
...πͺπ§πͺ...
Suasana yang tadinya di hiasi oleh cahaya matahari telah berganti dengan keheningan malam, dengan langit yang di penuhi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip.
Hari sudah semakin larut dan udara malam pun sangatlah dingin, tetapi itu tidak membuat Kin berhenti membawa motornya ke sebuah jalanan yang telah di tunggu oleh teman-temannya.
Tetapi sayang sekali sepertinya Kin harus berhenti lantaran tempat itu sudah di kerumuni oleh para polisi, Kin pun membawa motornya pergi menjauh dari sana dan berhenti di sebuah klub untuk menenagkan diri sejenak.
"Berikan aku minuman terbaik di sini," ujar Kin kepada peracik minuman berjenis kelamin perempuan.
"Silakan tuan." Kin pun meraih minuman berwarna biru yang di berikan oleh sang peracik dan langsung menghabiskannya.
Keadaan klub benar-benar sangat bergairah lantaran seluruh orang di klub mabuk dan bercumbu dengan beberapa ****** lainnya.
Ekor mata Kin tidak sengaja melihat sosok mantannya yang sedang bercumbu dengan lelaki terpaut jauh dari usianya.
Wah, beruntung sekali aku menemukan penampakan ini. Dengan begini, wanita itu tidak bisa macam-macam denganku. Batin Kin dan memotret beberapa foto, kemudian dirinya kembali minum.
Beberapa gadis menghampirinya, namun Kin sangat tidak tertarik dengan yang bukan perawan lagi. Dia pun hanya minum saja di klub itu, dan ketika kepala sedikit berpusing. Ia pun segera keluar untuk pulang ke rumah.
Kin membawa motor dengan kecepatan sedang, namun motornya harus berhenti karena tiba-tiba ia merasa ada yang aneh dengan motornya.
Ini kenapa lagi? Batin Kin dan mengecek motornya, dan ia menemukan beberapa paku yang mengenai ban motornya. Baik dari belakang maupun depan.
"Kyaaa !" Kin melihat ke segala arah dan ia menemukan seorang gadis sedang di tarik oleh beberapa preman.
Tolong gak ya? Ngapain juga gue tolong, lagi pula bukan urusan gue. Batin Kin dan tidak peduli dengan teriakan dari gadis itu.
Ketika sedang asik mencabut paku dari ban motornya, Kin merasa ada sosok lelaki di belakang dirinya.
Kin pun langsung menendang dengan kaki ke arah belakang, ketika merasa ada yang ingin berniat mencelakai dirinya.
Dan benar saja rupanya itu adalah teman dari preman tadi, dan gadis yang berteriak itu juga merupakan anggotanya.
Huh untung saja gue ikuti kata hati gue, kalo enggak bisa habis gue malam ini. Batin Kin dan mulai menghajar para preman yang ber-5 itu termasuk gadis itu.
Splash..
Duk...
"Ahkk," jerit Kin ketika pisau di tusuk dari arah depan dan tertancap di perutnya dan juga sebuah pukulan melalui balok kayu yang di arahkan kepada kepala belakangnya.
"Ahh," jerit Kin ketika mencabut pisau dari perutnya, dan dia pun segera tidak sadarkan diri.
...πͺπ§πͺ...
"Kenapa aku lupa print sih tadi, untung saja tokonya belum tutup," gumam Alice sambil berjalan dan mengamati kantong plastik putih yang berisi kertas yang akan di kumpulkan besok pagi.
Tuk.
Tidak sengaja kaki Alice menendang sesuatu, ia pun melihat ke bawah dan mendapati seorang lelaki yang tertidur di atas aspal.
Ya ampun kasihan sekali lelaki ini, apa dia tidak punya rumah makanya tidur di jalan? Tanya Alice di dalam hati dan mulai menguncang tubuh lelaki itu.
"Kyaa, dia berdarah !" teriak Alice mendapati lelaki itu bersimbah darah di daerah perut dan sedikit berdarah di bagian kepala,
"Aku harus membawanya ke rumah sakit," ujar Alice sambil mengigit plastiknya sedangkan kedua tangan membantu lelaki itu untuk berdiri dan membawanya ke rumah sakit.
...πͺπ§πͺ...
"Kamu belum tidur?" tanya Dirga kepada istrinya Lara yang sedang melihat dari arah jendela kamar sedangkan dirinya sudah berada di atas tempat tidur.
"Aku mencemaskan Kin, seharusnya dia sudah pulang jam segini," jawab Lara dengan perasaan cemas menunggu kepulangan sang anak.
"Kamu seperti tidak tahu kelakuan Kin saja, dia memang suka begitu kan? Biarkan saja, lagi pula nanti dia akan pulang kok," ujar Dirga menguap dan bangun dari tempat tidurΒ menuju ke istrinya.
"Sudahlah dia pasti akan pulang, lebih baik sekarang kamu tidur. Kalo kamu sakit bagaimana?" tanya Dirga memeluk istrinya dari belakang dan menaruh dagu di pundak sang istri, dan ia pun mulai memejamkan matanya.
"Ihh kamu malah ajak aku tidur sih ! Kin belum pulang loh Ga. Aku takut kalo dia kenapa-kenapa," ketus Lara dengan tingkah laku suami lebih muda darinya ini.
"Emm, dia itu laki-laki Ra, bisa jaga diri kok," elak Dirga dan semakin rapat memeluk Lara.
"Tapi, kan tetap saja. Kalau terjadi sesuatu bagaimana? Perasaan aku dari tadi sudah tidak enak loh," ujar Lara dan hampir menangis.
"Shut up, lebih baik kita tidur. Nanti, aku suruh para penjaga untuk memberi tahu jika Kin sudah pulang," ucap Dirga dan memberikan sebuah ciuman di dahi istrinya dan menuntun Lara untuk tidur.
"Dia akan baik-baik saja, percayalah padaku," ujar Dirga memeluk tubuh Lara di atas tempat tidur.
Sekuat apa pun kamu berucap jika dia baik-baik saja. Namun, kenapa perasaanku selalu mengatakan akan terjadi sesuatu kepadanya. Batin Lara dan mulai memejamkan mata di dalam pelukan Dirga.
Bersambung...