Batin Alice yang masih bingung.


"Boleh saja, asalkan jika dia sudah di pindahkan ke kamar rawat. Lagi pula jika tidak ada kamu, mungkin lelaki itu akan mati," ujar dokter.


"Kalau begitu saya permisi mbak," dokter itu pun pergi meninggalkan Alice yang hendak masuk ke dalam ruang tetapi segera menyingkir karena para suster membawa tubuh lelaki itu menuju ke sebuah kamar rawat.


...🍪🍧🍪...


"Kami tinggal dulu ya mbak," ucap suster dan meninggalkan Alice dan Kin berdua di dalam kamar.


"Egh." Alice melihat ke arah Kin ketika tiba-tiba mengeluh sakit dan membuka matanya perlahan.


"Kamu sudah sadar?" tanya Alice dan duduk di dekatnya, Kin juga melihat ke arah gadis itu dengan pandangan bertanya-tanya.


"Lu siapa?" tanya Kin dengan dingin.


"Perempuan yang menemukan anda di tengah jalan," jawab Alice yang tidak kalah dinginnya.


Bagi kalian tidak tahu, Alice akan memperlakukan seseorang sesuai apa yang di lakukan oleh orang tersebut kepadanya. Tetapi ada pengecualian, dia hanya akan melakukan itu cuma ketika berbicara saja bukan perbuatan.


"Oh, thanks," ujar Kin acuh.


"Apa perlu aku memberitahu tentang keadaan kamu kepada keluarga kamu?" tanya Alice dengan penuh dingin.


Bukannya berterima kasih malah diem saja, huh ! Waktu berhargaku. Kenapa harus mendapatkan hal seperti ini sih?. Batin Alice dan terus melihat dengan tatapan tajam, dan sedikit memajukan bibirnya.


"Ck sudah tidak usah seperti itu, biasa saja," ujar Kin karena merasa risih dengan sikap gadis di sampingnya ini.


"Iya, jadi apakah aku harus memberitahu kepada keluargamu tentang hal ini?" tanya Alice dan merubah sikapnya menjadi lemah lembut.


Ini anak cepat banget berubahnya, tapi entah kenapa sikapnya tadi lucu banget. Batin Kin dan tersenyum tulus kepada Alice. Alice merupakan wanita ke-3 yang mendapatkan senyuman ini, setelah ibu dan adik Kin.


"Kamu kok senyum, apakah ada yang sakit?" tanya Alice kebingungan.


"Tidak gue baik-baik saja, kalau boleh tahu siapa nama lu?" tanya Kin kepada Alice yang malah cemberut.


"Lu kenapa ?" tanya Kin.


"Kenapa tidak balas pertanyaan aku dulu, aku ini harus segera pulang. Ini sudah malam, juga besok sekolah." jawab Alice cemberut.


"Lu sekolah dimana?" tanya Kin.


"SMA Pelita Harapan Cikarang, kenapa?"


"Oh satu sekolah, besok libur kok ada rapat buat ujian semester ganjil." ujar Kin.


Yes. Kita satu sekolah, batin Kin girang mendapatkan informasi yang cukup penting ini.


"Kamu juga sekolah di tempat sama seperti aku? Emang kelas berapa?" tanya Alice.


"11 IPA-1, lu?"


"11 IPS-2." Kin hanya menanggapi dengan anggukan kepala.


"Nama lu-kamu siapa?" tanya mereka berbarengan dan seketika suasana pun menjadi canggung sebentar.


"Kamu dulu," ujar Alice menundukkan kepala lantaran masih malu,


"Kin Dhananjaya, lu?"


"Alice."


"Alice doang?" Alice menganggukkan kepala.


Entah kenapa, aku pernah mendengar nama Kin.


"Kalau begitu salam kenal ya, kalau boleh minta nomor hp lu dong." ujar Kin.


"Maaf bukan aku tidak mau memberi, tapi aku tidak punya alat elektronik seperti itu." elak Alice.


"Oh ya? sudah tidak apa-apa kok, maaf ya jika lu kesinggung dengan ucapan gue tadi." Alice menggeleng pelan.


"Tidak apa-apa kok," ucap Alice dan ia melihat ke arah jam dinding di ruangan tersebut.


Ya ampun sudah jam 2, kasihan ibu kalau di tinggal lebih lama lagi. Pasti sangat mengkhawatirkan aku. Batin Alice dan segera bangun dari tempat duduknya.


"Lu mau kemana?" tanya Kin melihat sikap Alice.


"Maaf Kin, tapi aku harus pulang karena ini sudah malam. Terlebih lagi ibuku di rumah pasti sedang khawatir," jawab Alice.


"Biarkan gue mengantarkan lu," ujar Kin hendak mencopot infus di tangan kirinya.


"Jangan, kamu masih sakit. Aku bisa sendiri kok," elak Alice tetapi Kin tetap keras kepala.


"Tidak ! Lu perempuan, bahaya jika pulang jam segini. Sudah, biarkan gue antar," ucap Kin dan menarik tangan Alice dan membawanya ke luar untuk membawanya pulang, tetapi sebelum itu ia membayar terlebih dahulu.


Bersambung...