Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
6



...🍪🍧🍪...


"Ini rumah kamu?" tanya Kin dan melihat rumah Alice yang terkesan biasa saja.


"Bukan, ini cuma kontrak bukan rumah aku," elak Alice dan memberikan helm yang ia kenakan tadi kepada Kin.


"Makasih sudah mengantar diriku pulang, kalau begitu aku masuk dulu ya," ujar Alice dan masuk ke dalam rumah kecil miliknya.


Gadis yang baik, manis lagi. Batin Kin dan mengendarai motornya menuju ke rumahnya.


...🍪🍧🍪...


"Kamu dari mana saja Kin ?!" Kin pun langsung menelan ludahnya dengan susah payah ketika dirinya ke-geb oleh sang mama yang telah menunggu dirinya di depan pintu masuk.


"Anu.. Itu ma,"


"Anu-anu, jangan bikin mama ambigu Kin! Kamu ini sudah kelewatan ya, pokoknya kalo sampai besok kamu pulang sampai pagi hari lagi. TIDAK USAH PULANG SEKALIAN !" bentak mama Lara dan Kin hanya menundukkan kepala.


Lara pun menghela nafas dan menghampiri sang anaknya, "Sudahlah, lupakan itu. Sekarang kamu pasti lelahkan?" Kin menganggukkan kepala.


"Pergi ke atas terus mandilah, hari kamu tidak usah sekolah. Mama tahu tadi kamu baru masuk ke rumah sakit," pertanyaan dari Mama Lara membuat Kin membulatkan mata dengan sempurna.


Lagi pula memang besok libur. Batin Kin.


"Dari mana mama tahu soal ini?" gumam Kin pelan.


"Kin mama mohon jangan ikut balapan lagi ya, mama mohon," harap Mama Lara dengan tatapan sedu melihat ke manik mata coklat Kin.


"Baiklah ma, Kin akan berusaha," Lara tersenyum tipis dan mencium pipi anaknya ini.


"Sana pergi mandi, kasihan anak mama ini butuh istirahat," Kin pun langsung pergi ke atas karena memang fisiknya masih lemah.


...🍪🍧🍪...


Kin berhenti di sebuah Cafe Cenaka, ia meletakkan helm di atas motor ninjanya. Tidak lupa ia merapikan rambutnya terlebih dahulu sebelum ia masuk.


Kring..


Bunyi lonceng dekat pintu berbunyi, Kin melangkahkan kaki masuk ke dalam dengan mata melihat ke segela arah cafe hingga seorang gadis memakai baju berkerah sabrina berlengan pendek warna biru muda dipadukan rok selutut warna biru tua. Rambut panjangnya ia ikat, namun yang membikin imagenya hancur adalah make up tebal yang ia pakai.


Ih itu muka udah kayak mayat. Batin Kin melangkah dengan muka biasa ke meja nomor 4.


"Kamu lama sekali, kita janjiannya jam 10 pagi. Kenapa datangnya jam 2 siang sih?!" ketus Aura menumpahkan emosi dan penat ia menunggu Kin, sedangkan Kin dengan santai duduk dan tidak peduli.


"Maaf," ucap Kin sambil memanggil pelayan untuk memesan Es kopi susu, setelah datang esnya ia kembali mendapatkan kritik pedas dari Aura namun ia sama sekali acuh mendengar keluh kesah pacarnya.


"Kamu itu kalo aku marahin dengar gak sih?!" bentak Aura.


"Hmm," acuh Kin sambil meminum es kopi susunya dan membuat Aura kesal.


"Tau ah!" Aura dengan cepat meminum milkshake chocolate yang sudah ia minum sebanyak 5 kali.


"Untung saja tadi aku di temani oleh Alice, kalo enggak sudah pulang aku !" Kin berhenti dan berpikir ketika ia mendengar nama gadis yang menolongnya semalam di sebut oleh Aura.


"Alice?" tanya Kin.


Semoga aja gue dapat informasi dari dia. Batin Kin mulai bersemangat.


"Iya, teman sekelas aku. Orangnya sangat baik, ia miskin sih apa lagi ibunya juga kena stroke. Di tinggal oleh Papanya karena dapat istri baru, kasihan sekali bukan?" Kin mengangguk.


"Terus ia bagaimana?" tanya Kin.


"Bagaimana apa?"


"Ya pokoknya seperti kesukaan dia gitu, apa gitu."


"Alice suka semua makanan terlebih lagi keju, ia juga suka minum jus buah naga. Suka durian tapi tidak suka jengkol dengan pete, selain itu Alice juga alergi dengan udang dan susu sapi," jawab Aura dan Kin berusaha mengingat di otaknya.


"Iya suka baju simple, paling gak suka sama hal yang berlebihan. Satu lagi itu ia sama sekali gak respect dengan lelaki playboy atau riwayat punya mantan lebih dari 1." Kin sedikit terkejut namun hanya sebentar.


Ini akan menjadi tantangan yang menarik. Kin tersenyum tipis dengan tatapan kosong melihat Aura dan itu membuat Aura tersipu.


"Bagaimana kalau kita sekarang nonton?" tanya Kin dan Aura cepat mengangguk dan memeluk lengan Kin dan keluar dari toko.


"Pokoknya kita harus bisa membuat mereka putus!"


"Tapi bagaimana caranya?"


"Aku punya ide yang cukup menarik !"


...🍪🍧🍪...


Keesokan harinya...


Aura dengan seragam sekolah SMA Pelita Harapan Cikarang, menunggu Kin kekasihnya. Ia sudah berdiri sejak jam 05.40 namun hingga jam 06.25 Kin belum kelihatan.


"Ih Kin, kemana sih !" gerutu Aura di depan komplek rumahnya.


Padahalkan kemarin sore, dia bilang mau jemput aku. Tapi kok sampai sekarang belum sih !. Batin Aura.


"Au ah, males deh sama dia lebih baik aku naik angkot. Bisa berabe kalo sampai ke tangkap dengan sepupu Kin." keluh Aura dan ia pun langsung menaiki angkot yang ia tunggu sedari tadi.


Di rumah Alice...


"Bunda, Alice pergi dulu ya. Alice mohon doanya." ucap Alice, mencium pipi bundanya dan segera berangkat ke sekolah.


Lebih baik aku cepat cari angkot, bisa bahaya kalo telat masuk. Batin Alice dan beruntunglah angkot masih standbay di tempat.


"Hai Alice," sapa Aura yang berada di dalam angkot.


"Loh Aura, kupikir kamu sudah berangkat lebih dulu," ujar Alice dan duduk di sebelah Aura di belakang angkot.


"Iya, pacar aku kayaknya gak masuk deh hari ini. Makanya dari tadi aku hubungin dia gak balas-balas," keluh Aura kepada Alice tidak lupa membuka jendela agar udara masuk ke dalam angkot.


"Oh gitu," Aura pun tersenyum.


Awas aja kalau sampai ketemu habis dia !. Batin Aura.


"Sudah berapa lama kamu pacaran?".


"Tepat satu bulan, lebih tepatnya sih kemarin."


"Oh,"


Dan tidak lagi ada percakapan di antara mereka berdua, angkot pun berjalan sangat lambat lantaran terkena macet. Alice pun melihat ke belakang dan mendapati seorang lelaki yang mengenakan jaket merah menaiki motor besar berwarna senada dengan jaketnya.


Kalo di lihat-lihat muka lelaki itu sangat mirip dengan seorang yang Alice kenal.


Apa jangan-jangan dia itu Keano?. Batin Alice terus melihat ke arah lelaki itu, tetapi tidak berapa lama kemudian lelaki itu pun menyalip angkot dan pergi dengan cepat.


"Dari tadi lihat apa sih Alice ?" tanya Aura.


"Enggak, Alice cuma lihat orang-orang yang melintas saja." jawab Alice dengan senyuman tipisnya.


"Apa yang ku lihat benar Keano?" gumam Alice.


Bersambung....