
Suara deru ombak yang memanjakan telinga, angin laut yang langsung menerpa tubuh mungil seorang gadis berambut panjang lurus berponi. Ia merentangkan tangan dan memejamkan mata merasakan sensasi yang sedang ia rasakan.
"Alice !" gadis itu berbalik melihat ke arah lelaki yang memanggil dirinya.
"Hihi, Kin !" teriak Alice menghampiri Kin dan memeluknya, Kin memakai baju kaos berwarna putih dengan celana selutut. Sedangkan Alice memakai baju dress selutut bunga-bunga dengan topi bundar yang ia kenakan tidak lupa dengan blazer lengan pendek.
"Aku merindukan mu," ucap Alice memeluk Kin dan menyalurkan rasa hangat kepada Kin dan begitu pula Kin.
Kin dan Alice saling menatap satu sama lain, mereka semakin dekat-dekat. Alice memanjamkan mata dan menunggu Kin. Hidung Kin dan Alice sudah bersentuh, Kin mengamati wajah Alice sambil mengelusnya sebentar sebelum ia mencium. Kin memejamkan mata dan memajukan bibir agar menyentuh bibir ranum Alice yang lembut.
Kringgg....
Kin terbangun dengan memeluk guling tidak lupa dengan bibir yang mencium bantal guling.
Cuma mimpi. Batin Kin, ia terbangung dan menendang bantal guling, terduduk sambil menguap sebelum bergerak ke kamar mandi.
"Loh, kok perasaan gue gak enak ya?" tanya Kin yang merasa tidak enak dengan celananya, ketika ia memegang ia merasa basah.
Anjir, mimpi basah gue. Batin Kin dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ke bawah untuk sarapan.
...🍪🍧🍪...
Srush, brak.
Alice membentangkan sprei, kemudian ia rapikan tempat tidur sebelum ia menyiapkan makanan. Pembantu yang Kin panggil masih bekerja di rumah Alice, walaupun Alice telah melarang tapi Kin tidak mau mendengar.
Setelah menyiapkan makanan, Alice membersihkan rumah. Dari mulai menyapu, mengepel membersihkan debu yang menempel di kaca hingga mencabut rumput liar di depan halaman rumah.
"Nona Alice, ada telepon dari tuan Kin." Alice menyudahi aktivitasnya, ia berajak mendekat ke bibi untuk menerima telepon dari Kin.
"Iya Kin, kenapa?" tanya Alice menerima telepon dengan tangan yang masih kotor dengan tanah.
"Nanti siang di kafe dekat sekolah?"
"Ngomong apa sih? Gak bisa di bicarakan di telepon aja gitu?"
"Oke deh, iya nanti kita ketemu."
"Bye." Alice mematikan hp dan menaruh di atas meja dan kembali melanjutkan aktivitas yang tadi sempat tertunda.
Setelah 15 menit, ia pun masuk untuk membersihkan diri. Karena tidak lama lagi, ia akan bertemu dengan Kin.
"Ma, bi, aku pergi dulu ya," pamit Alice dan melangkah keluar untuk berjalan menuju ke kafe.
Cuaca tidak terlalu cerah, bahkan bisa di bilang mendung. Alice memakai baju t-shirt berwarna biru dengan celana senada tidak lupa dengan sebuah topi, rambutnya yang panjang ia biarkan tergerai indah oh ya jangan lupa dengan sepatu kets warna biru pastel pemberian dari Aura 1 tahun yang lalu.
Kring...
"Selamat datang." Alice tersenyum kemudian jalan ke depan mencari Kin.
"Maaf ya telat," ucap Alice dan segera duduk di depan Kin yang sudah memesan minuman.
"Hmm, bagaimana? Apa tubuhnya masih sakit?" Alice menggeleng.
"Tubuhku sudah lebih baik, Kenapa ajak ketemuan?"
"Begini Alice, apa kamu mau kalau ibumu operasi penggakatan tumor otak yang ada di kepalanya?" tanya Kin dengan serius.
"Bagaimana Kamu tahu kalo ibu ada tumor ?"
"Itu tidak penting, kamu setuju atau tidak?"
Alice terdiam sambil mengaduk minuman dengan lama, "Sebenarnya aku mau sih, tapi biayanya pasti banyak sekali. Gajiku mana cukup untuk memenuhi semua biaya operasi, dulu pernah sih aku daftar ke program keluarga sehat namun tidak ku lanjutkan lagi."
"Urusan biaya tidak usah di pikirkan, lagipula biaya itu sudah di tanggung."
"Jangan bilang kamu membiayai semuanya ! Aku tidak mau banyak berhutang denganmu Kin, terlebih lagi aku ini cuma pacar pura-puramu saja," ucap Alice menolak tawaran dari Kin.
"Alice, kamu itu bukan pacar pura-puraku." Kin menggenggam tangan Alice dengan lembut, ia juga menatap mata coklat Alice. Ia benar-benar serius.
"Kumohon, jadilah pacarku. Terimalah aku di hidupmu Alice," ucap Kin dengan suara lembut tapi tegas.
"Tidak bisa !" tolak Alice.
"Kenapa?" tanya Kin kecewa.
"Kamu playboy, aku tidak mau jadi mainanmu. Aku bukan wanita murahan !" jawab Alice dengan tegar tapi terlihat tubuhnya gemetar.
"Kumohon Alice, percaya padaku. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu kepadamu. Aku tulus mencintaimu, jadi aku mohon tolong terima aku di hidupmu," ujar Kin suara rendah tapi ia terus menggenggam tangan Alice dan memandangnya lekat.
"A..ku, tetap tidak bisa," ujar Alice lemah.
"Apa kau yakin? Kamu tidak menerimaku pasti karena suatu hal," ujar Kin dan melepaskan tangan Alice dan menghela napas pelan sambil memejamkan mata.
Mereka berdua terdiam beberapa saat, hingga Kin membuka pembicaraan.
"Baiklah, tidak masalah kita tetap seperti ini saja. Nanti akan ku kabari kapan operasi ibumu, kamu tidak perlu sungkan, aku ikhlas." ucap Kin kemudian ia berdiri sambil memasukkan hp ke dalam celana jins yang ia kenakan.
"Kalau begitu aku duluan, bye." Kin pergi sambil tersenyum dan pergi dari kafe.
Apa aku terlalu berlebihan ya? Padahalkan Kin sudah banyak membantuku, batin Alice merasa bersalah.
Alice pun berniat pergi dari kafe tapi ia malah di tahan oleh kasir ketika ia berjalan ke pintu.
"Mbak, bayar dulu baru pergi."
"Loh bukannya udah di bayar sama cowok yang tadi keluar?"
"Katanya mbak yang bayar."
Dasar Kin ! Batin Alice kesal dan membayar tagihan makanan dan minuman sebelum meninggalkan kafe.
"Lain kali aku tidak mau di tinggal," gumam Alice berjalan pulang sambil menendang batu untuk menghilangkan rasa kesalnya.
...🍪🍧🍪...
Hari pun telah berganti, Alice pun telah bersiap pergi. Hari ini ia akan berbelanja tidak lupa ia akan mengajak Aura agar dirinya tidak sendiri. Alice memakai baju putih lengan panjang tidak lupa celana jins panjang dan memakai sepatu kets warna biru.
Ting tong.
Bunyi bel rumah Aura berdering, tidak berapa lama pintu terbuka dan mempersilakan Alice untuk masuk.
"Duduk dimana pun kamu suka Alice, tante mau panggil kan Aura dulu." Alice mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
"Apa Aura mau bertemu denganku?" Tanya Alice pelan sambil melihat keadaan rumah Aura.
"Loh Alice tumben, ada apa ?" tanya Aura turun masih menggunakan baju tidur dan sesekali ia menguap.
"Hai Aura, enggak aku cuma mau mengajak kamu jalan-jalan saja," jawab Alice dambil tersenyum.
"Oh oke, tunggu aku mandi dulu," ucap Aura dan kembali ke atas meninggalkan Alice sendiri di ruang tamu.
...🍪🍧🍪...
Mereka berdua berjalan-jalan memasuki beberapa toko di pusat pembelanjaan. Walau sebenarnya Alice tidak membeli apapun, berbeda dengan Aura yang belanja apapun.
"Aura, kita makan yuk. Lagipula ini sudah jam 2 sore loh," ucap Alice yang telah lelah berjalan dan membawa beberapa kantong belanjaan Aura.
"Oh ya? Baiklah kita makan di sana saja," tunjuk Aura ke arah restoran makanan cepat saji.
"Makasih ya Alice sudah mengajakku makan."
Apa aku minta pendapat Aura ya? Batin Alice.
"Aura, boleh aku minta pendapatmu gak?" tanya Alice.
"Pendapat tentang apa?"
"Misalnya nih, kamu punya seorang lelaki yang selalu membantumu. Tapi, ia punya kenagan buruk di masa lalu, menurutmu apa yang harus aku lakukan untuk membalas budinya?"
"Ya tentu dengan menerima dia dengan tulus di dalam hidupmu, jika ia menyatakan perasaan suka kepadamu," jawab Aura sambil memakan makanannya.
"Tapi kalau kamu juga punya perasaan kepadanya, jangan terlalu munafik dengan perasaan Alice aku tahu kok kamu pasti memikirkanku kan?" Alice menjadi bingung.
"Maksud kamu apa Aura?"
Aura berhenti makan dan ia mulai berbicara ketika mulutnya sudah selesai mengunyah, "Kamu terlalu memikirkan orang lain, apa kamu tidak memikirkan perasaan Kin?"
"Ia terlalu banyak berjuang, tapi kenapa kamu malah membalasnya dengan rasa kecewa? Aku tahu Alice, kamu menyukai Kin aku pun juga begitu. Tapi aku tidak mau menjadi benalu di hubunganmu Alice. Terimalah Kin, atau kamu akan merasa menyesal karena menyiakan orang seperti Kin, dia lelaki yang baik Alice. Jangan memandang Kin hanya karena ia seorang playboy, bukankah ia tidak menggoda cewek demi menjaga perasaanmu?" Alice hanya bisa terdiam dan berpikir di dalam hati.
"Lebih baik kita pulang, aku juga sudah cape jalan-jalan," ajak Aura dan mereka pun pulang ke rumah.