Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
21



Sinar matahari mulai kembali menyinari bumi, tepat di hari minggu keluarga Razel dan Dirga makan bersama di meja makan.


Kin bangun dari mimpi, ia mencium bau harum masakan dan ia mengikuti asal bau tersebut.


"Kin, kamu sudah bangun?" tanya Leana ketika melihat Kin dengan mata tertutup dan masih menggunakan boxer hitam baju kaos putih bercorak noda cat air.


"Ini anak sama aja kayak Dara !" gumam Leana melihat tingkah Dara yang turun dari sofa sambil mengucek mata menghampiri Kin.


"ABANG KIN ENDONG !" Kin langsung mengendong Dara yang masih menggunakan piyama tidur bergambar kelinci.


"Dara sayang cuci muka dulu nak," ucap Leana membantu Lara menyiapkan makanan.


"Kin ! Bangunkan papa, paman dan adikmu !" perintah Lara sambil memasukkan bumbu ke dalam wajan.


"Iya ma," ucap Kin malas dan menaiki tangga sambil membawa Dara yang tertidur di dalam gendongannya.


Tok tok tok,


"Papa, di suruh mama ke bawah buat sarapan," ucap Kin mengetuk pintu.


Tadi malam Kin, Ken, Dirga serta Razel main sampai larut malam. Tentu saja Dara ada, ia duduk di kaki Kin, namun ketika sudah tidur. Razel membawa ke kamar Lara untuk Dara tidur bersama dengan Leana.


"Iya," sahut papa dan segera Kin ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan membersihkan gigi.


"Abang Kin !" rengek Dara ketika giginya mau di sikat oleh Kin, setelah itu mereka turun ke bawah.


"Kenapa Dara?" tanya Kin dan sangat telaten menggosok gigi Dara.


"Nanti pergi ke taman ya," ajak Dara setelah kumur-kumur membersihkan sisa odol.


"Iya, nanti kita ke taman." Dara merentangkan tangan dan Kin menggendong Dara sambil menggosok gigi. Setelah selesai, Kin membawa Dara ke meja makan.


"Hari ini makannya nasi goreng aja ya," ucap Lara sambil menaruh nasi ke piring Dirga begitu juga dengan Leana menaruh nasi ke piring Razel.


"Dara maunya di suapin ama bang Kin !" ucap Dara duduk di pangkuan Kin.


"Ini aaa." Dara mengunyah biskuit dengan bantuan tangan Kin.


"Maaf ya Kin, kamu jadi kerepotan." Kin menggeleng kepala pelan menanggapi ucapan Leana.


"Tidak tan, lagi pula Kin juga senang kok dengan Dara," sahut Kin memakan nasi goreng setelah Dara bisa memegang biskuitnya.


"Mau agi." Kin memberi lagi biskuit kepada Dara.


"Setelah makan biskuit, tolong kasih Dara buah ya Kin !" ucap Razel dan Kin  mengangguk patuh.


"Abang Kin nanti datang ya ke acara ultah Dara," ucap Dara sambil mendongak melihat ke arah Kin.


"Tentu dong, abang pasti datang." Dara memekik gembira sambil loncat-loncat dan membuat heboh di rumah itu.


"Dara diem sayang, kasihan abang Kin," ucap Razel pelan sambil mengelus puncak rambut Dara.


"Nanti semua orang boleh datang kok, kalau bawa orang lain pun oleh uga," ucap Dara girang.


"Acaranya nanti setelah anak kls 12 UN, ya tinggal 2 bulan lagi. Nanti ke Villa milik Razel di Bali aja, kalo bawa pacar juga boleh. Seluruh tiket di tanggung kok sama Razel," ucap Leana dan membuat Lara senang.


"Kalo nanti aku beli apapun boleh gak?" tanya Lara melihat ke arah Razel.


"Gak-iya," ucap Leana dan Razel bersamaan.


"Ih kamu gimana sih ! Naura boleh Lara kok gak boleh?" tanya Leana bingung.


"Abang jahat ih, masa Lara gak boleh !" ucap Lara dengan sedih karena Razel masih posesif dengan Naura.


"Iya baiklah, tapi jangan banyak ya." Lara pun menjadi senang dan ia tisak sabar menunggu waktu itu tiba.


"Kak Lara, kita jalan-jalan yuk," ajak Leana.


"Ayu, aku juga sudah lama enggak shopping," sahut Lara dengan semangat.


"Kamu baru juga shopping sama Naura kemarin, mau shopping lagi?" Leana mengangguk.


"Ya ampun sayang, jangan pelit deh. Aku juga gak banyak kok belinya," ucap Leana dan Razel hanya berdehem.


"Kalau begitu kami mau pergi dulu ya." ucap Lara dan Leana setelah siap berdandan dan segera mereka keluar dan pergi menggunakan mobil milik Leana.


Ken pergi ke kamar untuk mandi dan mengerjakan pr, ia meninggalkan papa dan paman yang masih asyik menonton tv.


Tring...


Hp Ken berbunyi ketika ia sedang mengerjakan pr biologi.


"Halo Sasha ada apa?" tanya Ken.


"Iya baiklah, aku akan segera ke sana. Kamu tunggu dan jangan kemana-mana oke !" Kem segera menutup buku dan bergegas berganti baju.


"Lu mau kemana?" tanya Kin yang baru saja pulang dan hendak masuk ke kamar berbarengan dengan Ken yang baru saja keluar dari kamar.


"Mau ketemu pacar dulu," jawab Ken dan berlari ke bawah untuk bertemu dengan Sasha.


...🍪🍧🍪...


Ken telah sampai di rumah Sasha, para asisten mengatakan jika Sasha berada di taman belakang.


"Sasha," panggil Ken mendekati Sasha, Sasha yang merasa nama di panggil langsung menoleh ke belakang. Ketika ia tahu bahwa lelaki yang sedang berjalan mendekatinya adalah Ken, segera Sasha berlari dan memeluk Ken.


"Ken, hiks hiks," ucap Sasha sambil menangis di pelukan Ken.


"Sasha, tenang sayang. Ayo duduk dulu." Ken membawa Sasha duduk di bangku taman, Sasha masih memeluk Ken dan ia menangis.


"Sasha kamu kenapa sayang?" tanya Ken sambil menghapus air mata Sasha dengan tangan.


"Juanda Ken, aku gak bisa lihat kakakku di balik jeruji besi. Ken kumohon tolong bantu aku membebaskan Juanda," mohon Sasha sambil memegang tangan Ken.


"Sasha, begini. Maaf, tapi abang kamu itu juga salah Sasha. Ia hampir saja membuat nyawa orang melayang," ucap Ken pelan.


Tidak ! Juanda hampir saja membuat nyawa Kin melayang. Batin Ken.


"Aku tahu Ken, kakak aku salah. Dia memang salah, tapi kenapa ia harus mendekap selama hampir 15 tahun?" tanya Sasha dan membuat Ken bingung.


Bukannya kata Kin ia hanya di kurung selama 5 tahun? Batin Ken.


"Kak Jun memang salah, tapi aku ingin Juanda bebas. Tanpa kakak maka aku akan sendirian," ucap Sasha sedih.


"Ada aku sayang, kamu tidak akan merasa sendirian. Terlebih lagi ada papa kamu bukan?" tanya Ken.


"Papa selalu sibuk, ia tidak pernah mengkhawatirkan aku bahkan ia juga tidak peduli kalau Juanda masuk ke penjara !" emosi Sasha pun meluap, sejak kecil ia hanya di perhatikan oleh kakaknya. Papa sama sekali tidak peduli, papa hanya memberi uang uang dan uang. Tidak peduli kalau anaknya sakit, asalkan ia sudah memberi uang maka bagi papanya sudah cukup.


"Kumohon Ken, jika kamu tahu siapa Kin tolong bilang ke dia buat cabut berkasnya. Aku mohon, hanya kakak yang ku miliki di dunia ini." Sasha bahkan sambil memeluk kaki Ken memohon kepada Ken.


"Sasha, berdiri sayang. Jangan seperti ini ! Iya nanti aku akan coba bicara dengan Kin," ucap Ken sambil memeluk Sasha untuk menenangkan batinnya.


Semoga saja papa mau mendengar perkataanku. Batin Ken dengan senyuman kecil.


"Sekarang kamu makan ya, tadi kata asisten kamu belum makan dari kemarin." Sasha mengangguk pelan dan ia di bawa masuk ke dalam rumah.


Bersambung...