
...🍪🍧🍪...
Sinar matahari telah muncul di timur untuk menyinari dunia, Alice bangun dari tidur untuk bersiap-siap ke sekolah. Tidak lupa untuk memenuhi kebutuhan ibunya terlebih dahulu, setelah itu ia berangkat dengan angkot.
Semoga saja hari ini Kin tidak menjemput aku lagi ! Batin Alice melangkah dengan cepat.
"Alice tunggu aku!" Alice menoleh ke belakang dan bertemu dengan Aura yang sedang berlari menghampiri dirinya. Tidak ada hal yang aneh, sama seperti Aura yang merupakan penyuka warna colourful, namun yang membuat Alice bingung Aura sangat cantik tanpa bedak yang menumpuk di wajahnya.
"Wow Aura, kamu benar-benar cantik !" puji Alice ketika Aura sudah berada di sampingnya.
"Apa sih, aku tuh cuma tidak pakai bedak hari ini. Aku takut telat," curhat Aura mengeluarkan benda yang sangat familiar dengan dirinya, namun segera di tahan oleh Alice.
"Kumohon jangan pakai benda terlarang itu !" mohon Alice.
"Kenapa?" tanya Aura bingung.
"Kan sudah ku bilang, kamu tampak cantik tanpa menggunakan bedak," jawab Alice mulai kesal dengan sifat pelupa dari Aura.
"Aku malu kalau tidak memakai make up," ucap Aura sedih mengingat dimana ia pernah di ejek karena tidak bisa memakai make up seperti anak perempuan yang lain.
"Ya tuhan, kamu itu sudah cantik tanpa perlu di oles apa pun. Kumohon sehari saja kamu tidak pakai benda itu," bujuk Alice kepada Aura yang sedih.
"Bagaimana kalau mereka malah mengejek, ku?" tanya Aura sedih menutup muka.
"Mereka tidak akan bilang seperti itu, ayo, lah dan JANGAN MENUNDUK MENGERTI !" Aura mengangguk lesu sambil bergandengan tangan mereka menuju ke angkot arah sekolah.
"Aura kenapa kamu malah menekuk wajah? Jelek tahu udah kayak triplek hancur," ucap Alice namun Aura tidak semangat.
"Aku putus dengan Kin," Alice berhenti berjalan dan melotot.
"Apa? Kenapa ia mutusin kamu?" tanya Alice.
Apa jangan-jangan karena aku ? Batin Alice.
"Ada masalah, mama gak mau jika aku terus berpacaran kepada Kin," jawab Aura.
"Mama saja melarang, artinya mama kamu tahu lelaki yang pantas buat kamu Aura," ucap Alice dan ia semakin yakin jika Kin adalah lelaki yang sangat jahat.
"Kamu sama saja seperti ibu, ku ! Kalo saja bukan karena bantuan Kin waktu itu, mungkin saja aku sudah mati !" bentak Aura dan membuat Alice terdiam.
"Bantuan apa?" tanya Alice penasaran.
"Kin pernah menyelamat, ku ketika hampir di tabrak oleh mobil. Tanpa Kin mungkin saja aku sudah berakhir di rumah sakit." Aura kembali mengingat moment dimana Kin sangat panik melihat ia yang hampir tertabrak di sini, seketika ia kembali tersenyum.
Apa benar Kin melakukan hal itu? Ah itu tidak mungkin, dia aja sangat kejam kepada perempuan mana mau melakukan hal itu. Tapi ucapan Aura tidak mungkin salah. Batin Alice yang mulai ragu dengan pikiran buruknya terhadap Kin.
...🍪🍧🍪...
"Ken, kamu yakin mau mengganti peran kakakmu selama ia koma?" tanya Mama Lara di meja makan bersama dengan Papa Dirga.
"Iya ma, lagi pula aku sudah di beri izin dengan Kin," jawab Ken menyatap makanan yang sangat lezat.
"Kapan dia memberimu izin?" tanya Mama Lara dan membuat Ken berpikir untuk berbohong.
"Kemarin waktu ia pulang, katanya ia juga punya firasat gak enak," ucap Ken santai tetapi setelah mengetahui apa yang ia katakan segera memukul mulut.
Betapa bodohnya aku ! Batin Ken.
"Sudah tahu begitu, malah masih ngotot pergi !" ketus Mama Lara membanting sendok di atas piring.
"Ma, Ken pergi dulu ya. Assalamualaikum," Ken segera mencium telapak tangan Mama Lara juga Papa Dirga dan segera melesat pergi ke teras.
"Dir, pokoknya ketika Kin sudah bangun. Dia tidak boleh membawa motor lagi !" ucap Mama Lara memberi tahu suaminya.
"Jangan begitu sayang," elak Papa Dirga tetapi Mama Lara tetap konsisten dengan perkataannya.
"POKOKNYA HARUS!"
"HMM.."
...🍪🍧🍪...
Ken melajukan motor Vario miliknya menuju rumah kekasihnya yang menempuh jarak 1 km dari rumah. Setelah sampai ia segera memencet bel dan keluarlah Sasha dengan senyuman yang menghiasi muka eksotisnya.
"Hei !" sapa Sasha keluar rumah menghampiri kekasihnya yang sudah berada di depan rumah.
"Maaf telat, tadi makan dulu," ucap Ken sambil memberi helm coklat kepada Sasha.
"Iya gak papa kok, yuk !" ajak Sasha. Ken mulai menyalakan motor dan melajukannya ke arah sekolah kekasihnya.
Kalian tahu jika pasangan yang sedang di mabuk oleh aura pink muda, biasanya akan membawa motor dengan pelan sambil bercanda tawa dan berbagi cerita di atas motor dan terkadang bikin para jomblo yang menyaksikan itu kesal.
"Kenapa kamu melajukan motor sangat pelan, lihat di belakang kita sudah banyak yang membunyikan klakson !" geram Sasha kepada kekasihnya karena melajukan motor dengan pelan.
Ken melihat pengendara di belakangnya terus membunyikan klakson melalui kaca spion bagian kanan. "Baiklah aku akan sedikit ngebut, jadi bersiaplah,"
Setelah lumayan jauh, Ken berhenti ketika rambu lalu lintas berubah menjadi merah. Tepat di samping mereka ada sebuah rumah yang telah kosong, kemudian Ken berniat menakutin Sasha.
"Sa," panggil Ken.
"Iya, kenapa Ken ?" tanya Sasha di dekat telinga Ken agar mendengar lebih jelas.
"Coba deh, kamu lihat ke samping kanan." Sasha melihat sebentar dan kembali bertanya kepada Ken.
"Memangnya ada apa dengan rumah itu?" tanya Sasha.
"Mau tahu?" Sasha mengangguk antusias.
"Aku gak mau jadi tumbal," lirih Sasha ketakutan.
Kemudian Ken tertawa lepas dan melajukan motor dengan mengebut kembali setelah lampu berubah menjadi hijau.
Yes. Misi, ku berhasil ! Batin Ken senang karena bisa dempet dengan Sasha, biasanya Sasha selalu tidak mau melakukan hal ini.
...🍪🍧🍪...
Alice dan Aura turun dari angkot, setelah membayar mereka mulai melangkah masuk ke sekolah. Berbeda dengan Alice yang tampak ceria, Aura justru ketakutan dan malah menundukkan kepala ke bawah.
"Selamat pagi pak," sapa Alice kepada satpam yang di balas dengan sapaan pula.
"Kamu kenapa sih Aura, jangan menunduk terus dong !" ucap Alice memberi semangat kepada Aura.
"Aku malu Alice, aku mau bedak dulu." Alice menahan hal tersebut.
"Sudah percaya denganku, kamu itu tampak cantik tanpa benda itu. Sudah coba sekarang tarik napas dan mulai melangkah dengan penuh percaya diri seperti biasanya." Aura melakukan hal itu, namun ketakutan yang ia alami masih jauh lebih besar dari pada keyakinannya.
"Aku masih takut Alice, lebih baik aku tidak usah sekolah saja." Alice yang kesal malah menarik Aura masuk.
Ketika masuk Aura terus menunduk, ia tidak mampu melihat pandangan orang lain kepadanya. Para murid yang melihat kelakukan aneh Aura malah semakin heran, bahkan mereka sampai tidak percaya melihat wajah Aura yang sangat cantik tanpa bedak.
"Ya ampun Aura cantik banget,"
"Kalo tahu begini mah, gue pacarin dari dulu !"
"Aura habis operasi plastik kali,"
Aura menjadi takut, ia mulai bergetar dan menahan agar air mata tidak turun dari matanya tapi Alice tetap menarik dengan lembut.
"Ayo Aura, hal ini tidak seburuk apa yang kamu bayangkan !" ujar Alice.
"Alice kita ke toilet yuk," ajak Aura menarik baju Alice.
"Aura, jangan pikirkan hal itu. Ayo coba deh tegak, kan tubuh mu dan kembali percaya diri seperti biasanya," bujuk Alice tapi Aura masih enggan.
Keano berlari menuju ke arah mereka dan ia menepuk pundak Aura yang makin bergetar.
"Hei nenek lampir, lu bikin apa lagi sih sampai satu sekolah yang membicarakan lu? Oh apa lu dandan kayak badut ya?" tanya Keano di hadapan Aura dan ia dapat melihat jelas muka Aura, hal itu membuat dirinya terdiam.
"Keano, apa yang kau ucapkan !" bentak Alice.
"Iya gue emang badut !" teriak Aura dan berlari sambil menutup muka menuju ke toilet dan segera Alice mengejar Aura.
Keano masih terdiam, ia terpana dengan apa yang baru ia lihat.
"Cantik," puji Keano pelan.
...🍪🍧🍪...
Aura masuk ke salah satu bilik di toilet perempuan, ia duduk di wc duduk yang telah ia tutup. Ia menangis, ia merasa seperti di permalukan. Ingatan tentang masa lalu mulai bermunculan dan itu membuat Aura menjadi takut.
Tidak ! Aku tidak mau mengulang masa kelam untuk ke-2 kali ! Batin Aura menutup telinga dan air mata mulai turun membasahi pipi. Mulut Aura sudah pucat bahkan seluruh badan ia bergemetar ketakutan.
Tok tok tok.
"Aura buka pintu, ini aku Alice." Aura diam, ia merasa takut.
"Aura tolong bukalah, ini aku !" ucap Alice dan kembali mengetuk pintu, namun Aura sama sekali tidak menjawab.
"Aura kumohon tolong buka pintunya," lirih Alice tidak berapa lama Aura keluar. Alice lega namun ia terkejut karena penampilan Aura berantak, Aura menatap Alice dengan tajam.
"Aura kamu kenapa?" tanya Alice pelan dan hendak menyentuh namun Aura segera menyingkir menjauh.
"Aku ingat trauma yang sudah ingin sekali di kubur dalam-dalam, ku pikir kamu bisa menjadi sahabat tapi ternyata aku salah. Kamu hanya ingin menghancurkan ku, kamu pasti senang bukan ? Melihat ku kembali mengingat hal yang menjijikkan itu?" Alice menggeleng, ia sama sekali tidak tahu jika hal ini membuat Aura kembali teringat trauma yang pernah berhasil hilang. Alice saja bahkan tidak tahu jika Aura selalu memakai bedak di wajah hanya untuk menutupi luka di masa kelam itu.
"Aura... Aku.." Suara Alice tercekat, air mata mulai turun.
"Aku benci kamu Alice !" Aura berlalu pergi meninggalkan Alice sendiri, tidak ada satu pun orang yang melihat kejadian tersebut.
Ya Allah, apa yang telah ku perbuat? Batin Alice menangis terisak.
"Aku sama sekali tidak bermaksud Aura," gumam Alice.
...🍪🍧🍪...
"Cindy ! Ada berita heboh loh !" seru Dina kepada Cindy yang sedang bermain hp di tempat duduk di dalam kelas.
"Lu telat, gue udah tahu duluan. Soal Aura yang katanya cantik banget kalo gak pakai bedak bukan?" Dina kesal dan melampiaskan dengan menendang kaki ke arah meja, itu membuat ia meringis kesakitan.
"Aduh sakit," adu Dina mengelus kaki dan Cindy tidak peduli.
"Cindy, noh anaknya masuk. Tapi kenapa dia kayak marah gitu ya? Mana lagi penampilan melerak," komentar Dina ketika Aura masuk dan segera duduk di kursi.
"Tuh anak masuk muka sudah masam, kira-kira dia kenapa ya? Menurut lu karena apa Cin?" tanya Dina
"Mana gue tahu, emang gue emaknya apa?"
"Eh Alice masuk tuh, tapi kok mereka kayak lagi berantem ya,"
"Berantem?" Cindy melihat ke arah meja Aura dan Alice. Terlihat jelas ada sebuah masalah yang sedang menimpa mereka. Tidak berapa lama Cindy tersenyum ketika memikirkan sesuatu hal yang menarik.
"Gue punya ide yang menarik," gumam Cindy pelan.
Bersambung...