
"Abang Kin. Antarkan Dara ke cafe sekarang !" teriak Dara memasuki kamar Kin. Terlihat Kin masih tertidur terbungkus selimut, akibat hujan-hujanan tadi malam. Badan Kin merasakan hal yang tidak enak.
"Dara jangan ganggu abang," ucap Kin merasa tidurnya diganggu dengan Dara yang terus menggoyangkan tubuhnya.
"Gak mau, sekarang abang. Dara maunya sekarang !" Dara tidak peduli dengan perkataan Kin, ia tetap ingin membeli minuman kesukaannya.
"Ayo abang !" jerit Dara menarik selimut.
"Hmm, jam berapa?"
"Sudah jam 10 lebih 10 menit. Ayo abang, nanti antrinya lama !" Kin bangun dari kasur dengan kesal karena harus menuruti keinginan dari adik kesayangannya.
Setelah mengganti pakaian, Dara dan Kin turun dari kamar.
"Loh Kin, bukannya kamu sakit?" tanya Tante Leana Mama dari Dara.
"Iya tan, tapi sudah mendingan kok," jawab Kin sambil tersenyum dan pamit untuk mengantar ke cafe.
"Dadah mama," ucap Dara sambil melambangkan tangan kiri mungilnya sedangkan tangan kanan menggenggam tangan Kin.
...🍧🍪🍧...
"Abang Kin, Dara mau Ultimate Mudslide Chocolate, terus Frozen Mudslide Chocolate, sama Boozy Frozen Hot Chocolate," ucap Dara ketika masuk kedalam cafe menyebutkan minuman yang ia pesan, dan semuanya rasa coklat. Tapi Kin kurang mendengar perkataan Dara, Kin fokus melihat seorang perempuan dan seorang laki-laki sedang duduk sambil menikmati hidangan diatas meja.
"Abang Kin dengar gak sih?" tanya Dara kesal melihat keatas sambil mengoyangkan tangan kiri Kin.
Kin berjongkok seraya menjawab, "Dara pesan apapun, abang Kin mau kesana sebentar." Kin menunjuk ke meja nomor 4.
"Apapun?" tanya Dara dengan mata berbinar dan Kin mengangguk sambil mengelus rambut Dara.
Segera Dara memesan sedangkan Kin menuju kearah meja dengan tatapan kesal dan dingin.
"Wah hebat ya, duduk makan berdua mesra-mesraan." Kedua orang yang sedang makan terkejut sambil melihat kearah Kin.
"Kamu siapa?" Kin terkejut melihat orang yang dia pikir Alice dan Keano rupanya orang lain.
"Maaf mbak, mas. Saya salah orang," ucap Kin malu sambil pergi dan menuju ke meja nomor 7.
"Haha, malu ya?" tanya Alice sambil menggoda Kin.
"Kamu ngapain berdua disini? Gak bilang aku lagi?" tanya Kin menahan malu dengan amarah.
"Jangan marah dulu Kin, gue bisa jelaskan," ucap Keano.
"Gue gak mau dengar dari mulut lo!" ketus Kin.
"Yaampun Kin kamu kayak cewek, musdah baper." Bukannya takut, Alice semakin menggoda Kin dan itu membuat kekasihnya semakin kesal.
"Terserah," ujar Kin meninggalkan Alice dan Keano menuju meja kasir untuk membayar pesanan Dara.
"Lice, gak apa itu?" tanya Keano menunjuk Kin melalui dagu.
"Tenang, nanti akan kujelaskan kepadanya," jawab Alice tersenyum tipis.
...🍧🍪🍧...
"Yeay, banyak beli makanan," pekik Dara girang berhasil membeli minuman 3 ukuran cup besar dan 3 potong kue coklat vanilla.
"Dara yakin habis semuanya?" tanya Kin malas sambil menyentir dan menahan kesal. Selain malu, ia juga kesal karena Dara menghabiskan uangnya sebanyak 10 persen.
Tring..
Kin melihat sekilas chat dari Alice, dan ia kembali fokus kearah depan.
Kin hanya menarik napas, sebesar apapun ia marah kepada Alice. Ia tetap menuruti keinginan Alice, untuk datang ke restoran nanti malam.
"Sruk..sruuuuk."
"Jangan begitu Dara, gak enak didengar," nasihat Kin mengelus kepala Dara melalui tangan kanan sedangkan tangan kiri fokus menyetir.
"Tapi enak," elak Dara membela diri dan melakukan hal serupa.
"Jika begitu lagi, abang Kin gak mau beli buat Dara lagi !" ancaman dari Kin sangat mujarab seketika Dara langsung menurutinya.
...🍧🍪🍧...
"Untuk apa kau mengundangku ?!"
Alice tersenyum sambil memandangi Kin dan Aura yang datang dan melayangkan protes kepada dirinya.
"Kalian duduk saja dulu," ucap Keano tapi dipandang sinis dengan Aura dan Kin.
"Kin," mohon Alice, Kin menghembuskan napas kasar dan duduk disamping Alice. Sedangkan Aura duduk disamping Keano.
"Begini, ada yang mau dijelaskan oleh Keano. Ini berhubungan dengan Aura."
"Walau tentang Aura, kenapa kamu juga menyuruhku.."
"Kin diam !" Kin pun membisu sambil melihat kearah Keano dengan tatapan membunuh.
"Jelaskan jangan berbelit, Aura gak suka." Aura melipat tangan didada sambil melihat Keano.
"Iya aku akui, aku telah merencanakan untuk membuat Kin dan Aura berpisah bersama Cindy. Namun, ketika Cindy hendak menabrakmu aku sama sekali tidak tahu." Kin cukup terkejut tapi Alice hanya terdiam dan menunggu perkataan Keano selanjutnya.
"Aku minta maaf Aura, aku salah," ucap Keano dengan tatapan yakin.
"Tidak !" elak Aura. "Karena kamu, aku hampir mati."
Keano sedih mendengar perkataan Aura.
"Aura, maafkan Keano. Kasihan dia," bujuk Alice tapi Aura tetap tidak mau berubah pikiran.
"Lewatkan yang telah berlalu, aku sudah memaafkan Keano," lanjut Kin.
Setelah beberapa menit, akhirnya Aura luluh juga.
"Baiklah, aku maafkan kamu," Keano pun bergembira namun terhenti mendengar perkataan Aura.
"Tapi, jika kamu lakukan lagi. Aku tidak akan mau memaafkanmu lagi," lanjut Aura dan Keano setuju.
Setelah makan, mereka pun bergegas keluar restoran dan melakukan double date. Ke toko buku, bermain wahana, nonton bioskop, tidak lupa dan wajib yaitu shopping.
"Hari yang cukup seru !" pekik Aura girang sambil menenteng beberapa tas belanja.
"Ya begitulah, Aura." Aura menoleh ke arah Alice.
"Tetaplah tersenyum." Aura mengangguk dan merangkul Alice, mereka berjalan duluan dan tidak peduli dengan pacar masing-masing yang tidak tahu kemana.