ReDiaz

ReDiaz
Perpisahan



Semenjak gue dekat dan berpacaran dengan Rere. Gue rasakan perubahan dalam diri gue. Perubahan yang baik, yang tadi gue selalu nongkrong di warung internet, main game di rental seharian. Bangga kalau cewek-cewek mendekati gue. Sekarang semua itu gue tinggalkan. Dan lebih menghargai hidup dengan melakukan hal yang lebih berguna.


Sepulang sekolah gue selalu belajar bersama dengan Rere. Apalagi ujian akhir sekolah sudah di depan mata. Kami janjian untuk masuk ke universitas yang sama.


Hari ini hari terakhir ujian akhir sekolah. Gue, Diaz dan Mia janjian untuk merayakan kerja keras belakangan ini terus-terusan belajar, sekaligus merayakan perpisahan dengan Mia. Setelah ini Mia akan pindah ke Palembang. Ayahnya yang seorang abdi negara di pindah tugaskan di sana.


Bel tanda waktu ujian telah selesai berbunyi. Gue hendak keluar ruangan


“Rinzy Emilia bisa kemari sebentar.” Ucap ibu wali kelas pada gue.


“Ada apa ya bu.?” Tanya gue penasaran


Ibu murni mengajak gue keluar kelas. Dan menyampaikan kabar yang membuat jantung seakan berhenti berdetak.


Kabar yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


❄️❄️❄️


Waktu seakan berjalan begitu cepat. Delapan tahun sudah berlalu.


Gue masih ingat saat itu. Saat hari terakhir ujian, hari yang mengubah hidup gue. Sehabis ujian akhir Bu murni wali kelas gue mangabarkan kalau Emak jatuh tidak sadarkan diri di rumah. Dan dilarikan ke rumah sakit. Dengan refleks kaki gue menganyun cepat. Berlari menuju rumah sakit. Air mata tak lagi terbendung. Mengalir membasahi pipi.


Emak koma. Wajahnya pucat dengan tangan yang dingin. Kak Emma yang mendengar kabar segera kembali ke Jakarta. Karena kondisi Emak semakin menurun, Kak Emma memutuskan untuk membawa Emak ke rumah sakit di Singapore. Malam itu juga kami terbang ke Singapore.


Beberapa Minggu gue selalu berada di samping Emak, menjaganya sepanjang malam tanpa memikirkan diri sendiri.


Semua sia-sia. Emak pergi meninggalkan kami. Begitu menyakitkan hati. Gak pernah terbayang Emak akan pergi secepat ini. Kini hanya Kak Emma keluarga gue satu-satunya.


Setelah kepergian Emak, gue menetap dan tinggal bersama Kak Emma di Singapore. Dan cita-cita gue tercapai. Gue diterima di salah satu universitas di Singapore dengan beasiswa penuh. Jurusan Sosiologi.


Kini setelah lulus gue kembali lagi ke Jakarta. Dengan rasa bersalah dan penyesalan pada Diaz dan Mia yang masih membebankan hati. Waktu itu gue gak menepati janji pada mereka. Gue bahkan pergi tanpa kabar. Mungkin mereka kecewa, mungkin mereka marah.


❄️❄️❄️


Sekarang gue membangun bisnis Wedding Orgenazer bersama sahabat sekaligus temen gue satu Jurusan. Namanya Jonatan. Sama-sama kelahiran Bandung. Bertolak belakang dengan keinginan kita untuk menjadi Psikolog. Setidaknya gue bisa menggunakan ilmu yang didapat untuk mengerti keinginan klien-klien gue.


Hari ini ada di Briedstory Fair.


“Istirahat makan dulu Jo!. Biar gue yang handle.”


“Ntaran aja deh belum laper.”


“Bentar lagi, lagian gak usah panggil Pak.”


“Masa panggil Bu!”


Wkwkekkkk.. Lain pada tertawa.


“Nggak lah. Panggil saja Jojo.”


“Sok keren lue, Jojo!. Di rumah juga di panggil Tantan.” Sahut Ferdi salah satu team lapangan gue.


“Sok tahu lue.”


“Ya tahu lah. Adek lue yang bilang.”


“Adek gue yang mana”


“Adek lue kan cuma satu. Mau yang mana lagi.”


“Lisa!”


“Ya iya lah... Siapa lagi”


“Sok kenal lue adek gue.”


“Sama pacar sendiri masa gak kenal.


“Pacar?”


“Iya.. dan Lisa yang bilang panggilan sayang Mami lue di rumah Tantan.”


“Pantesan lue sering numpang kamar mandi sama numpang minum di rumah. Ternyata ada udang di siomay. Mau pede kata lue ya ma adek gue. Sebagai kakak gue gak bakal ngerestui.”


“Yang penting calon mertua ngerestui.”


“Pokoknya gak boleh pacaran sama adek gue.”


“Gak urus.”