
Gue dipertemukan dengan Renata. Anaknya baik, cantik. Walau begitu gue tetap tidak tertarik pada Renata. Hati dan pikiran gue hanya ada satu nama. Rere.
Renata tetap berusaha dekat pada gue walaupun gue bersikap dingin padanya. Tapi dia tetap bersikap baik hingga membuat gue jadi merasa bersalah padanya. Sampai akhirnya Gue mulai berpikir mungkin antara gue dan Rere tidak ada jodoh yang kalau dipaksakan ujungnya akan menyakiti diri sendiri. Dan bila jodoh itu ada suatu saat pasti kami bisa bersama lagi dengan jalannya sendiri.
Walau gue menjalani hubungan ini terpaksa. Gue gak mau nyakitin hati Renata.
Dari raut wajahnya gue tau kalau Rere tampak haru bahagia saat bertemu gue. Sedetik kemudian bahagia itu berubah jadi rasa kecewa saat tau gue lah calon suami sahabatnya dan dia yang akan mengurusi semua urusan pernikahan kami.
Saat Rere membahas mengenai kebutuhan pernikahan pada renata. Rere sedikit gugup dan berusaha menyembunyikan kesedihannya. Bahkan Rere tidak berani melihat bahkan tidak melirik ke arah gue.
“Sorry.. gue udah harus pergi. Ada janji sama klien lain.”
“Cepat banget sih Re.”
“Next time kita ketemuan lagi ya.”
“Ok deh. Tapi janji.”
“Sip.” Ucap Rere sambil mengacungkan jempolnya. “Gue jalan ya. Bye.. bye.” Rere melambaikan tangannya sambil tersenyum tipis pada gue.
❄️❄️❄️
Setelah gue tau siapa yang akan menjadi suami Renata dunia gue rasanya hancur. Gue yang tadi semangat untuk membuat pernikahan Renata menjadi spesial dan tidak akan dia lupakan kini gue menjalankannya separuh hati. Seseorang yang gue harap ada di samping gue di pelaminan kini hanya tinggal khayalan. Diaz sudah menjadi milik orang lain. Salah gue juga pergi begitu saja tanpa kabar. Cowok mana yang mau menunggu tanpa harapan.
Sudahlah.. percuma juga di sesalkan tidak akan pernah mengembalikan keadaan. Seperti dulu.
Gue duduk lesu di ruang kantor. Melamuni nasib.
“Kenapa Bu... Dari kmaren muka muram amat.” Ucap Jojo menyadarkan gue dari lamunan.
“Meratapi nasib.”
“Seram amat. Emangnya kenapa sama nasib?”
Gue terdiam sejenak. Masih terngiang di ingatan saat perjumpaan dengan Diaz tapi Renata di samping nya.
“Lue masih ingat Diaz.”
“Diaz?”
“Yang waktu itu gue ceritain.”
“Cowok lue waktu SMA kan? Cinta pertama yang gak akan pernah lue lupain itu.” Ucap Jojo menyakinkan.
“Heeemh.”
“Lue jumpa sama dia?”
Gue mengangguk mengiyakan.
“Dia calon suami Renata.”
“Kabar buruk.. Tapikabar bagus buat gue.”
“Iiiih.. Serius Jo.”
“Iya serius.”
“Jadi gimana dong sekarang?”
“Kisah hidup lue kayak di sinetron yang di tv itu. Yang Mami gue sering tonton.”
“Sinetron lagi.”
“Ntar judulnya. ‘Mantanku suami sahabatku’. Atau gak ‘Aku menjadi WO mantan dan sahabatku’. Cocok tuh.”
“Gak lucu ah.”
“Udah sekian lama rupanya lue masih berharap sama dia.”
“Ya gak gitu juga.”
“Gak salah lagi maksudnya.!”
“Bukan begitu.”
“Pantes ya selama ini gue di tolak terus rupanya masih ada si doi di hati.”
“Jangan mulai deh Jo.”
“Iya nggak. Gue cuma heran aja.”
“Jo... gue nolak bukan gue gak suka ke lue tapi karena gue gak cinta. Karena kalau cinta yang di paksakan yang ada nanti akan menyakitkan buat lue dan gue. Gue gak mau Jo.”
“Terus.”
“Gue lebih nyaman lue jadi sahabat gue. Yang akan sesuai ada di sisi gue.”
“Gue paham kok. Toh cinta gak harus memiliki. Tapi sahabat selalu dimiliki.”
“Uuh.. Thanks udah jadi sahabat yang selalu ada dan mengerti gue.”
“I am for you.”
Pengen nangis tapi gak bisa. Air matanya gak mau keluar. Terharu. Gue bisa jadi sahabat dengan Jojo walaupun udah sering kali dia mencoba masuk ruang hati tapi ujung-ujungnya tetap gemboknya tertutup rapat. Yang kuncinya sudah di curi sama pengeran yang lain. Walau begitu Jojo gak pernah pergi menjauh. Pacaran ditolak, sahabat pun jadi.