Sacrifice {TAMAT}

Sacrifice {TAMAT}
17



"Jun, gimana nih?" tanya Rafael kepada Juanda yang biasa saja.


"Tenanglah tidak usah tegang begitu, lagi pula Kin masih sakit jadi pertahanan sayap kanan mereka lumpuh. Kita akan memenangkan pertandingan ini." Juanda duduk sambil mengikat tali sepatu di ruang ganti.


"Bagaimana jika Kin sudah sembuh?" tanya Rafael, "kita akan kalah lagi !"


Juanda tertawa kecil, berdiri dan menepuk pundak Rafael agar ia mendekat ke arahnya.


"Tidak usah panik begitu ! Kalo pun benar Kin sudah sembuh, aku sudah menyiapkan suatu yang menarik untuknya !" Rafael mengerutkan dahi.


"Maksudnya apa?" tanya Rafael.


"Kita akan melakukan Rencana B yang telah ku bicara, kan tadi malam." Rafael membulatkan mata sedangkan teman-teman yang lain ikut tertawa bahkan mereka sudah tidak sabar menantikannya.


"Apa kau gila ? Bagaimana jika ketahuan?" tanya Rafael.


"Tenanglah Raf, rencana ini sudah di susun dengan baik jadi akan sangat sulit untuk mencari bukti !" ucap Raja, "lu jangan sampai buka mulut !"


"Ayo gaes, kita harus keluar untuk menyambut tim para pecundang itu," ucap Juanda dan tertawa di ikuti yang lain menuju ke gerbang untuk menyambut tim Ken.


Mobil SMA Pelita Harapan Cikarang masuk ke daerah SMA Nusa Bangsa, ketika Ken menginjak kaki ia merasakan hal yang aneh. Ia sangat takut bahkan ia hampir naik lagi ke bus kalau bukan di tarik oleh Ketsia.


"Lu apa-apaan sih ! Kenapa naik ke mobil lagi?" tanya Ketsia menjauh dari kerumunan memarahi Ken.


"Gak tahu Ket, gue ngerasa akan ada suatu yang buruk bakal terjadi." Ketsia berdecih dan berdecak pinggang.


"Ini sekolah mu ! Sudah ayo masuk, kamu itu sudah di tunggu !" ujar Ketsia mendorong Ken untuk masuk mengikuti yang lain.


Sekolah Nusa Bangsa menyambut rombongan Pelita Harapan Cikarang dengan antusias begitu pula dengan tim yang akan bertanding.


"Hai Rio, Elang. Lama tidak bertemu," ucap Juanda basa-basi.


"Lu lihat aja, lu gak bakal menang seperti tahun lalu !" ancam Elang namun Juanda tertawa pelan.


"Uh aku takut, tapi kenapa aku tidak melihat kapten kalian. Kemana dia?" Elang mengepal tangan dan segera di tarik oleh Rio.


"Sabar lang," ucap Rio.


"Lu bakal tamat hari ini !" ujar Juanda dan berjalan mundur namun ia segera berbalik ketika banyak para suporter menyebut, kan nama Kin Dhananjaya.


"Kin ! Kamu pasti menang !"


"Kin Dhananjaya, kami Nusa Bangsa suka sama kamu. Love you Kin !"


"Kin jangan mau kalah !"


Ken melangkah masuk bersama dengan Ketsia, Juanda terus melihat dan ia sedikit terkejut namun itu hanya sebentar. Juanda melangkah mendekati Ken, sambil menepuk pundak kiri.


"Gue pikir lu kemana bro, gak sabar gue !" setelah mengucapkan hal itu ia pergi ke arah teman-temannya.


"Kin lu baik-baik saja, kan?" tanya Ridho dan Ken mengangguk pelan.


"Ayo kita segera pemanasan, pertandingan akan di mulai 15 menit lagi !" ucap Ketsia dan mereka mulai melakukan pemanasan di tempat tim sekolah Pelita Harapan Cikarang.


"Apa gue bilang Jun? Noh lihat dia ada di sini !" ucap Rafael dan Juanda terus melihat ke arah Ken.


Dia tidak mungkin Kin, seharusnya ia sudah mati ketika balapan itu ! Batin Juanda.


"Tapi tidak papa, ini akan menjadi pertunjukan yang menarik !" gumam Juanda pelan sambil tersenyum licik.


"Selamat pagi para penonton, selamat datang di pertandingan basket persahabatan antar sekolah SMA Pelita Harapan Cikarang dan SMA Nusa Bangsa !" ucap MC lelaki SMA Nusa Bangsa membuka acara dengan penuh semangat.


"Yeay ! Jadi gak sabar aku melihat pertandingan ini, kira-kira siapa yang bakal menang nih?" tanya MC cewek ke arah para penonton.


"SMA Pelita Harapan Cikarang !"


"SMA Nusa Bangsa, lah yang menang !"


"Tidak akan di biarkan SMA Pelita Harapan Cikarang menang lagi !"


"Wow suasana sudah mulai gaduh ya, oke tinggal beberapa menit lagi pertandingan persahabatan yang di tunggu-tunggu ini akan di mulai !" seru ke dua MC dengan kompak dan membuat suasana semakin ramai.


Penontonnya banyak banget, batin Alice melihat ke arah penonton, ia melihat Aura yang melihatnya juga namun segera Aura langsung memalingkan wajah bahkan ia berbicara dengan Cindy dan mereka tertawa.


"Apa dia masih marah ya?" tanya Alice sedih.


"Alice kamu nanti harus membantuku menolong tim kalau ada yang cedera !" ucap Ketsia mendekat, kan diri agar Alice bisa mendengarnya.


"Iya baiklah Ketsia !" Ketsia memberi jempol dan berkumpul ke arah para tim, ia juga mengajak anggota pmr untuk ikut melakukan doa dan juga sebuah semangat.


"Marilah kita berdoa agar di beri kemudahan, berdoa di mulai. Selesai !" Semua tim menaruh tangan di depan dan menumpuk dengan telapak tangan yang lain.


"SMA Pelita Harapan Cikarang...MENANG ! MENANG MENANG !" teriak para Tim Elang putih.


"Jangan lupa ingat posisi masing-masing !" teriak Ketsia ketika Tim Elang Putih mulai masuk ke dalam lapangan, begitu pula dengan Tim Lion.


Kenapa harus Lion? Bagiku mereka pantas di panggil dengan Tim Musang ! Batin Ken bersalaman dengan Tim Lion terlebih dahulu sebelum permainan di mulai.


Para penonton pun sudah mulai tidak sabar menunggu pertandingan yang di tunggu ini.


"Kalian berdua, majulah !" perintah wasit kepada Ken dan Juanda agar mendekat untuk mengambil bola.


"Lebih baik kau segera mundur, dari pada nanti menyesal !" peringatan dari Juanda hanya di anggap angin lalu.


Bola oranye itu pun di lambung, kan ke atas. Dengan mudah Ken mengambil dan mengoper ke teman yang berada di posisi dekat ring, dan mereka mendapat satu poin.


"Wow ! SMA Pelita Harapan Cikarang sudah mendapat poin dengan cukup cepat. Ayo SMA Nusa Bangsa jangan mau kalah !" seru MC cowok.


"JUANKEN, JUANKEN, JUANKEN SEMANGAT !" teriak Sasha di kursi penonton dan itu membuat orang di sekitarnya bingung, karena tidak ada pemain yang di sebutkan oleh Sasha.


Semangat Ken, abang juga jangan kalah ! Batin Sasha sambil tersenyum.


"Ayo Kin kamu pasti menang !" teriak Cindy dan Aura bersamaan memberi semangat kepada Ken yang menyamar menjadi Kin.


"Kamu sedang menggambar apa Ketsia?" tanya Alice bingung melihat Ketsia menggambar pola-pola.


"Ini posisi buat babak ke 2 !" jawab Ketsia.


"Apa? Aku gak dengar yang kamu ucap, kan !" seru Alice karena para penonton sangat berisik.


Priit !


"Yeay ! Tim Elang Putih !" pekik Aura dan Cindy dengan girang berbeda dengan para Tim Lion yang kecewa melihat sekolahnya tertinggal poin dari Tim Elang Putih.


"Wow ! Tim Elang Putih memenangkan babak pertama ! Ayo Tim Lion, jangan mau kalah !" ucap MC cewek memberi semangat.


"Ada waktu sekitar 15 menit sebelum babak ke-2 di mulai, kita akan melihat ketegangan apa lagi yang akan tercipta di babak ke-2 nanti ?!"


Para masing-masing tim kembali ke basecamp untuk beristirahat sebelum kembali bertanding.


"Kamu bagus Kin, jangan sampai membuat celah !" ucap Ketsia dan mulai memijit pundak Ken, namun Leonil melarang dan menyuruh Alice.


"Kok aku ?" tanya Alice tidak terima.


"Lakukan saja, jangan banyak membantah !" bentak Leonil dan menarik Ketsia agar menjauh dari Ken.


Uh males banget, batin Alice dan mulai memijit pundak Ken.


Ken melihat ke arah samping, ia mendapati Sasha sedang memijit Juanda dengan penuh perhatian. Ia juga sesekali membantu mengelap keringat Juanda.


"Seandainya aku yang berada di posisi itu !" Alice melihat ke arah yang di lihat Ken.


Dasar Playboy, sudah syukur gue bantu juga ! Batin Alice kesal dan memijit Ken dengan asal yang membuat Ken menjadi sakit.


"Sudah cukup ! Bukan enak malah tambah sakit gue !" ketus Ken dan berpindah duduk ke tempat lain.


"Dih, sudah bagus gue bantu bukan berterima kasih lagi," gumam pelan Alice.


"Terima kasih !" teriak Ken malas membalas gumam Alice.


Kemana sikapnya yang dulu baik, kenapa dia malah terkesan marah padaku. Apa dia membenciku? Batin Alice sedih.


Alice pun tersadar dari lamunan segera ia menggelengkan kepala sambil memukul pipi beberapa kali.


Dasar Alice ! Aku yang minta suruh dia ngejauh, kenapa sekarang jadi aku yang pingin dia balik lagi kayak yang dulu?!


"Ih lihat deh, enak banget Alice bisa memijat Kin. Sebel deh !" ketus Cindy dan Aura membalas dengan sebuah senyuman kecil.


Aku kangen Alice, batin Aura sedih melihat Alice sahabat yang ia rindu, kan.


"Iya, kan Aura?" Aura hanya mengangguk tanpa tahu apa yang di maksud.


Awas aja kalau tuh anak masih sering deket sama Kin, habis dia! Batin Cindy sambil menghentak, kan kaki.


"Bagaimana ini Jun? Kita bakal kalah kalau seperti ini," ujar Rafael.


"Tenang Rafael, Rencana B akan kita pakai. Lagi pula tadi baru pemanasan saja, dan babak ini adalah permainan yang sesungguhnya !" Rafael tampak bingung dan ia tidak menanggapi lagi.


"Rencana B itu tetang apa bang?" tanya Sasha yang memijit pundak Juanda.


"Kamu lihat aja nanti, pokoknya peetandingan berikutnya akan sangat menarik." Sasha hanya mengangguk pelan tanpa tahu apa yang di maksud Juanda.


"Jun?" Juanda menoleh ke kiri dan mendapati Raja dan ia mengangguk.


Ini akan menjadi pertandingan yang akan sangat menajubkan ! Batin Juanda sambil tersenyum penuh arti dan ia kembali minum.


...🍪🍧🍪...


Krek. Klik.


"Kin mama bawa buah seger buat kamu !" seru mama namun ia segera syok karena tidak mendapati Kin di ranjang.


Segera ia memanggil para dokter dan suster, Mama Lara pun mulai takut. Ia segera menelepon suaminya.


"Iya ada apa sayang?"


"Kamu segera ke sini Dir, Kin tidak ada di ranjang !" isak Mama Lara.


"Baiklah aku ke sana segera!" telepon pun di putus, kan.


Mama Lara pun mulai takut, sampai ia menggigit kuku jari.


Kamu kemana Kin? Kenapa kamu menghilang? Batin Mama Lara bertanya-tanya kemana, kah anaknya pergi.


Ia pun segera meminta untuk melihat kamera pengawas di kamar milik Kin, namun sayang kamera tersebut rusak dari 3 hari yang lalu.


"Sayang bagaimana ? Kin sudah di temukan?" Mama Lara menggeleng dan memeluk Papa Dirga yang baru saja datang.


"Aku takut Dirga !" Dirga menenangkan Lara dengan cara mengusap, kan punggung Lara.


Apa jangan-jangan?


Bersambung...