ReDiaz

ReDiaz
Pengakuan



Gue kaget. Melihat kak Emma. Kenapa dia bisa kesini. Jojo, Mia dan Hadi juga sudah ada disini. Bukannya kemaren aku telpon Mia bilang akan sampai ntar malam.


“Kak Emma kok bisa disini? Ucap gue menghampirinya.


“Gue yang ajak Kak Emma kemari.”


“Ada yang mau kakak luruskan.”


“Luruskan?”


Gue bingung apa yang mau di luruskan. Kenapa Mia bisa mengajak kak Emma. Bukannya Mia tidak pernah tahu alamat kami di sana.”


“Sebenarnya Rere tidak bersalah Diaz.” Ucap Kak Emma.


“Maksud Kakak?”


“Waktu itu Rere meminta kakak untuk mengabari kamu kalau Rere sedang berada dirumah sakit di Singapore untuk menjaga Emak.”


“Tapi Kakak gak pernah menghubungi gue bahkan saat gue hubungi kantor Kakak. Mereka bilang Kakak tidak bekerja di sana lagi.”


“Kakak memang tidak menghubungi kamu Diaz. Tapi Kak Emma bilang ke Rere kalau Kakak sudah mencoba menghubungimu dan mengatakan tidak ada jawaban.” Ucap Kakak Emma dengan meneteskan air mata. “Kakak juga menyuruh teman kantor untuk mengatakan kalau kakak tidak bekerja di sana lagi.”


“Kenapa?”


“Maaf Kakak telah berbohong.”


“Kenapa Kak Emma berbohong?”


“Maafkan Kak Emma Re, Kakak takut pikiran kamu terpecah dan tidak mau untuk menjaga Emak. Kalau begitu Kakak yang repot, kerjaan jadi berantakan.”


“Kenapa Kakak berpikiran seperti itu.”


“Maafkan Kakak, Re.”


“Mana mungkin Rere tidak mau untuk menjaga dan mengurus Emak, Kak!”


“Makanya Kakak datang ke sini ingin meluruskan sekaligus meminta maaf pada Rere dan Diaz.” Ucap Kak Emma Senduh.


“Jangan menangis Kak.”


“Tolong jangan membenci Kakak, Re. Rere keluarga Kak Emma satu-satunya.”


Gue memeluk Kak Emma haru. Gue bisa mengerti kenapa Kak Emma melakukan semua ini. Mungkin saja waktu itu Kak Emma terlalu banyak pikiran. Dilema. Mak yang sakit secara mendadak. Butuh biaya yang cukup besar. Bukan dia tidak mau untuk manjaga mak. Bisa-bisa pekerjaannya terbengkalai dan berakhir pada kehilangan pekerjaan. Bukannya akan jadi lebih ribet lagi. Sementara Kak Emma tulang punggung keluarga. Dia mengemban tugas berat.


“Jangan ngomong seperti itu Kak, mana mungkin Rere membenci Kakak. Semua sudah berlalu. Jadi jangan dipikirkan dan menjadi beban di hati Kakak, Emak juga sudah tenang di sana.”


“Terima kasih Re.”


“Maafkan gue Re, gue sudah salah paham.” Ucap Diaz mendekati gue.


❄️❄️❄️


“Kok lue bisa jumpa sama Kak Emma, Mia?


Mia tertawa.


“Jadi semua serba kebetulan. Mungkin sudah takdir kali ya.”


“Kebetulan bagaimana ?” Ucap Diaz penasaran.


“Nah aku kan ke Singapore memang mau jumpai teman aku mau bahas soal kerjaan. Eeh.. rupanya temanku lowyer perusahaan tempat Kak Emma kerja. Diajak deh aku jalan-jalan ke sana dan jumpa Kak Emma.”


“Iya kita jumpa terus ngobrol-ngobrol.” Ucap Kak Emma membenarkan.


“Aku ceritain soal Diaz yang mau nikah, terus Kak Emma jadi merasa bersalah begitu.” Ucap Mia sambil merangkul Kak Emma.


“Makanya Kakak minta ikut ke sini. Mau menjelaskan semuanya.”


“Ooh. Begitu.”


“Tapi gara-gara si cowok satu ini.” Ucap Mia menunjuk Jojo.


“Kok gue.”


“Kebanyakan dandan jadi deh kita telat datang kemari.”


“Ya tapi kan gak telat-telat juga.” Bela Jojo.


“Untung ada aku kan yang pintar nyalip jadi cepat sampai.” Bangga Hadi.


“Untung nama Papa aku.”


“Yang bener Mia.” Penasaran Jojo.


“Iya.. Mual nih sampai sekarang.”


“Maaf deh.”


“Jangan marah-marah nanti hilang cantiknya.” Goda Diaz.


“Gue gak tahu mau bilang apa. Pokoknya terima kasih ya Mia.” Gue memeluk Mia


“Gue juga.” Sahut Diaz dan memeluk Mia.


“Aduh.. bisa langsing mendadak aku kalian peluk gini.”


Wkkkaawkkk.. semua orang tertawa.