Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
22



Kin membawa motor ke sebuah taman, karena dia ada janji dengan Alice.


"Alice, kenapa lu ajak gue ke sini?" tanya Kin ketika sudah sampai di taman dekat dengan rumah Alice.


"Duduklah dulu." Kin duduk di samping Alice.


"Jadi?" tanya Kin tidak sabar menunggu maksud dari Alice.


"Jangan geer dulu ya, tapi aku benar-benar butuh bantuanmu sekarang ini," ucap Alice pelan sambil melihat mata Kin dengan berani.


"Bantuan apa?"


Sebenarnya aku gak mau, tapi hanya dia saja yang bisa membantuku saat ini. Batin Alice menghela napas.


"Apakah kamu punya kenalan atau tempat kerja? Aku sangat butuh kerja untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga," ucap Alice dengan penuh harapan.


"Lu mau kerja?" Alice mengangguk pelan.


"Apapun?" Alice mengangguk.


"Apapun tapi pekerjaan itu harus halal dan tidak mengganggu waktu belajarku," ucap Alice dan Kin mengangguk dan bergumam.


"Ada sih, tapi ada syaratnya," ucap Kin tersenyum dan membuat Alice kesal.


Dasar Kin, dia ini kenapa selalu membuatku kesal ?! Batin Alice.


"Baiklah, apa syaratnya? Tapi jangan yang aneh-aneh ya," ancam Alice sambil menunjuk ke Kin.


...🍪🍧🍪...


"Papa, aku mau bicara sesuatu dan ini penting," ucap Ken yang berada di ruangan Dirga.


"Tumben kamu ke sini Ken, apa yang ingin kau bicarakan nak?" tanya Dirga dan menyuruh Ken duduk di depan kursi di hadapannya.


"Pa, bisakah papa mencabut hukuman Juanda?" tanya Ken.


"Kenapa harus di cabut ?"


"Ya, ya tolonglah pa kasihan keluarga Juanda." Dirga melihat Ken dengan penuh teliti.


"Tidak," ucap Dirga dan bersiap membawa berkas untuk meeting dengan klien bersama dengan Razel.


"Tapi pa, kumohon," bujuk Ken kepada Dirga.


"Papa bilang tidak maka jawabanya TIDAK ! Nyawa abang kamu hampir melayang, selain itu juga dia hampir berniat membuat Tim Elang Putih tidak bisa kembali bermain bahkan sampai lumpuh !" elak papa dan membanting pintu.


Bagaimana ini? Sasha pasti akan sedih. Batin Ken.


...🍪🍧🍪...


"Ya ampun, bagaimana ini?" tanya Ken mengacak rambut dan ia duduk di atas kasur di dalam kamarnya.


"Ahkk bingung !" teriak Ken dan ia membanting tubuh di atas kasur.


Apa gue minta Kin untuk mencabut gugatan kepada Juanda? Tapi Kin tidak mungkin mau, dia masih terlihat kesal dengan Juanda. Batin Ken melihat langit kamar, Ken menghembuskan napas pasrah dan ia pun mulai tertidur.


...🍪🍧🍪...


"Hah?! Syaratnya itu?" Alice terlihat syok ketika mengetahui syarat yang di ajukan oleh Kin.


"Kenapa Alice? Syaratnya cukup mudah loh," ucap Kin.


"Mudah MATAMU! Aku tidak mau !" ketus Alice sambil memalingkan wajah melihat ke arah berlawanan.


"Yakin kamu gak mau?" tanya Kin dan hati Alice mulai terguncang.


Kalo aku gak dapat kerja, siapa yang akan membiayai pengobatan ibu? Batin Alice berpikir.


"Kalau lu gak mau yaudah." Alice langsung menahan Kin yang hendak pergi.


"Iya AKU MAU ! Tapi aku melakukan ini terpaksa loh, jadi jangan terlalu berharap !" Kin tersenyum dan menyuruh Alice untuk berdiri.


"Ayo pergi," ajak Kin.


"Tunggu Kin, pergi kemana?" tanya Alice.


"Mau kerja gak?"


"Mau,"


"Yaudah ayo !" Kin membawa Alice pergi dari taman ke tempat kerja yang baru untuk Alice.


...🍪🍧🍪...


Kin dan Alice telah sampai di sebuah cafe dekat dengan pusat pembelanjaan terbesar di Cikarang. Nama kafenya adalah Daralia, nama itu diambil dari nama Dara anak dari Razel dan Leana yang bekerja sama dengan Papa Kin. Alice menaruh helm di atas motor, tangannya di gandeng Kin masuk ke dalam kafe. Mereka terus berjalan dan tentu saja mendapat senyuman ramah dari para pelayan, hingga mereka tiba di ruangan yang sama sekali tidak ada orang kecuali mereka berdua.


"Kita ngapain di sini?" tanya Alice melihat ke arah Kin yang duduk di salah satu kursi.


"Mau kerja? Bisa bikin kopi?" Alice mengangguk kepala.


"Silakan mulai, nanti akan di cicipi." Alice melihat ke arah samping yang sudah tersedia alat-alat untuk mengolah kopi. Alice pun seketika berubah menjadi barista yang andal. Tangan Alice cukup telaten dalam mengolah kopi hingga akhirnya ia memberikannya kepada Kin.


"Silakan di coba," ucap Alice ramah melihat Kin yang mencicipi kopi buatannya.


Kin sedikit mengerutkan alis namun ia tetap meminumnya hingga tidak tersisa. Ia membersihkan sisa kopi di mulut dengan menggunakan ibu jari jempol miliknya.


"Kopi buatanmu enak, sayangnya terlalu banyak gula dan terlebih lagi tidak sengaja tadi rambutmu masuk ke dalam cangkir kopi ketika sedang membuatnya." Alice tercengang mendengarnya.


Sampai seperti itu ia melihatnya? Padahal aku sudah berusaha agar Kin tidak lihat. Batin Alice.


"Ya walaupun tadi kamu sudah mengambilnya tapi tetap saja itu tidak bagus, terlebih lagi kamu mengambilnya dengan tangan bukan?"


"Jadi, aku tidak di terima?" tanya Alice sedih.


"Aku tidak mengatakan kamu tidak diterima, namun sepertinya barista tidak cocok untukmu." Kin berdiri dan berjalan ke sebuah pintu dan Alice mengikuti dari belakang.


"Perhatian semuanya, ada yang ingin saya sampaikan !" Semua orang yang bekerja di dapur berhenti dan menghampiri Kin yang merupakan anak pemilik kafe.


"Kita kedatangan teman baru, dan ia akan ku tempatkan di bagian kasir," ucap Kin memegang pundak Alice di samping kiri di hadapan semua karyawan.


"Maaf Kin, bagaimana dengan Devi?"


"Ia akan ku tempatkan di bagian gudang untuk menghitung pemasukan barang," jawab Kin.


"Alice, sekarang kamu ambil baju dan bekerjalah. Nanti aku jemput jam 5." Kin mencium pipi Alice dengan cepat di hadapan semua orang. Kin juga telah keluar dari ruangan dan semua karyawan kembali bekerja.


Alice menghampiri salah satu karyawan dan bertanya, ia segera membantu Alice. Alice sempat melihat Devi yang kesal dan sengaja menatapnya dengan sinis dari atas sampai bawah.


Aku harus tenang Alice, aku pasti bisa ! Batin Alice semangat dan mulai bekerja.


...🍪🍧🍪...


Langit biru telah berubah menjadi senja, Sasha turun dari mobil sambil membawa kotak makan untuk Juanda.


Sasha masuk ke dalam sambil tersenyum ramah, ia ingin bertemu dengan Juanda.


"Maaf mbak Sasha, Juanda sedang mengobrol dengan seseorang." Sasha bingung.


"Kalau boleh tahu siapa yang sedang berbicara dengan Juanda?" tanya Sasha.


"Dia adalah keluarga penuntut Juanda."


"Siapa namanya? Kin ?"


"Bukan, yang datang adalah adiknya yang bernama Ken Dhananjaya." Sasha terkejut mendengar hal itu.


"Nah itu dia baru saja keluar." Sasha melihat Ken yang berjalan keluar dari polsek.


"Aku mau bicara sesuatu denganmu !" Sasha menarik tangan Ken menjauh dari polsek.


"Sasha, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Ken.


"Ken, kamu adiknya Kin bukan? Kupikir Kin yang menuntut bukan Kin yang kukenal, tapi dia orang yang sama?" Ken terkejut namun ia tidak bisa membohongi Sasha lebih jauh lagi.


"Iya Sasha, maaf aku tidak bilang hal ini." Sasha menampar Ken.


"Bukankah kamu bilang tidak boleh ada rahasia. Kenapa ?" Ken hanya diam tidak mampu berkata-kata.


"Aku kecewa sama kamu !" Sasha berlari menjauh dari Ken yang hanya diam.


Maaf Sasha, aku tidak bisa membantumu. Batin Ken.


...🍪🍧🍪...


Alice pun telah selesai bekerja, ia akan mendapat upah atas hasil kerjanya. Ketentuan kafe adalah setiap hari karyawan akan di gaji, termasuk dengan uang makan telah di tanggung.


"Ini bagianmu." Alice menerima uang sebesar merah seratus ribu satu lembar sedangkan karyawan yang lain mendapat 2-3 lembar.


Mungkin karena aku masih baru, jadinya dapat segini. Batin Alice berterima kasih dan bergegas mengganti baju di toilet.


"Eh tahu gadis yang baru tadi, kasihan ya ia dapat uang 100 ribu padahal harusnya ia dapat 250 ribu."


"Yailah lu kayak gak tahu Devi, emang tuh anak sering korupsi kepada anak baru."


"Tapi gue juga ifeel sih sama ceweknya, gak pantes banget gitu loh."


"Iya sih, kok Kin mau ya sama dia? Aneh ih."


2 gadis yang tadi sedang mencuci muka di toilet sedikit terkejut dengan kehadiran Alice yang keluar dari salah satu bilik. Alice hanya tersenyum ramah dan berjalan pergi.


"Aduh, gimana ya kalo dia dengar?"


"Sudahlah biarkan, dia juga akan tutup mulut. Percaya sama gue."


...🍪🍧🍪...


"Hai Alice, bagaimana ? Apa kamu akan betah?" tanya Kin yang telah sampai di kafe dan berdiri di hadapan Alice.


"Gak usah pake aku-kamu, gak cocok !" Kin tertawa kecil dan mengacak rambut Alice.


"Kin ! Jangan mengacak rambutku !" ketus Alice tidak suka dengan sikap Kin.


"Loh kenapa? Aku kan pacar kamu."


"Terserah, lagi pula aku juga terpaksa jadi pacar kamu."


"Ya ampun pacar aku ini, memang imut sekali." Kin mencubit pipi Alice dengan kencang dan itu membuat Alice sakit dan pipinya menjadi merah.


"Kin, sakit," jerit Alice dan Kin melepas dan memberi helm kepada Alice.


"Gak usah pake aku-kamu, kamu gak cocok !" ucap Alice menaiki motor ninja dan tentu di bantu dengan Kin.


"Siap Alice."


Motor Kin melaju membelah Kota Cikarang, setelah mengantar Alice. Kin pun pergi ke sebuah toko kue donat, ia membeli beberapa donat.


"Hai Kin," sapa Cindy yang baru saja masuk ke dalam toko.


Kenapa gue bisa ketemu sama ****** ?! Batin Kin dan membalas dengan senyum tipis.


"Kamu lagi ngapain disini Kin?" tanya Cindy dan mendekat ke Kin, segera Kin sedikit menjauh.


Lagi makan orang, udah tahu beli donat masih aja di tanya, batin Kin dan tidak menanggapi Cindy.


"Cie yang beli donat, oh ya Kin aku suka donat coklat kacang loh."


"Gak nanya," sahut Kin.


"Silakan mas." Kin bergegas mengambil donat dan pergi keluar dari toko, namun ia berhenti sejenak ketika melihat mobil.


"Mobil itu kayak gak asing deh," gumam Kin mendekat ke arah mobil Avanza berwarna putih.


"B2256CN, kok platnya sama dengan plat yang hampir tabrak Aura?" tanya Kin bingung.


"Loh Kin, ngapain di depan mobilku?" tanya Cindy dan Kin hanya menggeleng.


"Gak, udah ya gue mau pergi." Kin langsung meninggalkan Cindy.


Kin aneh deh, batin Cindy dan masuk ke dalam mobil.


Kin membawa motor menuju ke rumah, namun pikirannya terhuyung dengan plat nomor Cindy.


Jika benar, maka Cindy yang dulu hampir menabrak Aura. Batin Kin.


...🍪🍧🍪...


1 minggu berlalu...


Matahari telah bersinar menerangi bumi, seorang lelaki dengan kemeja biru serta celana senada menginjakkan kaki keluar dari penjara. Lelaki itu memakai kacamata hitam dan melihat ke arah sang surya yang telah berdiri tepat di atas kepala, dia adalah Juanda. Juanda telah di bebaskan dari penjara, tentu ia di bantu oleh pengacara papanya.


"Terima kasih Pak Aldirch," ucap Juanda.


"Sama-sama tuan, ini sudah menjadi tugas saya," sahut pengacara itu.


Juanda pun diantar pulang, berita kebebasan Juanda sudah terdengar sampai ke Sasha.


"Abang, Sasha kangen sama abang," ucap Sasha memeluk Juanda yang baru keluar dari mobil.


"Dasar manja." Sasha hanya tersenyum dan mengajak Juanda masuk ke dalam rumah.


"Kenapa aku di larang buat jemput abang?" tanya Sasha dengan cemberut.


"Karena aku gak mau malu jika kamu bertingkah seperti anak kecil," jawab Juanda memakan yang telah tersaji di depannya.


"Sasha tidak akan menjadi seperti itu kok !"


"Sudah ! Makan Sasha !" Sasha mengeleng.


"Suapin," ucap Sasha dan di lakukan dengan Juanda.


"Manja." Sasha tersenyum manis, ia tidak peduli di panggil manja asalkan ia bisa melihat abangnya bebas dari penjara.


Setelah selesai makan, Juanda pun berdiri menuju ke kamar mandi. Sasha juga melihat Juanda yang sedang menelepon seseorang, setelah itu ia pergi mengambil kunci motor dan berjalan ke arah gerbang.


"Abang mau kemana?" tanya Sasha.


"Kumpul sama teman-teman, sudah ya abang pergi dulu. Jangan keluar rumah !"


"Siap abang !" Sasha memberi hormat kepada Juanda dan ia melihat abangnya pergi dari rumah dengan motor ninjanya.


"Terus aku ngapain dong?" tanya Sasha bingung.


"Oh ya lebih baik aku telepon Ken, biar ajak aku jalan-jalan." Sasha mengambil hp dan berniat menelepon Ken, namun ia berhenti.


Aku kan sedang marah dengannya, gak mungkin dong aku telepon. Lagi pula dia yang salah ! Beraninya ia bikin Juanda masuk penjara ! Batin Sasha dan melempar hp ke arah sofa dan ia menyalakan televisi untuk menonton acara tv.


Bersambung...