ReDiaz

ReDiaz
Gombal



Hari ini sehabis pulang sekolah gue belajar bareng Rere di rumahnya. Salahnya Mia gak pernah ikutan kita belajar bareng. Dia telah masukkan ke les piano dan olah vokal oleh Bundanya. Menurut curhatan Mia, cita-cita Bundanya pengen menjadi penyanyi tapi karena gak kesampaian jadi Mia deh yang di arahkan Bundanya untuk menjadi penyanyi. Yang menurut dia menjalankan keinginan Bundanya dengan setengah hati. Yang terpenting Bundanya senang. Mia juga sudah bolak balik ikut audio tapi nihil. Gimana nggak. Suaranya cempreng sih.


Gak mau dikacangi jadi alasan nya yang kedua. Yang menurut dia kalau gue dan Rere barengan seakan dunia milik berdua. Terlalu lebay Mia. Tapi iya juga sih.


Sudah ada dua teh manis dingin. Minuman kesukaan Rere. Dan cemilan ringan di atas meja ruang tamu. Emak yang selalu menyediakannya saat kami belajar bareng. Katanya biar lebih semangat. Emak memperlakukan gue seperti anaknya sendiri, membuat gue merasa nyaman dan betah lama-lama disini. Seakan rumah sendiri.


“Kalau di pikir-pikir lue beruntung ya pacaran sama gue,” ucap Rere.


“Beruntung lah. Pacar aku baik, manis lagi.”


“Beruntung. Karena kalau ikut bimbel pasti udah keluar uang banyak.”


“Sama pacarnya sendiri perhitungan banget,” jawab gue dengan bibir yang dimonyongkan.


“Habis banyak gak ngertinya. Selama ini gak pernah ikutin pelajaran?”


“Ikutin... Tapi kebanyakan tidurnya. sekarang kan udah lumayan. Lue mau tau kemaren kata Pak Septian nilai gue ada peningkatan looh. Kerja bagus katanya,” ucap gue mengacungkan dua jempol menirukan gaya Pak Septian.


“Ya bagus deh.. yang penting mau usaha tuk belajar. Jangan lupa sering-sering traktir gue.”


“Iya sayang, terima kasih bantuannya.”


“Kepala lue peyang.”


Aduh.. susahnya buat romantis sama anak cewek satu ini. Tapi sudah lah karena galak dan jaimnya gue suka.


“Lue juga jangan kecapekan banyak-banyak belajar.”


“Nggak kok.”


“Kalau gitu jangan capek juga untuk lihatin gue.”


“Gombal.”


“Jangan lupa juga belajar mencintai gue selamanya.”


“Gak mempan,” ucap Rere mulai kesal.


“Re.. gue punya nyanyian buat lue.”


“Nyanyi. Gak yang lain? Mau bersaing sama Mia?”


“Gue mulai nih.. Hari ini Rabu


Untuk bertemu dengan mu


Yang paling ku rindu


Dan ingin ku mencium mu..”


Praaak. Rere mendaratkan tangannya di pipi gue. Sakit. Belum juga lagunya selesai. Padahal niatnya hanya pengen romantis aja. Cuma lagu Re.. Cuma lagu.


“Namun aku tahu kau takkan mau,” nyanyi gue melanjutkan lagunya.


“Udah selesai ? lanjut belajarnya.”


Gue hanya manggut-manggut sambil memegang pipi yang mulai terasa panas. Kuat juga tenaganya.


"Re.”


“Apalagi? Sekarang mau apa? Nari?”


“Galaknya. Cuma mau tanya. Ntar lue mau lanjut ke universitas mana?”


“Belum tau masih cari-cari yang terbaik. Emang kenapa?”


“Janji ya.. kita lanjut ke universitas yang sama nanti!. Pokoknya gue bakal lebih giat lagi belajarnya untuk menyeimbangi lue. Biar kita selalu bersama.”


Rere terdiam. Berpikir sejenak.


“Nggak mau. Bosen liatin lue aja.”


“Kok gitu. Barusan tadi gue bilang jangan capek lihatin gue.”


Rere tersenyum manis


“Bercanda. Gue gak sekejam itu juga sama pacar sendiri.”


“Jadi malu.”


“Iya janji. Lue juga harus lebih rajin belajarnya mana tau bisa dapat beasiswa kan lumayan."


"Siip. Kalau begitu kita belajar bareng tiap hari.”


“Gak perlu.”