Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
39



...🍧🍪🍧...


"Minggir," ucap Kin sambil melewati para siswa yang sedang melihat pengumuman dimading sekolah. Kin terus mencari-cari namanya begitu juga dengan teman-temannya. Setelah melihat itu, Kin pergi dan kembali kearah parkiran bertemu dengan teman-temannya.


Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh mereka, begitu juga dengan para siswa yang lain. Hasil Ujian Nasional telah keluar, membuat mereka semua tidak sabar melakukan aktivitas setelah selesai ujian. Tentu saja, melakukan tradisi coret-coret baju sambil membawa bendera angkatan sepanjang jalan.


"Bagaimana Kin?" tanya Alice ketika Kin telah sampai.


Kin menunduk dan membuat teman-temannya khawatir.


"Kita lulus," ucap Kin sambil tersenyum dan langsung diserang dengan teman-temannya.


"Kurang ajar, bikin gue takut lu !" Kin hanya tertawa mendengar umpatan dari Rio.


"By the way, kita jadi gak nih?" tanya Elang sambil mengangkat alis.


"Tentu dong, Aura sudah bawa banyak spidol ini." Aura memperlihatkan isi tas yang berisi spidol warna warni miliknya.


"Kamu ikut, kan?" tanya Kin kepada Alice.


"Aku gak usah deh Kin," jawab Alice.


"Ih Alice, gak boleh." Aura menghampiri Alice sambil merangkulnya. " Pokoknya kamu harus ikut !"


"Ketsia sama Leonil bagaimana?" tanya Sasha, mereka memang janjian berkumpul di sekolah Kin.


"Mereka ada urusan," ucap Kin sambil menaiki motor dan menyuruh Alice buat naik.


Mereka semua menjalankan motor kesebuah lapangan yang telah disepakati. 2 sekolah yang pernah bentrok sudah kembali damai, mereka bahkan saling adu potret dan baju kece terbaik. Tidak ada ajang tawuran, sebagai seorang pelajar mereka harus tetap menghargai nama sekolah masing-masing.


"Alice," ucap Kin sambil mengarahkan kamera dan mereka berdua berfoto sambil tersenyum.


...🍧🍪🍧...


Selesai tradisi tersebut, Kin bersama teman-temannya juga teman-teman Juanda. Mereka semua ke tempat peristirahatan terakhir Juanda. Mereka memberi doa juga bunga yang ditaburkan diatas makam.


"Semoga tenang disana Jun, urusan Sasha gue yang bakal urus dia." Ken mengucapkan itu dengan mantap ke arah makam seolah dirinya sedang berbicara langsung dengan Juanda.


Setelah selesai mereka pun pulang kerumah masing-masing, tapi teman-teman Kin tidak. Mereka memang sudah sepakat untuk menginap nanti malam dirumah Kin.


"Kin, nanti malam jadi bakar-bakar, kan?" tanya Rio ketika di are parkir makam.


"Tentu, nanti yang beli daging biar gue sama Ken. Lu, Elang, Keano beli arang sama tusuk sate. Nanti anak cewek yang buat bumbunya." Semua setuju dengan perkataan Kin, mereka segera bergegas menuju rumah Kin.


...🍧🍪🍧...


2 Hari pun telah berlalu, Kin dan Alice sedang berdiri didepan ruang operasi, setelah menunggu kurang lebih 5 jam Ibu Alice dinyatakan sembuh. Namun, setelah operasi ibu Alice belum juga membuka mata.


"Kamu yang tenang ya Alice," ucap Kin sambil mengusap lengan Alice.


"Iya," lirih Alice sambil menggenggam tangan ibu.


"Kamu tetap ikut ke gunung tidak Alice?" tanya Kin, bukan Kin bermaksud berkata seperti itu. Namun, mereka memang akan pergi nanti malam.


"Sepertinya aku tidak ikut deh Kin," jawab Alice sedih, "tolong sampaikan permintaan maafku kepada teman-teman."


"Iya nanti akan ku sampaikan," ucap Kin pelan dan tidak ada yang berbicara. Hanya suara mesin yang berbunyi, Alice dan Kin hanyut dalam keadaan masing-masing. Alice yang terus khawatir dengan ibunya, dan Kin yang sibuk dengan game di hp miliknya.


...🍧🍪🍧...


"Bu aku tidak usah pergi," ucap Alice didepan cermin sedangkan ibu sedang menyisir rambut Alice.


"Ih kamu, pokoknya harus ikut !" Alice menghembuskan napas pelan, sepertinya malam ini ia akan menjadi percobaan dari sang ibu.


Setelah 2 minggu yang lalu ibu Kin terbangun, tepat dimalam ini. Sekolah mengadakan pesta prom night dan inilah malam puncak yang paling ditunggu-tunggu oleh para anak remaja.


"Nah sudah selesai," ucap Ibu tersenyum melihat putrinya semakin cantik.


Alice bercermin sambil melihat pakaian yang melekat di tubuhnya.


Alice mengenakan gaun berwarna merah muda selutut, dileher dipakai kalung putih. Rambut Alice yang lurus digerai, tidak lupa Alice mengenakan high heels pendek berwarna pink. Alice terlihat cantik dan dewasa, ibu tersenyum melihat anak perempuannya akan menjejakkan kaki di dunia perkuliahan.


"Kin, maaf lama. Kin?" Alice melambaikan tangan didepan wajah Kin. Tidak lama kemudian Kin sadar dan mempersilakan Alice untuk masuk kedalam mobil.


Perjalanan terasa sangat singkat, mereka keluar. Kin menggandeng tangan Alice dengan posesif ketika masuk kedalam gedung.


"Alice," pekik Aura sambil memeluk Alice. Aura mengenakan gaun hitam selutut tanpa lengan, rambutnya digerai dan diberi hiasan bando bunga mawar.


"Aura kamu cantik sekali," puji Alice dan membuat Aura tersenyum.


"Cantik darimana? Sudah kayak mau ke pemakaman aja," ejek Kin.


"Kin jahat, Aura itu cantik bahkan lebih cantik daripada Ratu Elsa," sahut Aura dan membandingkan dirinya dengan salah satu tokoh diserial kartun Disney.


"Terserah."


"Alice, aku kesana ya. Dah," ucap Aura dan menghampiri Keano yang baru sampai.


"Kupikir mereka datang bersama," gumam Alice. Tiba-tiba alunan musik berubah menjadi pelan. Cahaya lampu menjadi minim. Banyak orang mulai berdansa dengan pasangan masing-masing. Alice melihat Kin begitunya sebaliknya.


"Mau berdansa?" tanya Kin.


"Aku gak bisa, nanti aku malah menyakiti kakimu," jawab Alice pelan dan menunduk.


"Tidak usah khawatir, ayo." Mereka mulai berjalan kelantai dansa dan bergabung dengan orang-orang yang lain. Alice meletakkan tangan dibahu tegap Kin, sedangkan Kin meletakkan kedua tangan dipinggang mungil Alice.


"Jangan menunduk Alice," ucap Kin melihat Alice terus menunduk untuk melihat kakinya tidak akan menginjak kaki Kin.


"Gak mau," elak Alice dan terus menunduk.


Mereka berdansa dengan Alice yang terus melihat kebawah.


...🍧🍪🍧...


"Bangun tukang tidur," teriak Aura didepan Alice dan membuat Alice segera bangun.


"Duh Aura, jangan ganggu deh," ucap Alice sambil mengosok-gosok telinganya. Sepeetinya aku akan budek batinnya.


"Ih kamu ini ya, hari ini kita baru sampai di Bali loh. Masa mau tidur terus sih?" tanya Aura kesal duduk di atas kasur Alice.


Setelah acara prom night selesai, 3 hari yang lalu. Mereka sepakat untuk berlibur di Bali, dan yang lebih bahagianya adalah semua biaya ditanggung Leonil.


"Tapi aku masih cape," jawab Alice menguap tidak lupa ditutup.


"Ih gak boleh, ayo." Aura segera menarik Alice untuk mandi bersama di kolam. Setelah berenang mereka mandi dan makan bersama dengan yang lain.


"Kalian lama sekali," komentar Keano.


"Ini tuh Alice, lama banget bangunnya," ejek Aura sambil menunjuk Alice.


"Kalo Alice gue kurang percaya, lu kali Aura," sahut Kin dan membuat Aura kesal.


"Enak aja, Alice yang salah." Alice hanya tersenyum tipis dengan sikap Aura yang tidak mau mengalah.


"Sudahlah, kapan makannya nih?" tanya Rio yang sudah cape mendengar perdebatan Aura dan Kin.


"Tunggu Baginda Raja sama Ratunya, mereka berdua belum datang ini," ucap Sasha.


"Sampai tahun depan juga, mereka belum datang. Sudah yuk," ajak Rio tanpa permisi langsung mengambil makanan.


"Ini anak, gak punya sopan santun sama sekali," ucap Ken namun ia juga mengambil makanan.


"Lwu jwugwa."


"Sudahlah yuk makan." Mereka mulai menyantap makanan tanpa menunggu Leonil dan Ketsia.


Setelah makan, mereka semua berjalan-jalan. Kin dan Alice berjalan menuju pantai, tempat favorit mereka untuk mendengar suara laut. Alice mengenakan baju panjang semata kaki berwarna putih, begitu juga dengan Kin yang mengenakan kemeja putih celana jins selutut. Mereka menaiki batu besar di tengah air tanpa alas kaki. Tidak lupa duduk sambil kaki dicelupkan kedalam air.


"Aku cinta kamu Alice," ucap Kin melihat kearah Alice.


"Aku juga cinta kamu Kin." Mereka tersenyum, Kin mendekat kearah Alice, dan mereka pun berciuman diatas batu disaksikan air laut berwarna biru muda.