Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
32



"Kin jangan lari kamu !" teriak Alice mengejar Kin dari pintu gerbang sedangkan Kin sudah lari menjauh dengan tangan kanan mencengkram tas di punggung, dan tangan kiri membawa hoodie hitam.


"Selamat pagi pak," sapa Kin dan menyalami salah satu guru killer dan kembali berlari.


"Selamat pagi pak," sapa Alice menyalami guru itu dan kembali berlari.


"Dasar mereka berdua itu, sudah kelas 12 tapi kelakuan kayak anak tk." Pak guru menggeleng dan berjalan kembali.


Alice dan Kin memang sudah berada di puncak tertinggi angkatan sekolah, termasuk mereka adalah kakak kelas yang di hormati.


"Cie Kin pagi-pagi sudah lari-larian sama istrinya," goda Elang ketika Kin sudah di depan pintu kelas.


"Gila, Alice cepat banget larinya. Gue aja sampai gak kuat," ujar Kin mengambil napas dan hendakΒ  masuk tapi ia malah di tarik tangannya dengan Alice.


"Kin kurang ajar kamu, pokoknya tanggung jawab !" bentak Alice tapi detik berikutnya ia menarik napas dengan cepat.


"Anjir Kin, apa yang lu lakukan terhadap Alice sampai tuh anak minta tanggung jawab?" tanya Rio terkejut yang duduk di belakang sambil memainkan hp.


"Jangan pikiran yang aneh dulu ! Gue tadi acak rambut nih anak terus cubit pipinya makanya ini anak minta tanggung jawab," ujar Kin duduk di barisan tengah dengan Alice yang duduk di sampingnya.


"Yah pasutri ada di depan mata, jadi susah tenang kita ini Ri," ujar Elang yang duduk di belakang Kin dan Alice.


"Kami ini hanya berpacaran belum menikah !" ketus Alice karena ia selalu risih dengan kata istri.


"Iya kami paham calon istri Tuan Kin," goda Rio sambil menaik turun alisnya.


"Huh bodo amat." Alice menjadi ngambek, ia hanya menggambar asal di atas meja dengan tangannya, wajah Alice di tempelkan di atas meja.


"Oi jangan ganggu Alice," ujar Kin dan hanya di tanggapi cekikikan dari Rio dan Elang.


"Iya Susi Alice," ejek Rio dan Elang dan itu membuat teman-teman ikut tertawa.


Kurang ajar nih mereka berdua, batin Kin menaruh tas di atas meja untuk bantalan dirinya tubuh.


...πŸͺ🍧πŸͺ...


"Hari ini kamu ada kerjakan, nanti mau ku jemput?" tanya Kin ketika istirahat sudah di mulai.


Kin dan Alice makan berdua di taman tentu saja di temani bekal makanan yang telah di bawa oleh Alice untuk mereka berdua.


"Gak usah, kamu harus latihan basket," elak Alice memakan salad buah yang ia bawa sedangkan Kin memakan roti lapis buatan Alice.


"Yakin?" Alice mengangguk.


"Bagaimana hubunganmu dengan Aura, sudah membaik?" tanya Kin sambil menggigit rotinya.


"Lumayan, tapi sepertinya Aura masih menyukaimu," jawab Alice pelan dan menunduk.


"Kenapa? Tenanglah aku hanya mencintaimu bukan dia," ucap Kin dan Alice hanya mengangguk


Bukan itu ku takutkan, bagaimana jika Aura terlalu terobsesi padamu Kin? Batin Alice sambil menghembuskan napas pelan.


Alice sudah mulai menerima Kin seutuhnya layaknya seorang kekasih bukan seorang penolong dan ia harus membalas budi. Cinta itu rumit, dan terkadang membingungkan.


...πŸͺ🍧πŸͺ...


"Hei Alice jangan melamun saja," bentak Devi yang merupakan mantan kasir yang telah bertukar posisi dengan Alice sedangkan ia berada di bagian pelayan.


"Iya, ma..afkan aku," ucap Alice sambil menundukkan badan sedikit.


Keadaan kafe sangat sepi berbeda dengan hari kemarin, di tengah kesepian itu datang Ayah Kin untuk mengecek keuangan. Setelah ia melihat data keuangan, ia bertanya kepada beberapa pegawai dan nama Alice dihadapankan ke ruangannya.


"Maaf pak, kenapa saya di panggil?" tanya Alice dengan sopan masuk ke dalam ruangan Pak Dirga.


"Ini gaji kamu." sebuah amplop coklat berisi uang mendarat tepat di atas meja.


"Loh pak, belum waktunya saya menerima gaji," elak Alice.


"Iya tapi maaf saya harus memecat anda dan silakan kamu pergi dari sini." Alice cukup terkejut mendengarnya, ia bahkan tidak tahu kenapa alasan ia di pecat. Tapi karena Alice tidak ingin memperpanjang masalah, ia segera mengambil uang tersebut dan pamit sebelum keluar dari ruangan.


"Apa maksudmu Dev, darimana kamu tahu aku di pecat?" tanya Alice.


"Yaiyalah gue tahu, makanya jadi karyawan gak usah mengambil uang dong," jawab Devi dan berlalu pergi.


"Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti. Uang? Sejak kapan aku mengambil uang di kasir, aku selalu menyetor kepadanya kenapa malah aku yang di tuduh mengambil uang?"


...πŸͺ🍧πŸͺ...


Malam hari pun tiba, sebuah mobil berwarna merah terpakir di depan rumah Alice. Kin turun dengan cool ia memakai kacamata gaya sebelum mengetuk pintu rumah Alice.


Alice pun keluar dari rumah menggunakan pakaian panjang bewarna hitam yang sangat indah, rambut panjang ia ikat kuncir kuda. Tidak lupa dengan beberapa penjepit rambut menghias rambutnya.


"Kamu sudah siap?" tanya Kin dan Alice mengangguk pelan dan mereka pun masuk ke dalam mobil.


"Kamu kenapa Alice?" tanya Kin di sela-sela keheningan.


"Aku? Aku gak papa," elak Alice.


"Kalo gak papa itu mata kenapa sembab?" tanya Kin dan Alice hanya terdiam.


"Ya sudah gak usah bilang, lagipula aku tahu kok."


"Kin, bisakah di kencan kita ini jangan membahas soal itu," ucap Alice mengalihkan pembicaraan supaya Kin tidak bertanya macam-macam.


"Baiklah, maaf jika tadi aku membahas soal itu," ujar Kin sambil mencium tangan Alice lembut.


"Jadi kita mau kemana?" tanya Alice.


"Kamu lihat saja nanti, aku yakin kamu pasti bakal suka."


Mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang, membelah kota Cikarang di waktu malam. Untung saja Kin mencari jalan alternatif lain yang tidak terlalu macet, jadi mereka tidak perlu duduk berlama-lama didalam mobil.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran yang sangat elegan dan mewah. Kin membuka pintu mobil agar Alice bisa turun, Kin dan Alice bergandengan tangan memasuki restoran.


Kok sepi ya? Batin Alice sambil melihat sekitar ketika Kin sedang berbicara kepada ketua pelayan.


"Mari saya antarkan tempat anda Tuan Kin serta Nona Alice." Kin dan Alice mengikuti dari belakang dan Alice cukup terkejut ada sebuah meja yang sangat indah dengan pemandangan kota dari samping. Bukan hanya itu saja, ada rangkaian bunga dan beberapa lilin di sebuah gelas menghiasi meja yang terdiri dari 2 kursi yang saling berhadapan.


"Bagaimana Alice, kamu suka?" tanya Kin ketika mereka sudah duduk di kursi.


"Emm, Kin. Ini terlalu berlebihan. Jangan bilang kalo kamu juga menyewa tempat ini untuk malam ini," bisik Alice dan Kin hanya menanggapi dengan senyuman.


Dasar pemboros ! Batin Alice kesal dan mereka menikmati malam dengan memakan beberapa makanan mewah, namun perjalanan kencan mereka belum berakhir.


"Kamu sudah selesai makan?" Alice mengangguk.


"Ayo kita berangkat ke tempat berikutnya," ajak Kin sambil mengulurkan tangan ke depan.


"Hah? Kemana?" tanya Alice.


"Nanti kamu juga tahu," jawab Kin sambil tersenyum.


Selesai makan, Kin dan Alice nonton sebuah film action dan selama kencan mereka berdua selalu bergandeng.


"Kin, kita pulang yuk," ajak Alice sambil meminum milkshake yang dibeli ketika selesai menonton.


Kin melihat jam di tangan kiri dan mengangguk, kemudian setelah keluar dari mall. Segera mereka bergegas ke rumah Alice mengingat malam yang sudah mulai larut.


...πŸͺ🍧πŸͺ...


"Alice tenang ya, ibumu pasti baik-baik saja." Kin berlutut di depan Alice yang duduk di samping ruangan IGD di Rumah Sakit Cinta Kasih yang tidak terlalu jauh dari kediaman Alice.


Alice hanya bisa mengangguk pelan tanpa mengeluarkan suara, ia terlalu panik dan sedih ketika mengetahui ibunya terjatuh dan juga pembantu yang di tugaskan Kin melarikan diri entah kemana. Kin berjanji akan mencari orang itu sampai ketemu dan memproses secara hukum.


"Aku mau ke kemar mandi dulu," ucap Alice pelan dan berjalan ke arah toilet namun di lobby ia terhenti ketika tanpa sengaja ekor matanya melihat sosok yang sudah Alice rindukan sejak kecil.


"A..yah,"