
Hari ini gue belajar bareng Rere lagi. Setelah bel sekolah berbunyi kami segera beranjak menunggu angkot. Cukup lama juga kami menunggu. Berebut dengan siswa siswi yang lain. Setelah penantian panjang, akhirnya bisa naik angkot juga.
Ntah mengapa setiap naik angkot ke rumah Rere pasti angkotnya mogok. Ini sudah yang ketiga kalinya. Ditempat yang sama dengan abang supir yang sama pula.
“Heran gue. Setiap naik angkot bareng lue selalu saja angkotnya mogok.”
Rere pun mengomel sepanjang jalan.
Gue berjalan di belakang Rere sambil menutup telinga. Dan bersikap biasa saat dia menoleh kebelakang. Senyum manis gue juga mengembang lebar.
“Lue dengar gak Iaz.”
“Aah. Iya.” Gue mengangguk
“Apa gue bilang.”
“Eeemh.”
“Dek.. oh Dek.”
Ternyata kami berdiri tepat di depan rumah si Ibu yang punya pohon mangga tempo hari. Dia memanggil kami dari dalam rumahnya dan bergegas keluar dan tergesah-gesah menghampiri kami.
“Kami gak mau ngambil mangga kok Bu. Kebetulan saja berhenti di depan rumah Ibu.” Ucap Rere sambil menggelengkan kepala.
“Dari kemaren ibu tunggu-tunggu.”
“Tunggu kenapa Bu?”
“Mau minta ganti rugi gara-gara mangga kemaren?” ucap gue penasaran.
“Bukan begitu, Ibu Cuma mau minta tolong.”
“Tolong ngapai Bu,” ucap Rere.
“Tolong ambilkan mangga. Sudah pada masak itu.”
“Kok minta tolongnya ke kita.”
“Soalnya kmaren Ibu lihat si adek pandai panjat pohon mangganya. Ibu gak bisa, lagian di rumah gak ada galah.”
Gue dan Rere saling lirik. Mulutnya cemberut. Tapi wajahnya juga menunjukkan juga menginginkan mangga itu. Gue saja tergoda dengan warna kekuningannya. Pasti manis. Besar pula. Puas deh makannya.
Dengan terpaksa deh Rere panjat itu pohon dan gue bertugas menampung mangga di bawah. Tidak memerlukan waktu lama mangga sudah banyak terkumpul.
“Sudah ya Bu, capek nih.”
“Iya.. Iya lekas turun. Hati-hati!”
Sekejap Rere sudah di bawah dengan rasa bangga di wajahnya.
“Sebentar Ibu buatkan minum.”
“Iya!” ucap kami berbarengan.
“Re. Ada yang mau gue tanya.”
“Tanya saja.”
“Lue merasakan hal yang sama seperti gue.”
Rere menoleh ke arah gue. Dia tampak serius. Dan menggangguk pelan. Itu membuat hati gue jadi berbunga-bunga. Gue hanya ingin memastikannya.
“Bau kentut kan. Bau banget, lue kentut ya.”
“Iya. Kelepasan!” gue senyum terpaksa.
“Jorok lue.
“Gak bagus loo kalau di tahan.”
“Ini minumannya. Maaf seadanya.”
“Ini ucapan terima kasih. Kita bagi dua.”
Rere dengan cepat menyambar sebungkus besar mangga hasil yang dia petik tadi.
“Maaf Bu gak bisa lama-lama mau belajar lagi. Terima kasih sebelumnya.”
“Iya sama-sama.”
Rere menarik tangan gue. Cepat. Bikin tersedak saja. Lagi minum di tarik.
Kami berlari dari rumah Ibu tadi. Dan sampai di rumah Rere dengan ngos-ngosan. Capeknya. Kenapa harus lari sih. Sudah gak sabar ya mau makan mangga. Gue melihat Rere lari, ikutan lari juga.
“ Loo.. Looh kenapa ini. Kok lari-lari?” tanya emak yang sedang menyapu halaman depan.
“Pengen saja Mak.”
“Kasihan itu nak Diaznya. Kecapekan.”
“Biar saja Mak. Ini ada mangga, Re kupas dulu ya.”
“Tadi di kasih sama ibu itu karena kita bantuin ambil mangganya Mak,” jawab gue.
“Ibu mana?”
“Mana Re tahu Mak, Re kan anak rumahan gak pernah keluyuran jadi ya gak kenal.”
Rere masuk ke dalam rumah untuk mengupas mangga. Dan gue duduk santai menikmati angin. Menyejukkan badan yang gerah. Sementara emak melanjutkan menyapunya.
Tidak berapa lama Rere keluar dengan membawa mangga yang sudah dipotong-potong dan tiga gelas air putih dan menaruhnya di dekat gue.
“Mak sini makan bareng.”
“Makan dulu saja. Nanggung nyapunya.”
Manis. Nikmatnya. Bikin ketagihan. Makan lagi, lagi, lagi dan lagi.
Praaak.. Rere menepuk tangan gue menjatuhkan mangga yang baru ku gue ambil.
“Sakit Re!”
“Makan sendiri. Tinggalin untuk Emak.”
“Lupa! Abis enak.”
Kelupaan. Kalau kebablasan abis kan bisa malu.
“Re, ada yang mau tanya.”
“Tanya apa lagi? lue kentut lagi.”
“Bukan, yang soal lue punya perasaan sama gak seperti gue.”
“Kan gue sudah bilang.”
“Kapan.”
“Tadi sebelum di suruh ambil mangga tapi lue bilang denger.”
Kapan. Mana ada? Perasaan gak ada deh. Ooh tunggu. Jangan-jangan.
“Yang kita jalan tadi? gue gak kedengaran soalnya tutup kuping.”
“Jadi kenapa bilang iya.”
“Maaf deh! emangnya lue ngomong apa.”
“Lupa.”
Rere pun ngambek dan pergi membantu Emak. Meninggalkan gue dengan rasa penuh penasaran.