
...🍪🍧🍪...
Ken baru saja sampai di depan gerbang sekolah yang telah tertutup. Ia sudah menduga akan seperti ini jadinya, setelah mengantar Sasha ke sekolah.
Apa gue manjat ya?
Ken menaiki gerbang besi dengan mudah, dan ia mendarat di tanah dengan sempurna. Ia menepuk baju agar tidak ada debu-debu yang menempel.
"Untunglah tidak ada yang menjaga, jadi gue aman," gumam Ken melihat ke sekitar dan berusaha masuk, tapi tali jaket yang ia pakai di tarik ke belakang dengan tenanga yang kuat. Akhirnya Ken terjatuh ke bawah, ia memegang leher yang sakit akibat mendapatkan perlakukan itu.
"Kenapa lu datang ke sekolah Bang Kin, kalo lu tahu ini sudah jam masuk kelas?" tanya Ketsia berdecak pinggang di hadapan Ken yang menyamar menjadi Kin.
Ketsia melihat muka Kin, ia mengerut dahi dan melipat tangan di depan dada.
"Ken? Kenapa lu ada di sekolah Kin? Bolos lu?" tanya Ketsia, Ken pun bangun dan menyeret Ketsia ke tempat yang lebih sepi, yaitu di samping gedung.
"Iya ini gue Ken, tapi gue mohon lu bantu gue biar bisa jadi Kin." Ketsia memiringkan kepala sedikit melihat Ken dengan bingung.
"Kalian tukar sekolah?" Ken menepuk jidat atas mengabaikan kabar penting ini kepada Ketsia.
"Kin masuk rumah sakit, ia koma. Gue dengar akan ada pertandingan basket antar sekolah gue sama sekolah Kin. Makanya gue mengganti Kin sementara," terang Ken menjelaskan apa yang terjadi.
"Kenapa hal seperti itu tidak lu kasih tahu lebih awal sih ?!" bentak Ketsia atas kelalaian Ken.
"Ya maaf, gue lupa mengabari lu soal ini," ucap Ken.
"Kalau gitu gue boleh masuk, kan? Gue harus latihan basket," ucap Ken yang ingin menghindar namun segera di tahan Ketsia.
"Nah, kan tadi di bilang mau latihan. Sebelum latihan kita harus melakukan pemanasan terlebih dahulu agar tidak terjadi cedera. Mari ikut aku !" Ketsia menarik Ken masuk ke dalam gedung sekolah.
Firasat gue gak enak !
...🍪🍧🍪...
"Ketsia ! Sudah ya gue mau istirahat," bujuk Ken yang di hukum oleh Ketsia mengintari lapangan sebanyak 50 kali, terlebih lagi ia menggunakan sebuah papan yang di buat dari kardus yang bertulis. 'SAYA TERLAMBAT DATANG KE SEKOLAH !'.
"Belum nanti dulu, masih kurang 5 lagi," Elak Ketsia yang melihat Ken berlari di lapangan, di area kanan ada segerombolan anak basket melihat hal tersebut.
"Untuk pertama kali, gue lihat Kin di hukum. Biasanya tuh anak rajin," komentar Ridho.
"Ye dia mah bukan Kin, jadi pantas aja kali," gumam Rio pelan sambali meminum air putih setelah pemanasan mengintari lapangan sebanyak 30 kali.
"Lu bilang tadi Rio?" tanya Ridho dan Rio mengeleng.
"Enggak bukan apa-apa," elak Rio. "semangat Kin !"
"49, 50. Hah ! Ini benar-benar melelahkan !" Ken segera jatuh di lantai dan bernapas tidak karuan.
"Segini aja lemah, biasanya hal seperti ini sudah hal biasa bagi Kin. Ia bahkan pernah ku suruh mengelilingi lapangan 100 kali." Ketsia berjongkok di dekat Ken dan memberinya minum dan juga handuk untuk membasuh keringat.
"Gue beda sama Kin, ini hal yang baru buat gue !" ujar Ken duduk sambil meminum air, sedangkan Ketsia membantu mengelap keringat Ken.
"Lihat tuh, muka lu udah kayak kepiting rebus tahu !" ejek Ketsia sambil terkekeh melihat wajah Ken yang sudah merah karena cape.
"Terserah lu mau ejek apa pun, gue gak peduli." Ken menyirami wajah dengan air dan mengeleng, kan kepala. Airnya pun terkena Ketsia.
"Kurang ajar lu ! Pakaian gue basah setan !" ketus Ketsia langsung berdiri menjauh dari Ken.
"Siapa suruh lu di situ?" tanya Ken dan Ketsia hanya bisa kesal.
"Setelah istirahat 5 menit, Oh ya juga jangan lupa ambil surat di ruang bk. Setelah itu langsung kumpul buat latihan, oke ?" Ken mengangkat lengan kiri, jari telunjuk menyentuh jari jempol yang membentuk huruf O.
Mampus gue latihan begini selama 2 minggu, semoga aja gue betah. Batin Ken dan kembali minum dan mengeluarkan napas.
...🍪🍧🍪...
Krek, klik.
Alice keluar dari kantor guru, menunduk ke bawah dan berjalan pelan menuju kelas kembali. Ia mengengam sebuah surat peringatan dari guru.
Itu adalah surat pemberitahuan prestasi Alice ada sedikit penurunan, jika Alice tidak bisa mempertahankan prestasi seperti biasa, maka dengan berat hati sekolah harus mencabut beasiswa. Alice menghela napas dan segera menghapus air mata yang ingin turun ke pipi.
Jika aku tidak bisa mempertahankan prestasi lagi, maka aku harus terpaksa berhenti sekolah. Batin Alice sedih.
Jika Alice masih bekerja mungkin dia bisa mencicil sebagian uang, yaitu membeli obat buat mama serta buat tabungan sekolah, namun itu sangat susah karena Alice sudah tidak bekerja. Terlebih lagi tabungan kian menipis.
Apa aku pinjam saja sama Aura? Tapi kondisi sedang tidak memungkin, kan. Batin Alice sedu.
Brak.
Ken tidak sengaja menyenggol Alice dan membuat gadis itu terjatuh ke lantai.
"Aduh sakit !" adu Alice memegang tangannya yang tergores.
"Maaf, aku tidak sengaja. Mari ku bantu." Ken membantu Alice untuk berdiri, setelah mengatakan maaf ia segera pergi berlalu untuk ke lapangan.
"Apa-apan dia itu? Harusnya ia bawa aku ke uks dulu !" kesal Alice dan memungut kertas yang jatuh berserakan dan berlalu pergi ke uks sebentar untuk meminta plester.
... 🍪🍧🍪...
"Oke istirahat 15 menit terus kita latihan lagi !" seru pelatih kepada para pemain basket.
"Akhirnya," gumam Ken duduk di samping Ketsia yang sedang mengambar sesuatu di secarik kertas dengan sebuah pensil.
"Lagi gambar apa?" tanya Ken setelah meminum air.
"Lagi mengambar strategi yang akan di gunakan di lapangan nanti, tapi gue masih bingung taruh lu dimana !" ujar Ketsia kalo Kin mungkin ia akan menaruh di sayap kanan untuk memperkuat pertahanan, namun jika posisi di tukar menjadi Ken maka akan susah. Bahkan sepanjang latihan Ketsia bisa melihat betapa lama Ken bisa beradaptasi dengan daerah baru.
"Lu kok bisa jadi penyusun strategi sih? Nanti di marahin guru lu kalo gak masuk kelas," ucap Ken.
"Gue wkatu itu di tarik Kin ke sini, tuh anak tahu kalo gue suka nonton basket dan terkadang gue selalu mengambar formasinya. Makanya setiap ada lomba basket gue selalu duduk di sini buat menjadi penyusun strategi." Ken hanya berdehem sebentar dan kemudian kembali minum, dan kembali melihat kertas. Melihat nama dirinya belum tercatat di kertas segera ia menyerukan pendapatnya.
"Nih kosong, taruh aja gue di sana." Ken menunjuk ke kertas bagian sayap kanan.
"Iya, gue emang bukan Kin. Tapi bisa di coba, kan?" Ketsia berpikir sebentar dan mengangguk kepala dan segera menuju pelatih untuk memberi tahu latihan berikutnya.
Gak papa kali gue lawan sekolah sendiri, semoga aja gak ada yang kenal. Batin Ken berlari kembali ke lapangan untuk latihan kembali.
"Hari ini kita akan mencoba strategi ke 2, ingat berjuang !" ucap Pelatih dan membakar semangat seluruh pemain.
"Mulai !" seru pelatih dan melempar bola oranye ke atas dan segera di rebut oleh Elang dan Rio.
Permainan di susun seperti yang di gambar, kan oleh Ketsia. Ken di taruh di sayap kanan, permain cukup seru. Seperti biasa, Ketsia selalu bisa menyusun strategi yang lumayan sulit tapi mudah di pelajari.
Selama latihan ia tidak fokus, ia malah mengingat kejadian di atas motor ketika mengantar Sasha ke sekolah.
"Nanti ku bilang abang ku loh !" adu Sasha ketika tahu jika Ken berniat membuat dirinya takut.
"Ye memang abang kamu siapa?" tanya Ken sambil terkekeh ketika Sasha memukul helm.
"Juanda 11 Ipa-5, lihat aja nanti kamu pasti babak belur." Ken terdiam sebentar ketika Sasha mengucap, kan nama Juanda terlebih lagi ada embel abang.
"Abang?"
"Iya abang aku, nanti abang aku akan lawan kamu. Jadi gak sabar !" seru Sasha.
"Kin awas !" teriak Ketsia namun terlambat bola basket tepat mengenai muka Ken.
"Kin lu gak papa?" tanya Ridho menghampiri Ken beserta teman-teman yang lain.
"Gak gue gak papa," ujar Ken sambil menghapus darah yang keluar dari hidung dengan tangan.
"Kin kamu ke Ketsia, yang lain beristirahat dan makan untuk mengisi perut !" ucap pelatih dan segera para pemain bubar dari lapangan menuju ke arah kantin.
"Lu kenapa bisa bengong sih?" tanya Ketsia di hadapan Ken sambil menaruh tisu di hidung Ken yang mengeluar, kan darah.
"Maaf tadi kurang fokus !" Ketsia menggelengkan kepala.
"Lain kali jangan begini lagi, apa lagi saat bertandingan !" Ken mengangguk dan pamit untuk membeli makan di kantin, sedangkan Ketsia harus ke pelatih.
...🍪🍧🍪...
Ramai banget, semoga aja bisa cepat ! Batin Ken berbaris di area nasi uduk.
Aura yang sedang membeli minum, menunduk kepala karena masih takut. Namun ia tersandung kaki Cindy dan membuat dirinya terhuyung ke depan. Untung segera di tangkap oleh Ken.
"Gak papa?" Aura menggeleng, namun air minum Aura membasahi baju basket putih Ken dan mencetak jelas perut Ken yang six pack.
Para gadis berteriak kegirangan, namun ada juga yang kesal karena Aura di selamat, kan oleh Ken yang di sangka Kin.
"Maaf Kin, aku gak sengaja !" ucap Aura menunduk.
"Tidak papa, lain kali hati-hati !" Setelah mengucapkan hal itu Ken berjalan keluar dan itu membuat Aura malah tersipu malu. Kejadian itu tidak sengaja di lihat Keano, dan Keano memalingkan wajah dan berdecih. Ia pergi dari kantin.
Sial ! Rencanaku membuat anak ini malu tidak berhasil ! Batin Cindy memakan bakso dengan kesal.
Apa Kin masih mencintai aku? Tanya Aura yang mulai senang karena ia bisa dekat lagi dengan Kin (Ken).
"Gara-gara kejadian tadi, nafsu makanku langsung hilang," gumam Ken pelan dan berjalan kembali ke lapangan untuk bertemu Ketsia, Rio dan Elang yang ia kenal.
...🍪🍧🍪...
Jam telah menujuk angka 5 sore, latihan basket pun di akhiri dan mereka di perboleh, kan pulang.
"Mau kemana dulu?" tanya Ketsia di parkiran sekolah.
"Biasa jemput ratu gue," jawab Ken "nanti siapa yang bawa pulang lu Ket?"
"Leonil !" Ken terkejut.
"Kapan balik tuh anak ?" Ketsia menggeleng.
"Entah yang jelas ia sudah lama di sini, bahkan ia juga sekolah di sini. Kelas gue lagi !" curhat Ketsia.
"Baiklah itu urusan lu sama dia, gue pergi ya. Bye best friend !" Ketsia melambaikan tangan dan membalas perkataan Ken.
"Hati-hati di jalan !"
Tidak lama kemudian muncul mobil lamborgini hitam yang berhenti tepat di depan Ketsia, tanpa berlama-lama segera Ketsia masuk ke mobil tersebut. Mobil lamborgini itu pun melesat pergi meninggalkan sekolah.
Ken juga telah sampai di sekolah, terlihat sekolah sudah sepi terlebih lagi tinggal Sasha yang tersisa dan itu membuat Ken merasa bersalah.
"Maaf ya sayang, kamu pasti lama menunggu !" ujar Ken memberi helm kepada Sasha dengan senyum merekah menaiki motor.
"Enggak kok, yang penting kamu menepati janji aku terima selama apa pun itu," ucap Sasha yang sudah duduk dan memberitahu Ken untuk segera pergi dan langsung di patuhi dengan Ken.
Ketika melintasi sekolah tidak sengaja Alice melihat Kin (Ken) sedang membonceng seorang perempuan yang ia tahu itu bukan dari sekolah lain.
"Dasar playboy ! Untung gue belum terbuai lebih jauh. Gue gak akan seperti para gadis yang mudah luluh dengan lu !" geram Alice dan berjalan pulang, Alice tadi kembali ke sdkolah untuk mengambil buku yang ketinggalan di meja untuk bahan belajar besok pagi.
Sasha tidak enak karena sedari tadi Ken tidak banyak berbicara seperti biasanya.
"Ken aku serius loh, aku benaran gak papa !" ucap Sasha di telinga Ken.
"Tapi tetap saja aku telah membuatmu menunggu waktu lama, aku memang payah !"
"Kamu jangan begitu dong, jangan kehilangan semangat ! Malu sama anak kecil !" canda Sasha.
"Maaf." Sasha menghela napas sebentar.
"Aku tidak peduli dengan waktu terbuang yang cukup banyak itu, asalkan kamu menepati janji maka aku tidak akan menuntut !"
"Sudah jangan sedih lagi ! Lebih baik kamu temani aku makan es krim dulu," segera Ken melajukan motor ke kedai es krim sesuai keinginan Sasha. Mereka berdua menikmati waktu berdua sambil melihat ke arah jalanan di sore hari.
Bersambung...