
"Alice, kamu yakin sudah enggak kenapa-kenapa?" tanya Aura dan Alice menggeleng dan tersenyum.
"Tidak, ini hanya luka kecil kok." Aura hanya tersenyum kecil.
Selalu saja, kamu selalu tidak peduli dengan kesehatanmu ! Batin Aura mencemaskan Alice.
"Ini sudah sore, bagaimana kalo kita menikmati sunset?" Alice dan Aura mengangguk.
"Tentu Ketsia, ayo lagi pula aku belum pernah melihat matahari tenggelam secara langsung !" ajak Aura dengan semangat.
"Tapi Alice nanti kamu duduk saja jangan ke pantai," cegah Aura.
"Aku cuma sakit tangan doang, tenanglah Aura aku akan baik-baik saja," ujar Alice menepuk pundak Aura dan mereka bertiga pergi ke pantai.
Semoga saja hubungan kami akan terus membaik, batin Alice.
...🍪🍧🍪...
"Kin, bukannya tadi di kamar?" tanya Alice mendapati Kin yang duduk di atas gubuk mengarah ke pantai.
"Pacar aku di luar, masa aku di dalam. Kalo kamu main di belakang aku bagaimana?" Alice dengan geram mencubit perut kotak milik Kin.
"Sakit sayang, sini duduk." Alice duduk di samping Kin, Alice melihat ke arah kondisi kaki Kin yang masih di perban, di dekat tiang terdapat tongkat.
"Kamu pakai tongkat?" Kin melihat ke arah Alice dan kemudian ke belakang dan ia mengangguk.
"Ya begitulah, tapi juga tadi di bantu Ken. Terkadang dia bisa diandalkan !" puji Kin melihat ke arah teman-teman yang duduk di atas pasir dekat dengan air melihat pemandangan yang tentu sangat jarang terlihat di kota.
"Bagaimana hubungan dengan Aura? Sudah baik kan?" Alice menggeleng.
"Belum, tapi kami akan baik kok. Aura sudah mulai berbicara denganku terlebih lagi tadi dia mengkhawatirkan ku !" ucap Alice dengan semangat dan itu membuat Kin tersenyum.
Kin mengelus puncak rambut Alice, " Teruslah tersenyum, terkadang aku turut sedih ketika matahariku memperlihatkan sinar yang redup."
"Aduh !" pekik Alice sambil mengucek mata karena debu pasir masuk ke dalam matanya.
"Jangan di kucek ! Sini biar aku tiup," Kin mendekat ke arah Alice dan membantu untuk mengurangi rasa perih.
"Wah gak nyangka gue ! Kin gercep juga," ujar Rio melihat ke arah Kin dengan artian Alice dan Kin sedang berciuman.
"Namanya juga masa muda, biarkan aja mereka menikmati momen berdua !" sahut Elang melihat ke belakang.
"Abang gue kurang ajar ! Nyuri start dia !" gumam Ken tidak terima karena ia kalah cepat dengan Kin.
"Mereka benar-benar tidak tahu malu, bukan begitu Aura?" tanya Keano tapi Aura tetap diam dan memilih untuk melihat ke arah pantai sambil bersender di pundak Keano.
Padahal Kin bukan pacarku, tapi kenapa aku masih tidak rela jika ada di sampingnya ? Batin Aura menghela napas menahan air mata agar tidak jatuh.
"Bagaimana? Sudah merasa baik?" tanya Kin masih memegang ke dua pipi Alice dengan tangannya.
"Iya, makasih." Kin tersenyum dan mencium dahi Alice dan itu membuat Alice terdiam.
"Cie, Cie. Yang nikah siape yang honeymoon siape?!" goda Elang dan itu membuat Kin melihat ke arahnya.
"Enak aja lu honeymoon, gue lagi merasakan momen bersama dengan calon istri di masa depan !" ucap Kin merangkul Alice.
"Sayang kamu mau begitu?" tanya Leonil dan Ketsia menggeleng.
"Biarkan ia mendapat dosa, kita mah halal lakukan hal seperti itu malah dapat pahala."
"Anjay sepupu gue, kapan tobatnya lu?" tanya Ken terpukau dengan perkataan Ketsia.
"Gue mah anak baik-baik, bukan kayak lu berdua !" ujar Ketsia sambil menunjuk ke Kin dan Ken.
"Sudahlah, kita di sini mau melihat sunset, kenapa malah ribut?" tanya Sasha agar masalah cepat selesai.
"Hei lihat bukankah itu paus?" tanya pacar Rio menunjuk ke arah paus yang keluar sambil mengeluarkan air dan itu membuat semuanya menjadi sangat terpukau.
"Ini liburan terbaik !" ujar Kin dengan senang sambil mencium pipi Alice sekali dan kembali melihat ke arah pantai menikmati hari senja bersama dengan teman-teman.
...🍪🍧🍪...
"Kenapa bisa kayak gini sih Nil?" tanya Kin.
"Mana gue tahu, mungkin lagi ada perbaikkan," jawab Leonil santai sambil duduk di lantai bersama dengan Ketsia serta yang lain.
Setelah menyaksikan matahari terbenam, mereka kembali ke Villa. Setelah solat dan makan, mereka melanjutkan dengan menonton film horor, dan film yang lain. Di pertengahan film tiba-tiba lampu menjadi padam dan membuat semua orang menjadi takut dan memeluk kekasih masing-masing.
"Sudah bersyukur saja kita masih ada lilin untuk menyinari malam hari ini !" ucap Ketsia dan menarik tangan Kin untuk duduk di bawah bersama yang lain.
"Dari hari kemarin kita sial mulu, mau main di pantai hujan. Tadi ingin melampiaskan kekesalan eh malah Kin sama Alice kena gigitan hiu. Nah sekarang habis lihat sunset malah mati lampu," ujar Rio.
"Setiap kebahagiaan ada kepahitan," sahut Alice sambil tersenyum.
"Iya gue juga tahu, tapi semoga aja hari terakhir di sini jadi momen yang bahagia," elak Rio.
"Kalian cewek gak mau tidur duluan?" tanya Kin.
"Masih jam 7, belum ngantuk !" jawab Aura.
"Buset dah bosen banget, ngapain nih kita ?" tanya Ken mulai menguap menahan rasa bosan.
"Kin, bisa nyanyikan? Gimana kalo lu nyanyi aja. Lumayanlah ada konser kecil-kecilan," ucap Ketsia.
"Daripada nyanyi, gimana kalo kita melakukan jurit malam?" semua krang melihat ke arah Elang.
"Bukannya harus jam 12 ? Ini masih jam 7," ucap Sasha.
"Tapi gue setuju sih apa yang di bilang Elang, gue juga lupa kali mau mengadakan ini. Niatnya sih kemarin tapi karena hujan gak jadi," lanjut Leonil.
"Memangnya ini belum selesai di perbaiki?" tanya Ketsia.
"Ya sudah main jurit aja, tapi ada hadiahnya gak?" tanya Ken.
"Tentu, gue yakin lu pasti akan senang. Hadiahnya cukup menarik," jawab Leonil.
"Persyaratannya bagaimana?" tanya Elang.
"Cari benda yang tersimpan di hutan, tapi berhati-hati karena akan ada jebakan. Satu tim ada 2 orang tentu bersama dengan pasangan yang lain, bagaimana? Tertarik?" tanya Leonil dan terlihat jelas di muka semuanya sangat menantang.
"Boleh, gue ikut sama Alice !" ujar Kin dengan semangat, Alice melihat ke arah Kin dengan terkejut.
"Gue juga sama Sasha !"
"Gue juga sama Aura !"
"Gue juga !"
"Gak !" ujar Alice, Aura dan Sasha menolak ajakan dari pasangan mereka.
"Kenapa gak mau?" tanya Rio.
"Takut," jawab mereka bertiga.
Para lelaki menggeleng, terlebih Kin karena ia tidak tahu jika Alice juga memiliki rasa takut padahal tadi ketika melawan hiu Alice terlihat biasa saja.
"Tenanglah, kalian akan di temani sama pelindung kalian. Jadi, tidak usah khawatir," ucap Ketsia namun mereka masih saja takut.
"Tenang Sa, aku akan melindungimu !" ujar Ken dengan membusungkan dada ke depan.
"Dari pada nunggu lebih lama, lebih baik kita segera pergi !" ujar Leonil dan memberikan senter dan juga alarm jika mereka tidak kuat menahan rasa takut dan menyerah.
...🍪🍧🍪...
"Kin, jangan jauh-jauh !" Kin terkekeh, Alice memeluk dari belakang dan berjalan secara perlahan-lahan.
"Bagaimana kalo kita bisa jalan, jika kamu memelukku terus menerus?" tanya Kin berniat melonggarkan pelukan Alice tapi malah Alice semakin memeluk dengan erat hingga Kin bisa merasakan sensasi dari 2 gunung Alice.
"Gede," gumam Kin tapi Alice tidak menyadarinya.
"Kin, aku takut !" ucap Alice semakin memeluk Kin karena ia merasa hawa di hutan sudah mulai merasa aneh.
"Tenanglah, hantu itu cuma tipuan saja. Tidak perlu ada yang di takutkan." Kin membawa Alice ke depan tubuh, tapi Alice langsung bersembunyi di dada Kin. Ketika mendapati sosok menyeramkan di ujung jalan.
"Kin, aku mau pulang !" rengek Alice memeluk Kin sambil menangis.
"Masa cuma hantu bohongan kamu takut? Tadi siapa yang cukup berani lawan hiu?" tanya Kin.
Haduh, batin Kin merasa kakinya mulai ngilu karena terlalu banyak berdiri dan berjalan.
"Kin pulang, AKU MAU PULANG !" rengek Alice karena ia merasa rambutnya di belai oleh tangan yang dingin.
"Iya baiklah, kita ahk pulang !" ujar Kin menekan tombol, tiba-tiba hantu di depan menghilang dan berganti sinar dan beberapa penjaga yang membantu Alice dan Kin keluar dari hutan.
...🍪🍧🍪...
"Gue pikir lu bertahan," ucap Rio melihat kedatangan Alice dan Kin.
"Siapa yang akan jadi juara?" tanya pacar sewaan Rio.
Leonil dan Ketsia juga keluar dari hutan dan di bantu oleh para pengawal.
"Semuanya menyerah?" tanya Leonil.
"Sepertinya aku tahu siapa yang menang," jawab Keano dan tidak berapa lama keluar Ken dari hutan bersama Sasha dengan wajah ceria.
"Yeay, gue menang !" teriak Ken sambil mengangkat sebuah peti emas yang sangat cantik.
"Kira-kira apa ya isinya?" tanya Aura yang penasaran hendak membuka peti, Ken langsung menepisnya.
"Et, ini tuh buat Sasha. Jadi, Sasha doang yang berhak untuk membukanya !" ucap Ken dan berjalan mendekati Sasha dan menyuruhnya untuk membuka peti emas tersebut.
"Yailah, cuma ngintip doang pelit banget !" cibir Aura dan mendekap tangan di dada dan Keano mengusap bahu Aura.
"Sasha sayangku manis dan segala hartaku." semua orang yang mendengar tutur kata Ken membuat perut menjadi sakit.
"Lebay lu !" ejek Kin.
"Diam bang, gue lagi coba buat romantis nih !" Sasha menahan tawa dengan wajah mulai memerah.
"Sayang, dengan segala kehormatan." Ken bersimpuh di tanah dan mengangkat peti, "silakan buka sayang."
Sasha membuka peti dan ia cukup terkejut mendapati sebuah kalung emas putih dengan batu permata biru menghias kalung tersebut.
"Ini sangat cantik," ucap Sasha mengangkat kalung tersebut.
"Anjir gila ! Permata?" tanya Elang tercengang.
"Yah, harusnya tadi kita terus mencari peti itu," ucap Aura kecewa karena terlalu takut ia langsung menyerah.
"Sini, biar aku pakai kan," ucap Ken dan memakaikan kalung di leher Sasha.
"Cantik," puji Ken.
"Selamat ya Sasha, Ken. Kalian pemenangnya," ucap Alice memberi selamat begitu juga yang lain.
"Sudah jam 11, kalian mau kembali ke Villa atau makan-makan dulu?" tanya Leonil.
"Lebih baik langsung tidur saja, kalo makan malam takut gendut," jawab pacar sewaan Elang.
Mereka pun kembali ke Villa untuk beristirahat, agar besok bisa kembali berlibur.