
Sial banget sih harus jumpa cowok resek. Awas aja kalau jumpa lagi. Siapa juga yang mau jatuh dari pohon. Tapi kalau di bawahnyaBrad Pitt yang nampung rela gue. Dengan senang hati.
Aduh pinggang gue sakit lagi. Koyok mana koyok...
Efek jatuh kemaren baru terasa sekarang.
Seharian berjalan menahan sakit di pinggang. Sakit bener. Yang ada kayak nenek-nenek yang jalan selalu memegang pinggang. Jadi ledekan anak sekelas lagi. Bikin malu.
“Tongkatnya gak dibawa nek.”
“Nek.. istirahat di rumah aja.”
“Iya nek. Tadi ingat sarapankan biar ada tenaga.”
“Iya terima kasih,” jawab gue ketus.
Sebel. Teringat kejadian kemaren. Berjalan pelan. Tangan gue menggapai meja demi meja, satunya menopang badan. Bangku gue di pojok sudut bagian belakang ruangan. Sesekali gue pandang wajah temen sekelas. Tersenyum geli. Tertawa diatasi penderitaan gue. Sungguh kejam. Pengen rasanya gue copot nie koyok untuk nyumpel mulut mereka satu-satu. Biar tahu panasnya ini koyok. Sabar.. sabar. Ini ujian. Gue hidup di mana orang kesusahan Mala di tertawakan.
Lega rasanya. Walau bukan di sofa yang empuk tapi rasanya nyaman akhirnya bisa berhasil duduk. Gue renggang kan sedikit otot di badan yang mulai terasa kaku.
Aauuw.. aauu.. sakit.. sakit. Padahal ada delapan koyok menghiasi punggung. Samping kanan, samping kiri, atas, bawah dan tengah-tengah.
Kayak pulau koyok.
“Lue siih kebanyakan semedi di pohon,” ledek Mia, teman sebangku gue.
“Siapa yang semedi?”
“Terus apa?
“Hanya menyendiri.”
“Gak diatas pohon juga kali.”
“Bukannya prihatin Mala ledekin,” jawab gue sambil manyun.
“Cuma ngingetin.”
“Namanya juga apes.”
“Terus cowok itu siapa sih?” tanya Mia semangat.
“Gak pernah lihat.”
“Penasaran deh.”
“Auk deh. Gak kenal gue.”
“Iiiih..!” geram Mia.
“Ke kantin aja yuk laper gue belum sarapan.”
“Ya sudah deh. Ayok..sini gue pegangin ya nek biar gak jatuh.”
“Ngeledekin Mulu..!”
Laper.. Gara-gara telat bangun. Jam weker mati karena baterainya habis. Alhasil gak sempat sarapan.
“Lue duduk sini saja,” ucap Mia pada gue. “Lue mau makan apa biar gue yang pesankan.”
“Ya udah gue pesan. Itu ajakan, bentar.”
“Mia.. telurnya mata sapi.”
“Iya.”
“Mia.. telur mata sapinya setengah matang.”
“Iya,” jawab Mia dengan muka cemberut.
“Mia...”
“Apa lagi,” jawab Mia cepat.
“Bawang gorengnya yang banyak.”
“Eemh.”
“Mia.”
“Kerupuknya yang banyak.”
“Tahu saja lue.”
“Udah ntar lue makan aja yang gue pesan. Ribet amat.”
“Minumnya mandi”
“Apaan tuh mandi”
“Teh manis dingin.”
Angguk Mia dengan mata melotot. Serem. Bikin takut.
Tadi dia yang tanya mau apa lagi sekarang mala marah-marah. Ngedumel gue pelan, biar gak kedengaran. Kalau kedengaran bisa berabe ntar di suruh ngantri sendiri. Ogah deh.. Ampun. Gak sanggup.
“Bau apa ini..” ucap siswi yang duduk samping gue.
“Iya.. kayak bau yang sering di pakai neneknya aku,” jawab siswi di sebelahnya.
“Bau minyak nyong nyong."
“Iiih bukan.”
“Jadi apa dong?”
“Itu loo nenek aku sering nempel di jidat kalau lagi pusing.”
“Jidat! Apaan?”
“Eeemh.”
“Ooh tahu, KOYOK kan!”
“Nah iya. Koyok.”
Pembicaraan apa itu. Seperti lagi main kuis tebak kata saja. Gue hanya dengerin sedari tadi tanpa komentar. Gue melirik ke arah mereka. Mata kami saling bertemu pandang. Mereka saling berbisik dan berlalu pergi. Untuk apa mereka di kantin? Makan nggak, minum nggak, menggosip iya. Bikin tengsin aja. Malu.. malu. Emang salah ya gitu pakai koyok?